
Arini duduk termangu dipinggir ranjang. Tatapan matanya masih kosong, rasa trauma berada dalam penyekapan tidak mudah dihilangkan begitu saja. Kondisinya saat ini tidak separah saat pertama kali ia siuman. Arini mulai bisa bicara sedikit demi sedikit.
Pendampingan dokter dan psikolog khusus terus dilakukan oleh pihak kepolisian. Kamar tempat Arini dirawat juga diberi penjagaan. Kamarnya dipindahkan ke ruang VVIP yang diawasi dengan kamera CCTV, itu dilakukan atas permintaan Amanda sebagai satu satunya keluarga Arini.
Pada malam-malam pertama, Arini sering berteriak dan berjalan linglung sendirian keluar kamar. Hal ini membuat Amanda khawatir, adanya cctv membuat Amanda bisa memantau kakaknya dimanapun berada karena telah terhubung ke ponselnya.
"Kak, makan dulu yuk. Manda lapar, temani makan ya?"
Amanda membuka kotak nasi Padang dengan lauk ikan bakar kesukaan Arini. Ia masih berusaha memancing Arini agar kembali berbicara. Manda menyuapkan sesendok nasi dan potongan ikan ke mulut Arini yang masih diam menatap lurus ke depan.
Aroma makanan kesukaannya membuka sedikit ruang beku dalam memori Arini. Perlahan ia menoleh ke arah tangan Manda, memandang adiknya sebentar lalu membuka mulutnya. Manda sangat senang melihatnya, "Enak?"
Arini mengangguk, dan kembali mengunyah suapan kedua dari adiknya. Manda bersemangat dan sesekali bercerita tentang kenangan indah keduanya. Arini terlihat mengembangkan senyum. Menurut dokter, situasi yang nyaman dan membuat ia bahagia bisa membantu pemulihan kejiwaan Arini. Untuk sementara Amanda dilarang menanyakan hal yang berkaitan dengan penculikannya.
"Obatnya diminum ya kak?" Arini mengangguk lemah.
Manda hendak mengambil beberapa obat yang sudah disiapkan perawat tapi tangannya secara tak sengaja menjatuhkan tas miliknya hingga semua isinya berserakan di lantai.
"Aduh, pake jatuh segala."
Arini tertegun, ia meraih cermin kecil yang selalu dibawa Amanda untuk membantunya merias diri. Arini mematut wajahnya di cermin, menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Amanda tersenyum melihatnya.
"Kakak mau dirias, biar cantik?" Arini menoleh ke arahnya dan mengangguk.
Amanda dengan senang hati melakukannya setelah memberi Arini obat dari dokter. Amanda mulai menyisir rambut panjang Arini, menatanya bergelung cantik dengan bandana khusus miliknya. Merias wajah Arini dengan make up sederhana.
"Wah cantik, kakak persis kayak ibu."
__ADS_1
Keduanya tersenyum, dan tergelak bersama. Arini meraih cermin solek milik Amanda, ia menatap dirinya dalam cermin, ia tersenyum mencermati wajahnya sendiri. Tapi kemudian senyum itu memudar. Matanya membelalak, bibirnya bergetar hendak bicara tapi tak bisa. Ia masih menatap sosok yang ada dalam cermin.
Arini perlahan menoleh kebelakang, keringat membanjiri tubuhnya. Dengan suara yang sedikit tersendat, dan mata membayang menahan airmata, Arini bergumam lirih.
"Ju-juragan Dadan,"
Sosok itu berdiri di salah satu sudut kamar menatap Arini dengan mata hitam sempurna. Wajah pucat kebiruan tanpa ekspresi itu membuatnya ketakutan. Arini mundur perlahan sambil terus menatap sudut ruangan, ia menggelengkan kepala cepat.
"Jangan juragan, jangan!"
Dimata Arini sosok juragan Dadan itu berjalan mendekatinya, bau busuk menusuk hidung, belum lagi kulit juragan Dadan yang perlahan mengelupas hingga menampakkan luka mirip borok yang bernanah dan penuh belatung. Arini berteriak kencang, meminta sosok mengerikan itu menjauh.
"Pergi, pergi! Jangan dekati saya! Saya nggak salah!"
Amanda yang kebingungan dengan tingkah ketakutan kakaknya pun segera memeluknya. "Kak, kenapa? Sadar kak, sadar! Nggak ada siapa-siapa disini selain Manda!"
"Lepas Manda, lepasin kakak!" teriaknya terus tak terkendali
"Suster, suster! Tolong!" Manda berteriak meminta bantuan, tangannya tak bisa meraih tombol darurat karena sibuk menahan Amanda yang menggila.
Tak berapa lama dua orang perawat dan satu dokter jaga masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru. Mereka menahan tubuh Arini dan memberi suntikan penenang. Perlahan tubuh Arini pun melemas, matanya masih lekat menatap sosok menyeramkan serupa Wak Dadan.
Obat penenang itu perlahan bekerja menidurkan Arini lagi dengan lelap. Amanda melepas tubuh lemas kakaknya, ia menangis tak tega melihat kondisi Arini.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Amanda pada dokter jaga.
"Saya akan menghubungi dokter Rudi, secepatnya beliau akan datang kemari." sahut dokter jaga itu sambil menepuk ringan bahu Amanda. "Sabar dan kuat ya mbak."
__ADS_1
Amanda menahan pilu melihat kondisi sang kakak. Demi keamanan Arini kaki dan tangannya sementara diikat ke tepi ranjang.
"Aku nggak bisa diam begini, aku harus melakukan sesuatu!" ucapnya berderai airmata.
Ponselnya bergetar, Rizky sang kekasih menghubunginya. Dengan suara bergetar, ia menjawab. Rizky yang mendapat laporan dari kenalannya di rumah sakit tempat Arini dirawat mengkhawatirkan kondisi Amanda. Ia juga mengabarkan perkembangan terkini penyelidikan nya bersama rekan yang lain. Titik terang telah ditemukan dan Rizky memintanya untuk tetap tenang.
"Dimana rumah dukun sialan itu?!" tanyanya geram dengan tatapan tajam.
"Maaf, aku nggak bisa kasih tahu. Semua dalam penyelidikan dan aku nggak mau pengintaian kami gagal karena pribadi. Aku harap kamu mengerti ya?" suara Rizky diseberang sana terdengar mengecewakan bagi Amanda tapi tak banyak yang bisa ia perbuat.
"Ya, aku ngerti kok. Tapi boleh minta satu hal? Kalo kalian berhasil menemukannya aku yang akan pertama kali menghajarnya."
Rizky kembali berusaha menenangkan sang kekasih. Wajar memang jika emosi Amanda meluap, lima tahun bukan waktu yang pendek. Selama itu Amanda terus berjuang dan menutup telinga dari berita negatif yang berkembang.
Rizky mengakhiri panggilannya setelah Amanda berjanji tidak akan bertindak ceroboh. Amanda kembali dalam kesunyian, menatap sang kakak dan mengingat seluruh kekacauan yang terjadi dalam waktu singkat.
"Juragan Dadan? Tadi kakak panggil-panggil nama dia. Apa hubungannya sama juragan Dadan?"
Amanda mengernyit, ia kembali mengingat kalimat Arini. "Bukan salah saya … apa maksudnya?" Amanda beralih menatap wajah sang kakak,
"Apa yang terjadi lima tahun lalu kak? Kenapa baru kali ini semua terungkap? Kenapa tidak sedari dulu saat kakak diketahui menghilang?"
Sejumlah pertanyaan bertubi tubi ditanyakan pada Arini. Tentu saja hal itu mustahil terjawab karena Arini tidak mendengarnya sama sekali. Obat penenang yang diberikan dokter cukup untuk menidurkan Arini hingga esok hari.
Amanda duduk bersandar di sofa, matanya terasa berat dan tubuhnya lelah. Antara sadar dan tidak Amanda melihat sesosok bayangan berjalan mendekatinya. Wangi bunga menggelitik hidungnya, bulu di seluruh tubuhnya berdiri tanpa terkendali. Amanda gelisah dalam duduknya, ia merasakan kehadiran makhluk lain yang tak bisa dijelaskan dengan logika.
Tiba-tiba saja ia merasakan bahunya disentuh tangan dingin yang menyakiti permukaan kulit. Lalu ucapan lembut menyerupai bisikan menyapa telinga kirinya, yang perlahan melelapkan nya dalam tidur.
__ADS_1
"Istirahat lah cah ayu. Tidurlah, semua akan terungkap saat masanya tiba."