Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Pengakuan Mbok Dar


__ADS_3

"Apa? Nggak, nggak mungkin Nay! Simbok bahkan nggak tega nyakitin semut sekalipun!"


Tegar menatap tak percaya pada Nayla. Cengkraman tangannya begitu kuat hingga menyakiti Nayla.


"Aku melihat ibumu dalam kilasan masa lalu. Maaf, semoga saja itu salah." ucap Nayla sambil meringis kesakitan.


"Katakan itu salah Nay, itu nggak benar! Penglihatan mu salah! Simbok akan pernah berbuat keji seperti itu!" Tegar berteriak tepat di depan wajah Nayla membuat Nayla semakin ketakutan.


"Tegar, aku nggak tahu. Aku cuma ngelihat aja, dan mbok Dar memang _,"


"Aargh!" Tegar mendorong Nayla kasar hingga dokter muda itu terjerembab.


Tegar berusaha mengingat hari itu, hari dimana ndoro putri ia tinggalkan disungai. Ia berusaha keras mengingat hingga akhirnya Tegar menyadari kalau mbok Dar malam itu pulang begitu larut. Tegar masih mengingat dengan jelas, ibunya terlihat begitu letih dan pucat. 


Ketika ia menanyakannya pada mbok Dar, sang ibu hanya menjawab lelah dan masuk angin. Esok harinya Tegar menemukan pakaian kotor sang ibu dengan noda darah tapi ketika Tegar menanyakannya, mbok Dar menjawab dengan gugup. Waktu itu Tegar mengabaikannya dan kini ia sadar, mbok Dar telah menyelesaikan masalah untuknya.


"Jangan-jangan waktu itu … Nay, bisakah kamu melihat apa yang dilakukan simbok setelah itu?"


Nayla menggeleng, "Kemampuanku ada batasnya." 


Tegar duduk bersimpuh, tangisnya pecah. Ia menyesali tindakannya, persekutuannya dengan iblis nyatanya tak membuatnya menjadi bahagia. Ada bayaran yang harus ditebus dan itu sangat mahal melebihi kebahagiaan tertinggi di dunia. 


Nayla mendekati Tegar perlahan, awalnya ia ragu untuk menyentuh pemuda yang masih meratapi nasibnya itu tapi kemudian Nayla memberanikan diri untuk mengusap punggung Tegar, meski sebenarnya Nayla sedikit ngeri dan takut jika Tegar akan berubah lagi menjadi sosok yang menyeramkan.


Tegar menangis dan membenamkan kepala di pelukan dokter muda itu. Melepaskan segala beban di hatinya pada Nayla. Entah berapa lama Tegar menangis, hingga mereka akhirnya saling bersandar dan terlelap karena kelelahan. 

__ADS_1


Saat pagi menjelang, Budi dan warga desa menemukan mereka berdua. Betapa terkejutnya warga saat melihat Tegar dengan pakaian penuh noda darah. Pada wajah dan juga tangannya terlihat bekas darah mengering. Kengerian terlihat jelas dari ekspresi mereka menatap Tegar. 


"Astaghfirullah, lha kok Tegar banjir getih(darah)? Lah jangan-jangan dia yang bunuh orang-orang itu?" Pak Tarmiji beringsut mundur ke belakang Budi.


Budi memberi kode pada timnya untuk bersiap dan mengepung Tegar yang masih lelap tidur bersandar pada Nayla. Mereka mengarahkan senjata ke arah Tegar. Budi memberi aba-aba pada salah satu rekannya untuk membangunkan Tegar.


Hanya butuh dua kali memanggil nama, Tegar dan Nayla pun membuka matanya. Keduanya terkejut dan bingung karena warga desa telah berkumpul mengelilingi mereka dengan tatapan penuh tanya.


"Mas Tegar, bisa jelaskan apa yang terjadi?" Budi bertanya dengan senjata yang terus mengarah padanya.


Nayla dan Tegar saling memandang, dokter muda itu mengangguk sebagai isyarat pada Tegar. Pemuda eksotis itu kembali menatap satu persatu warga desa dan juga tim kepolisian. Perlahan ia mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah.


"Saya bersalah, silakan tangkap saya." ucapnya dengan ikhlas.


Budi memberi isyarat pada rekannya untuk segera meringkus Tegar. Sebelum Tegar digelandang ia menoleh pada Nayla, "Terimakasih untuk semuanya dan maafin aku."


"Tunggu, pak polisi! Bawa saya juga, saya juga bersalah!"


"Mbok Dar," desis Nayla saat melihat sosok wanita paruh baya yang berada diatas kursi roda dengan bantuan suster Indah.


"Mbok!" Tegar bergegas menghampiri ibunya, ia bersimpuh dihadapan mbok Dar mencium kakinya.


"Maafin Tegar mbok, maafin Tegar! Tegar belum bisa nyenengin hati mbok, Tegar malah bikin malu simbok!" Kalimat Tegar membuat mbok Dar semakin terisak.


Wanita paruh baya itu, mengusap kepala putranya. "Le, apa pun yang kamu lakukan simbok tetap mendukungmu. Simbok yang salah, simbok yang gagal menjadi orang tua yang baik untuk kamu."

__ADS_1


Tegar menengadah, airmatanya membanjir. Wajahnya yang kotor dengan noda darah dan tanah, hanya bisa menatap ibunya dengan pilu, Tegar memeluk mbok Dar.


"Tegar berdosa mbok,"


"Mbok tahu Le, simbok juga sama. Simbok capek terus sembunyi, sebelum simbok mati simbok harus bertanggungjawab. Supaya ndoro putri juga tenang di alam sana."


Tegar melepaskan tangannya dari leher mbok Dar, "Maksud mbok apa?" ia sungguh berharap ibunya tak mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan penglihatan Nayla.


Mbok Dar tersenyum, "Mbok ikhlas le, sudah kewajiban mbok untuk menyelesaikan semuanya demi kamu."


Mbok Dar menoleh ke arah Budi, "Mas polisi, tangkap saya. Saya telah membunuh ndoro putri, saya khilaf."


"Mbok!" Tegar terperanjat.


Mbok Dar menoleh lagi pada putranya dengan tersenyum. "Sudah waktunya semua terbuka, Le. Biar mbok tenang."


"Mas polisi, saya membunuh ndoro putri. Saya kesal karena ndoro putri mempermainkan Tegar seenaknya. Kami melindunginya dari juragan Dadan tapi balasannya dia malah mengajak Tegar berlalu tak pantas. Dia layak mati! Tidak ada yang boleh mempermainkan Tegar!"


Tegar terhenyak dengan ucapan mbok Dar, "Mbok _,"


Mbok Dar kembali menoleh pada Tegar, "Kamu layak bahagia Le, kamu layak mendapatkan yang lebih baik. Ndoro putri sudah jahat sama kita, simbok nggak rela. Simbok menyesal membunuhnya dengan tangan simbok sendiri. Tapi semua sudah terjadi."


Tegar memeluk mbok Dar yang masih berada di kursi roda. Kasih sayang mbok Dar pada Tegar membuatnya rela bersimbah darah untuk melindungi putranya. Tiba-tiba saja dari arah yang berlawanan teriakan lantang seorang pria terdengar.


"Kurang ajar, ternyata kalian membunuh Kumalasari!"

__ADS_1


Mbah Anto muncul dari persembunyiannya, dukun lelaki tampan itu mendengar semua dari balik rimbun semak. Mbah Anto berlari dengan kencang ke arah sepasang ibu dan anak itu. Mata mbok Dar menangkap kilatan cahaya dari bilah parang yang ada ditangan Mbah Anto. Dengan sekuat tenaga ia berdiri dari kursi roda, mendorong kuat Tegar dan menjadi perisai hidup bagi putranya.


"Mati kau, bangsat!" Mbah Anto menghujamkan parang ke perut mbok Dar hingga menembus ke belakang.


__ADS_2