Terikat DosPem

Terikat DosPem
Tidak Bisa Dihubungi


__ADS_3

Keesokan paginya, tepat pukul 9 pagi. Kirana sudah tiba di kampus dan tanpa basa basi langsung masuk ke ruangan dospemnya.


Kirana berangkat tidak ditemani Odeng karena Odeng masih tidur di kosannya. Odeng memberitahu Kirana kalau dia kecapekan sebab tadi malam. Sungguh aneh memang alasannya.


Namun, Kirana tidak membiarkan begitu saja. Kirana sedikit mengancam Odeng, alhasil Odeng akan menyusul nanti. Jadilah Kirana berangkat sendirian.


Sampai di ruangan dospemnya, tidak ada satu pun orang. Belum ada tanda-tanda pak Adam datang. Pak Awwal sekretarisnya pun sama, belum datang. Kirana berpikir dospemnya ini tidak masuk. Tapi Kirana menepis semua itu, dospemnya sendiri kemarin yang bilang kalau Kirana bisa menemuinya hari ini. Kirana lalu keluar dan duduk menunggu kedatangan dospemnya sekaligus sang sahabat yang belum menyusul juga.


Tak berselang lama, dari kejauhan terlihat pak Awwal sang sekretaris turun dari mobil dan melangkah menuju ke arah ruangannya. Kirana sudah siap untuk menyapa sekaligus menanyakan keberadaan dospemnya.


"Permisi pak, boleh saya bertanya," sapa Kirana saat pak Awwal berada dekat dengan Kirana.


"Iya ada apa?" respon pak Awwal.


Mereka berbincang di luar ruangan, Kirana memang sengaja menghentikan pak sekretaris dospemnya.


"Apa hari ini pak Adam masuk kampus pak?" tanya Kirana langsung.


"Iya. Berangkatnya sudah dari tadi pagi, lebih awal dari saya," jelas pak Awwal.


"Tapi di dalam tidak ada orang pak," Kirana heran, dospemnya ini memang suka menghilang.


"Sebelumnya sudah janjian dengan pak Adamnya?" tanya pak Awwal.


"Sudah pak. Kemarin pak Adam nyuruh saya untuk menemuinya hari ini," Masih di luar ruangan, depan pintu masuk ruangan.


Baru kemarin Kirana janjian, dia ingat dan tidak mungkin lupa begitu saja. Dia tidak pikun secepat itu, apalagi dia juga masih muda.


"Ditungguin saja, pasti pak Adamnya lagi ada acara," Kirana hanya menggangguk dan sedikit tersenyum.


Baru akan duduk kembali, Kirana dikejutkan dengan kedatangan pak Adam yang secara tiba tiba. Dia menundukkan pandangannya saat pak Adam melewatinya.


Tak menunggu lama, dia pun menyusul masuk ke dalam setelah pak Adam menutup pintunya.


Tak lupa mengetok dan memberi senyuman pada pak sekretaris. Kirana langsung menuju ke meja pak Adam. Dia memberikan senyuman hangat sehangat mentari pagi yang menyinari ruangan itu.


Tanpa sepatah kata Kirana akan langsung duduk. Baru akan duduk pak Adam berbicara yang menghentikan pergerakan Kirana sebentar.


"Taruh saja disini. Nanti akan saya periksa. Hari ini saya masih ada kerjaan dan harus fokus. Besok kamu bisa mengambilnya atau tanyain dulu ke saya".


Kirana mengerjapkan matanya dengan masih memegang tasnya. Tangannya berusaha merogoh proposalnya dan Kirana langsung meletakkannya di meja pak Adam. Kirana lalu pamit keluar.


Di luar sudah ada Odeng. Tidak tahu kapan dia datang, Kirana langsung menghampirinya.


"Gimana? sudah dapat restu?" Candaan Odeng yang mampu membuat kening Kirana berkerut. Odeng tertawa cekikikan

__ADS_1


"Mana sini aku lihat," pinta Odeng kemudian.


Kirana memberikan tasnya. Odeng langsung memeriksa, mencari sampai kepalanya dimiringkan bahkan kepalanya hampir masuk ke dalam tas.


"Mana? Kok gak ada? Kosong," Odeng menunjukkan kekosongan yang ada di tas Kirana.


"Ada di meja bapak. Disuruh ambil besok,"


Kirana lalu mengambil tasnya di tangan Odeng.


"Ooo gitu. Ya sudah besok kesini lagi ambil proposalmu," Kirana melihat temannya, semangat sekali dia ke kampus.


Belum Odeng menanyakan pak Awwal Kirana sudah berinisiatif terlebih dahulu mengatakan keberadaan pak Awwal.


"Ada pak Awwal juga, sudah dari tadi"


"Ih, aku belum nanya Kiran," tersenyum dan kemudian melangkah ke pintu. Kakinya yang ingin menjinjit untuk melihat di kaca pintu diurungkan saat melihat kacanya ditutup kertas.


Di pintu ruangan dosen terdapat kaca yang kecil tepatnya di tengah pintu dan itu dibuat akses mahasiswa yang ingin mengetahui keberadaan dosennya di dalam, istilahnya mengintip sang dosen.


"Yah, kok ditutup. Sejak kapan sih. Gagal deh aku yang mau ngintip," Kembali duduk dengan lemas.


"Langsung masuk saja bisa kan Deng? Tidak usah kayak maling terus,"


Setiap kali Kirana bimbingan pasti Odeng akan berbuat sesuatu dengan tingkah lakunya yang absurd itu.


Odeng mencari kesempatan menjadi maling dengan mengintip diam-diam hanya untuk melihat dosen yang dia kagumi. Padahal dia bisa saja langsung mengobrol dan menatap pak Awwal.


______


"Aku belum sempat ngobrol panjang lebar sama pak Awwal. pengen deh,"


Odeng dan Kirana sudah sampai kosan, tentunya dengan Odeng yang mengungsi di rumah Kirana.


"Ya ngobrol sana. Bukannya kamu sering bimbingan ke bapak. Kenapa tidak ngobrol sama pak Awwal,".


Kirana membereskan barang barang yang dibawanya tadi dan mengganti pakaiannya karena merasa sedikit kegerahan.


"Ya gak bisa lah. Pak Awwalnya kadang gak nongol. Kursinya kosong. Kenapa di part aku pak Awwal ngilang ya. Ah kenapa tidak dia saja yang jadi pembimbingku,".


Odeng dengan hayalan mautnya. Kirana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Tak lupa diikuti dengan gerakan mata malasnya.


______


"Eh kok tidak ada orang. Kemana ya?".

__ADS_1


Kirana sudah sampai di ruangan dospemnya ingin mengambil proposalnya kemarin. Namun, dospemnya tidak terlihat, pak sekretarisnya pun sama. Kiran bisa pastikan ruangan ini belum dimasukin orang. Keadaan di ruangan sedikit gelap, tirainya saja belum dibuka. AC nya pun belum nyala.


Kirana lalu keluar dan akan menghubungi pak Adam. Kirana menyayangkan tadi malam kenapa dirinya tidak menghubungi dan menanyakannya dulu.


Kirana juga hari ini datang tidak terlalu pagi. Masih pukul 9 pagi. Kirana langsung mengetik sesuatu di aplikasi hijaunya. Centang satu, itu yang dilihatnya setelah mengirim pesan ke pak Adam.


"Lah, tidak aktif. Apa harus ditelpon,"


Kirana bingung, dia duduk dengan tangan masih mengetik sesuatu.


Kirana memencet nomer dan melakukan panggilan. Tidak lama panggilan langsung tersambung dan orang diseberang sana langsung merespon


"Aku ada di sampingmu,"


Kirana langsung menoleh dan benar saja Odeng, orang yang dihubunginya tadi sudah ada didekatnya, hampir sampai hanya tinggal 3 langkah lagi.


Odeng berjalan dengan santai saat Kirana menelfon, dia memang sengaja mengangkat panggilan dari Kirana sambil dirinya mendekat diam-diam.


"Lama banget sih Deng, lagi ngapain sih?" tanya Kirana. Odeng hanya tersenyum cengengesan.


"Memangnya lama? Aku langsung nyusul ini loh," ucap santai Odeng.


Kirana tidak menjawab dia mengalihkan ke topik lain. Dia memberitahu Odeng kalau dirinya belum bertemu pak Adam dan aplikasi hijaunya belum aktif.


"Langsung telfon saja. Sini biar aku yang telfon," Odeng langsung mengambil ponsel Kirana dan memencet nomer pak Adam. Kirana disampingnya menunggu dengan sedikit cemas menunggu apa yang akan dikatakan pak Adam.


Belum beberapa detik, telfon sudah tersambung dengan suara perempuan diseberang sana. Odeng lalu langsung mematikan panggilannya.


"Tidak aktif. Tidak bisa dihubungi," ucap Odeng.


Suara perempuan tadi itu merupakan suara yang otomatis akan terdengar jika nomer yang sedang dipanggil tidak bisa dihubungi..


Odeng lalu mengembalikan ponselnya ke Kirana. Kirana mengambil dalam diam.


"Telfon pak Awwal saja," Odeng memberikan ide dengan tersenyum gembira.


Kirana masih berfikir dan dalam sekejap dia tersenyum. Namun, setelahnya dia langsung cemberut.


"Benar kan Ran, kalau bapak tidak bisa dihubungi, bisalah ngubungin sekretarisnya," Sambil menaik-naikkan alisnya Odeng memberitahu Kirana.


"Aku tidak punya nomernya Odeng," ucap Kirana dengan lesu.


"Yah, gagal deh," respon Odeng yang juga lesu.


Mereka berdua hanya duduk dengan lesu. Kirana akan menunggu pak Adam. Sambil dirinya akan menunggu pak Awwal untuk menanyakan keberadaan pak Adam.

__ADS_1


__ADS_2