
Tegar dengan sabar menyuapi mbok Dar yang masih kesulitan membuka mulutnya. Sesekali ia menyeka mulut mbok Dar yang belepotan karena lelehan minum atau bubur. Kesedihan tampak jelas terlihat di wajah Tegar.
Nayla menatap keduanya dari balik jendela ruangan. Ia menghela nafas berat, Nayla ikut merasakan kesedihan Tegar.
"Boleh aku masuk?" Nayla mengetuk pintu ruangan pelan dengan senyum tersungging.
Mbok Dar menatap ke arahnya, meski tak bisa bicara tapi dari sorot matanya mbok Dar senang dengan kedatangan dokter muda cantik itu. Nayla meminta piring yang berisi bubur dari tangan Tegar.
"Gimana kabarnya mbok? Udah enakan?" Nayla bertanya sambil menyuapi sedikit demi sedikit bubur nasi berkuah bening.
"Simbok dah membaik, udah bisa respon, tangan sebelah kiri juga udah bisa digerakkan sedikit." Tegar menjelaskan kondisi mbok Dar pada Nayla yang masih telaten menyuapi wanita paruh baya itu.
"Syukurlah, semangat sehat ya mbok. Pelan-pelan saja latihan genggam tangan, jangan dipaksa." Nayla menoleh pada Tegar, "Suster Indah bantuin terapi juga kan?" Tegar pun mengangguk.
Nayla memeriksa tekanan darah mbok Dar, dan memeriksa selang infus yang masih belum dilepas. "Kalo kondisinya membaik terus, besok juga bisa lepas infusnya. Simbok yang semangat ya?"
Usapan lembut tangan Nayla pada mbok Dar membuat senang hati wanita itu. Tak lama mbok Dar pun memejamkan mata.
"Bisa kita bicara diluar?"
Tegar mengikuti langkah Nayla, mereka duduk di bangku panjang ruang tunggu. Untuk beberapa waktu mereka terdiam.
"Ada apa, kayaknya penting?" tanya Tegar langsung.
"Tergantung dari jawaban kamu."Nayla menatap tajam Tegar yang kini berdiri membelakanginya. Ia berbalik dan mengernyit.
"Ceritain ke aku tentang ndoro putri!"
"Aku kan udah cerita ke kamu kemarin. Cerita apa lagi?"
"Detail?"
Tegar menghela nafas berat, ia enggan bercerita tapi Nayla mendesaknya terus dengan berbagai alasan. Akhirnya Tegar mengalah.
"Ndoro putri itu wanita terlemah lembut yang pernah aku kenal. Orang mungkin menilai dia negatif karena dia istri ketiga juragan Dadan dan juga seorang penari. Tapi aku mengenal dirinya dari sisi yang berbeda."
"Diantara ketiga istri juragan Dadan cuma dia yang paling ramah. Ndoro putri juga mau bergaul dengan pekerja kasar, karena dia juga berasal dari keluarga petani bawang di Brebes. Kadang aku sama dia juga menghabiskan waktu seharian di kebun bersama."
__ADS_1
"Dia menikmati saat berada diluar rumah itu. Diluar dia merasa bebas dan bahagia, tapi di dalam rumah, dia teraniaya sama ndoro ageng dan juga istri keduanya."
Tegar mengambil nafas sejenak sebelum kembali berbicara.
"Waktu juragan Dadan menyukai dokter Arini, ndoro putri berniat mengajukan cerai. Dia berharap usahanya berhasil dan kegetiran sebagai istri ketiga berakhir. Sayang semua cuma kenangan saja."
"Terus kemana dia sekarang?" Nayla dibuat penasaran.
Tegar tak menjawab, tangannya mengepal di samping tubuh tegapnya. Hatinya terasa teriris sembilu mengingat wanita cantik yang sering berkeluh kesah padanya. Wanita yang tak seharusnya mencintai Tegar.
Kumalasari, mencintai Tegar dan terang terangan menyatakan cinta padanya. Perhatian dan sentuhan lembut Tegar disalahartikan oleh wanita yang kala itu baru berusia dua puluh lima tahun. Satu kesalahan fatal dilakukan Tegar dan Kumalasari pada satu malam. Tegar seharusnya tak menyentuh Kumalasari, ia lalai sebagai laki-laki dewasa dan melakukan hubungan terlarang dengan istri Wak Dadan.
"Kamu kenapa?" Nayla memperhatikan Tegar yang mengusap mata basahnya.
"Nggak, sori aku harus pergi. Ada janji sama penyuplai media tanam. Titip simbok ya?" Tegar pun berlalu meninggalkan Nayla.
"Jadi Tegar sama istri ketiga Wak Dadan benar berhubungan. Aku yakin mereka dekat melebihi ikatan pekerja dan majikan." Nayla mencoba mengingat kembali perkataan Sundari semalam.
"Siapa yang berbohong dari keduanya? Tegar atau mbak Sundari. Terus apa hubungannya sama mas dukun Joko? Siapa yang menyerang dia? Rival sesama dukun atau …,"
Nayla menoleh ke belakang dan mendapati Budi tersenyum padanya. "Lho mas Budi disini? Ngapain?"
"Hmmm, emang nggak boleh ya? Nyariin kamu lah!"
"Cari saya? Buat apa?"
"Ngajak kencan!" Budi cengengesan, "Kencan ke rumah mas dukun, yuk ikut! Aku butuh bantuan kamu kayaknya deh!"
Tangan Budi langsung menggandeng Nayla dan menariknya paksa. Budi tak peduli dengan alasan apa pun. Hari ini Nayla harus menemaninya. Ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Sesuatu yang berhubungan dengan penyerangan mas dukun dan juga mayat dua orang pekerja lain.
Nayla panik, ia ketakutan karena sosok berbulu itu ada disana. Ingin rasanya ia berterus terang tapi jelas tak mungkin. Budi bisa menganggapnya gila jika mengatakan dirinya disukai sosok makhluk halus.
Sesampainya dirumah mas dukun Joko, Budi langsung disambut mbok Parmi. Wanita yang usianya tidak jauh berbeda dengan mbok Dar itu menyambut ramah Budi dan Nayla.
"Kulonuwun, mbok!" sapa Budi dengan senyum ramah.
"Eh monggo, anak ini siapa nggih?" Mbok Parmi yang merasa asing pun bertanya.
__ADS_1
"Saya Budi dari kepolisian dan ini …,"
"Kalo ini saya tahu, mbak dokter kan?" tanya Mbok Parmi yang dijawab anggukan Nayla.
"Ada perlu apa ini mas polisi kesini?"
Budi dan Nayla saling memandang, "Boleh saya masuk mbok?"
Mbok Parmi mempersilahkan Budi dan Nayla masuk. Budi kemudian meminta izin pada mbok Parmi untuk mencari barang bukti tambahan, ia juga menunjukkan surat perintah yang tentu saja tidak terbaca mbok Parmi karena wanita paruh baya itu buta huruf.
Mbok Parmi memberikan ruang bagi kedua tamunya untuk memeriksa rumah. Ia pamit ke dapur untuk membuat minuman ala kadarnya. Nayla meraih kertas diatas meja lalu menaikkan sebelah alisnya,
"Surat jalan dinas? Bukan surat izin penggeledahan?"
Budi terkekeh dan mengambil kertas di tangan Nayla, "Terkadang kita perlu improvisasi Nay," jawabnya mengedipkan sebelah mata.
Budi memperhatikan satu persatu foto yang terpampang di dinding. Ia memperhatikan dengan seksama dan berhenti pada foto dokter Arini.
"Lihat ini, dia dokter Arini dokter yang menghilang lima tahun lalu."
Nayla meraih bingkai foto yang dipegang Budi. "Hilang? Aku rasa tidak." sahut Nayla setelah beberapa saat menatap foto itu.
Budi menengok ke kanan dan kiri, melihat situasi lalu berbisik. "Darimana kamu tahu?"
"Hhhm, entah. Bisikan?"
Budi mengisyaratkan untuk diam agar Nayla tidak melanjutkan perkataannya. Ia meminta Nayla mengikutinya ke ruangan praktek mas dukun.
"Mas, jangan masuk deh. Kalo ada penunggunya gimana? Mas dukun pasti punya banyak perewangan buat bantu kerjanya kan."
"Udah tenang aja ada aku, nanti kalo kamu takut peluk aku aja. Oke?" cengir Budi yang membuat Nayla cemberut.
Hati Nayla berdesir, hawa aneh kembali menyergapnya. Tangannya mere-mas kemeja Budi dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Bulu kuduk Nayla meremang seketika saat aroma kemenyan dan bunga menyapa hidungnya.
Kamar yang gelap dan pengap, dengan nuansa hitam semakin terasa mencekam dengan Prapen yang masih mengepulkan asap tipis. Didepannya terdapat baskom berisi air yang diberi beberapa bunga mawar. Sesaji yang baru diletakkan dan masih utuh semakin menambah kesan mistis ruangan kerja mas dukun Joko.
Sapaan halus yang bergumam tak jelas menyapa Nayla. Tidak hanya satu tapi lebih bergumam dan mendengung di telinga dokter muda itu. Kepalanya berat dan pandangannya berputar, perutnya mual dan Nayla pun pingsan.
__ADS_1