Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Takdir yang menyesakkan


__ADS_3

Tegar dan Mbah Anto mendapat pengawalan ketat hingga keluar dari hutan. Di seberang sungai, berderet mobil polisi dan ambulans. Mayat-mayat bersimbah darah diangkut keluar hutan dibantu beberapa warga desa. 


Pagi berkabut dan cuaca dingin tak menyurutkan warga untuk berkumpul sekedar untuk melihat dan ingin tahu apa yang terjadi. Mereka hanya tahu jika dokter Nayla dan Tegar menghilang, tapi siapa sangka jika yang terjadi semalam ternyata begitu mengerikan. 


Warga desa sebelah juga dibuat penasaran dengan apa yang terjadi semalam. Mereka berkerumun dan mencuri kesempatan untuk mendapatkan gambar. Saat mbah Anto terlihat dikawal anggota polisi dengan wajah babak belur dan kaki pincang suara mendengung warga yang berbisik terdengar semakin keras.


"Weh, ladalah itu kan si Anto? Dukun ganteng dari desa kita to?!" seru salah satu warga yang mengenalnya.


"Ah, mosok sih Kang? Si Anto kan ngguantenge ra eram mosok babak bunyak ngono!" sahut wanita lain yang memakai kaos oblong dengan jarik yang terikat asal.


(tampan luar biasa masa babak belur gitu!)


"Eh Yu, jenenge wae bar gelut mosok tetep ngganteng rupane." sahut lelaki itu lagi.


(namanya juga baru berkelahi masa tetap tampan)


"He eh juga sih, tapi gelut mbek sopo kang?"


(berantem sama siapa kang?)


"Lah mbuh, wes meneng ae to Yu! Dewe kan mung gur nonton tok!"


(ya nggak tahu, udah diam aja Yu! Kita kan cuma penonton!)


Tegar berjalan dibelakang Mbah Anto, wajahnya pasrah dan matanya terlihat basah. Ia berhenti sejenak menatap warga desa yang berkerumun. Tegar menghela nafas berat, sebelum kembali berjalan. Tatapan sinis yang menghujatnya terdengar sangat menyakitkan. Tapi Tegar pasrah, ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Tegar?! Wah nggak nyangka lho ternyata dia itu _,"


"Walah, emane bagus-bagus kok mateni wong! Ora sumbut karo kelakuane!" 


(sayang ganteng-ganteng kok bunuh orang! Nggak sesuai sama kelakuannya!)

__ADS_1


"Ciih, najis aku ndeleng kowe, Gar!" (jijik aku liat kamu Gar!)


"Mas Tegar astaghfirullah, kok bisa begitu kenapa?"


Begitulah perkataan sebagian penduduk ada yang menghujat, menghakimi, membenci, iba dan juga tidak menyangka jika Tegar, pemuda yang selama ini mereka anggap alim ternyata menyimpan banyak sekali rahasia mengerikan. Mereka memang tidak salah tapi juga tidak benar sepenuhnya.


Tegar dimasukkan dalam mobil berbeda dengan Mbah Anto. Mbah Anto dibawa dengan mobil ambulance sementara Tegar dibawa dengan mobil khusus polisi. Ketika pintu terbuka, Tegar terkejut mendapati Sundari sudah ada di dalam dengan wajah menunduk.


"Mbak,"


Sundari melengos tak Ingin menatap ataupun menjawab sapaan Tegar. Malam disaat Slamet tertangkap, Sundari juga ikut diringkus anggota lain di rumah Dinas dokter Putra. Ia terbukti merencanakan pembunuhan mas dukun Joko dan juga menyembunyikan fakta tentang Arini. Rasa cintanya pada mas dukun Joko tergadai dengan sejumlah uang yang ditawarkan Mbah Anto.


"Bud, kita dapetin pak Agus. Mayatnya ditemukan tersangkut di bebatuan sungai." 


Anton memberitahukan pada Budi tentang penemuan mayat pak Agus oleh salah satu warga yang sedang menggiring sapi miliknya untuk dimandikan di sungai. Ia juga menjelaskan kondisi pak Agus yang tewas akibat dibunuh.


"Menurut kamu siapa yang bunuh dia?" Budi bertanya.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu, Budi sempat melihat map yang diselipkan pak Agus dalam bajunya saat ia melangkah keluar rumah. "Tunggu, map itu!"


"Map apa?" Anton sedikit terkejut.


"Rekam medis! Malam itu aku sempat melihat dia bawa map kuning itu." Budi menjeda kalimatnya, "Iya betul, itu rekam medis! Aku masih ingat warnanya, itu catatan punya Wak Dadan!"


"Jadi pak Agus yang sengaja mencuri itu, buat siapa?" tanya Anton mengernyit.


Keduanya saling memandang, senyuman tersungging di bibir Budi. "Ini akan jadi interogasi yang sangat menarik."


Nayla dan dokter Putra berjalan menuju salah satu ambulance, luka-luka di tubuh Nayla harus mendapat perawatan. Dokter Putra menanganinya sendiri, dengan telaten ia membersihkan luka di tubuh putrinya.


"Maafin ayah ya Nay, kita pindah kesini supaya ayah lebih tenang. Tapi, malah bikin kamu terlibat sesuatu yang … tak terbayangkan."

__ADS_1


Nayla tersenyum masam, ia mengingat saat pertama bertemu mbok Dar dan Tegar. Betapa ia merasa bahagia saat melihat interaksi ibu dan anak itu. Mbok begitu hangat dan penuh kasih sayang membuat Nayla merasakan kembali kehangatan seorang ibu. 


Tegar pun begitu ramah, ia juga membantu Nayla dalam banyak hal. Menghiburnya dan sesekali menemaninya menghabiskan malam. Siapa sangka jika Tegar ternyata banyak menyimpan misteri yang cukup mengejutkan. 


"Ayah mau pindah lagi?" tanya Nayla tiba-tiba.


"Menurut kamu sebaiknya gimana?"


Nayla mengembangkan senyum, ia.menatap sekitar lalu menarik nafas. "Nayla suka tempat ini dan mulai menyukai penduduknya yang ramah." Dokter muda itu menoleh ke arah ayahnya yang ikut mengedarkan pandangan. "Kita tetap stay disini aja. Memulai hidup baru meski di desa. Banyak yang bisa kita lakukan disini yah." 


Dokter Putra dan Nayla saling menatap, lelaki yang masih terlihat tampan di usia paruh baya itu menggenggam erat tangan Nayla dan mengangguk. "Kita berjuang disini, dari nol lagi!"


Nayla membalas dengan anggukan lalu memeluk ayahnya. Ia mencoba melupakan semua hal buruk yang terjadi semalam. Rasanya begitu lelah, tubuh Nayla letih dan ingin segera beristirahat.


"Ohya Nay, kamu kok bisa masuk ke hutan terus Tegar, ehm … apa benar dia yang lakuin itu semua?"


Nayla mengurai pelukannya, ia mengingat dan menjawab pertanyaan ayahnya.


"Tegar yang meminta Nay lari ke hutan, semalam ada bisikan yang menuntun Nay buat lari dan bersembunyi. Ayah percaya nggak kalo kunang-kunang itu konon perwujudan dari arwah orang yang kita sayangi?"


Dokter Putra mengernyit, lalu menggeleng pelan. Nayla menarik nafas, "Ibu, Nayla rasa itu suara ibu. Waktu Nayla ngikutin kunang-kunang itu entah kenapa Nayla merasa tenang, dan ngerasain ada ibu yang terus jagain Nayla."


Dokter Putra terkejut, ia menatap putrinya tak percaya. Matanya berkaca-kaca, sejak kepindahannya di desa ini ia tak sekalipun memikirkan Nuraini. Dokter putra benar-benar menyibukkan diri dengan kegiatannya, ia tak menyangka jika Nayla mengatakan hal itu. Nayla mengusap punggung ayahnya, memberikan kekuatan.


"Yah, Nayla yakin kok ibu disana juga udah tenang. Ayah tenang aja, ada Nayla yang bakal jagain ayah sampai tua nanti."


Dokter Putra melepas kacamatanya, mengusap air mata yang sedari tadi menggantung. "Iya, ayah tau kok. Yang ayah sesalkan cuma satu, ayah belum bisa mecahin misteri kematian ibu kamu. Siapa yang bunuh dia Nay, kenapa sampai sekarang belum ada titik terang."


Nayla kembali memeluk tubuh ayahnya yang mulai berguncang karena tangisan. "Mungkin itu lebih baik, daripada kita tahu siapa yang bunuh dan semakin membuat kita dendam sama yang lakuin. Nay yakin selalu ada maksud dari semua kejadian, Yah."


Nayla semakin mengeratkan pelukan untuk menenangkan hati ayahnya. Seandainya Nayla bisa menembus batas dimensi, Nayla juga ingin memecahkan kasus kematian ibunya. Tapi takdir belum mengizinkan Nayla untuk mencampuri kuasaNya.

__ADS_1


__ADS_2