Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Terungkapnya Misteri


__ADS_3

"Mati kau, bangsat!" Mbah Anto menghujamkan parang ke perut mbok Dar hingga menembus ke belakang.


Semuanya terperangah, kejadiannya begitu cepat tanpa ada yang bisa menghalangi.


"Mbook!" Tegar menyongsong tubuh tua ibunya yang ambruk bersimbah darah.


Mbah Anto yang kalap hendak membabat kembali parangnya ke arah Tegar tapi berhasil dihentikan dengan satu tembakan yang menembus pahanya. 


"Brengsek! Harusnya kau mati Tegar! Kau membunuh Kumalasari dan juga anakku!"


Semua mata tertuju pada Mbah Anto, mereka kemudian saling memandang dan dibuat penasaran dengan ucapannya. Bagaimana bisa ndoro putri yang notabene adalah istri ketiga Wak Dadan dikatakan sedang mengandung benih dari pria asing didepan mereka.


"Kau dan si goblok Joko itu sudah memisahkan aku dan Kumalasari! Kalian pembunuh dan tak layak hidup!" Mbah Anto kembali mengumpat dan memakai Tegar. Sumpah serapah bahkan keluar dari mulut pria yang wajah tampannya terlihat babak belur. 


Semalam Tegar yang kerasukan dan mbah Anto bergumul dalam perkelahian tak imbang. Meski Mbah Anto memiliki kekuatan supranatural yang cukup tinggi, ia dibuat kewalahan dengan tenaga Tegar yang tengah dirasuki pengawal Nyai Kembang.


Hasilnya bisa jelas terlihat, mata kiri Mbah Anto memar dan bengkak, goresan luka panjang dan dalam di lengan kanan, pakaiannya sobek disana sini, kakinya pun tak luput dari luka. Jika saja Mbah Anto tidak berpura-pura jatuh ke jurang susah pasti dia tewas seperti yang lainnya semalam.


Tegar tak menghiraukan ocehan Mbah Anto, ia menangis sambil memeluk tubuh mbok Dar yang bersimbah darah. Nayla dan dokter Putra segera melakukan pertolongan pada mbok Dar, tapi sayang tidak adanya peralatan medis dan obat-obatan pendukung membuat keduanya tak bisa bertahan banyak selain menekan luka agar pendarahan bisa tertekan.


"Mbok, simbok! Jangan tinggalin Tegar! Ngapurane mbok!"


Mbok Dar yang semakin pucat karena banyaknya darah segar yang keluar dari lukanya, hanya bisa menangis. Tangannya gemetar menyentuh wajah Tegar.


"Le, maafin simbok ya _," ucapnya terbata.


Tegar menggenggam tangan mbok Dar, "Mbok,"


"Nggak usah nangis le, mbok ikhlas. Demi kamu mbok ikhlas ngelakuin apa aja. Anggap saja ini hukuman buat simbok yang sudah mencelakai ndoro putri." Mbok Dar meringis kesakitan, penglihatannya semakin memudar.


"Mbak Nayla, maafin simbok ya nduk. Maafin juga Tegar, makasih sudah nemenin Tegar semalaman."


Nayla tak kuasa menahan air matanya, ia mengangguk tanpa bisa banyak berkata.

__ADS_1


"Wis Yo Le, Kowe tak tinggal. Ngapurane simbok nggak bisa nemenin kamu sampai menikah. Doakan simbok supaya diampuni Gusti Allah." Suara mbok Dar terdengar semakin melemah.


"Mbok, mbok jangan pergi mbok! Jangan tinggalin Tegar mbok!" Tangis Tegar semakin menjadi.


Mbok Dar mengembangkan senyum sesaat dari bibir pucatnya sebelum akhirnya menutup mata selama lamanya.


"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un." Dokter Putra memastikan denyut nadi mbok Dar sudah hilang.


"Simboook!" 


Tegar tak kuasa menahan kesedihannya, ia ambruk memeluk tubuh ibunya yang telah pergi. Semua orang yang ada disana turut merasakan kesedihan. Sosok.mbok Dar di mata warga desa adalah sosok yang baik, ramah, supel, dan penyayang. Tak ada yang menyangka jika mbok Dar menyimpan rahasia kejamnya selama bertahun tahun. Bagi mereka mbok adalah mbok Dar, wanita ramah yang ringan tangan.


"Mas Tegar saya turut berduka tapi, maaf tapi kita harus segera pergi." Budi dan rekan lain membantu Tegar berdiri.


Bantuan dari kota telah tiba, mereka menyusul Budi dan timnya ke hutan begitu juga dengan tim yang dipimpin Anton. Saat memasuki hutan satu mayat pria kembali ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya terkoyak dengan tulang kaki yang patah di beberapa bagian.


Sedikit naik keatas kembali ditemukan satu mayat dengan tulang leher patah, hanya ada satu luka cakar yang cukup dalam di bagian perut. Anton menggelengkan kepala melihat kengerian yang terjadi.


"Gila, ini sih bukan manusia! Apa iya hewan buas?" Gumamnya sendiri sambil berjongkok memperhatikan kondisi mayat.


"Bud!"


Anton mendekat, lalu melongok ke arah Nayla dan dokter Putra yang masih berada di samping jenazah mbok Dar.


"Eh, aku ketinggalan apa ini? Tegar, mbok Dar?"


"Hhm, panjang deh nanti aja ceritanya. Yang jelas semua misteri akhirnya terkuak termasuk hilangnya Arini lima tahun lalu."


Budi menatap jasad mbok Dar sejenak lalu menoleh pada Rizki yang baru datang bersama adiknya Amanda. Gadis cantik yang selalu mengenakan anting khas itu terlihat begitu emosional. Ia berjalan mendahului Rizky yang terus memanggilnya.


"Wah bahaya ini! Riz, cepet susul bisa mati tuh tersangka kita!" Budi menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia mengenal Amanda dengan baik karena mereka bersahabat sejak kecil. 


Kasus Arini sebenarnya sudah pernah ditangani Budi tapi karena tidak menemukan petunjuk kasus pun ditutup. Ditemukannya Arini kembali tak ayal membuka kembali rasa penasaran Budi. Penemuan bukti di rumah mas dukun Joko langsung mengerucut pada rivalnya, Mbah Anto. Amanda memintanya langsung untuk menemukan sosok Mbah Anto.

__ADS_1


Gadis cantik itu menghampiri Mbah Anto yang masih duduk di tanah. Luka tembaknya sudah di balut kain seadanya oleh dokter Putra. 


"Oh jadi kamu yang selama ini menculik dan menyiksa kakakku?!"


Amanda berjongkok menarik dagu Mbah Anto yang kini tak berdaya dengan tangan terikat tie cable. "Harusnya kamu mati juga, sayang banget kamu selamat semalam."


"Dimana Arini? Dia milikku!" Mbah Anto mendelik tak suka pada Amanda.


"Milikmu? Sejak kapan dia menikah denganmu, kamu sudah bikin mental kakakku rusak! Kamu layak dihukum mati!"


Amanda hendak melayangkan pukulan pada Mbah Anto tapi tangannya tertahan.


"Nggak usah, biar kami yang urus dia!" Rizky menahan Amanda dan menariknya dalam pelukan berusaha menenangkan amarah kekasihnya.


"Tapi dia udah bikin kakak gila!" tangan Amanda berusaha menggapai Mbah Anto yang menyeringai sinis padanya.


"Tanyakan pada kakakmu yang cantik itu, apa dia merindukanku? Lama sekali aku tidak menyentuhnya sejak dia kabur. Dia pasti sangat merindukanku."


"Kau … dasar biadab, brengsek, bajingan!" Amanda terus meronta dan akhirnya bisa lolos dari Rizky. Ia berhasil mendaratkan pukulan dan tendangan pada tubuh Mbah Anto.


Meski wanita tapi tenaga Amanda cukup kuat. Ia membuat Mbah Anto tersungkur dan membuat luka tembaknya kembali mengeluarkan darah. Dua anggota kepolisian akhirnya menjauhkan Mbah Anto dari Amanda sementara Rizky sibuk menenangkan Amanda yang tertutup amarah.


"Manda, tenang! Jangan bikin ulah, aku akan pastikan dia dapat hukuman setimpal!"


Nafas Amanda memburu, dia menatap kesal pada Mbah Anto yang terus mengejeknya. "Aku akan pastikan dia membusuk di penjara!"


"Tentu, kau bisa melakukannya. Kita punya pengacara yang handal untuk itu tapi untuk sementara ini, ada yang lebih penting."


Amanda menoleh pada Rizky, ia mengatur nafas dan menutup kedua matanya menenangkan diri. "Aku tahu,"


"Kita harus mendampingi Kak Arini, dia juga menghadapi tuduhan serius. Yah, terlepas dari kondisi kejiwaannya tentu saja." 


Amanda menghela nafas berat, "Kau benar, aku hanya berharap kakak bisa dibebaskan atau setidaknya diperbolehkan menjalani perawatan di rumah sakit."

__ADS_1


 


 


__ADS_2