
Aroma masakan memenuhi ruangan. Nayla terbangun karena bau khas sambal menggelitik hidungnya. Sedikit kesal karena Nayla masih mengantuk dan malas bangun.
"Aduh siapa sih ini yang masak pagi buta begini?!" gerutunya sambil mengenakan sandal rumah.
Aroma sambal yang menusuk hidung membuatnya bersin-bersin, dengan bersungut-sungut Nayla keluar kamar.
"Siapa sih yang masak, baunya pedes banget ini!"
Nayla sama sekali tak menyadari jika diluar sana hari masih gelap. Dokter muda itu keluar kamar dan menuju ke dapur. Betapa terkejut Nayla ketika mendapati tak seorang pun ada disana.
"Lho yang masak siapa tadi?" matanya mengedar ke penjuru ruangan, "Mbak Ndari? Mbak udah masak?"
Nayla memanggil nama Sundari sambil membuka tudung saji di meja. Matanya membulat sempurna saat mendapati masakan yang masih mengepulkan asap, oseng ati ampela cabai hijau.
"Oh ini to yang bikin pedes sampai dalam. Tapi siapa yang masak? Dapurnya bersih."
Nayla bingung karena memang kondisi dapur sama sekali tidak berantakan layaknya orang baru memasak. Hawa aneh seketika menyambutnya. Tubuhnya terasa nyeri dan bulu halus berdiri.
"Kayaknya ada yang nggak beres," ucapnya sedikit ragu.
Nayla menatap jam di dinding, jarum jam menunjukkan pukul dua lewat dua puluh menit.
"Masih malam?" gumamnya lirih.
BRAAK!!
"Astaghfirullah!"
Pintu kamar mandi yang letaknya tak jauh dari Nayla berdiri tiba-tiba saja menutup dengan kencang. Jantung Nayla berdetak cepat, wajahnya pias, dan lututnya terasa lemas.
"Si-siapa?"
Nayla berjalan perlahan, matanya menatap ke arah pintu kamar mandi. Ia mengumpulkan keberanian untuk mendekat dan membuka handle pintu. Pintu terbuka perlahan, tak ada siapapun disana. Nayla semakin ketakutan saat bahunya terasa ditekan sesuatu.
Lehernya bergerak kaku dan matanya melirik ke arah bahu kanannya. Sebuah tangan ada disana, Nayla memejamkan mata dan berharap semua itu hanya ilusi.
"Mbak?"
Suara berat yang menyapanya sedikit mengejutkan Nayla. "Mbak Nayla!"
Dokter muda yang dilanda ketakutan itu segera menoleh, "Mas Anton? Astaghfirullah al adzim," ia pun lega melihat polisi muda yang tengah mengernyitkan dahi.
"Kenapa mbak?" Anton bertanya, ia heran karena Nayla terlihat begitu terkejut saat melihatnya.
"Eh, anu nggak apa-apa." Nayla celingukan melihat keadaan, "Mas Anton darimana malam-malam begini? mas Budi mana?"
__ADS_1
"Oh ya ada di rumah depan, saya kesini mau numpang kamar mandi." Anton bergegas masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan Nayla yang masih kebingungan.
Nayla termangu sesaat, ia kembali memandang ke arah tudung saji. Rasa penasaran membuatnya membuka lagi penutup makanan berwarna merah jambu itu. Tak ada mangkok berisi makanan kesukaannya tadi.
"Kosong? Tadi ada kan disini? Aku lihat sama pegang mangkok tadi lho, beneran masih panas." Nayla mengingat sensasi hangat dan aroma masakan tadi.
Kepalanya berdenyut kencang, "Aku mungkin ngelindur lagi."
Nayla memutuskan kembali ke kamarnya, saat hendak masuk ke dalam kamar matanya tertuju pada benda yang tergeletak di atas meja.
"Lho, itu kan __,"
Nayla memastikan dirinya tidak salah mengenali. "Lho rekam medisnya kok ada disini padahal kan tadi aku cari nggak ada?"
Nayla kembali celingukan, mencari seseorang tapi rumah benar-benar sepi. Ayahnya mungkin masih tertidur lelap dan Tegar mungkin ada di kamar bersama ibunya, Nayla tak mungkin mengganggu mereka. Dokter muda itu tak ingin ambil pusing dan segera membawa stop map kuning gading itu ke dalam kamar.
Nayla memeriksa lembaran kertas yang berisi catatan kesehatan milik Dadan Suhada bin Erpan Supandi. Nayla memeriksa dengan teliti riwayat kesehatan Wak Dadan, ia menemukan kejanggalan. Berkali kali ia membaca ulang lalu membandingkannya dengan resep yang ditemukan secara tak sengaja.
"Tanggalnya sesuai sama terakhir kunjungan Wak Dadan. Tapi yang dituliskan disini sama resep ini berbeda. Aneh."
Nayla kembali membuka catatan awal kesehatan Wak Dadan, matanya terbelalak saat menemukan fakta jika Wak Dadan memiliki alergi Metformin (obat yang dapat mengontrol dan menurunkan kadar gula darah untuk penderita diabetes tipe 2)
"Gila, dokter Arini ngasih Diabit (salah satu merk Metformin) pake dosis dua kali lipat?" Nayla me-remas rambutnya frustasi, ia tak habis pikir dokter Arini bisa berbuat demikian.
"Ini dia yang ceroboh atau memang sengaja? Atau jangan-jangan … ini berhubungan dengan niat Wak Dadan memperistri Arini?"
Ia berjalan mondar mandir dan sesekali berhenti menatap rekam medis Wak Dadan. "Wak Dadan mau memperistri Arini, dia nolak, kesel, terus akhirnya bikin resep yang lumayan mematikan buat Wak Dadan yang alergi. Tapi siapa yang bikin isu kalo Wak Dadan kena santet? Orang yang menyebarkan berita ini bisa jadi mau mengaburkan fakta yang sebenarnya terjadi,"
Nayla kembali berdiri dengan melipat kedua tangan di dada, "Tapi dimana Arini, benar dia udah mati atau sengaja menghilang?"
Arini merebahkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata sejenak. Tapi rasa penasaran yang membuncah membuatnya tak bisa terlelap tidur, berkali kali ia membalik tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Cukup lama juga sebelum akhirnya ia kembali terlelap.
Suara gedoran pintu mengagetkan Nayla, ia terbangun cepat.
"Mbak, mbak Nayla! Bangun, ini udah jam enam pagi! Ayuk sarapan bareng!"
Dengan tergesa, Nayla menyisir rambut dan mengikatnya asal. Suara Sundari yang lumayan cempreng juga membangunkan ayahnya dan Tegar.
"Mbak datang jam berapa, saya sampai nggak tau mbak Ndari datang?" tanya Nayla meminum kopi nya sedikit.
"Oh tadi abis subuhan mbak, saya langsung kesini soalnya kemarin kan saya sibuk jadi lupa kalo ada tugas disini." Sundari menjawab sambil meletakkan mangkuk berisi bubur ayam untuk Nayla dan ayahnya.
"Oh pantesan saya nggak denger, semalam saya __," Nayla urung melanjutkan kalimatnya.
"Semalam kenapa Nay?" Dokter putra penasaran.
__ADS_1
"Oh nggak yah, semalam … rekam medis Wak Dadan ketemu. Jadi Nayla baca sedikit."
"Nah, itu ketemu dimana? Kamu lupa menaruhnya dimana semalam?"
"Ehm, ini … ya, pokoknya ketemu deh Yah."
Budi melangkah gontai masuk ke dalam rumah dinas. Wajahnya kuyu kurang tidur. "Mbak Sun, buatin kopi dong?" pintanya saat mendaratkan bokong di kursi meja makan.
"Gitu amat mukanya, semalam nggak tidur?" tanya Nayla penasaran, ia menyodorkan pisang goreng hangat pada Budi.
"Nggak, semalam abis ngobrol sama Anton masalah penemuan mayat terakhir. Sampe subuh kita ngobrol, nggak kerasa tau-tau pagi."
"Oh, sampe rebutan kamar mandi segala ya?" tanya Nayla kembali meminum kopinya.
Budi menghentikan kunyahannya, ia menatap Nayla heran. "Siapa yang rebutan kamar mandi?"
"Mas Budi sama Anton kan?"
"Siapa? Saya sama Anton? Orang kita semalem rebutan juga nggak, debat iya karena ada beberapa fakta yang janggal." Budi terdiam sejenak, "Tunggu kamu bisa menyimpulkan kita rebutan kamar mandi gimana ceritanya Nay?"
"Lah, ya dari mas Anton. Semalam dia kan kesini numpang kamar mandi."
"Hah, semalam? Jam berapa? Perasaan kita nggak keluar-masuk rumah ini Nay."
Nayla tersedak lalu menatap Budi bingung. "Mas Anton beneran semalam kesini kok, ngagetin lagi datangnya. Kata dia kalian rebutan kamar mandi!"
"Siapa yang rebutan kamar mandi?" Anton yang mendengar obrolan langsung bertanya pada Nayla.
"Nih, orangnya dateng. Tanya aja sendiri, dia keluar rumah nggak semalem? Orang kita ngobrol sampe adzan shubuh." Budi berkata sambil menatap rekannya yang menguap.
"Siapa yang keluar rumah sih? Nggak paham saya, yang Budi bilang bener kok saya di rumah terus. Ini baru keluar, mau numpang ngupi sepet matanya!"
Nayla melongo, ia tak tahu harus berkata apa. Masih jelas dalam ingatan Nayla, Anton menyapanya dan masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya tiba-tiba saja menutup keras. Nayla menatap Anton, ia masih tak percaya dengan ucapan dua polisi muda di depannya.
"Kalau mas Anton nggak keluar rumah terus semalam siapa yang pegang bahu aku?" tanya Nayla lirih nyaris tak terdengar.
Yang ada diruangan pun saling memandang dengan heran. Anton merasa ngeri dengan cerita Nayla, ia seketika merapatkan diri pada Budi.
"Ccck, gitu aja takut! Kali kamu kegantengannya melebihi batas rata-rata selera perhantuan jadi ditiru!" ledek Budi pada rekannya.
"Huush, omongan mu Bud! Sembrono!" Anton terlihat sewot dan menyentuh tengkuknya.
"Halah, gitu aja takut! Malu tuh sama pangkat!"
"Hhhm, polisi juga manusia kali Bud! Punya rasa takut juga!"
__ADS_1
Nayla tersenyum masam, ia menatap ke arah pintu kamar mandi yang sedikit bergoyang. Sosok tak kasat mata mengintainya dengan seringai lebar.
"Kau wangi sekali, cah ayu!"