
Pak Agus berpamitan pulang karena hari juga sudah mulai gelap. Ia berjalan sedikit tergesa, kabut mulai turun menutupi jalan desa. Hati Pak Agus gelisah tak karuan membuatnya ingin segera tiba dirumah. Sesekali ia menoleh kebelakang memastikan tak ada yang mengikuti atau berjalan mengendap endap di belakangnya.
"Sialan! Aku udah kayak maling aja ini! Lagian mbak Nayla kenapa juga pake ambil catatan penting ini! Bisa bahaya kalau sampai ketahuan, untung si Slamet kasih tau aku tadi."
Pak Agus menggerutu sambil terus berjalan. Setelah dirasa aman dan yakin tak ada warga yang melihat, ia pun berhenti. Tangannya gemetar membuka lembaran kertas yang sama sekali tidak ia pahami.
"Iki opo to? Aku nggak paham semua ini? Tapi Mbah Anto minta aku buat ambil ini berkas. Dasar Slamet lambe turah, aku kan jadi ikutan repot!"
Pak Agus celingukan, ia kembali memasukkan kertas-kertas itu dengan asal. Pak Agus bergegas pergi dari tempat tersembunyi itu tapi sayangnya belum juga lebih dari lima langkah, seseorang menariknya dengan kasar dan benda dingin tajam sudah menempel di lehernya.
"Bangsat, sopo kowe!" Pak Agus mengumpat dan sedikit meronta.
Tekanan benda tajam itu terasa menyakitinya, darah merembes dari luka yang menggores kulit leher.
"Diam, atau leher mu ini putus?"
Suara lelaki bersuara tegas dan berat terdengar di telinganya dengan jelas. Pak Agus terkejut, "Te-Tegar? Kamu mengikuti saya?"
"Kenapa, pak Agus kaget?"
Pak Agus tak bisa menjawab, tubuhnya gemetar karena pisau tajam yang melekat di lehernya bisa mencabut nyawa kapan saja.
"Saya sudah bisa membaca siasat kalian, tapi saya nggak nyangka kalo pak Agus juga ikut berkomplot sama dukun sok ganteng itu!"
"Da-dari mana kamu tahu saya terlibat?" suara pak Agus bergetar, ia merasa terancam dengan ucapan Tegar.
Tegar tertawa angkuh, tubuhnya yang lebih besar dan tinggi jika dibandingkan dengan pak Agus membuatnya mudah untuk mengungkung pria empat puluh tahun itu hanya dengan satu tangan.
__ADS_1
"Kalian pikir aku bodoh, hah! Tindakan ceroboh kalian membuat ku sangat kecewa. Awalnya aku hanya ingin menjadi penonton dan melihat satu persatu dari kalian mati sesuai perjanjian. Tapi sayangnya, kalian membuatku harus turun tangan!"
"Per- perjanjian? Perjanjian apa Tegar, saya nggak paham!" elak pak Agus.
"Kau memang manusia tak tahu diuntung!"
Suara Tegar tiba-tiba saja berubah, menjadi lebih berat, serak dan parau. "Aku telah memberimu kekuasaan dan juga harta! Aku juga membuatmu berhasil dalam pemilihan kepala desa, tapi kau lupa akan janjimu padaku!"
Pak Agus yang berhasil melepaskan diri dari sekapan tangan Tegar gemetar dan berbalik. Ia hendak berlari tapi kakinya tak juga bisa bergerak. Pak Agus pun terjatuh.
"Ka-kau,"
Mata Tegar berkabut putih, seringai nya bengis menatapnya garang seolah ingin memakannya.
"Kau lupa kewajibanmu memberikan tumbal! Aku tidak meminta lebih hanya satu ayam jantan hitam, tapi kau ingkar!"
Suara Tegar yang beradu dengan suara wanita di dalam dirinya membuat siapa pun yang mendengar merinding ketakutan.
Seketika pak Agus bersujud dihadapan Tegar yang masih menatapnya bengis.
"Sudah terlambat! Waktu untukmu sudah habis! Waktunya kau membayar apa yang sudah aku beri!"
"Jangan nyai, ampun! Tolong beri saya satu kesempatan, saya akan membawa tumbal untuk nyai!" rengekan pak Agus tak dihiraukan Tegar yang dirasuki Nyai Kembang.
Tegar berjalan mendekati pak Agus, ia berjongkok menyentuh dagu lelaki yang bercucuran peluh dan air mata itu.
"Rengekan mu sama seperti yang lainnya, menyesal dan meminta kesempatan. Kau pikir nyai Ratu akan mengampuni mu!"
__ADS_1
Pak Agus menangis, ia pasrah, pak Agus tahu hidupnya akan berakhir sekarang. Ditangan Tegar.
"Ampun, Nyai _,"
Tegar menyeringai bengis dan dengan satu sabetan saja tubuh pak Agus terkulai lemas. Darah membanjiri tubuh pak Agus yang kelojotan dan mengejang. Matanya melotot dan tangannya tak berdaya lagi untuk menekan luka menganga di leher nya.
Sosok nyai kembang berkebaya merah keluar dari tubuh Tegar. Ia menghampiri tubuh kaku pak Agus yang menatapnya untuk terakhir kalinya.
"Waktunya mengabdi pada nyai Ratu dan temani aku selamanya di neraka!"
Nyai kembang tertawa sepuasnya, lengkingan tawanya membuat makhluk hidup lain yang mendengar dibalut kengerian. Sang nyai menatap ke arah Tegar yang kini duduk bersimpuh padanya.
"Bereskan sisanya, ini adalah hukuman bagi manusia yang ingkar janji padaku!"
"Kenapa dia tidak seperti yang lainnya nyai, kalau begini akan meninggalkan jejak?" Tegar bertanya, ia menatap sosok sang nyai yang kini menghampirinya.
"Karena … aku menginginkannya mati dalam kehinaan, kau keberatan?"
Tegar menatap wanita cantik dari bangsa lelembut itu dengan kesal, "Tidak," jawabnya berbohong.
"Bagus," nyai kembang berbalik lalu menoleh sedikit pada Tegar. "Waktumu juga akan tiba Tegar, cepat atau lambat tergantung pilihanmu!"
Nyai kembang tertawa lagi dan ia pun menghilang ditelan kabut malam meninggalkan Tegar yang terpaku menatap tubuh pak Agus yang tak bernyawa.
"Bodoh, aku bodoh! Maaf mbok, maafin Tegar mbok!" suara Tegar gemetar, tangannya memukul mukul tanah menyesali keputusan bodohnya dulu.
Tak jauh dari tempat Tegar bersimpuh sosok wanita berbaju putih lusuh terkikik dan memperhatikan Tegar dari kejauhan. Matanya yang nyalang menatap tubuh yang terbujur kaku bersimbah darah. Suara burung Kedasih kembali terdengar menambah kesuraman malam berkabut yang terasa semakin mencekam dibalut kematian.
__ADS_1
"Temani aku mati __,"