Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Kenangan Masa Lalu


__ADS_3

Nayla berdiri mematung diluar kamar, air matanya ikut meleleh saat mendengar ibu dan anak itu bicara. Ia merindukan Nuraini, andai ibunya masih hidup ia juga ingin memeluknya saat ini. Rasa kehilangan itu belum hilang sepenuhnya. Nayla menarik nafas panjang, mengusap pipinya dari jejak airmata lalu mengetuk pintu.


"Boleh Nay masuk?" ia bertanya dengan senyuman.


"Eeh mbak Nay, sini. Udah sarapan belum?" Mbok Dar menyahut.


"Udah kok mbok, keliatannya dah enakan ya? Semoga segera pulih ya."


"Iya mbak Nay, sekarang jauh lebih enak." Mbok Dar meletakkan mangkuk buburnya lalu bertanya, "Ada apa mbak?"


"Nggak, cuma bosen dirumah. Hari ini off tapi pengen jalan-jalan." Nayla berpaling ke arah Tegar dan bertanya, "Kamu ada waktu nggak?"


"Aku? Ada, mau jalan kemana nih?"


"Sungai, aku dengar dari warga ada sungai yang ada air terjunnya di hutan sana. Bisa anterin nggak?"


Tegar dan mbok Dar saling pandang tak percaya dengan permintaan Nayla. 


"Air terjun?" Tegar terbata memastikan permintaan Nayla.


Nayla mengangguk, "Iya, aku butuh udara segar."


Tegar kembali menatap mbok Dar. Sikap keduanya terbaca oleh Nayla. Gelagat mereka aneh saat menyebut kata sungai.


"Hhm, bisa kan?" Nayla setengah memohon.


"Ehm, iya bisa." jawab Tegar ragu.


"Asik, oke deh aku siap-siap dulu ya?!" Nayla berlalu meninggalkan Tegar dan mbok Dar.


Tegar bingung, ada rasa takut untuk kembali ke sungai. Ia pun mengingat kejadian semalam.


'Semoga tidak ada jejak tertinggal disana. Kenapa aku gelisah begini?'


"Le?" Mbok Dar memutar kursi rodanya, ia mendekati Tegar, "Kamu kenapa?"


"Nggak apa-apa mbok, cuma sedikit pusing." Tegar gugup.


Mbok Dar meraih tangan Tegar, ia tersenyum menenangkan. "Ajak Nayla jalan-jalan, kasian dia dari kemarin ngurusin kematian warga terus. Dia butuh refreshing."

__ADS_1


Tegar mengangguk, ia pun pergi meninggalkan mbok Dar. Wanita setengah baya itu menatap punggung putranya hingga menghilang. Kedua tangannya saling meremas, ia menggigit bibir bawahnya.


'Duh Gusti, mohon ampunan Mu atas putraku. Lindungi dia dan jagalah Tegar untukku.'


Air matanya kembali menetas, ingatannya tertuju pada sungai di dalam hutan. Tempat terkutuk yang mengawali semua hal buruk yang menimpa mbok Dar dan Tegar. 


Ditempat itulah Tegar dan ndoro putri melakukan hubungan terlarang layaknya suami istri. Ndoro putri yang mulai kehilangan akal sehatnya akibat diguna guna mas dukun Joko selalu menganggap Tegar sebagai sosok Mbah Anto, lelaki yang mencuri hatinya.


 Awalnya Tegar berusaha tak mengindahkan hal itu, ia menganggap ndoro putri sedang mengalami delusi akibat siksaan fisik yang diberikan Wak Dadan. Tapi lama kelamaan ndoro putri mulai menggila dengan menyebutnya dengan panggilan mesra. Hal itu membuat Tegar tak nyaman. 


Ndoro putri terus merayu Tegar dan itu terjadi jika mereka sedang berdua saja. Tegar berusaha bertahan sekuatnya tetapi dia juga lelaki normal. Hingga suatu hari di tepian sungai yang sunyi, pertahanan Tegar pun runtuh. Ia tak bisa lagi menahan gejolak kelelakiannya saat ndoro putri dengan sengaja dan liar menyesap bibir Tegar.


Mbok Dar mengusap air matanya lagi, bibirnya bergetar mengucap doa. "Takdir mempermainkan hidup putraku, ya Allah Gusti ampuni putraku. Ampuni juga aku yang telah berdosa besar ini." 


...----------------...


Nayla terlihat menikmati perjalanannya bersama Tegar. Dengan berboncengan sepeda motor milik Tegar mereka pergi menembus jalanan desa menuju sungai yang dimaksud Nayla. Sepanjang jalan Nayla bersenandung dan menikmati segarnya udara yang masih terasa dingin meski matahari mulai meninggi.


"Kamu seneng banget Nay, lagi happy ya?" tanya Tegar sambil menoleh ke kaca spion menatap wajah dokter muda yang terus mengembangkan senyum.


"Nggak sih, seneng aja akhirnya bebas dari hal yang menyebalkan sepanjang Minggu ini." sahutnya kembali dengan wajah sumringah.


Nayla tersenyum manis, ia mengeratkan tubuh pada pemuda eksotis yang sedang mengendarai motor. Nayla memejamkan mata, menyandarkan kepala di punggung Tegar dan untuk sejenak, menikmati bunyi alam dan sinar matahari yang menerpa wajahnya.  Detak jantung Tegar terdengar konstan membius Nayla. Terdengar indah dan menenangkan.


Pergi … atau, mati!


Bisikan halus terdengar ditelinga Nayla, begitu halus dan terdengar menyeramkan. Nayla tak mengindahkannya. Ia masih memejamkan mata.


Pergi … atau, mati!


Seraut wajah tiba-tiba saja mencuat, menembus batas dimensi. Wajah pucat dengan mata membelalak sambil berteriak, "Pergi!"


Nayla terkejut, seketika ia membuka matanya. Suara dan wajah itu terasa nyata baginya. Wanita dengan tatapan penuh amarah. Nayla melihat ke kanan dan kiri jalanan. Ia berada di hutan Pinus yang sepi, hanya Tegar dan Nayla yang melintasi jalanan sepi itu.


Jantung Nayla tiba-tiba saja berdebar tak karuan, sesuatu yang tak kasat sedang memperhatikannya. Ia bisa merasakan kehadiran sosok itu. Nayla mengeratkan pegangan, rasa takut seketika menjebaknya.


"Kenapa Nay?"


"Nggak, masih lama?" tanyanya dengan gelisah, matanya masih mengedar sekeliling.

__ADS_1


"Sebentar lagi itu dah kedengaran kan bunyi airnya?"


Nayla terdiam tak ada lagi senandung dari bibir tipisnya. Apa yang dikhawatirkan Nayla terjadi. Beberapa meter sebelum Tegar menghentikan motor, tepat disebelah kiri jalan seorang wanita cantik berkebaya kuning menampakkan diri.


"Nyai Melati?" gumamnya lirih.


Nyai Melati terus berdiri di tempatnya tanpa ekspresi, wajahnya pucat meski tetap terlihat cantik. Ia menatap Tegar tanpa berkedip. Bahkan saat Tegar menghentikan motornya sang Nyai tetap berada disana. Ia terus memperhatikan Tegar.


Nayla dibuat keheranan dengan hal ini, ia menatap Nyai Melati dan juga Tegar bergantian.


'Itu tatapan menyedihkan sekaligus menyeramkan.'


Nayla diliputi rasa penasaran, Nyai Melati hanya terus menatap Tegar dan mengikutinya. Tak sedikitpun sang Nyai menatap dirinya.


"Yuk, katanya mau lihat sungai?"


Tegar menarik tangan Nayla membawanya ke tepian berbatu. Tegar sengaja mencari tempat yang jauh dari tempatnya semalam membuang jasad pak Agus. Ia membawa Nayla ke tempat favorit Nyai Melati.


"Gimana bagus nggak?" ucap Tegar sambil merentangkan kedua tangannya.


Sosok Nyai Melati masih menampakkan diri, berdiri terpaku menatap ke satu tempat. 'Apa yang ingin kau katakan padaku Nyai?'


"Nay, kamu kenapa bengong begitu?" Tegar menghampiri.


Pemuda itu ikut melihat ke arah Nayla memandang, ia menatap nanar ke arah bebatuan kali besar yang berkumpul di dekat sebuah pohon. Kilas masa lalu pun muncul kepermukaan.


Nayla kembali menembus batas ruang dan waktu bersamaan dengan munculnya ingatan Tegar.


Nyai Melati yang kini menghilang muncul dalam kilas masa lalu Tegar. Wajah ayunya mengiba pada Tegar, ia menangis bahkan memohon pada Tegar tapi Tegar tak peduli. Pemuda itu mendorong tubuh sang Nyai dengan keras hingga kepalanya membentur salah satu bebatuan besar disana.


Tegar dengan tega meninggalkan Sang Nyai yang bersimbah darah. Meski wanita itu memanggil namanya tapi Tegar tak berbalik. lelaki muda itu diliputi emosi yang amat sangat. Ia terus berjalan dan menghilang. Nyai Melati menitikkan air mata, tangannya terangkat seolah ingin menghentikan Tegar.


'Tunggu, jangan pergi!'


Nayla masih menatap adegan mengerikan yang selanjutnya terjadi, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat selanjutnya.


"Ya Allah, jangan ... jangan lakukan itu!"


Nayla menjerit penuh kengerian, sungguh ia sama sekali tak menduga jika orang yang terlihat di rekognisi nya adalah orang yang sama yang begitu menyayangi putra semata wayangnya.

__ADS_1


__ADS_2