Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Arini dan Masa Lalu


__ADS_3

"Dokter Nayla!" seruan seorang wanita mengagetkan Nayla dan ayahnya.


Rizky dan Amanda mendekat, gadis itu mengulurkan tangan pada Nayla. "Apa kabar? Benarkan, kita bakal ketemu lagi?" ujarnya sambil tersenyum.


"Kamu kan _,"


"Amanda, kita ketemu di klinik tempo hari."


Nayla mencoba mengingat dan mengangguk pelan.


"Terimakasih sudah membantu saya memecahkan kasus ini dan juga menemukan dukun brengsek itu!" sambung Amanda lagi.


"Maksudnya, dokter Arini atau _,"


"Dokter Arini tepatnya, dia kakak saya." Amanda menoleh ke arah Rizky sejenak sebelum kembali bicara. "Saya datang ke desa ini untuk mencari tahu apa, siapa, dan kenapa kakak saya menghilang."


"Oh begitu, tapi … dokter Arini, dia _,"


"Dia selamat, sekarang dalam perawatan dokter dan … yah, saya tahu dia juga bersalah atas kematian Wak Dadan."


"Dia selamat? Syukurlah kalau begitu. Bagaimana kondisinya?"


"Buruk, tapi lumayan bisa bicara sekarang. Oh ya jika tidak keberatan maukah kamu mengunjunginya di kota?"


"Tentu, saya juga sepertinya bakal bolak balik kesana untuk memberi kesaksian."


"Bagus, saya butuh bantuanmu untuk dia." Amanda mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya. "Ini alamatnya dan ini nomor ponsel saya, hubungi saya kalo dokter ke sana."


Nayla mengangguk setelah melihat kertas yang disodorkan Amanda, ia pun menjawab. "Oke, lagipula ada hal yang harus saya pastikan juga."


Amanda mengernyit sejenak tapi kemudian ia tersenyum dan mengacungkan ibu jari sambil beranjak pergi. Nayla menoleh pada ayahnya yang juga menatap penasaran. "Kita pulang, Yah?"


Dua hari kemudian setelah Nayla beristirahat, Budi menjemputnya untuk memberikan keterangan. Nayla pergi tanpa didampingi sang ayah. Tapi sebelumnya Nayla meminta Budi mengantarkan dirinya untuk menemui Arini.


"Mas Budi udah lama berteman sama Amanda?" Nayla bertanya saat mereka memasuki parkiran rumah sakit.


"Lumayan dari kita SMP."


"Oh, lama juga." Nayla kembali terdiam, ia pun turun dari mobil.


Rasa tak nyaman menyapanya begitu ia menginjakkan kaki di halaman rumah sakit. Nayla mual dan juga pusing, ia memperhatikan sekitar sesuatu yang tak kasat mata menyapanya dengan cepat. 


"Wak Dadan," 

__ADS_1


Sosok Wak Dadan menatapnya dari lantai dua rumah sakit. Ia berdiri dan terus menatap Nayla. Dokter muda itu menarik nafas panjang, kemunculan Wak Dadan semakin memantapkan keinginannya bertemu Arini.


"Lihat apa Nay?" tanya Budi sambil mengikuti arah tatapan sang dokter.


"Hhm, enggak. Ayo kita temui Arini."


Budi mengantarkan Nayla ke ruang VVIP tempat Arini dirawat. Setelah menjalani pemeriksaan dan mendapat izin petugas jaga, Nayla dan Budi diperbolehkan masuk. Amanda sudah menunggunya di dalam begitu juga dengan … Wak Dadan.


Nayla menghela nafas saat sosok itu berdiri disamping bed Arini, posisi Wak Dadan masih menatap dingin ke arah Arini. Ia perlahan menoleh pada Nayla ketika dokter muda itu ada berdiri berseberangan dengannya.


"Dokter Arini?" sapa Nayla pelan.


Arini perlahan membuka matanya, ia menoleh ke arah Nayla yang tersenyum kepadanya.


"Kamu, siapa?"


"Saya Nayla, teman Amanda dan mas Budi."


Arini menatap nama yang disebut Nayla bergantian. Menatap Amanda sejenak sebelum Amanda membalasnya dengan anggukan pelan.


"Apa dokter Arini merasa lebih baik sekarang?"


Arini mengangguk lemah, meski sudah bisa diajak berkomunikasi tapi dirinya masih enggan banyak bicara. Dokter memusatkan pada pembenahan fisiknya terlebih dahulu karena secara psikologis dokter Arini masih terguncang dan mengalami trauma berat. 


"Maaf, tapi saya harus bertanya ini." Nayla menoleh ke arah Amanda meminta izin kepadanya, wanita dengan anting unik itu mengangguk.


Ucapan Nayla membuat Arini menatapnya, ia menegakkan tubuhnya sebelum bertanya. "Lima tahun lalu?"


"Juragan Dadan," sahut Nayla mengambang.


Mata Arini membulat sempurna, wajahnya pias seketika. Ia menatap lekat manik mata indah Nayla.


"Dokter bisa ceritakan ke saya, tentang resep ini." Nayla menyodorkan salinan resep obat yang ia minta dari Budi.


Dokter Arini menerimanya dengan gemetar, ia membaca sejenak sebelum mere-mas salinan resep. Amanda bereaksi tapi Nayla memberi kode dengan tangan untuk tetap tenang.


"Ini … aku," Arini mulai terisak, untuk sesaat Nayla membiarkannya.


"Boleh saya menyentuh tangan dokter? Jika tidak keberatan tentu saja, saya hanya ingin membantu mengungkapkan apa yang dokter ingin katakan."


Arini dengan mata basah menatapnya takut, ia kembali menoleh pada Amanda. Adiknya itu mengangguk meyakinkan Arini. Dokter yang mengalami penyekapan selama bertahun-tahun itu perlahan memberikan tangan kanannya pada Nayla.


"Terimakasih sudah percaya, ini cuma sebentar dan nggak akan lama."

__ADS_1


Nayla menatap sosok Wak Dadan yang menatapnya tanpa ekspresi. Nayla pun berkata pada sosok yang menyerupai juragan sayur itu.


'Tolong jangan ganggu saya, kalau Wak Dadan minta dibebasin!'


Nayla menggenggam tangan Arini, dan dalam hitungan detik dirinya membuka ingatan terdasar yang terkunci di memori Arini. Nayla memilah ingatan, mencari peristiwa lima tahun lalu.


Dokter Arini kedatangan lelaki berbadan tegap, ia nampak ketakutan. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Nayla, lelaki itu diutus juragan Dadan untuk memberikan uang pengikat sebagai penanda niatan si juragan menikahi Arini. 


Dokter yang terlihat cantik itu menolak mentah-mentah dan berkata kasar pada lelaki utusan juragan Dadan. Emosi lelaki itu terpancing dan ia melakukan tindakan anarkis di ruangan Arini. Dokter cantik itu ketakutan, untunglah lelaki itu tidak menyakitinya. Arini menangis dan tak bisa berbuat banyak, ia bingung dan merasa terpojok. Pikirannya buntu, saat itulah Bu Ratih datang.


Pembantu ndoro Ageng itu(istri pertama), berbisik pada Arini. Ndoro Ageng mengutus Bu Ratih untuk meminta resep obat yang biasa dikonsumsi juragan Dadan. Bu Ratih sebenarnya tidak setuju dengan niatan juragan Dadan yang hendak meminangnya, didorong rasa iba Bu Ratih memberikan ide untuk membunuh sang majikan secara diam-diam.


Dokter Arini langsung setuju dan tanpa berpikir panjang ia menuliskan resep yang berbeda dari biasanya. Ia juga memberikan Bu Ratih sebotol kecil cairan yang mengandung Amatoxin (salah satu racun mematikan yang didapat dari ekstrak jamur tertentu).


"Berikan ini setetes saja, nggak perlu banyak. Dan ini resepnya."


Bu Ratih mengangguk, misi dari Ndoro Ageng berhasil. Istri tua Wak Dadan itu memang kesal dan ingin melenyapkan nyawa suaminya. Harta yang melimpah membuatnya tamak dan ingin segera menguasainya sendiri.


Tanpa sepengetahuan dokter Arini, Bu Ratih juga memberikan racun pada makanan, ndoro Ayu (istri kedua Wak Dadan). Arini yang tak bisa lagi berpikir akhirnya memberi andil pada kehancuran Wak Dadan dan kerajaan bisnisnya.


Beberapa slide memori sempat Nayla masuki dan sebuah fakta lain yang mengejutkan pun ia dapatkan. Nayla menarik dirinya kembali. Tapi apa yang terjadi saat ia kembali sungguh membuatnya tercengang.


Matanya menatap ke arah wanita berkebaya merah dengan rangkaian bunga melati di rambutnya.


"Aku rasa cukup sampai disini pertemuan kita cah ayu."


"Siapa kau?" 


Nayla memperhatikan sosok asing itu  begitu juga dengan dua lelaki berpakaian ala prajurit jaman kerajaan. Kedua lelaki itu mengapit dan memegang kedua tangan Wak Dadan.


"Aku? Akulah nyai Kembang, aku datang menjemput abdi setiaku. Sesuai perjanjian, aku memberinya waktu untuk menemukan pembunuh dirinya. Dan kini waktunya lelaki tak tahu diuntung ini untuk membayar semuanya."


Nayla terperangah, sosok yang ada di depannya ini rupanya sosok yang diceritakan Tegar. "Bagaimana dengan Tegar? Apa dia juga akan kau bunuh?"


Nyai kembang tertawa terbahak bahak mendengarnya, "Dengar cah ayu, itu urusanku! Aku bisa mengambil nyawanya dan bisa membiarkannya hidup tergantung pada pilihannya."


"Tapi _,"


Belum juga Nayla menyelesaikan perkataannya, Nyai Kembang perlahan menghilang bersama sosok lainnya membawa juragan Dadan pergi.


"Dengar cah ayu, di dunia ini ada pilihan yang bisa kau buat. Tapi jika kau memilih berurusan dengan ku, pilihannya hanya satu mengabdi hingga akhir!" suara tawa Nyai Kembang kembali menggema.


Nayla mengatur nafas dan memejamkan mata, ia menyadarkan dirinya kembali yang sempat memasuki kebekuan waktu karena ulah Nyai Kembang.

__ADS_1


"Nay!" suara Budi menyadarkan Nayla kembali.


"Are you ok?"


__ADS_2