
"Nay, yuk udah ditunggu!" Budi menarik tangan Nayla cepat.
Dokter muda itu mengikuti ajakan Budi, mereka menuju ruangan lain yang letaknya tak jauh dari tempat Tegar ditinggalkan. Nayla menjawab beberapa pertanyaan dari rekan Budi yang bertugas. Awalnya semua berjalan lancar, tapi kemudian Nayla merasa pusing dan mual. Wajahnya pun memucat, bisikan halus menyapanya lagi membuat dokter muda itu bingung dan linglung.
"Temani aku mati!"
Pada saat yang bersamaan, beberapa anggota kepolisian berlari di lorong. Sesuatu terjadi, dan itu cukup menarik perhatian yang lain. Bunyi letusan tembakan juga terdengar begitu nyaring menambah kepanikan. Budi langsung membuka pintu ruangan dan bertanya pada yang lain.
"Ada apaan sih?!"
"Ada tahanan mengamuk dan bunuh diri!"
"Hah, dimana?" tanya Budi lagi pada rekannya.
"Disana!"
Rekannya menunjuk ke arah ruangan tempat Tegar ditinggalkan bersama Anton. Sontak Budi ikut berlari diikuti Nayla. Pemandangan memilukan terjadi di depan mata Nayla, Tegar tertelungkup di atas meja bersimbah darah.
Ditangannya ada senjata laras pendek dan terlihat jelas buraian isi kepala Tegar mengotori ruangan. Sementara Anton terkapar di lantai tak sadarkan diri. Nayla menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ia menangis sejadinya, tak menyangka jika Tegar nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Nyai Kembang benar-benar mewujudkan perkataannya, ia menjemput Tegar untuk mengabdi padanya. Menagih janji yang terucap saat Tegar mengikatkan diri pada jerat iblis.
Nyai Kembang kembali muncul dihadapan Nayla dengan senyuman licik. "Aku hanya menagih hutang cah ayu, tak perlu sedih untuk pemuda tampan ini karena itu, pilihannya sendiri!"
Nyai Kembang benar, siapa pun yang mengikat perjanjian iblis tidak akan pernah bisa melepas ikatan itu dengan mudah. Perjanjian Tegar sebagai pengabdi setan berlaku selamanya hingga akhir zaman.
Tegar yang malang, Tegar yang salah memilih jalan, seandainya waktu bisa kembali berputar tentu saja ia ingin memilih jalan lain. Tegar ingin hidup bersama simboknya hingga akhir hayat, tapi jalan takdir membawanya pada pilihan yang salah.
*
*
*
Sebulan setelah kematian Tegar, Nayla menjalankan hidupnya seperti biasa. Desa kembali normal dan tak lagi suara burung Kedasih yang menghantui warga di malam hari. Tak ada lagi kematian warga, semua berjalan seperti tak ada kejadian apa pun.
Rumah peninggalan Wak Dadan akhirnya dirobohkan. Saat pembongkaran ditemukan kerangka wanita dalam balutan pakaian kuning. Kerangka itu ditemukan terpendam di bawah pohon mangga tempat terjadinya peristiwa gantung diri yang dilakukan Eka.
Hasil identifikasi menyatakan jika kerangka wanita itu adalah Sumarni, kembang desa yang juga dikabarkan menghilang tanpa jejak. Spekulasi beredar jika Sumarni sesungguhnya calon istri ketiga Wak Dadan sebelum ia bertemu Kumalasari.
Jenazah ndoro putri juga ditemukan tak jauh dari tempatnya terbunuh. Selendang merah melilit di lehernya, ia juga mengenakan kebaya kuning. Mbok Dar sengaja mendandani ndoro putri agar tampak seperti sinden dan penari saat meregang nyawa.
Nasib ndoro Ageng dan Ndoro ayu tak kalah tragis, mereka tewas mengenaskan setelah pergi dari desa. Ndoro Ageng tewas akibat jatuh terpeleset dan ndoro ayu tewas diracun Bu Ratih. Racun mematikan yang diberikan Bu Ratih bekerja lambat dan membunuhnya perlahan.
Rumah mewah Wak Dadan kini hanya menyisakan lahan kosong yang dibeli oleh mas dukun. Ia berinisiatif membelinya sebagai wujud syukur atas terpecahkannya kematian para warga. Rencananya diatas tanah itu akan dijadikan sebagai lahan pertanian. Mas dukun berencana alih profesi dan memulai hidupnya yang baru.
__ADS_1
Budi semakin intens menjalin hubungan dengan Nayla, dalam sepekan ia bisa menghabiskan waktu dua kali untuk mengunjungi Nayla. Dokter putra memberikan sinyal positif pada Budi untuk mendekati putrinya.
"Nay, aku baru tahu kalau … ehm, ibu kamu meninggal nggak wajar."
Wajah Nayla berubah, membuat Budi tak enak hati. "Maaf bukan maksud aku untuk _,"
"Nggak apa kok, kamu liat file ibu?" Budi mengangguk
"Kenapa kamu nggak pake penglihatan gaib kamu Nay untuk mencari pembunuh ibu?"
"Kalau aku bisa sudah dari dulu, aku ngelakuinnya. Sayangnya aku nggak bisa."
"Kenapa?"
"Kemampuanku terbatas, dan aku cuma bisa melihat pada orang hidup bukan orang mati."
"Loh waktu itu kamu bisa melihat kematian ndoro putri kan?"
"Dengan bantuan Tegar, ingatan Tegar terbuka bersamaan dengan portal dimensi waktu dan juga ndoro putri sendiri yang menginginkan itu terjadi."
"Itu berarti jika arwah yang penasaran menginginkannya baru kamu bisa masuk ke masa lalu?"
Nayla mengangguk, "Iya, dan selama ini ibu nggak pernah muncul untuk memintaku melakukannya. Aku sendiri juga nggak punya petunjuk atau saksi hidup untuk dijadikan pemicu memasuki masa lalu."
Budi mengangguk. "Gimana kalau aku buka lagi kasusnya. Kita cari sama-sama. Aku dan kamu, kita kerjasama?"
"Yup, jadi … sepakat?" Budi mengulurkan tangan pada Nayla.
"Sepakat! Tapi apa balasannya nih, nggak mungkin kan saya nggak kasih kamu apresiasi?"
"Hmmm, gampang. Menikah lah denganku, apa kamu mau Nayla?" Budi membuka kotak kecil berisi cincin bermata safir.
Nayla terbelalak, ia terkekeh tak percaya dengan kejutan luar biasa dari Budi.
"Aku serius! Maukah kau menikah denganku dokter Nayla?"
Untuk sesaat Nayla menatap polisi muda berpangkat Aipda itu dengan senyum, lantas ia mengangguk. "Tentu, aku bersedia pak polisi." Nayla menyematkan cincin itu di jari manisnya lalu berbisik.
"Tangkap aku dengan cintamu!"
Budi tersenyum lebar dan memeluk Nayla dengan penuh suka cita. "Tentu dokter cintaku, aku bakal penjarakan kamu seumur hidup dengan cintaku."
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu di lain tempat, Rohman tertawa kecil dalam ruangan tertutup. Ia menatap setumpuk uang dan juga perhiasan hasil jual beli hasil panennya yang kali ini melimpah.
"Wah untung besar aku, kalo begini terus aku bisa beli kebun wortel sama kubis di desa sebelah!" ujarnya seraya menghitung uang.
"Kau bisa membeli apapun dengan mudah Rohman." suara wanita muncul di belakang tubuhnya.
Rohman sama sekali tidak terkejut, ia tahu itu adalah sang Nyai junjungannya.
"Iya Nyai, ini sudah lebih dari cukup buat saya."
"Benarkah? Bagaimana jika aku memberimu lebih, Rohman?"
Rohman menoleh pada Nyai Kembang, "Bisa? Seberapa banyak?" tanyanya tamak.
Nyai Kembang tersenyum sambil melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. "Begitu banyak, bahkan melebihi kekayaan juragan Dadan!"
Rohman menahan liurnya sendiri saat melihat tubuh molek sang Nyai yang terlihat mengkal dan kencang pada perabot atas bawah. "Apa syaratnya Nyai?"
"Puaskan aku, dan beri aku seekor ayam jantan hitam!" Nyai kembang tersenyum dan menatap Rohman nakal.
"Syarat yang mudah, aku akan memenuhinya nyai."
Rohman melucuti seluruh pakaiannya dan langsung memeluk sang nyai yang berbaring menggoda di ranjangnya. Rohman melupakan istrinya, ia mencumbu sosok lelembut ayu nan meng-gairahkan itu. Jiwa lelakinya tak lagi bisa membendung syahwat nya, yang ada hanya keinginan untuk memuaskan dan dipuaskan.
Nyai kembang tersenyum penuh kemenangan. Ia mendapatkan pengganti Tegar dan kali ini ia akan memastikan jika Rohman lebih setia padanya.
"Waktunya mengabdi padaku, setialah sampai akhir." ujarnya disela le-nguh-an kenikmatan.
...*** T A M A T ***...
happy weekend semuanya🥰
terimakasih sudah mendukung Nayla sampai akhir, ceritanya sampai disini aja yaa...pegel mikirnya🤭
pak RT udahan niii cerita, end, bubar, tamat, Fin😅🙈 jangan protes lagi niih...
sambil nunggu horor baru silakan mampir dulu ke mas RT yaaa....roman komedi yang bikin kita seru2an aja, saya persembahkan khusus buat kakak2 semua...a Tribute for all of u🥰
have a nice day n see u soon on next horor
cium sayang dari saya ~ Lia❤️l
__ADS_1
rembesan judul yaa🤗
semoga lancar ide, aamiiin....batal libur horor akhirnya🙈🙈😂😂