
"Aku harus hidup … aku, harus hidup!"
Tubuh wanita itu terombang ambing mengikuti arus sungai yang deras, sesekali tubuh penuh luka itu terantuk bebatuan, kadang tenggelam lalu melesak naik terdorong lagi ke permukaan. Entah berapa banyak air yang sudah masuk ke dalam paru-parunya.
Wanita itu tak peduli lagi dengan lukanya, ia hanya ingin hidup. Wanita itu ingin tetap bertahan meski raganya terkoyak derasnya arus sungai. Ia kehilangan kesadaran saat aliran sungai mengantarkan tubuhnya ketepian.
"Kakek, apa itu disana?" seru seorang gadis muda pada kakeknya yang sedang mencari kayu bakar.
Tubuh renta kakek itu menegak, matanya memicing menatap ke tepian sungai. "Mayat?"
Keduanya perlahan mendekat, "Apa dia masih hidup kek?" Gadis itu bertanya sambil memperhatikan tubuh pucat penuh luka itu.
Sang kakek memeriksa, merasakan denyut nadi yang lemah. "Dia masih hidup!"
Samar-samar terdengar rintihan lirih dari bibir wanita itu, "Tolong aku,"
Sang kakek dan gadis muda itu pun bergegas menarik tubuh wanita itu dari air. Mereka membawanya ke dalam pondok sederhana milik sang kakek.
...----------------...
Pagi itu tak ada kehebohan yang terjadi. Prediksi Nayla sepertinya salah, begitu juga dengan pertanda burung Kedasih yang terdengar semalam. Semuanya lega karena tak ada lagi mayat gantung diri yang ditemukan.
Tegar terlihat memasuki rumah kecil disamping rumah dinas dokter Putra. Wajahnya kuyu dan lesu, ia sempat menyapa salah satu anggota yang sedang duduk di teras. Nayla melihatnya dari kejauhan. Ia ingin bertanya kondisi mbok Dar tapi urung dilakukannya. Tegar butuh istirahat, jadi Nayla berniat untuk mengunjungi langsung mbok Dar di klinik.
"Nay, ayah berangkat dulu ke klinik. Kamu nanti nyusul aja kalo dah enakan. Tapi kalau belum ya tetap dirumah aja."
"Iya Yah, nanti liat kondisi dulu. Nay sama mbak Sundari mau ke rumah Bu Mirah dulu."
Mendengar ucapan Nayla, dokter Putra berhenti lalu menatap tak suka. "Jangan campuri urusan ini Nay, biar mereka yang menangani! Ayah kurang setuju kalau kamu terlalu jauh menyelidiki hal yang tidak semestinya dilakukan!"
"Nayla kesana juga ditemani sama mas Budi kok yah. Nggak berdua saja, semalam mas Budi penasaran dan ingin bicara sama keluarga Bu Mirah."
Dokter Putra menghela nafas panjang, ia mengusap bahu putrinya itu. "Terserah kamu deh, hati-hati aja." Ia menoleh ke rumah yang menjadi base camp petugas. "Mereka jadi pergi hari ini?"
"Sebagian harus dilaporkan katanya, tapi mas Budi dan satu temannya memilih untuk tinggal lebih lama disini."
"Hmm, baiklah ayah pergi dulu Nay." Dokter Putra meninggalkan Nayla dengan motor dinas yang diberikan untuknya. Ia sempat melambaikan tangan pada para petugas yang ada di luar basecamp.
Selepas kepergian ayahnya Nayla kembali ke kamar, kepalanya mendadak pusing dan tubuhnya gemetar. Nayla merebahkan tubuhnya sejenak tapi hanya beberapa menit kemudian ia terlelap.
...----------------...
__ADS_1
Nayla berjalan membelah kerumunan warga, Beberapa warga menatapnya iba. Nayla tak suka ekspresi wajah-wajah itu, mengingatkannya pada kematian Nuraini.
"Ada apa ini?" tanyanya pada salah satu warga.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Nayla, dua jasad tergeletak di tanah ditutup daun pisang. Darah berceceran di sekitar tubuh mereka. Nayla yang penasaran pun berjongkok dan membuka daun pisang yang mulai didatangi lalat.
"Astaghfirullah Al adzim,"
Nayla memejamkan mata saat melihat jasad keduanya hancur dan nyaris tak dikenali lagi. Dua jasad lelaki terbujur kaku bersimbah darah. Nayla memastikan luka hantaman benda tumpul di kepala penyebabnya. Tapi kenapa wajahnya hancur tak berbentuk lagi?
Seseorang penuh dendam jelas melakukan hal ini. Rasa dendam yang mendalam cenderung membuat diri si pelaku hilang kendali dan berniat untuk melenyapkan visual yang membuat pelaku kesal salah satunya wajah.
"Ada yang tahu siapa mereka? Apa mereka warga desa ini?" Nayla bertanya sekali lagi pada warga tapi tak ada yang menjawab.
"Ada apa dengan mereka?" gerutunya kesal.
Ia hendak berdiri saat tangan salah satu jasad itu menyentuhnya. Jantung Nayla berdebar kencang, dengan perlahan ia menoleh ke arah dua jasad yang masih tergeletak di tanah. Salah satu jenazah tiba-tiba saja bangun dan duduk, ia menoleh ke arah Nayla dengan wajah hancurnya.
Tangannya masih mencengkram Nayla dengan kuat, "Lari, lari …," mayat itu bicara dengan darah yang terus mengalir diantara bongkahan daging yang hampir terlepas.
"La-lari?"
Mayat kedua pun melakukan hal yang sama, "Jauhi dia, lari …,"
Suara yang sama juga terdengar dari belakang Nayla, wajah warga desa yang berkerumun menghilang dan hanya menyisakan bidang datar yang mengerikan. Suara mereka terdengar jelas bak paduan suara dengan beberapa nada.
Nayla tercekat, ia mundur perlahan dan berusaha melepaskan cengkraman tangan mayat bermandikan darah itu. Wajah Nayla memucat, ia pun sekuat tenaga berlari meninggalkan tempat itu dengan nafas memburu.
...----------------...
Nayla membuka matanya cepat, nafasnya masih terasa memburu. Jantungnya berdebar tak karuan seolah mimpi tadi benar-benar nyata.
"Mimpi, itu hanya mimpi!"
Ia mengatur nafas, tapi betapa terkejutnya Nayla saat melihat tangan kirinya. Bercak darah menempel dengan meninggalkan jejak jemari. Nayla setengah menjerit, ia berusaha menghilangkan noda darah itu dengan kain. Tapi noda darah itu terlalu banyak, hingga Nayla pun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.
"Mimpi, ini cuma mimpi!" ujarnya sambil terus menghilangkan noda darah dengan sabun. Ia gemetar dan menangis ketakutan.
Sundari yang melihat Nayla lari ke kamar mandi pun menyusulnya. Ia bingung karena Nayla menyabuni dan menggosok terus tangan kirinya.
"Mbak Nayla! Mbak kenapa?" Sundari berdiri di depan pintu dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Darah mba, tanganku berdarah!" Kalimat ambigu keluar dari mulut Nayla yang membuat Sundari bingung.
"Oh, mbak Nayla lagi bocor ya? Terus darahnya kena tangan?" tanya Sundari lagi, Nayla tak menjawab ia terus menggosok tangannya hingga darah itu hilang tak berbekas.
Nayla hampir saja terjatuh jika Sundari tidak menahan tubuhnya. "Walah mbak Nayla!"
Sundari membuatkan Nayla teh hangat untuk memulihkan tenaganya. Nayla terduduk lemas di kursi, bajunya basah oleh keringat. Tubuhnya terasa letih sekali.
"Mbak Nayla kenapa sih? Kok aneh gitu? Lihat tuh tangannya sampai merah digosok terus!"
Sundari bertanya setelah Nayla meminum tehnya. "Tadi saya kan dah jawab mbak, ada darah ditangan."
Sundari menggaruk kepalanya, sungguh ia tidak melihat darah yang menempel di tangan Nayla. Ia bahkan sangat yakin tidak ada darah apa pun di tangan Nayla saat dokter muda itu masuk ke kamar mandi.
Seseorang masuk ke dalam rumah dengan terburu buru, nafasnya tersengal dan mencari keberadaan Nayla.
"Mbak dokter!"
Nayla dan Sundari menoleh ke arah lelaki kurus dan berkaos oblong dan celana pendek tanpa alas kaki. "Lho Kang Rohman? Ada apa?" Sundari yang terkejut spontan bertanya.
"Ikut saya, ada …," Rohman mengatur nafasnya yang tersengal.
"Ada apa?" Tanya Sundari lagi.
"Mas dukun Joko, Sun!"
"Eeh ada apa sama yayang aku?!" Sundari panik.
"Berantem! Itu dia kena bacok kang Rohim!"
"Astaga dragon! Mbak Nay, ayok cepetan kita kesana! Tolongin mas dukun!" Sundari menarik tangan Nayla dan mereka pun bergegas pergi.
"Kenapa nggak dibawa ke klinik aja sih pak? Ada ayah disana!" protes Nayla yang berjalan cepat mengikuti langkah Sundari.
"Saya cari pak dokter di klinik nggak ada mbak, katanya lagi keliling! Masa saya harus cari keliling desa dulu, kasian mas dukun!"
Nayla pasrah, meski tubuhnya masih terasa tak enak tapi demi tugas ia pun memaksakan diri. Kang Rohman membawanya menuju rumah mas dukun Joko, melihat kerumunan warga ia terkesiap.
Suasananya persis dalam mimpinya barusan. Perasaannya mulai tak nyaman, bahkan salah satu warga yang ia sapa dalam mimpi pun ada disana. Jantungnya berdebar tak karuan, semakin ia melangkah jauh membelah kerumunan semakin gemetar dirinya.
'Dejavu atau lucid dreams?'
__ADS_1