Terikat DosPem

Terikat DosPem
Serasa Diuji


__ADS_3

"Bagaimana? Sudah ada diruangannya bapak?" Kirana bertanya setelah dia keluar kamar mandi.


"Belum," Odeng menjawab dengan lemas dan gelengan kepala.


Menghembuskan nafas sambil duduk di dekat Odeng.


____


Pulang ke kosan, Kirana sudah satu jam menunggu dan memutuskan untuk pulang. Tidak sengaja tadi dia melihat pak Adam masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Kirana akan menyusul namun mobil pak Adam sudah melaju.


Pengumuman jadwal ujian sudah keluar, tinggal seminggu lagi Kirana akan mulai diuji. Tepat apa yang diramalkan teman-temannya. Dosen yang mengujinya dosen yang terbilang baik. Kendalanya, ada pembimbing yang akan menemaninya. Itu yang Kirana pikirkan, merasa tidak bebas jika harus didampingi. Kirana harus mendapatkan tanda tangan pak Adam sebelum ujian terlaksana.


"Sebelum ujian aku harus dapat tanda tangan ini," Kirana meletakkan handuk saat dirinya keluar kamar mandi untuk membasuh mukanya. Odeng mengangguk.


"Kalau tidak ketemu, kamu pergi ke rumahnya saja. Pasti ada tuh kalau dirumahnya. Pasti ketemu dan banyak kesempatan buat berbincang-bincang," Odeng memberikan saran.


"Tidak usah berbincang lah, berikan tanda tangannya saja sudah cukup,"


Tidak mau Kirana terlihat akrab dengan dospemnya. Dia dan pak Adam seperti Air dan minyak, tidak akan menyatu.


____


Keesokan harinya dia kembali lagi ke kampus dengan menenteng kertas proposal yang tebal.


"Aku harap hari ini tidak mengecewakan," Kirana melangkah dengan pelan didampingi Odeng.


Dengan langkah lemasnya Odeng mengikuti Kirana. Terlihat sekali kalau dia masih mengantuk. Kirana sengaja menyeretnya, dia ingin sampai lebih dulu agar dospemnya tidak lari kemana mana. Itu juga sebagai bentuk kewaspadaannya terhadap hal yang tidak Kirana inginkan terjadi.


Tepat di depan kursi, Kirana duduk sebentar. Hari ini ada mahasiswi lain juga yang duduk. Tidak seperti biasanya yang akan selalu sepi, kali ini kursinya full. Untung masih ada sisa tempat duduk untuk Kirana dan Odeng.


Kirana menyangka mahasiswi ini mau bimbingan atau ada perlu sama pak Adam. Ada 3 mahasiswi yang sedang mengantri. Kirana memperhatikan wajahnya. Namun, wajahnya belum familiar, Kirana tidak mengenal mereka.


"Kayaknya aku bakal nunggu lama lagi deh," Kirana memulai obrolan dengan suara pelan seperti berbisik.


"Langsung saja kamu tikung. Nanti bapak datang, masuk ruangan, kamu langsung nyusul dibelakangnya,"

__ADS_1


"Harus ngantri lah Odeng. Budayakan hidup antri," Kirana berkata bijak.


"Ada tempatnya juga kan Ran. Kali ini saja deh biar cepat selesai," Odeng mengangkat alisnya memprovokasi Kirana agar menyetujui sarannya.


"Liat nanti deh,"


____


Hampir 30 menit berlalu. Mereka belum juga bangun dari tempat duduk sama halnya dengan Kirana. Dari kejauhan ada mobil yang sedang di parkir dan turun seseorang. Kirana memicingkan matanya melihat siapa orang itu. Terlihat dari postur tubuhnya seperti dospemnya.


Orang itu berjalan dan makin mendekat ke arah Kirana. Benar sekali tebakan Kirana itu adalah dospemnya.


"Memang beda ya auranya," ucap Odeng ketika melihat Kirana memperhatikan pak Adam yang sedang berjalan menuju ke ruangannya.


"Iya benar. Beda dari yang lain," Seketika Kirana menimpali dengan tatapan yang tetap mengarah ke pak Adam, sang dospem.


Tidak ada pergerakan dari Kirana, kedua kalinya dia melewati kesempatan untuk menghentikan sang dospem.


"Kenapa tidak di sapa Kiran,?" Odeng gemas dengan sikap Kirana.


Namun, Kirana tidak yakin akan ucapannya. Tapi dia tetap berfikir positif saja.


Kirana tidak masuk duluan, dia menunggu ketiga mahasiswi itu untuk masuk terlebih dulu. Namun dipersekian detik tidak ada tanda tanda mereka akan masuk.


Kirana mengerutkan keningnya dan mulai berbisik pada Odeng.


"Kenapa mereka tidak masuk? apa yang mereka tunggu?," Pertanyaan Kirana yang tidak mungkin mendapatkan jawaban pasti karena dia bertanya pada orang yang tidak tepat.


"Aku tidak tau, tanyain saja sama orangnya," Odeng mengendikkan bahu. Kirana mengangguk menyetujui perkataan Odeng.


Saat ingin bertanya, ketiga mahasiswi itu langsung bangun dan pergi meninggalkan Kirana. Kirana hanya dibuat cengo.. Dia melirik ke arah Odeng dengan rasa penasaran.


"Adik kelas itu kali Ran. Numpang duduk mereka," Odeng tertawa geli melihat kejadian tadi.


Kirana hanya tersenyum terpaksa. Betapa dia tidak bisa membedakan mana yang seangkatan dan adik kelas. Salahnya juga tidak bertanya dari awal.

__ADS_1


"Tau gitu kan aku langsung masuk, tidak menunggu lagi. Ya ampun, bagaimana kalau bapak menghilang lagi," Kirana langsung bersiap siap rasa khawatirnya masih ada. Dia tidak mau selalu gagal.


Dengan sigap Kirana mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Tatapannya lurus, dia sudah mulai mengontrol pikiran dan mentalnya.


Melewati meja pak Awwal Kirana menundukkan kepalanya dan tersenyum. Dipikirannya pak Awwal sangat rajin, bahkan dia tidak menyangka kalau pak Awwal sudah datang.


Meluruskan pandangannya, terlihat pak Adam yang fokus pada laptop. Menyapa tanpa duduk itu yang Kirana lakukan ketika sudah berada di depan meja dospemnya.


Pak Adam mengangkat pandangannya. Masih jelas terlihat tatapan tajamnya. Sikapnya yang dingin masih melekat dalam dirinya. Tanpa kata hanya mengangkat sebelah alisnya pak Adam memberi kode Kirana untuk mengatakan niatnya.


"Saya ingin meminta tanda tangan bapak untuk 2 proposal saya yang sebentar lagi akan diujikan. Mohon maaf sebelumnya, saya tidak langsung meminta saat tanda tangan yang bapak berikan sebelumnya. Alasannya,,,"


"Kamu tidak tau dan tidak mau tau. Begitu?,"


Perkataan Kirana tadi disela dan digantikan dengan pernyataan pedas dari pak Adam.


Kirana melototkan matanya. Tangannya sudah dingin dan gemetar. Kirana menyatukan kedua tangannya, menggenggam satu sama lain untuk menetralkan perasaannya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.


Selalu salah, itu yang dirasakan Kirana. Belum ujian Kirana sudah merasakan seperti diuji. Dospemnya seperti seorang musuh yang ingin menjatuhkan Kirana.


"Kamu akan berdiri saja atau akan melakukan hal lain?"


Skakmat. Belum juga Kirana menetralkan perasaannya tadi sudah dibuat mati kutu dengan ucapan tiba tiba dospemnya. Benar apa yang dipikirkannya, dospemnya ini berubah. Makin hari makin menyeramkan.


Dengan hati gemetar dan tangan uang juga gemetar Kirana mengeluarkan proposalnya. Kirana menelan ludah saat menyerahkan proposalnya di depan tangan pak Adam.


Tidak langsung di tanda tangani, pak Adam masih membuka lembaran proposalnya. Hanya beberapa lembar yang dibuka. Setelahnya pak Adam mengambil bolpen andalannya dan membubuhi tanda tangan di halaman persetujuan.


Tinggal satu tanda tangan lagi, Kirana bersiap untuk keluar. Dia sudah tidak sabar untuk keluar ruangan.


Untuk selanjutnya dia akan memikirkan nanti. Kali ini dia harus bisa selamat.


Selesai, tanda tangan sudah dibubuhi dan pak Adam mengembalikan bolpennya ke tempat semula. Pak Adam langsung menatap Kirana. Dengan rasa gelisah dan takut Kirana mengambil pelan proposalnya. Tidak melihat ke arah pak Adam, dia tidak berani memandang wajah dospemnya.


"Saya permisi pak. Terimakasih," menundukkan pandangan saat mengatakannya. Kirana menundukkan kepalanya dan bergegas keluar. Dia lupa akan pak Awwal. Jadilah dia tidak menyapanya kembali.

__ADS_1


Pintu ditutup, Menghembuskan nafas kasar dengan memejamkan matanya. Kirana langsung menghampiri Odeng dan mengajak dia pulang.


__ADS_2