
Nayla menjerit sekuatnya meski suaranya tertahan oleh bekapan tangan kasar berkuku tajam. Bau anyir darah terasa begitu menyengat, membuatnya mual tak karuan. Nayla terus memukul dan meronta meski ia tahu usahanya bakal sia-sia.
Sosok misterius itu terus menyeret dan memaksa Nayla untuk berjalan mengikutinya. Nayla masih menebak nebak siapa yang menariknya, ia tak bisa menoleh sedikitpun. Tangan itu begitu kuat membekapnya, ia hanya bisa menangis dan menjerit semampunya.
Sosok garang itu membawanya jauh ke dalam hutan, Nayla pasrah. Hingga akhirnya tubuh lemah Nayla dihempaskan begitu saja di depan sebuah pondok. Nayla lega, akhirnya bisa bernafas bebas. Sedikit lebih lama saja dalam bekapan, bisa dipastikan ia mati lemas.
Sosok itu menggeram, nafasnya terdengar kasar mirip seperti binatang buas. Nayla bisa menebak jika sosok yang menyeretnya adalah Tegar. Dengan nafas tersengal dan ketakutan, Nayla perlahan menoleh ke arah sosok yang masih menggeram.
Dalam keremangan malam, Tegar menatapnya. Matanya terlihat berbeda seolah memantulkan cahaya meski dalam gelap.
"Tegar?" Nayla memberanikan diri bersuara.
Tegar berdiri dengan posisi siaga dan menganggap Nayla adalah musuh berbahaya. Dengusan kasar terdengar seiring dengan nafasnya yang berat.
"Tegar?"
Tegar tiba-tiba saja menerjang Nayla, dokter muda yang belum juga berdiri dari posisinya itu, terhimpit ke tanah dengan leher yang tercekik kuat.
"Sadar Tegar … ini aku, Nayla!" suaranya terbata sambil terus menahan dan berusaha melepaskan tangan Tegar.
Wajah beringas Tegar nampak begitu menakutkan, sepasang gigi taring terlihat mencuat dari barisan gigi. Nayla mulai kehabisan nafas.
"Tegar, sadar! Aku tahu kamu bisa dengar aku, kuasai dirimu!"
Tegar belum merespon ia malah semakin menggeram dan menguatkan cekikannya. "Tegar … simbok, ingat … simbok _,"
Kepala Nayla mulai terasa kesemutan, pasokan udara mulai menipis dan pandangannya mulai kabur, Nayla pasrah. Antara sadar dan tidak, Nayla melihat sosok Tegar yang asli bergantian dengan sosok macan loreng yang menyeramkan. Tangan Nayla seketika terangkat dan menyentuh bayangan Tegar yang terlihat begitu muram dan sedih.
"Sadarlah, kembali pada dirimu sendiri."
Kalimat terakhir yang diucapkan Nayla sebelum ia kehilangan kesadaran. Nayla terkulai lemas. Saat itulah Tegar bertingkah seperti binatang buas yang melolong dan mengaum. Kepalanya menengadah keatas merayakan kemenangan, tapi tak lama kemudian cekikan tangan Tegar mulai melemah ia pun mundur perlahan.
Sosok macan loreng dalam tubuh Tegar mulai memudar, sentuhan Nayla mampu menarik kembali kesadaran Tegar. Pemuda berkulit eksotis itu akhirnya kembali menguasai diri setelah jatuh terduduk bertumpu pada kedua lututnya. Pandangan mata Tegar kembali normal, ia menatap kedua tangannya yang penuh darah. Tak ada lagi kuku tajam yang menghiasi sepuluh jarinya.
Kepalanya masih terasa berat, sisa energi hitam pengawal Nyai Kembang masih sedikit mendominasi. Tegar terkejut mendapati Nayla yang terkulai lemas di tanah.
__ADS_1
"Nayla!" Ia merangkak cepat dan mengguncangkan tubuh dokter muda itu.
Tegar memeriksa nadi dan denyut jantung Nayla. Masih tersisa sisa kehidupan disana. "Nay, Nayla! Bangun Nay, bangun!"
Tegar menepuk nepuk pipi Nayla, memeluk tubuh dokter muda itu dengan penuh penyesalan.
"Bangun, Nay … bangun, maafin aku Nayla, maaf _,"
Tegar terus memeluk dan terisak, ia membelai rambut Nayla dan berharap dokter muda dalam pelukannya kembali membuka mata.
"Tegar," suara lemah Nayla terdengar lirih.
Mata Tegar membelalak, "Nayla, syukurlah!"
Pemuda itu memeluknya dengan erat menghujani Nayla dengan ciuman. "Maafin aku Nay, aku nggak bermaksud menyakiti kamu!"
Nayla yang masih lemah, menyentuh pipi Tegar yang basah karena airmata. "Aku tahu, aku tahu itu." ulangnya lemah.
Tegar kembali memeluk Nayla untuk beberapa saat. Ia hanya ingin merasakan kehangatan dan kelembutan dokter muda yang mencuri hatinya. Ia hanya ingin bersama Nayla meski hanya sesaat. Tegar terisak, ia sadar jika dirinya telah banyak berbuat kesalahan dan mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritain semuanya, biar aku bisa membantumu." tanya Nayla saat Tegar telah mengurai pelukannya.
"Kita punya beberapa jam sebelum matahari terbit, ceritakan semuanya padaku!" Nayla menyentuh pipi Tegar, membingkainya dan menghadapkan wajah tertunduk Tegar padanya.
Nayla mencoba memahami apa yang Tegar alami, ia yakin seseorang tidak akan terjerumus pada suatu kesalahan jika tidak ada sebab musabab. Semua orang bisa membuat kesalahan dan berhak untuk diberikan kesempatan kedua untuk berbicara dan berbagi.
Tegar memberanikan diri menatap Nayla, "Apa masih ada kesempatan untukku kembali?"
Nayla mengangguk, "Belum terlambat, kamu masih bisa kembali."
Tegar perlahan menceritakan apa yang ia alami. Tentang ndoro putri, Wak Dadan dan rahasia besar yang hampir melibatkan sepertiga warga desa yang menjadi karyawan Wak Dadan.
Bagaimana Wak Dadan mempengaruhi karyawan yang bekerja padanya untuk menjadi pengikut sang Nyai dan memberikan sesembahan pada malam-malam tertentu. Bisa dikatakan Tegar adalah imam besar bagi sekte pemuja setan mereka. Yang dituakan, yang dipercaya sebagai mediator antara Sang Nyai dan pengikutnya.
Nayla menyembunyikan rasa terkejutnya, "Untuk apa kalian melakukannya?"
__ADS_1
"Apalagi jika demi panen raya, mendapatkan hasil melimpah, menjadi kaya dan bisa mewujudkan semua impian kami. Hanya mengandalkan hasil kebun yang diolah sendiri tidak cukup, Nay!"
"Hasil melimpah?"
"Iya, dengan bantuan Nyai kami menarik hasil dari petani yang tidak menjadi pengikut. Memindahkannya secara gaib ke perkebunan kami hingga hasil panen melimpah."
"Astaghfirullah al adzim, terus?!"
Tegar kembali bercerita bagaimana ia dan Wak Dadan mencari tumbal-tumbal sesuai yang diinginkan Nyai kembang. Tumbal yang terlihat sederhana tapi nyatanya hanya kamuflase untuk mengambil nyawa salah satu kerabat dekat. Ayam jantan hitam disimbolisasikan sebagai penukar nyawa.
"Kamu kan anak tunggal bagaimana caranya mencari tumbal itu untuk sang nyai?" tanya Nayla penasaran.
"Itu, ehm aku … terpaksa menyerahkan nyawa keponakanku dari keluarga ayah. Mereka tak pernah peduli atau menganggap ku ada, jadi aku rasa tidak ada salahnya kalau aku mengorbankan anak-anak mereka."
"Ya Allah, Tegar … lalu ndoro putri gimana sama dia?"
Tegar tak pernah mencintai ndoro putri. Sejak awal pertemuannya dengan Kumalasari, ia bahkan tak sedikitpun melirik wanita ayu nan seksi itu. Hatinya masih terluka karena kehilangan Najwa. Perselingkuhan ndoro putri dengan mbah Anto memang diketahuinya, tapi ia tak tega untuk melaporkannya pada Wak Dadan.
Hingga pada akhirnya kekacauan terjadi. Wak Dadan yang tak terima diselingkuhi nekat menghajar Kumalasari, ia bahkan meminta mas dukun Joko mengirimkan sesuatu agar ndoro putri berpaling dari Mbah Anto.
"Tunggu saya nggak ngerti, kalau mas dukun mengirim … ehm, taruhlah guna-guna harusnya dia kan kesakitan atau gimana gitu. Tapi yang aku lihat dalam ingatan itu ndoro putri mencintai kamu? Gimana bisa?"
Tegar menghela nafas berat. "Ndoro putri adalah korban dari aksi dua dukun hitam. Mas dukun mengirimkan sesuatu untuk menarik ndoro putri padanya dan Mbah Anto juga melakukan hal yang sama untuk menangkal perbuatan mas dukun."
Nayla menyambung, "Dalam tubuh ndoro putri ada dua kekuatan hitam yang saling tarik-menarik, kasian sekali dia. Aku rasa nggak ada manusia biasa yang sanggup menahan dua kekuatan hitam dalam tubuhnya."
"Betul, dan akhirnya dia menggila. Ndoro melihat aku sebagai Mbah Anto, entah bagaimana itu bisa terjadi. Aku menyadarinya saat setelah kami … melakukan hal itu."
Nayla tersenyum masam, tak mudah memang untuk mengakui semua kesalahan termasuk hal yang sangat pribadi sekalipun.
"Dia selalu menyebut nama Mbah Anto, aku salah … aku membiarkan dia mencumbu, dan hari itu dia mengaku hamil. Aku kesal dan aku mendorongnya dengan keras, setelah itu aku pergi begitu saja. Itu kali terakhir aku bertemu dengannya." lanjut Tegar lagi, ia menundukkan wajahnya semakin dalam dan membiarkan kesedihannya mendominasi.
"Ndoro putri tewas setelah kamu tinggalin, dan sayangnya ndoro putri tewas ditangan ibu kamu."
Sontak saja kalimat Nayla bak petir yang menyambar, Tegar menegakkan kepalanya dan mencengkeram bahu Nayla.
__ADS_1
"Apa? Nggak, nggak mungkin Nay! Simbok bahkan nggak tega nyakitin semut sekalipun!"