Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Terbukanya Satu Simpul


__ADS_3

Seseorang berdiri di luar rumah kecil itu, memejamkan mata dan tersenyum sinis. Suara-suara laknat yang menghiasi pondok membuatnya jengah. 


"Kalian luar biasa, tunggu tanggal mainnya dan akan aku tunjukkan pada semua orang siapa dalang dari kekacauan ini."


Orang itu pergi meninggalkan pondok kecil di tengah hutan, merapatkan Hoodie hitam yang dikenakannya. Langit terlihat mulai menghitam, cuaca cepat sekali berubah seolah memahami kedukaan yang menyelimuti desa hari ini.


"Kamu menemukan bukti baru?" tanya seorang lelaki yang menunggu sosok berhoodie itu dalam mobil.


Yang ditanya tak menjawab, ia mengenakan seat belt, membuka tudung dan tersenyum manis. "Tentu saja, tak ada yang bisa mengalahkan insting seorang Amanda Subroto."


"Sombong!" cibir lelaki itu sambil menjalankan mobilnya.


"Bukan sombong tapi pintar, beda dikit!" koreksi Amanda atau yang lebih suka dipanggil Manda.


"Terus gimana sekarang?" tanya lelaki itu lagi.


"Hhm, sementara biarkan Nayla mencari jawaban dari semua visinya. Aku yakin dokter muda itu cukup cerdas untuk mencari keterkaitan kematian warga desa dengan pembunuhan asli yang terjadi semalam." sahutnya dengan senyuman sarat makna.


"Semoga saja, sekarang lebih baik kita ke rumah sakit. Kakakmu butuh perhatian untuk memulihkan trauma fisik dan psikologisnya." saran lelaki berambut cepak dengan postur tinggi dan berdada bidang.


Raut wajah Amanda nampak berubah sedih, tangannya diam-diam mengepal menahan amarah yang berkecamuk dalam hatinya. Sungguh ia tak menduga jika setelah lima tahun, ia dipertemukan lagi oleh kakaknya yang menghilang. Berbagai dugaan dan tuduhan keji disematkan pada kakak perempuannya yang malang itu.


Takdir mempermainkan hidup kakaknya, Manda bertekad membalas semua perbuatan keji yang telah dilakukan beberapa warga desa pada sang kakak, dokter Arini.


'Tenanglah kak, aku akan menyeret semua yang terlibat ke dalam hukum. Aku akan pastikan mereka mendapatkan hukuman setimpal atas penderitaan mu!'


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya tiba di sebuah rumah sakit ternama di kota. Manda berjalan di koridor rumah sakit yang selalu membuatnya trauma. Rumah sakit selalu mengingatkan dirinya pada rasa kehilangan yang menyakitkan. Dimulai dari kehilangan sang kakak, dan diikuti kematian kedua orangtuanya.

__ADS_1


Ruangan VIP sengaja dipilih Manda untuk merawat sang kakak. Hampir seminggu sang kakak dirawat di rumah sakit ini setelah ditemukan secara tak sengaja oleh kakek dan cucunya di tepian sungai. Manda yang tak pernah lelah mencari dokter Arini segera menuju ke rumah sakit setelah mendapatkan informasi dari Rizky, kekasihnya.


Ciri-ciri fisik yang sama dan wajah yang begitu mirip membuat Rizky yakin jika wanita penuh luka yang datang dalam keadaaan kritis di rumah sakit adalah dokter Arini. Rizky secara kebetulan melihat foto dokter Arini bersama mas dukun Joko. Ia diam-diam mengambil gambar dan mengirimnya pada Amanda.


Rizky yang saat itu menyempatkan pulang ke kota bertemu dengan rekan sejawatnya di rumah sakit dan secara kebetulan bersamaan dengan kedatangan penyelamat Arini.


"Hai kak, gimana hari ini? Udah enakan?" sapa Manda pada kakaknya yang masih betah bungkam.


Sejak ditemukan dan masuk dalam perawatan khusus, dokter Arini memilih tutup mulut. Kondisi kejiwaannya terguncang setelah penyekapan selama lima tahun. Tak banyak informasi yang bisa digali dari dokter Arini. 


Kedua mata indah Manda mulai membayang, ia sedih melihat kakaknya yang kurus tak terawat. Selang infus masih menancap di tangan dokter Arini, tatapan matanya kosong dan lebih memilih untuk memejamkan mata meski ia tahu ada orang disekitarnya.


"Sabar," Rizky menguatkan hati Manda.


"Aku nggak terima kakak begini! Aku pasti bakal nemuin siapa penculiknya!" 


Tangis Manda pecah saat Rizky membawanya dalam pelukan. Arini yang mendengar ucapan Manda menangis dalam diam. Ia masih enggan bicara, setiap malam ia dihantui rasa takut, dokter Arini selalu bermimpi buruk kala mata terpejam. 


Manda terus menangis dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan Rizky. "Kita pasti akan menemukannya, bersabarlah."


Ponsel Rizky bergetar, Budi mengirimkan sebuah foto yang membuatnya geram. Rizky yang sudah berada di kota selama tiga hari terpaksa harus kembali bertugas.


...----------------...


Budi dan satu rekan tim lain, disibukkan dengan penemuan mayat di pinggiran jalan desa. Penemuan itu terjadi saat rekan yang lain dalam perjalanan ke kota. Butuh waktu sekitar satu atau dua jam sebelum timnya datang.


Budi meminta Nayla datang untuk membantunya. Lokasi penemuan mayat berada di dekat rumah jamur milik Tegar. Dua mayat tak bernyawa ditemukan sekitar jam sebelas siang oleh salah satu karyawan Tegar yang hendak membawa hasil panen jamur di pagi hari. 

__ADS_1


Nayla menerobos kerumunan warga, ia datang bersama dokter Putra. Ia tercekat saat melihat kondisi mayat yang tertutup daun pisang. Nayla kembali teringat mimpi seramnya. Untuk beberapa saat ia terpaku di tempatnya. Budi yang melihat Nayla terdiam, menatap Nayla dan dua mayat itu bergantian.


"Nay, apa ada masalah?" pertanyaan Budi membuat Nayla gugup, ia menggelengkan kepala pelan. 


"Nay, tolong ayah sebentar."


Nayla mendekati dokter Putra, memakai sarung tangan lateks-nya dan mengikuti arahan dokter Putra. Budi melakukan tugasnya sebagai anggota kepolisian. Ketegangan nampak di wajah mereka. Hujan gerimis menambah kesulitan mereka melakukan identitas mayat. Air bisa merusak barang bukti. Itu sebabnya mereka bertindak cepat.


Tangan Nayla gemetar saat membuka daun pisang yang mulai dikerubuti lalat. Dokter Putra menyadarinya, lalu menahan tangan Nayla.


"Jangan dilihat kalo nggak kuat." ujarnya sambil menggelengkan kepala.


"Tapi …," dokter Putra sekali lagi menggeleng, Nayla menurut ia memilih mengerjakan hal lain sambil menunggu ayahnya selesai membantu Nayla.


Kondisi mayat itu mulai kaku, perkiraan kematian sekitar pukul delapan atau sembilan malam. Nayla mengedarkan pandangan, memperhatikan lingkungan sekitar, matanya mencari kejanggalan di TKP. Kondisi mayat persis seperti dalam mimpi hanya saja wajah mereka tidak hancur. Keduanya memiliki luka hantaman benda tumpul yang sama.


Energi aneh menyapa Nayla, rasa mual dan berat pada tengkuk membuatnya tak sanggup lagi untuk tidak mengeluarkan seluruh isi perut. Tak biasanya Nayla demikian. Pasien dengan kondisi buruk pun Nayla sanggup menahannya, tapi kali ini memang berbeda.


Ada entitas lain yang menyusup dan mendekati Nayla. Memberi sinyal kehadirannya dengan mempengaruhi Nayla. Seseorang menjulurkan tisu ke arah Nayla. 


Ia pun meraih tanpa menoleh, "Makasih."


Untuk beberapa saat Nayla tak menyadari siapa yang berada di sebelahnya hingga sapaan halus yang familiar itu menyapanya. 


"Sama-sama," begitu halus, datar tanpa ekspresi.


Nayla perlahan menoleh kesamping, sosok wanita berkebaya kuning itu berdiri dan menatap kedua mayat tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Si-siapa kamu sebenarnya?" dengan gemetar, Nayla bertanya pada sosok yang sudah beberapa kali menampakkan diri padanya.


Sosok wanita itu menoleh perlahan, menatap Nayla dengan wajah pucat. "Nyi Melati."


__ADS_2