
Jam menunjukkan pukul delapan malam, suasana klinik desa sepi dan lengang. Mas dukun Joko sudah terlelap dalam tidurnya. Harusnya hari ini ia sudah bisa pulang ke rumah tapi entah kenapa tubuhnya demam tinggi hingga akhirnya terpaksa menginap lagi semalam. Mas dukun menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Malam pun semakin larut, suster jaga juga sudah lelap dalam tidurnya setelah berkeliling memeriksa delapan pasien yang harus menjalani rawat inap termasuk mas dukun Joko. Seseorang dalam gelap berjalan mengendap-endap mendekati klinik. Wajahnya tertutup sarung ala ninja. Ia celingukan melihat situasi, lalu perlahan berjalan memasuki klinik.
"Situasi mendukung, aman!" gumamnya lirih.
Lelaki itu berjalan perlahan, ia sengaja tak mengenakan alas kaki agar leluasa bergerak. Sebilah parang panjang terselip di balik kain sarung yang menutupinya. Ia berjalan memasuki ruangan tempat mas dukun Joko berada. Membuka perlahan pintu agar tidak menimbulkan bunyi dan mendekati sosok yang tertutup selimut dengan motif garis lurus berwarna biru.
"Maaf, saya sebenarnya nggak mau melakukannya tapi demi membalaskan dendam ndoro putri, panjenengan kudu mati!" Lelaki berpakaian ala ninja itu tanpa ragu mengayunkan parang ke tubuh berbalut selimut itu.
Sekali, dua kali, ia menyabetkan tanpa ragu dan dengan kekuatan penuh. Tapi sejurus kemudian lelaki itu menyadari ada keanehan. Parangnya seperti menghantam benda lembut bahkan terlalu lembut untuk tubuh manusia. Ia berhenti dan membuka selimut yang menutupi, betapa terkejut dirinya saat melihat tak ada tubuh mas dukun Joko disana. Hanya ada guling dan bantal yang ditata sedemikian rupa menyerupai tubuh manusia.
"Brengsek, kemana dia!" Lelaki misterius itu memeriksa papan nama pasien, jelas tertulis di sana ada nama mas dukun Joko.
"Sialan, dimana dia! Siapa yang membocorkan rencanaku!" ucapnya kesal.
"Mencari seseorang?!"
Lelaki bersarung itu terbelalak saat berbalik dan melihat lima orang dengan senjata api di tangan mengepungnya. "Lempar parang itu! Jangan melawan, dan serahkan diri baik-baik!"
Budi memerintahkan lelaki misterius itu, "Cepat!" teriaknya lagi tak memberi waktu pada lelaki itu.
Dengan cepat lelaki berpenutup sarung itu melemparkan parang ke lantai, ia mengangkat kedua tangannya keatas.
"Bagus! Tangkap dia!" Budi memerintahkan dua anggota lainnya untuk meringkus lelaki berpenutup sarung itu.
"Dimana dukun brengsek itu?!" tanya lelaki itu dengan kasar meski tangannya telah terborgol.
"Aku disini!" Mas dukun Joko muncul dari balik pintu dengan kursi roda. Suster Indah yang menjaganya.
"Huh, pancen nyawamu ono pitu mas dukun! Wis meh mati wae tetep ono sing nulungi sampeyan!"
(memang nyawamu ada tujuh mas dukun! Udah mau mati aja tetap ada yang nolongin kamu!)
"Apa urusannya saya sama kamu? Sampai kamu mau bunuh saya?" tanya mas dukun Joko pada lelaki yang masih tertutup wajahnya itu.
"Sampeyan udah bikin ndoro putri sengsara! Sampeyan juga sudah bikin adikku edyan gegara mbok prawani! Mas dukun memang pantas mati, dasar dukun cabul, mesum!" umpat lelaki misterius itu.
"Buka penutup wajahnya!" perintah Budi pada petugas yang meringkusnya.
__ADS_1
Mas dukun Joko terperangah saat melihat wajah dibalik sarung, "Lho Met, kowe toh?!"
Slamet meludah, ia jijik saat mata mas Joko menatapnya. "Seharusnya mas dukun mati!"
Slamet kembali berteriak sambil berlalu meninggalkan ruangan, "Kamu seharusnya mati sejak dulu! Dasar dukun cabul, dukun abal-abal!"
Mas dukun menatap nanar Slamet, sudut bibirnya berkedut konstan. Ia menghela nafas berat, tak menyangka jika orang kepercayaannya justru menjadi duri dalam daging dan berniat membunuhnya.
"Saya benar-benar nggak nyangka Slamet begitu benci sama saya."
Budi menghampiri mas dukun Joko, "Sejak kapan mas-mas polisi ini tahu tentang Slamet?" tanya mas dukun Joko penasaran.
Sore sebelum kejadian ini, Budi dan rekan polisi lain mendatangi mas dukun Joko. Berdasarkan pengintaian dan penyelidikan ada indikasi nyawa mas dukun Joko terancam untuk kedua kalinya. Salah satu anggota yang menyamar berhasil memata matai orang yang mengendap endap dibalik jendela kamar klinik tempat mas dukun Joko dirawat.
"Kami menemukan jejak Slamet yang tertinggal saat penyerangan mas dukun. Sejak saat itu kami mengikuti gerak geriknya. Ya, tentu saja dengan bantuan informan lain."
"Informan lain? Siapa mas?" Mas dukun Joko semakin dibuat penasaran.
"Saya, mas ndoro!" Mbok Parmi datang dengan keponakannya yang cantik.
"Saya nggak rela Slamet ngadalin sampeyan! Saya udah tau busuknya Slamet sama Sundari sejak mergokin mereka berduaan di belakang rumah." lanjutnya lagi sambil meletakkan rantang makanan di nakas sebelah ranjang.
"Lha piye mau cerita wong sampeyan ma Sundari asik ah uh wae kok! Mosok percaya sama cerita saya kalo Sundari itu jahat. Sundari itu gatel pancen mas ndoro, tapi saya juga nggak ngira kalo dia bisa jahat banget sama mas ndoro."
"Jadi pas mas polisi ini datang sama mbak dokter saya kasih tahu semua tentang Slamet dan Sundari. Saya ini sayang sama mas ndoro, sudah seperti anak sendiri makanya saya nggak rela kalo mas ndoro disakitin begini."
Mas dukun Joko terharu, ia menangis dan meminta mbok Parmi mendekat. "Ngapurane(maaf) yo mbok, kalo saya sering ngomong ngawur ke simbok."
Budi menatap adegan mengharukan keduanya dengan senyum, ada sebersit harapan kasus kematian warga desa ini bisa selesai dalam waktu dekat. Satu persatu simpul telah terbuka, dan kini tinggal menangkap aktor dari semua masalah ini.
Dokter Putra ditemani beberapa warga dan juga pak Tarmiji tergopoh-gopoh menuju klinik. Mereka membawa obor sebagai penerangan, senter dan juga kentongan.
"Mas Budi! Mas, emergency situation!" teriak pak Tarmiji dari luar kamar mas dukun Joko.
Budi dan tiga rekan lainnya yang baru datang dari kota saling memandang mereka bergegas keluar.
"Lho ada apa ini?"
"Tolong saya, mas Budi! Nayla hilang!" Dokter putra terlihat panik.
__ADS_1
"Apa, hilang?"
"Iya mas, tadi siang dia pergi sama Tegar tapi sampai sekarang dia belum pulang juga!" jawab dokter Putra lagi.
"Dia pergi kemana?" Budi menghampiri dokter Putra dan warga lainnya yang sudah berkumpul.
"Kata mbok Dar mereka pergi ke sungai, Nayla pengen jalan-jalan buang stres. Tapi sampai sekarang dia belum juga pulang!"
"Bisa dihubungi hp-nya?"
"Mbak dokter sama Tegar nggak bawa hp mas polisi!"
Budi berpikir sejenak, sesuatu yang buruk bisa saja menimpa Nayla dan juga Tegar. Ia segera berkoordinasi dengan tim nya, meminta bantuan dari kota, dan segera bertindak menyisir tempat yang sekiranya disinggahi Tegar dan Nayla.
Budi teringat rekam medis yang diserahkan Nayla padanya pagi tadi. Jejak malpraktek dan rencana pembunuhan Wak Dadan jelas terekam disana dan dokter Arini menjadi tersangkanya. Bisa jadi hilangnya Nayla ada hubungannya dengan rekam medis yang kini ada ditangan kepolisian.
"Kita bentuk tiga kelompok, kumpulkan warga lain untuk membantu pencarian." perintah Budi segera yang langsung dilaksanakan pak Tarmiji dan warga desa lain.
"Pak, pak polisi!" suara wanita terdengar dari kejauhan, wajahnya terlihat pucat dan matanya basah akibat menangis.
"Lho, ada apa Bu?" tanya pak Tarmiji keheranan.
"Tolong saya pak RT, suami saya … suami saya menghilang sejak kemarin malam! Saya sudah cari kemana mana, sampai pak sekdes saya tanyain katanya hari ini juga suami saya nggak masuk kerja!" wanita yang masih terlihat cantik itu terlihat frustasi mencari keberadaan suaminya.
"Pak Agus? Bukannya kemarin dia ke rumah dokter ya?" tanya pak Tarmiji heran.
"Oh ini istri pak Agus?" Dokter putra bertanya, dan wanita itu mengangguk.
"Aneh, kenapa semua serba kebetulan?" gumam Budi lirih.
"Kalau gitu kita perlu tambahan banyak orang pak, kumpulkan juga pemuda desa yang sekiranya sudah cukup umur untuk membantu!"
Budi segera menyusun rencana pencarian, kelompok pun dipecah lagi menjadi lima yang terdiri dari enam warga ditambah satu anggota kepolisian. Bantuan dari kota akan datang dalam dua jam ke depan.
Suara kentongan bertalu memanggil para warga untuk berkumpul. Dalam waktu singkat lima kelompok terbentuk dan segera menyebar menuju sungai, dan juga tempat yang sekiranya dilewati pak Agus saat pulang dari rumah dokter putra.
Mereka berjalan menyusuri jalan dengan obor sambil berteriak memanggil nama ketiga orang hilang. Semuanya tegang dan cemas. Suara makhluk nocturnal yang merajai malam terdengar mengiringi penyisiran mereka.
Dokter putra cemas dan berharap Nayla bisa ditemukan dalam kondisi sehat.
__ADS_1
'Selamatkan putriku ya Allah, lindungi dia dimanapun dia berada. Tolong jangan ambil lagi orang yang sangat aku sayangi dalam hidupku!'