Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Simbok dan Putranya


__ADS_3

Mbok Dar duduk termenung didalam kamar. Diatas kursi rodanya mbok Dar menatap keluar jendela, matanya sayu dan pikirannya menerawang jauh kembali ke masa lalu.


Sepeninggal suami tercintanya, mbok Dar bekerja membanting tulang demi menghidupi putra semata wayangnya, Tegar. Keadaan ekonominya yang tidak bisa dibilang mampu mengharuskan mbok Dar bekerja siang malam untuk menyekolahkan Tegar. Ia pun rela menahan lapar demi putranya. 


Untungnya Tegar termasuk anak cerdas hingga ia mendapatkan beasiswa. Tapi sayangnya beasiswa yang didapat tidak sebanding dengan apa yang diterima. Ada permainan oknum tak bertanggung jawab yang memotong beasiswa untuk anak-anak cerdas dan tidak mampu. Sungguh sangat disayangkan apalagi Tegar benar-benar membutuhkan bantuan kala itu.


Tapi Tegar dan juga mbok Dar tidak pernah sekalipun patah arang. Mereka berdua tetap berusaha dengan bekerja keras di kebun milik Wak Dadan. Sesekali Tegar kecil juga membantu ibunya dengan membawa karung berisi kentang hasil panen. Apa pun Tegar lakukan untuk meringankan beban ibunya.


Air mata mbok Dar meleleh mengenang hal itu. Kehidupannya mulai membaik saat Tegar merantau ke kota. Putranya itu tak pernah absen mengirimkan sejumlah uang untuknya. Hingga pada suatu hari Tegar pulang dengan wajah sedih. Meski Tegar tak bicara tapi sebagai ibu, mbok Dar tahu Tegar menyimpan lara dihatinya.


Butuh beberapa Minggu lamanya hingga Tegar akhirnya terbuka dan mau bercerita pada mbok Dar. Hati ibu siapa yang tak teriris pilu saat anak lelakinya menangis. Tak ada yang bisa dilakukan mbok Dar selain menghiburnya. Tegar memutuskan untuk menetap di desa dan bekerja pada Wak Dadan.


Mbok Dar sendiri menjadi pembantu pribadi istri ketiga Wak Dadan, Kumalasari alias Nyi Melati. Pernikahan ketiga Wak Dadan dengan Kumalasari mendapat pertentangan kedua istrinya. Wak Dadan dinilai terlalu egois dan tidak mempertimbangkan perasaan ndoro Ageng dan ndoro Ayu (istri kedua). Protes kedua istrinya tak menyurutkan langkah Wak Dadan untuk menikahi wanita bertubuh molek itu.


Sementara dari Kumalasari sendiri, ia merasa cukup tertekan dengan keadaannya. Kembali ke kota pun tak mungkin karena kekasih gilanya mengancam akan membunuh Kumalasari. Akhirnya ia pun menerima takdir dan menikah dengan juragan sayur.


Kedua istri Wak Dadan menekan Kumalasari dan acap kali menganiaya secara verbal. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, itulah nasib Kumalasari.


Mbok Dar yang iba selalu menghibur Kumalasari, ia menemani ndoro putri kemanapun pergi. Tempat favorit ndoro putri adalah sungai di sekitar hutan. Ia merasa bebas disana dan berkeluh kesah pada mbok Dar. Hatinya yang rapuh terobati dengan kehangatan mbok Dar. Tegar yang kala itu baru bekerja enam bulan pun tak luput memberikan perhatiannya pada Kumalasari. Perlahan tapi pasti Kumalasari pun bangkit dari keterpurukan psikologis nya.

__ADS_1


Mbok Dar tak pernah lelah menyemangati Kumalasari. Tapi semua berubah saat Kumalasari pulang dari berlibur di puncak. Wanita yang disapa ndoro putri itu sering pergi tanpa pamit membuat mbok Dar dan Tegar kebingungan.


Tabiatnya juga berubah, ndoro putri menjadi lebih pendiam, dan tertutup. Tak ada lagi Kumalasari yang ringan tangan dan ramah pada para penduduk. Dari ketiga istri Wak Dadan hanya ndoro putri sajalah yang bisa berbaur dengan masyarakat. Dua istri lainnya begitu angkuh dan sombong.


Kumalasari yang tengah jatuh hati pada Mbah Anto memang melupakan segala kesedihannya. Ia tak lagi menangis bahkan lebih sering tersenyum ketika mendapatkan pesan singkat. Mbok Dar merasa khawatir dengan perubahan ndoro putri junjungannya. Wak Dadan pun mulai curiga dan sering menanyakan perihal Kumalasari padanya.


Sekali, dua kali, mbok Dar bisa menutupinya tapi akhirnya sore itu Wak Dadan memergoki Kumalasari sedang memadu kasih di sebuah villa sewaan. Wak Dadan yang kala itu bersama Tegar segera menyeret Kumalasari. Wak Dadan mengultimatum Mbah Anto agar tidak macam-macam dengan istrinya.


Naasnya malam setelah Wak Dadan menyeret pulang Ndoro putri, ia menyiksa Kumalasari sebagai hukuman untuknya. Entah apa yang dilakukan Wak Dadan didalam kamar itu tapi jerit kesakitan ndoro putri terdengar begitu menyayat hati mbok Dar. Ia menangis di luar kamar memohonkan ampun bagi ndoro putri tapi semua tidak didengar. Tegar tak tega melihat ibunya menangis di depan pintu kamar, ia membawa ibunya pergi menjauh. Sepasang ibu dan anak itu tak bisa berbuat banyak selain berdoa untuk keselamatan ndoro putri.


Mbok Dar menghela nafas berat, "Andai waktu itu aku membawa ndoro putri pergi." Air matanya mulai menetes, "Andai aku waktu itu juga mengingatkan ndoro putri kalo juragan Dadan mengetahui perselingkuhan."


Mbok Dar mengusap air matanya, ia menatap ke arah rumpun bambu tempat kali pertama wanita berkebaya kuning itu muncul dengan tarian dan tembang Jawanya.


"Bertanggung jawab untuk apa mbok?" suara Tegar mengagetkan mbok Dar.


"Oh, kamu Le? Darimana semalam, kenapa nggak temani simbok disini?" Mbok Dar mengalihkan pembicaraan.


"Maaf mbok, semalam ada hal yang harus Tegar urus. Mungkin besok Tegar harus keluar kota mbok." jawab pemuda itu sambil merapikan selimut yang menutupi bagian bawah tubuh mbok Dar.

__ADS_1


"Simbok sudah makan?" 


"Udah, tadi Sundari antarkan sarapan kesini. Itu bubur ayam kamu sampai dingin. Makan dulu nanti masuk angin." Mbok Dar membingkai wajah putra nya, lalu mengusap bahunya lembut.


Tegar yang berjongkok di depan mbok Dar tersenyum dan meraih tangan keriput ibundanya. "Mbok juga, disehatin badannya."


Tegar mencium tangan ibundanya cukup lama, ada rasa pilu yang menggerogoti hatinya. Mungkin ini kali terakhir ia bertemu ibunya mungkin juga ini kali terakhir Tegar bisa merasakan kehangatan sang ibu yang menyentuh dirinya.


"Ambil mangkok nya, biar simbok suapin. Simbok kangen nyuapin kamu le."


Tegar terkejut dengan permintaan mbok Dar, ia mengangguk ragu sebelum akhirnya berdiri dan mengambil mangkok di meja dekat tempat tidur ibunya. Mbok Dar menyuapi Tegar dengan penuh kasih. Sesekali ia membersihkan mulut Tegar dengan tisu.


"Le, makasih ya sudah jagain simbok pas sakit kemarin. Makasih juga sudah jadi anak yang berbakti sama simbok." mata mbok Dar membayang, ia mengusap rambut Tegar yang duduk disebelahnya.


Tegar mengambil alih sendok dan ganti menyuapi mbok Dar, "Temenin Tegar makan mbok. Tegar kangen saat kita makan sama-sama."


Mbok Dar tersenyum masam, ia menerima satu suapan bubur dari Tegar. Kedua matanya meloloskan bulir air mata. Mbok Dar pun memeluk tubuh Tegar menumpahkan segala kegelisahan hatinya. Mulutnya memang tak bisa mengucapkan sepatah katapun tentang kerisauannya, tentang ketakutannya, dan tentang rahasianya. 


Begitu juga dengan Tegar, pemuda itu tersiksa dengan situasinya saat ini. Ingin rasanya Tegar berada disisi ibunya yang renta, menghabiskan sisa waktu untuk merawat sang ibu. Tapi perjanjiannya dengan Nyai Kembang tak bisa ditawar. Ia harus pergi mengikuti perintah sang Nyai atau mati.

__ADS_1


"Tegar sayang banget sama simbok, sehat ya mbok. Biar Tegar juga bisa semangat terus ngadepin hidup." ucapan klise dari bibir Tegar meluncur menghangatkan hati ibunya.


Mbok Dar tak menjawab, ia semakin mengeratkan pelukan pada putra semata wayangnya. Ibu dan anak itu untuk sejenak larut dalam pelukan, melepas rasa terpendam, menenangkan meski tak saling bicara.


__ADS_2