Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Mimpi yang Nyata


__ADS_3

"Kayaknya kamu nggak perlu tahu deh siapa yang jadi lawan tanding mas dukun!" Tegar memberikan peringatan pada Nayla, wajahnya berubah serius.


Nayla mengernyit heran, "Kenapa emang? Kan wajar aku nanya, ini kejahatan sengaja atau memang adu duel perkelahian biasa. Dia pasienku Tegar, wajar aku nanya!"


"Hhm, iya sih. Tapi aku nggak suka cara dia natap kamu gitu. Nggak respek! Apalagi si Sundari bikin eneg liatnya!"


"Nah ini, kamu yang aneh. Kok bisa kamu bilang gitu? Jangan-jangan kamu … cemburu sama mas dukun ya?"


Tegar menatap tak suka pada perkataan Nayla. "Ccck, bukan gitu masalahnya! Mas dukun itu berkelahi sama orang suruhan saingannya dari desa sebelah! Orang itu lari ke arah hutan sana, aku tadi sempat dengar cerita dari orang-orang."


"Ooh, terus kenapa kamu melarang aku nanya-nanya ke mas dukun?"


"Aku cuma khawatir, kamu terluka itu aja." jawabnya lirih, Tegar menghela nafas berat. Ia mendekati Nayla dan mengusap pipi halus sang dokter.


"Aku peduli sama kamu dan aku juga sayang sama kamu." 


Nayla mengerjap tak percaya pada kalimat Tegar, tapi belum sempat ia bertanya bibir lembut Tegar sudah mendarat di pipinya. Kecupan tiba-tiba yang membekukan dunia Nayla seketika. 


Tegar berbisik pada Nayla, "Maaf,"


Pemuda eksotik itu tersenyum sebelum pergi meninggalkan Nayla yang terheran heran dengan sikapnya. Perkataan Tegar terlalu ambigu dan malah membuatnya penasaran.


"Apa itu, takut aku kenapa kenapa? Kan nggak ada hubungannya aku sama mas dukun? Terus apa hubungannya coba sama yang menghajar tuh dukun mesum. Aneh!" Nayla meraba pipinya sejenak, lalu menatap punggung Tegar yang menghilang masuk ke kamar rawat inap mbok Dar.


"Mbak Nayla, saya mau pulang ke rumah mas dukun. Mau ambil baju ganti buat dia, hari ini saya nggak bantu-bantu dulu ya dirumah. Mau jagain mas dukun Joko!" kata Sundari sambil tersipu malu.


"Hmmm, iya mbak Sundari … ingat ini klinik bukan kamar sendiri!" Nayla mengingatkan karena jelas otak Sundari hanya seputar pangkal paha saja.


Sundari mengangguk dan pergi dengan diantar seorang warga lain menggunakan sepeda motor. Nayla menatap tubuh lemah mas dukun yang kini tertidur lelap. Dokter Putra sudah kembali ke ruangannya dan sibuk dengan tumpukan kertas.


 Pasien sepi hari ini, rencana Nayla berkunjung ke rumah Bu Mirah pun batal. Budi mengabarkan lewat pesan singkat jika dia dan rekannya sudah ada disana. Budi juga sempat menanyakan situasi dan kondisi yang cukup menghebohkan desa pagi itu. Nayla membalas singkat pesan Budi dan duduk di bangku panjang dekat taman sederhana dalam klinik.


Semilir angin membuat Nayla merasa nyaman. "Desa yang aneh, apa yang sebenarnya terjadi? Kematian warga dengan cara yang sama. Disukai makhluk aneh yang nyeremin, burung Kedasih, mimpi aneh … semuanya aneh," Nayla menghela nafas dengan berat. "Seaneh hidupku mungkin."


"Minum?" 

__ADS_1


Sebotol isotonik merk salah satu produk terulur di depan Nayla. Dokter muda itu menoleh ke arah pemberi, seorang wanita cantik berambut sebahu dengan sepasang antik unik. Wanita itu tersenyum pada Nayla. Wangi parfum bunga yang menusuk hidungnya cukup membuat Nayla terganggu.


"Makasih," Nayla meminumnya, lumayan untuk meredakan rasa haus di siang hari terik.


"Bad day?"


"Nggak juga," 


Nayla menutup botol minuman itu lalu menoleh pada wanita yang duduk dan menatap taman dengan tenang. Dari wajahnya wanita itu mungkin berusia sekitar tiga puluh tahunan. Pakaian yang dikenakan juga cukup bagus untuk ukuran orang desa. Lebih mirip sebagai pekerja kantoran malah.


"Mbak siapa, saya baru lihat wajah mbak. Bukan warga sini?"


Wanita itu tersenyum, dan menatap Nayla. Dokter muda itu terkesiap, dia pernah melihat mata itu tapi dimana. Nayla merasa mengenalnya tapi siapa dan kapan ia lupa.


"Iya, anggap aja gitu. Saya pendatang."


"Oh, pantesan. Maaf apa kita pernah kenal atau ketemu?"


Lagi-lagi wanita itu tersenyum, "Mungkin, entahlah."


Mereka kembali terdiam untuk sesaat sebelum wanita itu berkata lagi, "Mbak tahu, dulu desa ini begitu nyaman dan tentram, damai dan saling menghormati satu sama lain. Tapi semenjak kedatangan istri ketiga Wak Dadan, semuanya kacau."


"Andai dia nggak pernah diangkat jadi istri ketiga, andai Wak Dadan tidak berniat memperistri dokter Arini semuanya pasti aman."


"Maksud mbak gimana, saya nggak paham?"


Wanita itu kembali tersenyum pada Nayla, "Kamu nggak perlu paham. Kamu hanya perlu mencari siapa penyebar ketakutan ini."


Wanita itu berdiri lalu pergi meninggalkan Nayla, "Eh siapa nama mbak, kita belum kenalan!" teriak Nayla.


Wanita itu berbalik dan mengerling, "Namaku Manda, kita bakal ketemu lagi kok!" sahutnya dengan melambaikan tangan.


"Manda? Siapa dia?" Nayla kembali menenggak minumannya lalu melihat ke arah wanita tadi pergi. "Benar-benar desa yang aneh, pagi yang aneh dan juga takdir yang aneh!"


Satu pesan gambar masuk ke ponsel Nayla. Matanya terbelalak saat menatap foto yang baru dikirim Budi dengan caption.

__ADS_1


[Ramalan Kedasih benar, bukan satu tapi dua mayat!]


...----------------...


Dilain tempat, seorang wanita dan tiga orang lelaki berpakaian serba hitam berkumpul di sebuah rumah. Wanita itu datang dengan wajah murka, "Bodoh! bisanya kalian gagal membunuh dukun cabul itu!


Tiga pria berpakaian hitam itu, menunduk. Sang wanita berpakaian seksi itu menatap satu persatu orang suruhannya. "Apa kalian nggak pake otak hah! Aku kan sudah bilang jangan ninggalin jejak dan jangan sampai ada orang yang tahu kejadian ini!"


"Maaf, tapi kami sudah berusaha melakukannya diam-diam hanya saja ada Rohman yang mergokin kami saat beraksi!"


"Goblok! Itu namanya kalian nggak hati-hati! Kenapa nggak sekalian bunuh Rohman biar nggak ada saksi!" wanita itu kembali berteriak, ajaibnya tak ada satu pun dari mereka yang berani membantah.


"Ada apa ini?" pria lain bertubuh jangkung masuk, menatap wanita dan tiga pria yang sedang menunduk.


"Kamu cari dimana mereka hah! Nggak becus gini kerjaannya!" gerutu si wanita kesal.


"Nggak usah marah-marah, kalo kamu marah bikin aku nap-su tau nggak?!" sahut si pria sambil mengangkat dagu si wanita dan mengecupnya lembut.


Mereka berciuman panas tak peduli dengan tiga pria yang ada dihadapannya. Bahkan si wanita mulai mendesah dan menggeliat kepanasan dengan sentuhan pria jangkung yang mendekapnya sensual.


"Udah, lanjut lagi nanti!" si wanita menghentikan aksi nakal sipria.


Meski pria itu kesal aksinya dihentikan tapi dirinya menuruti keinginan wanita yang masih dalam pelukannya itu.


"Aku anggap kalian gagal, tapi tugas kalian belum selesai! Mas Dukun tetap harus dibunuh! Jika tidak maka rencana kita semua akan gagal! Mbah Anto bisa bunuh kita semua, ngerti kalian!"


Ketiga pria itu mengangguk lalu bergegas pergi meninggalkan sepasang manusia berlainan jenis yang kembali melakukan aksi liarnya.


"Kamu sudah liat kondisi mas dukun?" tanya si pria disela ciuman liar mereka.


"Udah, tenang aja. Malam ini aku pastikan dia mati! Kalaupun tidak malam ini aku bisa membunuhnya besok."


"Bagus, dendam ndoro putri harus kita tuntaskan!" si pria kembali mendaratkan ciuman pada leher jenjang wanita seksi yang perabot depan belakangnya luar biasa memikat.


"Jangan sebut nama dia! Aku nggak suka, gara-gara dia aku batal dapetin Tegar!"

__ADS_1


"Sssst, udah ... diem! Aku dah nggak tahan ini, liat yang dibawah sudah protes daritadi!"


Wanita itu pun melirik ke tubuh bagian bawah si pria, ia terkekeh geli dan mereka kembali terlibat dalam pergumulan panas. De-sahan dan teriak kenikmatan keduanya terdengar hingga keluar rumah yang berada ditengah hutan Pinus.


__ADS_2