
Pukul 07.50
Kirana sudah sampai di depan pintu ruang dospemnya. Sebelum mengetok pintu, dari belakang muncul bapak Awwal, sekretaris pak Adam.
Kirana langsung menyingkir membiarkan Pak Awwal masuk terlebih dahulu. Tak lupa juga dia menampilkan senyum manisnya yang juga dibalas senyuman oleh pak Awwal.
Tak berselang lama, setelah pak Awwal menutup pintunya, terdengar langkah sepatu dari belakang Kirana. Kirana tahu langkah siapa itu, siapa lagi kalau bukan Pak Adam.
Kirana mengurungkan diri lagi untuk masuk. Kirana tersenyum tapi ekspresi sang dosen biasa saja, tidak ada senyuman balik seperti yang dilakukan Pak Awwal tadi.
Kirana pun langsung masuk setelah dospemnya sudah berada di ruangannya.
Tak lupa dia kembali tersenyum pada sekretaris dospemnya lalu duduk dihadapan sang dospem.
“Apa sudah diperbaiki?” Tanpa basa basi Pak Adam langsung to the point. Kirana tampak sedikit gugup namun tangannya mengeluarkan proposal dari tasnya dan meletakkan di atas meja dospemnya.
Pak Adam tampaknya juga mengeluarkan laptop dari tasnya.
“Tunjukan dimana yang direvisi?” pintanya sambil lalu membuka laptopnya.
Kirana langsung membuka satu persatu lembaran proposalnya dan menunjukkan sambil menjelaskan apa yang direvisi kemarin dan yang sudah diperbaiki.
Panjang lebar Kirana menjelaskan namun Pak Adam hanya sibuk mengetik sesuatu. Kirana hanya diam mengamati tidak berani menegur sang dosen.
“Sudah selesai?” tanyanya pada Kirana.
“Iya Pak. Itu yang direvisi dan sudah saya perbaiki,” tegas Kirana.
Tidak ada respon dari Pak Adam, jari jarinya sibuk memencet satu persatu kata di keyboard laptopnya.
Di dalam ruangan itu hanya terdengar suara petikan yang saling bersahut sahutan antara Pak sekretaris dan dospemnya, ditambah juga suara AC.
Kirana merasa tidak nyaman dengan suasana ini, menegangkan sekali. Selama beberapa menit diam mengamti Pak Adam, Kirana dikejutkan dengan suara dospemnya yang tegas dan serius.
“Tetap banyak yang salah,” Pak Adam lalu menggeser laptopnya dan berpindah mengambil proposal Kirana.
"Masih sama tidak ada perubahan. Diam ditempat, tidak ada kemajuan," Lanjut pak Adam melihat Kirana.
Kirana gugup karena dipandang begitu lekat oleh Pak Adam. Bukan suka pada Kirana, tapi karena ingin menjelaskan dan memberi kritikan pedas. Ini salah satu alasan Kirana selalu gugup dan blank ketika ditanya oleh Pak Adam.
“Berantakan,” katanya singkat saat meihat isi proposal.
__ADS_1
Dosemnya ini memberitahu lebih tepatnya mengkritik dengan tatapan tajam yang seakan ingin menguliti Kirana. Auranya benar-benar tegas, bahkan Kirana kadang tidak kuat bertatap tatapan lama. Alhasil dia menunduk dan sesekali melihat dospemnya.
“Diperiksa dan dikoreksi lagi dengan benar, masih banyak kata yang salah,” Sama seperti sebelumnya proposal kali ini dicorat coret dengan pulpen tinta warna merah.
"Bukankah sebelumnya saya sudah menyuruh kamu merevisi," jeda sejenak, "Mengapa kamu merevisi seperti ini? Atas dasar apa kamu mengerjakan ini?.
Kirana mengerjapkan matanya. Kali ini dia tidak akan lolos dari dospemnya. Pertanyaan yang ingin dihindarinya sekarang sudah ditanyakan lagi.
"Pertanyaan lagi. Kenapa harus itu yang ditanyakan?. Ayo Kirana berpikir," bisik Kirana dalam hatinya.
Dihadapannya dospemnya terus menatap dengan ekspresi datar menunggu jawaban Kirana. Bolpennya masih setia dipegang.
Tidak ada jawaban dari Kirana. Pak Adam lalu melihat jam tangannya.
"Besok siang saya kesini. Kalau mau bimbingan silahkan,” Sambil mengembalikan bolpen ke tempatnya dan memindahkan laptop kehadapannya.
“Iya pak” Singkat, padat jelas. Itu kata yang bisa Kirana ucapkan kali ini.
Kirana lalu pamit keluar, sedangkan Pak Adam sudah tenggelam dengan kesibukannya.
“Dia yang terakhir?” tanya Awwal pada Adam.
Awwal yang duduk di hadapan Adam hanya mengangguk anggukkan kepalanya. Tidak heran, ini sudah kebiasaan Adam kalau sudah sibuk dengan dunianya. Tidak bisa diganggu gugat.
“Bagaimana hasilnya?” Pembicaraan kali ini serius dan diluar konteks pendidikan.
Adam seketika menghentikan tangannya yang sedang mengetik dan beralih ke Awwal.
“Tidak ada jejak apapun,” Menghembuskan nafas lelah. Adam mengeluarkan amplop yang disimpannya di laci meja kerjanya.
“Kamu tidak mencurigai orang sini kan?” tanya Awwal lagi.
“Aku tidak berpikiran kesitu, karena yang melakukan ini pasti orang yang cerdik,” pikir Adam sambil memegang amplopnya.
Adam lalu mengeluarkan isi amplopnya berupa satu kertas yang di dalamnya terdapat tulisan yang membuat hati Adam gelisah.
Di sisi lain.
“Selalu ini itu, memberi masalah saja. Kenapa tidak dia saja yang diberikan masalah, biar merasakan apa yang aku rasakan saat ini,” gerutu Kirana pelan sambil berjalan. Kali ini kirana bimbingan sendiri tanpa ditemani sahabatnya.
______
__ADS_1
Di kediaman Adam
Adam sudah sampai dirumahnya. Keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Memang kebiasaan keluarganya selalu makan bersama. Tanpa mengganti bajunya, Adam langsung duduk disebelah Ayahnya.
Semua makan dalam keheningan.
Di dalam kamar, Adam memegang sebuah amplop yang tadi diambilnya dari laci lemari. Sama seperti sebelumnya isi dari amplop itu sebuah kertas namun ada tulisannya.
“Aku harus cepat menyelesaikan ini,” Digenggamnya erat kertas tadi dengan pancaran mata yang tajam. Dilihat dari ekspresi yang ditampilkannya sangat tidak bersahabat dan jelas tulisan itu tidak baik untuk Adam. Ada kecemasan dari ekpresinya.
________
Sementara itu, Kirana dan Diah sudah ada di kamar kos Odeng. Kali ini mereka berkumpul di kamar Odeng dengan alasan ingin merubah suasana.
“Bete banget aku tadi, kenapa sih kritikan pedas yang selalu diucapkan Bapak,” Gerutu Kirana.
“Hot banget ya? Level berapa?” Odeng membuat lelucon dan disambut oleh Diah
“Level 100 itu kali,” Gelak tawa keduanya pun terdengar. Kirana hanya melihat sekilas lalu diam memeluk guling Odeng.
__________
Di pagi hari
Kali ini Kirana tidak mau bimbingan, dia sedang tidak fokus mengerjakan kemarin. Pikirannya tidak bisa diajak kompromi. Jadi kali ini dia hanya ikut Diah ke kampus ditemani Odeng juga.
Rencananya mereka akan hang out bareng walau cuma ke alun-alun kota.
Sampai di kampus, Kirana memperhatikan ruangan dospemnya takut tiba-tiba keluar dari ruangan.
“Cepetan” Sambil menarik tangan Odeng.
Dengan tergesa-gesa mereka menaiki lantai. Kebetulan ruangan dospem Diah ada di Lantai dua. Sedangkan ruangan dospemnya Kirana dan Odeng di bawah, tepatnya lantai satu.
“Kayak dikejar setan, capek tau Kiran,” Odeng duduk di tempat yang sudah disediakan, di depan ruangan dospem. sedangkan Diah, setelah menetralkan nafasnya langsung masuk ke ruang dospemnya.
Odeng melanjutkan kata-katanya tadi yang sempat terputus, “Kenapa clingak clinguk?” tanyanya heran melihat sikap Kirana.
“Gak papa, cuman mantau aja,” ucap santai Kirana sambil berhenti tolah toleh.
“Mau ketemu bapak itu dibawah, bukan disini.” Senyum Odeng. Memang kebiasaan Odeng selalu mengolok-olok Kirana dengan Pak Adam. Kirana hanya memutar bola mata malas.
__ADS_1