
Nayla tak banyak bicara setelah pertemuannya dengan sosok Nyi Melati. Wanita yang menjadi istri ketiga Wak Dadan itu cukup mengganggu pikirannya. Nyi Melati kali ini hadir tanpa menakutinya dengan wajah mengerikan, meski begitu bagi Nayla sosok dengan tatapan mata kosong itu jauh lebih menyeramkan.
Nayla pulang ditemani Budi dan Anton sementara dokter Putra bersama perangkat desa berada di kantor pak kades guna membahas peristiwa yang sangat meresahkan warga.
Budi dan timnya mendapat kasus yang lumayan rumit. Belum ada titik terang yang bisa mengaitkan kematian tiga warga desa yang tewas gantung diri. Sekarang masih ditambah kasus pembunuhan dua warga lain dengan cara kematian berbeda. Desas desus pun beredar dan semuanya mengerucut pada keluarga Wak Dadan.
Dua korban terakhir dulunya juga pekerja Wak dadan yang kini menjadi supplier utama sayur mayur di salah satu gerai ternama di kota. Jasad keduanya langsung dikirim ke rumah sakit besar di kota beserta bukti sementara.
Budi dan Anton merebahkan tubuh lelah mereka di sofa. Hari yang melelahkan bagi mereka.
"Gila, nih desa bisa jadi viral Bud!"
"Hhmm," Budi menanggapi singkat dengan mata terpejam.
"Kira-kira ini serial killer nggak sih?" tanya Anton lagi yang membuat Budi akhirnya membuka mata. Ia tertarik dengan kata serial killer.
"Serial killer? Kalo kita nemu bukti kuat tiga korban itu dibunuh ada kemungkinan ini serial killer. Apalagi dua korban terakhir juga sama pernah kerja di kebun wak Dadan. Aku jadi penasaran siapa sih Wak Dadan sampe udah mati aja pake bawa-bawa anak buahnya?"
"Yang jelas bukan mau bikin usaha sayur mayur di alam lain Bud!" sahut Anton menggeliatkan badannya.
"Mas polisi capek yaa, sini tak pijetin dikit" suara manja khas Sundari tiba-tiba terdengar.
"Eeeh, kamu mau ngapain?" seru Anton yang terkejut karena tangan Sundari dengan ramahnya langsung memijat bahu dan lengan Anton.
"Udah mas polisi diem aja orang dibikin enak kok protes!" sahut Sundari yang tiba-tiba saja muncul di ruang tamu.
Budi terkikik geli, ia sempat melihat Sundari datang dan mengintip dari balik jendela. "Udah antepin aja kenapa, mumpung gratis!"
"Mulut lu, Bud antepin! Bisa salah paham nanti dia!" lirik Anton pada Sundari kesal, wanita itu tetap memijat meski berkali kali Anton menepis tangannya.
Aroma kopi hitam menyeruak dari dapur, Nayla datang dengan nampan berisi dua gelas kopi hitam dan cemilan untuk Budi dan Anton.
"Lho mbak kok disini? Nggak jadi apa nemenin mas dukun Joko?"
"Nggak mbak, mas dukun jahat! Aku sebel sama dia!" Cebiknya kesal.
"Eeh kenapa lagi?" Nayla tergelak melihat tingkah Sundari yang ngambek.
__ADS_1
"Masa saya diusir nggak boleh nemenin, katanya ganggu tidur dia aja! Kan kuueeeseell aku mbak!" sahutnya langsung meraih kopi yang hendak diminum Anton.
"Eeh, itu masih …," peringatan Anton diabaikan Sundari, benar saja sedetik kemudian wanita molek itu menjerit kepanasan.
"Nah kan, main samber aja siih!" Anton kesal sekaligus geli karena Sundari cemberut sambil menatapnya. "Salah saya apa kok liatinnya gitu?"
"Iiiih, semua laki-laki sama!" sahut Sundari yang sontak membuat Budi dan Nayla tertawa.
"Mas dukun Joko siapa yang jaga kalo gitu?" tanya Budi ikut penasaran.
"Ya Slamet lah siapa lagi selain kacung goblok itu!"
Nayla menggelengkan kepala melihat Sundari merajuk, "Makanya mbak jangan main sosor aja, mas dukun kan lagi sakit butuh istirahat. Pasti mbak Sundari bikin mas Joko nggak nyaman kan, makanya diusir!"
"Dianya aja yang nggak tau untung, wong dibikin enak merem melek malah aku di nesuni!" (marahin)
"Eeh," Budi dan Anton menahan tawa sementara Nayla tak bisa lagi menahan dirinya. Ia tertawa geli. Sundari pun garuk-garuk kepala.
"Mbak, mas dukun ada cerita nggak kenapa dia sampai begitu?" tanya Budi setelah bisa mengontrol dirinya.
"Pakaian hitam? Iyaa, cuma anehnya orang-orang itu bilang mereka suruhan dari ndoro putri. Lah saya kan bingung, ndoro putri udah mati kenapa masih nyuruh orang juga? Apa mungkin ndoro putri itu, kangen sama mas dukun? Kan yo nggak mungkin mas polisi?!" cerocos Sundari panjang lebar.
Budi dan Anton saling memandang, "Apa kamu mikir hal yang sama? Kasus ini ada kaitannya?" tanya Anton pada Budi yang langsung disambut dengan pertanyaan lain untuk Sundari.
"Mas dukun ada main sama ndoro putri?" Budi bertanya dengan serius.
Sundari berpikir sejenak, "Setau saya sih dulu dia pernah bantu ndoro Ageng buat gagalin pernikahan sama ndoro putri. Tapi gagal, ndoro putri terlalu hebat yang jaga. Habis itu mas dukun sama ndoro putri musuhan gitu deh!"
"Siapa ndoro Ageng?" tanya Budi lagi.
"Istri pertama juragan Dadan. Wah pokoknya tu orang kaya, bikin mumet mas polisi. Ndoro Ageng nggak suka sama ndoro putri, titik."
"Orang nggak suka kan ada alesannya mbak, kamu tahu apa alasannya?" kali ini giliran Anton bertanya.
"Nggak paham juga sih, cuma denger-denger dari Sukir dulu ndoro putri kan suka ritual gitu sama dukun selingkuhannya nah salah satu ritualnya itu katanya sih buat bunuh ndoro Ageng. Pake santet! Iih merinding aku bayanginnya!"
Nayla dan yang lain saling memandang, "Santet mbak? Serius?"
__ADS_1
"Iya mbak serius, kayak film-film itu lho guna guna istri muda. Wes pokok'e persis kayak gitu!" jawab Sundari sambil menjejalkan kembali kue ke mulutnya.
"Hhm, saya penasaran mbak, kalo ndoro Ageng minta bantuan mas dukun terus ndoro putri minta bantuan dukun lain pacarnya ... lha trus Wak Dadan suka minta bantuan ke dukun siapa nih?"
Pertanyaan Nayla sempat membuat Sundari mengerutkan keningnya, tapi kemudian ia menjawab.
"Mas dukun juga pernah dimintain bantuan sama juragan Dadan sih mbak, buat … melet dokter Arini."
"Hadeeeh saya puyeng mbak, beneran! Jadi ini muter-muter aja dendamnya gitu?" ujar Nayla sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Tak ada jawaban dari Sundari tapi selarik senyum aneh sempat terlihat Nayla. Meski dalam hitungan detik, tapi Nayla menangkapnya.
'Mbak Sundari, senyumnya mencurigakan. Kalau dipikir-pikir cerita Tegar sama Sundari kok beda ya? Semoga apa yang aku pikirkan salah.'
"Mbak, buatin kopi dong saya males ni jalan ke belakang." pinta Nayla pada Sundari.
"Siap mbak dokter, pake susu apa nggak? Mas polisi mau nambah juga? Pake susu?" kerlingnya menggoda.
"Boleh deh, yang banyak susunya ya!" jawab Anton dengan seringai jenaka.
"Oke, tiga kopi susu meluncur … ditunggu yaaa," Sundari menanggapi dengan suara manja membuat ketiga nya menggelengkan kepala.
Saat Sundari ke dapur, Nayla mendekati Budi. "Saya curiga sama mbak Sundari." mata Nayla kembali mengawasi Sundari.
"Maksud kamu?"
"Mas Budi sama mas Anton nggak liat senyuman aneh dia?" tanya Nayla setengah berbisik. Keduanya menggelengkan kepala.
"Hhm, kalian yang dilihat perabot depan sama belakang yang menggoda itu sih!" sungut Nayla kesal meski ia memahaminya.
Lelaki mana yang bisa menolak pemandangan indah tubuh Sundari yang tercetak jelas dari balik daster tipis yang dikenakannya. Firasat Nayla mengatakan jika Sundari berbohong.
"Kamu mencurigai dia? Kenapa?" tanya Budi.
"Entahlah, sikapnya terlalu berlebihan selain itu ada perbedaan cerita antara satu dan yang lain."
"Maksud kamu, Sundari juga memainkan peran disini?" tanya Budi memastikan dan Nanya mengangguk. Ketiganya langsung menatap ke arah dapur dimana Sundari tengah bersenandung kecil.
__ADS_1