
Sudah sampai satu jam Kirana menunggu. Masih di tempat yang sama, duduk berdua dengan Odeng. Sangat kebetulan, selama Kirana menunggu tidak ada satu pun mahasiswi lain yang duduk di dekatnya. Hnya dirinya dan Odeng yang setia di tempat duduk tersebut.
Kirana melihat mahasiswa yang berlalu lalang di depannya, mengintai satu persatu menilai penampilan mereka.
Di dalam hatinya Kirana membatin saat melihat penampilan mereka. Ada yang modis, ada yang keislamian dan masih banyak lagi gaya yang mereka tampilkan.
Melihat sekitar rasanya tidak membuat Kirana jenuh, ada saja kelakuan dari para mahasiswa. Ada yang sedang ngerumpi, nongkrong per geng, ada juga yang berfoto selfi. Bahkan Kirana juga melihat beberapa mahasiswi yang bolak balik ke kamar mandi.
Kirana menggelengkan kepalanya saat melihat mahasiswi yang baru datang langsung nyelonong ke kamar mandi.
Kirana ingat, dirinya juga pernah begitu saat masih aktif kuliah. Saat mau pulang kampus, masih sempat-sempatnya dirinya pergi ke kamar mandi dulu. Saat keluar dari kelas pun dia sempatkan ke kamar mandi. Kirana sedikit tersenyum saat mengingat kelakuan anehnya dulu dimana dia sering ke kamar mandi hanya untuk berkaca dan memperbaiki penampilannya.
Saat Kirana sibuk dengan pemikirannya dan Odeng sibuk dengan ponselnya, dari kejauhan ada sebuah mobil yang datang. Tidak lama turun pak Awwal yang dengan gagahnya berjalan menuju ke arah ruangannya.
Kirana yang menyadarinya pun bersiap untuk menyapa dan menanyakan kembali keberadaan dospemnya. Sedangkan Odeng, dia langsung tersenyum dan dengan sigap berdiri. Kirana hanya melirik tingkah Odeng.
"Ya ampun, ya ampun..... Gagah sekali ya. Ganteng lagi, uh kerenn... Gemez deh," racau Odeng dengan tersenyum gemas.
Tinggal beberapa langkah lagi sampai ke pintu, pak Awwal melihat keberadaan Kirana dan Odeng. Dengan tersenyum Odeng menyapa pak sekretaris itu.
"Bapak sendiri saja?" masih tetap tersenyum.
"Eum, boleh saya bertanya pak?" Kirana yang mendengar perkataan Odeng tadi langsung menghentikannya dengan memotong pembicaraan Odeng.
Kirana berfirasat Odeng akan berbicara yang aneh dan diluar dari profesionalitas. Pak Awwal yang menjadi target Odeng hanya tersenyum mendengar perkataan Odeng. Ingin menjawab namun terhenti karena omongan Kirana.
"Ada Apa?" Pak Awwal menanggapi pertanyaan Kirana.
"Hari ini pak Adam tidak masuk kampus pak?"
__ADS_1
Pertanyaan yang sama lagi yang ditanyakan pada bapak sekretaris dospemnya.
Dengan tersenyum pak Awwal langsung menjawab
"Tidak. Dia tadi bilang ke saya kalau ada urusan."
Sedikit terkejut Kirana mendengarkan perkataan pak Awwal. Jadi Kirana sia-sia datang ke kampusnya. Niat hati ingin bahagia sekarang malah berduka.
"Kamu ada janji dengan Adam?" tanya pak Awwal
"iya pak. saya mau mengambil hasil proposal kemarin," Penjelasan Kirana. Odeng disampingnya tidak berkata-kata namun dia hanya tersenyum mengagumi ketampanan pak Awwal. Terpesona beberapa kali, itulah ungkapan hati Odeng saat ini.
"Hubungi saja Adam. Katakan kalau dia ada janji denganmu sekarang,"
"Saya sudah menghubungi pak Adam, tapi tidak aktif," Kirana mengatupkan giginya.
"Biar saya saja yang menghubunginya. Adam sudah ganti nomer jadi nomer yang kamu hubungi sudah
Setelahnya pak Awwal masuk ke ruangan meninggalkan Kirana yang sedikit kebingungan. Odeng masih setia dengan tatapan kagumnya. Matanya mengikuti kemana pak Awwal melangkah.
"Cool, Handsame. Really really perfect," Odeng tersenyum geli.
"Kamu tahu, pak Awwal itu sosok yang sempurna buat calon imam. Coba lihat.." Ucapan Odeng terhenti ketika pandangannya beralih ke Kirana yang sedang melamun memikirkan sesuatu.
"Ayo duduk," menggiring Kirana duduk. "Jangan ngelamun, hey," menjentikkan jarinya. Kirana sedikit terkejut dan melirikkan matanya ke arah Odeng.
"Hayo, mikirin apa? Oh aku tahu.... Mikirin pak Adam ya kan," Dengan tersenyum Odeng menggoda Kirana.
"Ih, bukanlah. Aku lagi mikirin proposal. Gimana nasibku sekarang," Memelas.
__ADS_1
Belum Odeng menghibur Kirana, Pak Awwal keluar ruangan dan memberikan kabar pada Kirana.
"Proposalnya sudah dikoreksi dan bisa kamu ambil di mejanya Adam. Saya masih ada urusan sebentar, jadi kamu masuk saja dan langsung ambil," Setelah mengatakan hal tersebut, pak Awwal pun berlalu.
Kirana yang bahagia tanpa menunggu langsung masuk meninggalkan Odeng yang masih mengikuti arah perginya pak sekretarisnya.
"Harum banget," Odeng menghirup aroma parfum yang dipakai pak Awwal.
"Orangnya sudah jauh, wanginya masih disini. Serasa masih ada di sampingku," Odeng tidak menyadari kalau dia berbicara sendiri.
Di dalam, Kirana mencari keberadaan proposalnya. Di meja terapat banyak buku dan lembaran lembaran. Dipastikan itu skripsi anak anak lain yang pembimbingnya sama dengan pak Adam. Kirana juga menyangka itu bukan hanya skripsi tapi tugas yang lain karena dia tidak sengaja membaca ada artikelnya. Namun, Kirana tidak melihat nama siapa yang tertera. Dia lebih fokus mencari proposalnya.
Belum ditemukan proposalnya, mata Kirana tidak sengaja melihat sebuah amplop. Kirana mengira itu uang. Tapi Kirana berpikir kembali, tidak mungkin dospemnya menaruh uang sembarangan apalagi di amplop seperti ini. Tidak mungkin juga uangnya ada di amplop, pastinya disimpan di rekeningnya. Pemberian gajinya tidak mungkin di amplop apalagi sekarang sudah canggih
Perkiraan Kirana amplop ini berisi sebuah surat. Bentuknya pun sama seperti orang yang sedang kasmaran dan saling mengirim surat sebagai bentuk komunikasinya.
"Surat siapa ini? Kenapa bisa ada disini. Ada yang izin kah, atau apa ya?" Pikir Kirana berbicara sendiri dengan tangannnya yang sibuk mencari proposal.
Proposalnya ketemu Kirana langsung mengambilnya dan tak sengaja amplop tadi pun terseret proposal yang diambil Kirana. Alhasil Amplopnya jatuh. dan Kirana langsung mengambilnya.
"Apaan ya isinya? Seberapa penting orang itu sampai surat izinnya ada disini," Kirana menimbang nimbang suratnya. Amplopnya sudah direkatkan dengan lem dan tidak bisa dibuka sembarangan.
"Surat izinkah atau surat yang lain? Surat cinta kah?" Kirana memonyong monyongkan bibirnya sambil berpikir.
"Siapa juga yang ngirim surat cinta ini. Gak ada kerjaan juga. Lagian di zaman ini masih pakek surat suratan. Langsung aja ngirim di ponsel pakek whatsaap, dan atau apa kan bisa. Aneh memang," Kirana nyerocos sendiri dan diakhir katanya Kirana tertawa pelan.
Belum Kirana menyimpan dia sudah dikagetkan dengan suara di belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Pak Adam dengan suara dinginnya bertanya. Ruangan yang memang senyap membuat perkataan Adam sedikit menggelegar dan menakutkan di telinga Kirana.
__ADS_1
Kirana mematung dengan tangan masih memegang amplop. Tidak menoleh dan bergerak, sampai pak Adam sudah berdiri dihadapannya. Disampingnya ada anak buahnya, sasi sang putri kampus.
Mengerjapkan matanya pelan Kirana sadar dengan tatapan pak Adam yang mengarah ke tangannya. Dengan spontan Kirana meletakkan amplop yang tadi dipegangnya ke meja pak Adam. Dengan tatapan tajam pak Adam melihat Kirana.