
Aura dingin selalu Kirana rasakan saat pak Adam ada di dekatnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini saat terlihat raut wajah pak Adam yang tegas tanpa ada senyuman. Tatapan yang tajam selalu mengintimidasi. Ada aura kengerian saat Kirana tidak sengaja melihat dospemnya ketika sang dospem menatap Kirana. Kirana menundukkan pandangannya dengan tanpa kata kata.
"Apa yang kamu lakukan diruangan ini sendirian?" pertanyaan yang terlontar saat pak Adam sudah duduk di kursinya.
Kirana sudah menebak pasti itu akan menjadi pertanyaan pertama yang akan diucapkan pak Adam. Kirana sedikit mendongak dan berusaha melihat ke arah pak Adam.
"Saya ada perlu sama bapak untuk meminta tanda tangan bapak,"
Tidak ada sahutan, Kirana lalu menundukkan pandangannya, tidak kuat harus menatap lama pak Adam.
Firasat Kirana kali ini mengatakan dia akan tertimpa masalah. Kali ini suasananya beda seperti sebelumnya dia berhadapan dengan pak Adam.
Tak lama Kirana ingat akan kesalahannya kemarin. Dia menggurutu di dalam hatinya. Masih berperang dengan fikirannya cara memulai mengakui kesalahannya dan minta maaf.
Kirana berfikir apa dospemnya ini masih ingat kejadian kemarin atau dospemnya akan membuatkan Kirana masalah. Masih berkecamuk dalam fikiran Kirana tentang dospemnya yang tidak bisa memaafkan seseorang begitu mudah atau dia akan membalas dendam dan semua pikiran negatifnya muncul.
Menguatkan hati, Kirana tanpa melihat ke arah dospemnya akan mengatakan hal yang mengganjal di hatinya dari tadi malam
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin. Saya benar-benar tidak sengaja dan refleks. Tidak ada niatan buat saya mengucapkan hal buruk itu. Saya mohon maaf yang sebesar besarnya bapak," Merendah dan melembutkan suaranya. Kirana berharap semua akan baik-baik saja.
Senyap, tidak ada sahutan lagi dari dospemnya. Kirana memilin tangannya. Tidak tahu apa yang harus Kirana ucapkan lagi, dia pun berinisiatif mengambil kertas yang akan ditanda tangani.
Dengan ragu ragu Kirana menyodorkannya ke pak Adam. Kirana membuka lembar pengesahannya dan meletakkan di atas mejanya.
Sedikit mendongak. Pak Adam terus menatap Kirana. Kirana melihat seakan ada pertanyaan di raut wajahnya pak Adam. Seakan pak Adam sedang menilai Kirana dari tatapannya.
Tak berani menatap lama lama, Kirana kembali menundukkan pandangannya.
"Saya sudah mendapat tanda tangan dari penguji pak dan penguji saya menyuruh saya meminta tanda tangan pembimbing,"
Entah direspon atau tidak, yang penting Kirana bisa mendapat tanda tangan pak Adam. Kirana juga ingin sekali hari ini berlalu.
__ADS_1
Pak Adam yang semula menatap Kirana lalu mengalihkan pandangannya ke arah lembaran proposal. Membaca dan melihat terlebih dahulu sebelum memberikan tanda tangannya.
"Tanggal di lembaran ini tidak sama dengan tanggal sekarang,"
Satu kalimat sebagai awal kritikan dari pak Adam
"Iya benar bapak. Harusnya saya meminta kemarin," Kirana tetap merendahkan suaranya berharap belas kasihan.
"Tapi kamu mengentengkan saja, begitu? Tanpa disuruh pun harusnya kau tahu segala aturan yang sudah ada. Bukankah sudah tercantum? Ada beberapa hal yang harus mahasiswa mahasiswi lakukan saat melakukan bimbingan sampai akhir bimbingan nanti, Haruskah saya memberitahu lagi?"
Baru Kali ini pak Adam menjelaskan panjang lebar.. Kritikan sekaligus masukan. Namun, hati Kirana tetap dongkol.
Kirana meminta maaf atas kelalaiannya dan mengatakan tidak akan mengulanginya lagi.
Tanda tangan diberikan dengan tanpa kata. Lega, itu yang dirasakan Kirana. Masih ada belas kasih dari pak Adam untuknya.
Kirana keluar ruangan tak lupa dengan menghembuskan nafas. Tahap awal sudah selesai tinggal tahap akhir dan sepertinya akan memakan waktu lebih lama dari ini.
Di luar, Odeng sudah menunggu Kirana, tepatnya menunggu cerita dari Kirana. Semangat sekali sahabatnya itu.
"Nanti lah aku ceritakan. Lagi tidak ada tenaga ini," Tetap jalan lurus tanpa menghiraukan Odeng yang mengerucutkan bibirnya.
______
Di kamar, Kirana merebahkan diri dan teringat akan sesuatu. Pak Adam ternyata tidak mengingat masalah kemarin. Hal itu terbukti tadi dia tidak merespon apa apa dan sepertinya tanpa diungkit pun tidak masalah.
Memejamkan matanya namun sekejap terbuka lagi. Kirana mengingat hal lain. Dia kerap menemukan amplop yang dipastikan isinya surat. Tidak aneh jika memang itu hanya sebuah amplop yang isinya surat biasa. Kirana berpikir amplop itu hanya satu dan memang tidak dibuang. Jadi selalu ada di meja dospemnya dan Kebetulan Kirana melihatnya. Kirana selalu heran saat dirinya menemukan amplop dan ingin tahu isinya, dospemnya akan muncul di saat-saat itu. Entah kebetulan atau tidak, Kirana menggelengkan kepalanya tidak mau memikirkan hal aneh.
"Mungkin itu penggemar bapak ya kan. Gak berani bilang di chat langsung pakek surat menyurat," pikirnya berucap pada diri sendiri.
Dia lebih memilih memejamkan matanya kembali tidak ingin terlarut dengan pikirannya yang tiba tiba teringat amplop.
__ADS_1
_____
Keesokan paginya Kirana sudah bangun dan mandi. Aktivitasnya kali ini bersantai sambil memikirkan langkah selanjutnya untuk mengerjakan skripsinya.
Tanpa ketokan pintu, Odeng langsung masuk ke dalam. Duduk bersila menghadap Kirana. Tidak aneh lagi dengan kelakuan Odeng yang pasti memberikan cengiran.
"Gimana kemarin? sukses kan? Ada peningkatan gitu?" Goda Odeng memulai aksinya
Kirana memutar bola mata malas.
"Ayo dong Ran, kemarin kamu janji mau ceritain sekarang. Aku nuntut kamu cerita sekarang," paksa Odeng dengan kedua tangan diletakkan di pinggang.
Kirana menghembuskan nafas.
"Kenapa gak tadi malem kesini. Biasanya kamu bakal gangguin aku sampai aku cerita," Kirana menyindir.
Odeng nyengir menampilkan giginya. Odeng biasanya akan merecoki Kirana sampai rasa penasarannya terjawab. Namun, tadi malam Odeng absen. Kirana sebenarnya merasa lega karena bisa bebas istirahat tanpa ada gangguan.
"Aku ketiduran, niatnya mau kesini. Habis makan, kenyang, eh malah ngantuk," tawa Odeng.
Kirana tidak merespon, dia langsung menceritakan kejadian kemarin karena sudah dituntut berulang kali oleh sahabatnya. Kirana menceritakan secara detail. Saat Kirana bercerita Odeng menampilkan senyum yang aneh, senyuman yang ingin menggoda Kirana.
"Eh, tunggu. Kamu gak mau ikutin cara mereka gitu, ngirim surat juga kalau tidak bisa ngomong langsung," gelak tawa Odeng menghiasi seluruh kamar
Kirana menepuk paha Odeng, gemas dengan temannya yang menggodanya.
"Ya gak lah. Aku gak tertarik Odeng. Lagian aku bilang mungkin kan, cuman persepsi doang bukan beneran. Aslinya ya aku gak tahu isinya apaan,"
Kirana menjelaskan, ingin meluruskan pikiran Odeng yang mungkin sudah memikirkan hal aneh.
"Kalau bener amplop itu isinya surat cinta, gimana dong Ran?" Masih kekeh dengan godaannya. Kirana memalingkan muka
__ADS_1
"Ya gak papa juga. Bukan urusanku," Kirana mengambil ponselnya yang ada disebelahnya. Membuka layar tidak ingin menanggapi ocehan tidak penting Odeng.
"O ya, bener nih gak papa? beneran?" Goda Odeng lagi dengan mencolek dagu Kirana. Membuat Kirana agak risih.