Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Rekam Medis Hilang


__ADS_3

Setelah kejadian pagi yang menyeramkan Nayla duduk termangu di teras depan rumah. Ia memilih pulang lebih cepat. Rumah yang ditinggalinya untuk beberapa waktu ke depan, sepi dan lengang hanya terdengar suara alunan merdu dari dedaunan yang tertiup angin. Sundari tak terlihat hari ini, begitu juga dengan Budi dan rekannya. 


Nayla berdiri dan menatap ke arah rimbun pohon bambu. Kali pertama datang ke rumah ini ia mendengar lantunan suara merdu kidung Jawa. Tembang kerinduan dari seseorang wanita pada kekasihnya.


... Dewana candra ratri kang rereb...


...Ngacarya jiwa nisun kang kingkin...


...Lolita koripan ndika ing rasa...


...Manunggal carub jeroning atma...


"Lagu yang sama yang selalu dinyanyikan wanita berkebaya kuning dengan selendang merah, Nyi Melati." gumamnya lirih.


"Siapa yang dia rindukan sebenarnya? Apa ada yang mau disampaikan ke aku? Wak Dadan tadi datang kasih petunjuk, apa nyi melati juga sama?" 


Mobil ambulance milik klinik desa datang dan memasuki halaman rumah. Dokter putra turun bersama sopir ambulance sementara Tegar turun dari sisi lain setelah sang sopir membukakan pintu. Mbok Dar sudah diperbolehkan pulang, kondisinya sudah membaik hanya saja masih harus duduk di kursi roda.


Dokter putra menyarankan mbok Dar untuk tinggal di salah satu kamar yang kosong di sebelah kamar Nayla, agar kondisi mbok Dar terpantau saat Tegar bekerja. Nayla pun menyambut kedatangan mbok Dar dengan senang hati. Suster Indah juga ikut serta tangannya menggenggam stop map warna kuning gading.


"Dok, ini file yang dokter minta tadi." ucapnya sambil menyerahkan stop map.


"Makasih suster, jadi ngerepotin ya." senyum Nayla mengembang saat melihat tulisan judul stop map.


Dokter Putra mengernyit, "Apa itu Nay?"


"Oh ini, rekam medis Wak Dadan." 


"Rekam medis? Buat apa?"

__ADS_1


Nayla tersenyum simpul, "Ada deh, yah. Nanti Nay kasih tahu." Ia mengambil alih kursi roda mbok Dar lalu mengantarnya masuk ke dalam kamar.


Tegar menyusul ke dalam sambil membawa tas pakaian milik ibunya. Wajahnya terlihat lelah, lingkar hitam di bagian bawah mata jelas terlihat. Ia tak lagi ceria seperti pertama kali bertemu Nayla. Dengan sabar dan telaten Tegar membantu mbok Dar turun dari kursi roda.


"Mbok istirahat dulu aja ya, kalo mau mandi nanti saya bantuin." 


Nayla menaikkan selimut hingga ke dada, mbok Dar mengangguk. Senyum mbok Dar terbit dari bibir pucat nya.


"Makasih mbak Nay, mbok malah ngerepotin." ucapnya lemah.


Nayla terkejut, ia menoleh ke arah Tegar. "Lho mbok Dar udah bisa keluar suara lagi?"


"Iya, mulai kemarin sore simbok dah bisa ngomong. Tapi ya gitu masih pelan." Tegar yang sibuk menata pakaian ibunya dalam lemari menjawab.


"Alhamdulillah, semoga semakin membaik setelah ini ya mbok." 


Nayla berpamitan keluar, dokter putra duduk santai di ruangan tengah sambil menonton televisi. "Ayah, mau minum kopi?" 


"Nggak tau juga, Nay juga belum makan. Coba deh Nay liat dulu."


Belum juga Nayla melangkahkan kaki, suara pak Agus terdengar memasuki rumah. Ditangannya ada dua kantung plastik besar.


"Assalamualaikum, pak dokter, mbak dokter!"


"Wa'alaikumussalam, eh pak Agus ada apa nih?" tanya dokter Putra.


"Ini pak dokter, ada makanan sedikit dari istri saya. Anak saya ulang tahun hari ini jadi bikin nasi urap buat syukuran." 


Pak Agus menatap Tegar yang menutup pintu kamar, Nayla menangkap tatapan mata berbeda saat Pak Agus dan Tegar saling pandang.

__ADS_1


"Eh, ada kamu juga ya? Tau gitu saya bawain lebih." Pak Agus berbasa basi.


Mendengar ucapan pak Agus, Tegar hanya tersenyum tipis. "Nggak apa pak, namanya juga nggak tahu."


Tegar berjalan keluar rumah berlalu begitu saja membuat suasana canggung. Nayla pun tak ingin mencegah Tegar. 


"Pak Agus duduk deh saya buatin kopi dulu." ujar Nayla kemudian.


"Lho si Sundari mana? Kok nggak ada disini?" Pak Agus celingukan mencari wanita berbadan aduhai itu.


"Nggak tahu pak, seharian nggak keliatan. Lagi ada urusan mungkin."


Pak Agus ber-oh ria, ia lalu melanjutkan obrolan dengan dokter Putra sementara Nayla membuatkan kopi untuk mereka.


"File tadi mana ya? Perasaan aku taruh disini tadi." 


Nayla bolak balik mencari rekam medis Wak Dadan. Ia yakin sudah meletakkannya di meja sebelum mengantarkan mbok Dar masuk ke kamarnya.


"Yah, liat rekam medis disini nggak?" tanya Nayla menyeka obrolan pak Agus dan dokter Putra.


"Nggak tuh, tadi kamu taruh dimana?"


"Dimeja sini. Tapi kok nggak ada ya?"


"Bener kamu taruh sini, udah dicek?"


"Iya bener, Yah!" Nayla yang kesal akhirnya menghubungi suster Indah untuk memastikan kembali tidak terbawa suster Indah.


"Nggak kebawa juga, terus dimana ya?" 

__ADS_1


Nayla akhirnya menyerah, ia tak menemukan rekam medis itu. Dokter muda itu akhirnya memutuskan untuk mandi menyegarkan pikiran dan tubuhnya.


__ADS_2