
Tegar berteriak dan segera menghampiri Nayla. "Nayla!" tangannya menarik tubuh lemas Nayla dalam pelukannya.
"Kamu kenapa lagi sih?" Tegar panik karena wajah Nayla memucat dan hidungnya kembali mengeluarkan darah segar.
Untuk sesaat Nayla terdiam, ia tak mampu mengeluarkan kata-kata. Nayla menepis tangan Tegar, menjauhkan dirinya dari pemuda eksotis yang sangat mengkhawatirkan kondisinya saat ini.
Tegar kembali bertanya, "Nay, kamu pusing? Kita pulang aja ya?" wajahnya terlihat panik.
Nayla tak bergeming ia menatap Tegar, "Kamu membunuh dia?"
Tegar membeku sejenak, ia balas menatap Nayla. "Apa maksud kamu?"
"Ndoro putri, Nyai Melati? Kamu bunuh dia disana!" tangan Nayla menunjuk tempat yang dilihatnya dalam rekognisi.
Mata Tegar terbelalak, wajahnya berubah datar tanpa ekspresi. Ia menatap tajam ke arah Nayla yang terbawa emosi.
"Jawab aku Tegar, apa kamu benar membunuh ndoro putri!"
Tegar tak menjawab, ia berjalan menghampiri Nayla. "Kita pulang, kamu sepertinya butuh istirahat."
"Jawab aku!"
Nayla tak mampu lagi menguasai emosinya. Ia sama sekali tak mengira keinginannya pergi ke sungai membawanya pada kilas masa lalu yang menyedihkan sekaligus mengerikan.
"Nay, please jangan paksa aku. Kita pulang sekarang, ok?" Tegar masih menahan dirinya, ia menarik lembut tangan Nayla tapi dokter muda itu menepisnya.
"Kamu dan ibumu adalah pembunuh!"
Kalimat Nayla sontak membuat Tegar meradang, ia menarik paksa tubuh Nayla hingga tak berjarak lagi dengannya.
"Apa kamu bilang tadi?" kedua manik mata Tegar menatap Nayla, ada amarah yang berkilat disana.
"Simbok bukan pembunuh! Hati-hati kalau bicara!" kalimatnya menekan dan mengancam Nayla.
"Kenapa kamu biarkan ndoro putri sendiri? Dia butuh bantuan kamu!"
"Kamu nggak perlu tahu dan nggak perlu ikut campur urusan ini, Nayla!"
"Kenapa? Kamu takut ada yang tahu hal ini! Kamu takut masuk penjara, hah!"
Tegar terdiam dan semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya juga mengunci pergerakan tubuh Nayla.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Aku juga tak peduli jika aku harus mati membusuk di penjara!"
"Kalau begitu jawab pertanyaan ku! Kenapa kamu bunuh ndoro putri!"
Tegar menahan amarahnya, jika ia mau bisa saja saat ini Tegar mencekik Nayla dan membunuhnya karena kelancangan Nayla menyebut ibunya pembunuh. Tegar tak pernah mengetahui jika memang mbok Dar lah yang telah menghabisi nyawa ndoro putri.
Mbok Dar diam-diam mengetahui hubungan tak biasa yang terjadi diantara ndoro putri dan putranya Tegar. Sebagai ibu ia bisa melihat gelagat aneh yang terlihat dari gerakan tubuh ndoro putri saat menatap Tegar. Insting keibuan menuntun mbok Dar untuk membuntuti mereka ke tempat favorit majikannya.
Mbok Dar melihat dengan mata kepalanya sendiri perbuatan keduanya yang tak pantas dilakukan. Kecewa, marah dan juga sedih bercampur menjadi satu dalam tubuh wanita paruh baya itu. Ia menangis dari balik batu besar tempat persembunyiannya.
Bukan hanya sekali mbok Dar memergoki kelakuan ndoro putri yang dianggapnya telah menggoda Tegar. Hingga akhirnya kekesalannya memuncak. Hari dimana ndoro putri meregang nyawa, mbok Dar mendengar dengan jelas jika ndoro putri meminta Tegar untuk bertanggung jawab atas kehamilannya.
Mbok Dar tak terima dengan perkataan ndoro putri. Ia tahu persis jika ndoro putri melakukannya bukan hanya dengan Tegar tapi juga dengan lelaki yang menjadi selingkuhannya, Mbah Anto. Mbok Dar mencuri dengar dari balik pohon, dan melihat putranya mendorong dengan keras tubuh ndoro putri hingga kepalanya terantuk batu.
Tegar menolak bertanggung jawab, karena ia merasa yakin janin dalam tubuh ndoro putri bukan miliknya. Ia kalap dan pergi membiarkan ndoro putri yang terluka. Mbok Dar yang menahan amarah muncul dari balik pohon, mendekati bendoro-nya.
"Harusnya aku tahu, ndoro mempermainkan hati Tegar!" ucapnya saat menghampiri tubuh lemah ndoro putri.
"Mbok, tolong saya _,"
"Saya dan Tegar sudah terlalu banyak menolong ndoro putri! Saya bahkan menganggap ndoro sebagai anak saya sendiri. Sekarang ndoro minta saya menolong dan menghancurkan masa depan Tegar? Jangan serakah ndoro, jika bukan karena Tegar ndoro sudah mati ditangan juragan Dadan."
"Jika bukan karena nasehat Tegar, juragan Dadan sudah membunuh ndoro putri!" lanjutnya lagi disela tangisannya.
"Ampun mbok, tolong kasihani saya … saya sedang mengandung," Kumalasari alias ndoro putri mengiba, memohon belas kasihan pada mbok Dar.
Mbok Dar menatap ndoro putri dengan mata basah, ia lebih menyayangi putranya ketimbang harus menyelamatkan istri ketiga Wak Dadan itu.
"Lebih baik ndoro mati saja, toh pada akhirnya juragan juga akan membunuh ndoro jika sampai tahu ndoro hamil. Itu bukan anak Tegar, bukan juga anak juragan!"
"Ja-jangan mbok, to-long!"
Mbok Dar gelap mata, semakin Kumalasari memohon semakin ia membenci ndoro nya itu. Tangan tuanya mengambil batu besar dan memukulkannya bertubi-tubi ke kepala ndoro putri hingga tewas. Cipratan darah ke wajah dan tubuh mbok Dar bahkan tak mampu menghentikan perbuatannya.
Mbok Dar hanya ingin melindungi putra nya, mbok Dar ingin menyelamatkan masa depan putranya. Membunuh ndoro putri akan menghilangkan jejak kotor Tegar. Ia hanya ingin putranya berbahagia suatu hari nanti. Untuk itu ia rela mengotori tangannya dengan darah demi kebahagiaan putranya.
"Aku tidak pernah membunuh wanita itu, aku hanya mendorongnya dan meninggalkan dia disini. Selebihnya aku tak tahu bagaimana kondisinya hingga saat ini!" Tegar menjawab dengan tegas.
Mata Nayla membayang, bulir air mata menggantung di sudut matanya.
"Ndoro putri tewas ditangan simbok, dia membunuh ndoro putri demi kamu. Demi putra kesayangannya."
__ADS_1
"Apa?!" Tegar tak percaya dengan ucapan Nayla, "Jangan mengada-ngada, Nayla! Simbok nggak pernah berbuat sekeji itu!"
"Wah, wah … lihat drama menyedihkan ini!" suara lelaki terdengar dari arah belakang.
Tegar terperangah saat melihat siapa yang berdiri disana. Ia menarik tubuh Nayla agar berdiri di belakang tubuhnya.
"Kita akan bicarakan ini nanti, tapi untuk sekarang percayalah padaku Nay!" bisiknya sambil tetap mencengkram tangan Nayla kuat.
"Siapa dia?" tanya Nayla takut karena bersama pria itu ada beberapa lelaki bertubuh besar layaknya bodyguard dengan parang dan tongkat pemukul panjang ditangan mereka.
"Mau apa kamu kemari?" Tegar menatap tak suka pada sosok pria di depannya.
"Aku? Tentu saja menuntut balas kematian kekasihku!" Mbah Anto menyeringai bengis. "Rupanya kamu yang membunuh Kumalasari? Bertahun tahun aku mencarinya, menjadi gila karena ditinggalkan, hingga akhirnya aku tahu siapa dirimu sebenarnya, Tegar!"
Tegar berjalan mundur, ia melirik ke arah sisi lain sungai. "Ikuti aba-aba dariku Nay, kalau aku bilang lari cepat lari ke sisi seberang!"
"Tapi sungai ini dalam!" suara Nayla bergetar ketakutan.
"Nggak, kedalamannya hanya sebatas lutut kecuali kamu berjalan jauh ke sisi selatan."
Nayla gemetar, ia semakin merapatkan tubuhnya pada pemuda eksotis di depannya. Pikirannya kacau matanya mengedar ke arah yang dimaksud Tegar.
"Waktunya menuntut balas, nyawa dibayar nyawa!"
Mbah Anto segera memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Tegar dan juga Nayla.
"Sekarang, lari Nay!" seru Tegar saat ia mulai menghadapi anak buah Mbah Anto.
Nayla segera berlari mengikuti petunjuk Tegar.
"Brengsek, kejar dokter itu!" perintah Mbah Anto pada anak buah lainnya.
Nayla berlari sekuat tenaga, menyeberangi sungai. Meski tidak terlalu dalam tapi dalam kondisi panik semuanya tampak begitu sulit. Beberapa kali ia terjatuh akibat terpeleset batuan licin, akhirnya Nayla berhasil melewati sungai. Ia menoleh ke belakang, Tegar masih menghadapi anak buah Mbah Anto yang bertubuh besar.
"Kejar dia sampai dapat!" Mbah Anto kembali berteriak, Nayla terkesiap melihat seorang lelaki bertubuh besar memburunya.
Nayla kembali berlari tak tentu arah, masuk ke dalam hutan. Ia tak peduli dengan ranting dan duri yang menancap di kakinya. Ia hanya ingin selamat dan ia harus selamat.
Ikuti aku, kau harus selamat!
Bisikan lembut nan halus membimbing Nayla, memberinya petunjuk untuk terus berlari jauh ke dalam hutan.
__ADS_1