
Nayla butuh ruang untuk menetralkan emosinya. Slide terakhir yang ia lihat dalam memori cukup membuatnya terkejut. Belum lagi kehadiran sang Nyai secara tiba-tiba yang muncul membawa sosok juragan Dadan pergi.
Nayla menatap Arini dari jendela kecil di pintu ruangan. "Kasian Arini, dulu dia sangat tersiksa dan sekarang dia justru jatuh hati pada dukun itu."
"Jatuh hati? Siapa Nay?" Budi mengulurkan segelas kopi untuk Nayla.
Nayla tak menjawab, ia memilih duduk di ruang tunggu tak jauh dari kamar Arini.
"Kamu percaya penglihatan gaib?"
Budi menaikkan kedua alisnya, dahinya berkerut bingung tak tahu harus menjawab apa. Ia percaya karena untuk beberapa hal itu pernah membantunya, tapi sisi lain dari dirinya juga menolaknya karena penglihatan gaib kebanyakan adalah hasil curi pandang makhluk gaib yang di visual kan dalam diri seseorang.
"Entah, harus aku jawab?"
Nayla menarik senyum di bibir tipisnya, ia menyesap kopi dan menikmati harumnya kafein yang menerobos ke dalam otak.
"Nice smell," sahutnya mengalihkan pembicaraan.
Budi tersenyum, ia mengamati garis wajah dokter muda yang duduk disebelahnya. Wanita cantik yang membuatnya sempat memanjatkan doa keselamatan untuk Nayla dua malam lalu.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya lho, siapa yang jatuh hati? Kamu or _,"
"Arini." jawab Nayla singkat.
Budi bingung, "Maksudnya Arini jatuh hati sama siapa?"
"Pernah dengar Stockholm syndrome?" Budi menggelengkan kepala, Nayla menjawab pertanyaannya sendiri.
"Sindrom dimana korban penculikan jatuh hati sama penculiknya sendiri. Biasanya hal ini terjadi saat si korban berada di titik terlemah dan menyerah dengan keadaan. Ia perlahan mengembangkan sikap positif terhadap penculiknya dan jatuh cinta."
__ADS_1
"Kayaknya sih pernah denger kasus gitu." sahut Budi meminum kopinya.
"Beberapa kasus penculikan berakhir dengan keringanan hukuman bagi si penculik itu karena permohonan dari korban sendiri, dan untuk Arini, aku … tidak bisa menyimpulkan pasti tapi dia mencintai dukun itu."
Budi terperangah, ia sampai tersedak saat mendengarnya. "Maksud kamu Arini jatuh cinta beneran? Sama si Anto?!"
Nayla mengangguk, ia kemudian menceritakan pada Budi tentang penglihatan gaibnya. Bagaimana Arini mengalami penyiksaan dan bagaimana sikap manis dan perhatian Mbah Anto saat mereka berduaan dalam ruang lingkup sempit.
Meski Arini tertekan tapi sisi lain hatinya juga bahagia dengan perlakuan mbah Anto. Kondisi itu terjadi dalam kurun waktu cukup lama dan berulang konstan. Lima tahun bukan waktu yang singkat, adalah hal wajar jika Arini kemudian terikat secara psikologis pada Mbah Anto.
"Jika dia jatuh hati kenapa dia melarikan diri?" tanya Budi heran.
"Itu karena ia takut terbunuh." Nayla kembali menyesap kopinya. "Arini salah paham saat Mbah Anto mengumpulkan orang-orang nya, dia kira dirinya yang akan dibunuh. Arini menyimpulkan sendiri ucapan Mbah Anto ditambah lagi dengan sikap dukun itu yang mungkin saja berubah karena ambisinya mencari ndoro putri, kekasihnya."
"Rasa takut dan kecewa mendorongnya untuk lepas dari penyekapan. Dia cemburu karena menganggap Mbah Anto lebih mencintai ndoro putri." terang Nayla panjang lebar.
"Itu baru dugaanku saja berdasar penglihatan gaib, sebaiknya kamu rekomendasikan ini sama psikolog yang menangani, minta mereka untuk melakukan tes lanjutan."
"Tapi tentu saja semua itu terlepas dari ritual aneh yang dilakukan Mbah Anto untuk memanggil kembali Arini dalam pelukannya." sambung Nayla lagi.
"Ritual?"
Nayla tersenyum masam, "Just forget it! Kita berbicara fakta saja, kondisi Arini saat ini berada pada situasi yang amat membingungkan baginya. Antara cinta dan benci, aku cuma bisa katakan itu."
Keduanya terdiam sesaat, Nayla kemudian berdiri. "Yuk, kita temui Tegar sekarang."
"Oke!" Budi menyetujui ajakan Nayla meski dirinya merasa belum puas dengan pernyataan dokter muda itu.
Keduanya berpamitan pada Amanda, Nayla berjanji akan menceritakan semuanya pada wanita cantik itu segera setelah ia menemui Tegar. Satu masalah selesai, Arini dipastikan tetap akan bertanggung jawab atas perbuatannya, dengan pertimbangan khusus. Saran dari dokter yang menangani kejiwaannya akan sangat berpengaruh.
__ADS_1
Selama perjalanan Budi kembali membahas masalah Arini, tentang kemungkinan lain yang mungkin saja luput dari pengamatan. Sejauh ini pandangan Budi dan Nayla sama, mereka sepakat satu hal. Mbah Anto bersalah.
Tentu saja dia bersalah, dilihat dari sudut pandang manapun posisi Mbah Anto lemah di mata hukum. Dia harus menghadapi tuntutan berlapis, penculikan disertai penyekapan, penganiayaan, rencana pembunuhan mas dukun dan juga pengeroyokan Tegar.
Mobil yang dikendarai Budi memasuki latar parkir kantor kepolisian tempat Tegar ditahan. Nayla menunggu di ruangan khusus tempat Tegar biasa diinterogasi dalam ruangan tertutup. Sekitar lima belas menit ia menunggu, sebelum Tegar akhirnya datang.
Pemuda berkulit eksotis itu masuk ke dalam ruangan didampingi Budi dan Anton. Wajahnya terlihat muram, tapi ia tetap tersenyum saat melihat Nayla datang.
"Hai, gimana kabar kamu?"
"Seperti yang kamu lihat, terborgol, baju tahanan, dan susah tidur." jawabnya santai tanpa beban.
"Aku dengar kamu sudah mengakui semua?"
Tegar mengangguk pelan, ada senyum yang tersemat samar di bibirnya. Tapi entah mengapa Nayla merasakan kejanggalan.
"Simbok sudah dimakamkan warga, pak Tarmiji juga sudah mengurus semuanya termasuk pengajian untuk mbok Dar."
Wajah Tegar berubah saat mendengar ibunya dimakamkan. "Apa simbok dimakamkan layak?"
"Iya, semua normal. Nggak beda sama pemakaman lain. Kamu jangan khawatir, warga desa tetap menganggap mbok Dar sebagai orang baik."
"Syukurlah," raut wajah sedih jelas terlihat oleh Nayla, terbesit rasa khawatir saat melihat perubahan ekspresi Tegar yang ekstrim. Tapi Nayla segera menepisnya.
Nayla mengajak bicara Tegar tentang beberapa hal dan berusaha menghibur Tegar semampunya. Tapi obrolan mereka terhenti karena sudah waktunya Nayla untuk memberikan keterangan. Nayla pun berpamitan, dan meninggalkan Tegar.
Saat melangkahkan kaki keluar ruangan, rasa tak nyaman kembali menyapa Nayla. Hembusan angin kecil meniup anak rambutnya. Nayla sontak berbalik dan melihat wajah tegar sebelum pintu tertutup.
"Jangan-jangan ini adalah _,"
__ADS_1