
Rizky pergi ke rumah sakit polisi untuk melihat dua jenazah yang baru tiba dari desa tempatnya bertugas. Didampingi ahli lain ia memeriksa jenazah korban pembunuhan yang melengkapi misteri kematian warga desa Sumberejo.
"Identitasnya sudah match (cocok)?" tanyanya pada dokter forensik lain.
"Sudah dan dipastikan dua jenazah ini dulunya memang pekerja di kebun milik Dadan Suhada bin Erpan."
Rizky menghela nafas dan menatap tak percaya. Ia membuka kain penutup salah satu dari mayat itu.
"Luka benda tumpul, diperkirakan dua kali pukulan. Pukulan pertama hanya merusak tulang tengkoraknya dan pukulan kedua menyebabkan pendarahan hebat dalam otak." Dokter forensik itu mengungkapkan penyebab kematian salah satu korban di depannya.
"Apa keduanya sama?" Rizky kembali bertanya.
"Yang satu juga terkena benda tumpul, bedanya dilakukan berkali-kali, sebagian tulang tengkoraknya remuk."
"Berkali kali?" Dokter forensik mengangguk, Rizky kembali bertanya, "Ada bukti lain?"
Dokter itu memperlihatkan sehelai rambut dan juga sampel yang didapat dari bawah kuku korban."Kami akan membawa ini ke lab untuk uji tes DNA."
Rizky meraih salah satu kantong plastik, memperhatikannya dengan seksama. Ia kembali memperhatikan kedua korban, lalu menghela nafas. Sebuah panggilan telepon membuatnya urung memperhatikan detail luka.
"Ya," Rizki mendengarkan suara di seberang dengan serius, catatan file tersangka yang ada di tangannya kembali dilihat.
"Oke, aku paham." Ia menutup panggilan, menghela nafas sejenak.
"Kabari saya kalau hasilnya keluar." pesannya sebelum keluar dari ruangan.
Rizki berjalan sedikit tergesa, informasi dari Budi membuatnya penasaran. Ia harus mencari tahu dimana keberadaan Mbah Anto, siapa dia dan apa motifnya jika benar dialah penculik dokter Arini.
Semenjak ditemukannya Arini, Rizky dan anggota kepolisian lain memiliki beberapa nama yang dicurigai sebagai dalang dari pembunuhan warga desa dan juga penculikan dokter Arini. Termasuk diantara adalah mas dukun Joko sendiri. Nama Mbah Anto muncul setelah penyerangan mas dukun dan juga kenekatan Amanda mengikuti pelaku penyerangan hingga ke hutan Pinus.
...----------------...
Mas dukun Joko menggeliat, ia meringis kesakitan merasakan bahunya yang terluka. Slamet dengan setia menemani mas dukun Joko. Nayla mengetuk pintu kamar.
"Pagi mas dukun, gimana hari ini? Udah enakan?"
"Mbak dokter ini gimana to, enakan piye badan remuk ajur gini mbak! Buat tidur miring aja susah apalagi buat tidur enak." sungut mas dukun.
Nayla tersenyum, ia memeriksa luka mas dukun yang mulai mengering. Dibantu suster Indah, Nayla membuka kain kasa yang menutupi luka jahitan memanjang hingga ke dada. Mas dukun meringis begitu juga dengan Slamet seolah ikut merasakan sakit.
"Tahan ya, saya mau bersihin dikit. Ada darah kering yang harus dibersihkan."
__ADS_1
"Aduh, saya kok ngilu mbak dokter. Itu kenapa bengkak?" tanya Slamet penasaran, ekspresi nya terlihat menahan ngeri.
"Iya sedikit bengkak, wajar karena lukanya juga panjang dan jahitannya lumayan. Ini proses pemulihan wajar nanti setelah bengkak sama meradang selesai, sel baru akan terbentuk."
Nayla memeriksa daerah sekitar luka, terasa sedikit hangat. Nayla memberi salep untuk meringankan peradangan. Nayla kembali menutup luka dengan perban setelah dirasa cukup.
"Jangan kena air dulu ya mas dukun."
Mas dukun sedikit meringis ketika lukanya sedikit tertekan oleh gerakan bahu. "Aduh sampai kapan saya begini, udah kepengen pulang."
"Sabar dulu, habiskan infus sebotol lagi nanti malam udah bisa dirumah kok."
Mas dukun berdecak kesal, Nayla meminta suster Indah untuk keluar ruangan begitu juga dengan Slamet. Hal ini disalah artikan mas dukun, wajahnya tersipu saat hanya berdua dengan Nayla diruangan.
"Ada apa ini mbak dokter, jantung saya deg-degan?!"
"Kalo nggak gitu mas dukun almarhum dong."
"Eh iya juga, saya belum siap lho mbak." ucapnya penuh keyakinan membuat Nayla mengernyit.
"Maksudnya?"
"Belum siap menikah sekarang. Tapi kalo mau cobain kawin boleh saya nggak keberatan." jawab mas dukun cengengesan membuat Nayla membelalakkan mata tak percaya.
"Eeh jangan! Saya lagi males ketemu dia, wong tau lagi sakit maunya nempel kayak lem! Marai pengen anu, lha wong nggak bisa kan jadi illfeel mbak."
Nayla tergelak, "Kalian memang cocok."
"Ada yang mau saya tanyakan, saya harap mas dukun bicara jujur." lanjut Nayla memasang wajah serius.
Mas dukun Joko mendengarkan. Nayla menanyakan hubungannya dengan ndoro putri. Untuk sesaat pria berusia tiga puluh tahunan itu terdiam, sorot matanya terlihat tak suka.
"Ndoro putri itu awal jatuhnya saya sebagai dukun kesohor disini. Gara-gara dia pamor saya turun!"
"Bukan karena permusuhan dengan mbah Anto?" pertanyaan Nayla membuat mas dukun terkesiap.
"Darimana kamu tahu tentang Anto?" wajahnya berubah bengis, raut tak suka jelas tercetak jelas disana.
"Anggap aja bisikan," Nayla tersenyum tipis.
"Saya sama ndoro putri nggak ada apa-apa. Kami hanya sebatas kenal," kalimat mas dukun menggantung membuat Nayla penasaran.
__ADS_1
"Lalu?"
Mas dukun berdecak kesal ia tak ingin lagi menjawab pertanyaan Nayla. "Saya nggak mau jawab lagi!" ia melengos menatap jauh ke luar jendela.
"Ya baiklah, saya pikir mas dukun tertarik sama berita dokter Arini. Tapi sudahlah kalo nggak mau dengar." Nayla mencoba memancing tapi tak direspon Mas Dukun.
"Buat apa cerita orang yang sudah pergi. Bikin sakit!" gumamnya lirih.
"Hhm, sakit ya? Oke saya nggak mau maksa, tapi setidaknya boleh kasih tau saya apa betul Mbah Anto kekasih gelap ndoro putri?"
Mas dukun menoleh ke arah Nayla, "Iya, mereka memang ada hubungan tapi sejauh mana saya juga nggak paham!"
Mas dukun kembali berpaling, Nayla mengalah tak banyak informasi yang bisa digali dari mas dukun. Ia pun menepuk lengan mas dukun dan berpamitan.
Diam-diam seseorang menguping pembicaraan mereka dari balik jendela. "Liat saja malam ini, kowe kudu mati!" lelaki itu bergumam lirih sambil memperhatikan mas dukun yang sedang memejamkan mata.
Nayla merasa ada yang memperhatikan dirinya dari balik pepohonan rindang. Ia berhenti dan memperhatikan sekitar. Suasana begitu sunyi, hanya terdengar suara berisik daun yang tertiup angin. Sayup-sayup terdengar suara bergumam aneh yang tak dipahami Nayla.
Dokter muda itu melirik ke arah jam ditangannya. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. "Masa iya ada hantu sepagi ini? Aneh!"
Nayla berbalik lalu masuk ke ruangannya. Suster Indah dan yang lain tengah berada di ruangan mereka. Nayla membuka lebar jendela kayu besar di ruangan nya agar udara segar bisa masuk. Nayla menikmati hamparan kebun wortel yang letaknya tak jauh dari klinik.
Ia tak menyadari jika secarik kertas dan pulpen diatas mejanya mulai bergerak. Huruf demi huruf mulai terlihat jelas di atas kertas dengan bentuk kaku dan terpatah patah, hingga membentuk satu kata.
MATI!
Tumpukan buku dimeja Nayla bergerak perlahan lalu terjatuh, menimbulkan suara yang cukup membuat Nayla terkejut. Dokter muda itu terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Tumpukan buku itu tak mungkin digerakkan angin dan jatuh begitu saja.
Nayla berjalan perlahan mendekati meja, matanya terbelalak saat melihat tulisan di atas kertas. Diraihnya kertas itu dengan tangan gemetar, ia menoleh ke kanan dan kiri tak ada siapapun selain dirinya.
"Suster! Suster Indah!"
Hembusan angin tiba-tiba saja bertiup cukup kencang, membuat lembaran buku teratas terbuka dan berhenti pada satu halaman yang memuat potongan resep bertanggal 6 Juni 2016, nama dokter Arini tercetak jelas disana.
Nayla memungut potongan resep itu, lalu membacanya. "Ini resep untuk pasien diabetes, tapi kenapa dosisnya dua kali lebih tinggi? Apa ini untuk … jangan-jangan?"
BRAAK!
Pintu ruangan tertutup kasar dengan cepat membuat jantung Nayla kembali melonjak tak karuan. Tiba-tiba saja seluruh bulu di tubuh Nayla meremang. Suara gumaman itu kembali datang, Nayla terkejut bukan kepalang. Di sudut ruangan sosok lelaki dengan kaos oblong dan udeng pengikat kepala muncul dengan wajah begitu pucat. Ia menatap kosong ke arah Nayla.
"Wak Dadan,"
__ADS_1