
Hari berikutnya, Kirana benar-benar tidak merevisi lagi. Dia abaikan revisiannya dan lebih memilih uring-uringan sambil mengotak atik ponselnya.
Dia lalu ingat chargernya hilang dari kemarin. Kirana bangkit dan berusaha mencari lagi, siapa tahu diumpetin sama setan. Aneh memang, tapi kadang Kirana sedikit percaya.
“Tidak ada juga, kemana ya?“ Kirana berpikir dan mengingat ingat lagi. Masih dengan posisi duduk,
Masih berfikir Kirana lalu dikejutkan dengan ketokan pintu. Dia berusaha bangkit dan memuka pintu.
Diambang pintu terlihat Odeng dengan cengirannya menampilkan gigi putihnya. Ditangannya ada charger.
Tanpa bertanya Odeng langsung nyelonong masuk dan duduk di kasur.
“Beneran beli Deng?” tanya Kirana penasaran. Tidak biasanya Odeng se gercep itu. Padahal yang hilang cuma kemarin belum sampai dua hari.
“Tidak. Ini punyamu. Kemarin ada di lemariku. Lupa aku yang mau ngasih tahu, jadinya aku pakai dulu dan memang niatnya mau beritahu kamu sekarang sekaligus ngembaliin.” Masih perlihatkan cengirannya.
Itulah kebiasaan Odeng. Kirana hanya menepok jidat. Susah-susah Kirana mencari kesana kemari sampai puyeng, ternyata chagernya di kamar Odeng. Tikus besar rupanya yang membawa.
_______
Pagi hari
Dengan terburu buru Kirana melangkah ke ruangan dospemnya. Bagaimana tidak, pagi buta tadi dia mendapat pesan dari dospemnya yang mengatakan segera ke ruangannya pukul setengah tujuh.
Kirana awalnya yang sudah berencana ingin bermalas-malasan malah tidak tercapai. Disinilah Kirana akhirnya.
Namun, kedatangannya seakan tidak diperlukan. Kedua dosennya memandang dengan heran.
Sedetik kemudian pintu terbuka menampilkan putri kampus, Sasi mahalini. Padangan sasi beralih ke Kirana dengan ekspresi sedikit heran. Kirana hanya diam membeku tanpa sepatah katapun.
“Ada perlu sama pak Adam?” tanya pak Awwal memulai pembicaraan setelah seperkian detik senyap.
Kirana bingung, seakan bibirnya tidak bisa berbicara. Terlihat sekali pancaran kebingungan di matanya.
“Saya tidak bisa hari ini, ada kepentingan”.
Sedetik kemudian pak Adam keluar disusul Sasi. Sedangkan pak Awwal masih memasukkan sesuatu ke dalam tasnya yang akan dibawa pergi bersama pak Adam dan Sasi.
__ADS_1
“Mau bimbingan ya?” Terdengar lembut sekali pertanyaannya. Berbeda dengan nada suara pak Adam.
“i i iya pak” sahut Kirana kemudian dengan terbata dan nada menciut.
Di dalam hati Kirana sekarang sedang meledak-ledak. Ingin rasanya kirana mengadu dan ngomel, namun tidak tahu kenapa tidak bisa dikeluarkan. Seakan ada yang menahan suaranya untuk meledak.
“Kembali lagi besok ya, sekarang pak Adamnya ada urusan. Ini saya juga ikut,” Sambil meresliting tasnya dan bergegas keluar.
“Saya keluar duluan ya, jangan lupa nanti tutup pintunya,” Pintu masih dalam keadaan terbuka sampai menghilangnya Pak Awwal dibalik pintu.
Kirana membeku di tempat dengan nafas yang tak beraturan. Seakan syok, dia tidak tahu harus melakukan apa tadi.
Tanpa basa basi dia langsung keluar dan menutup pintu sesuai dengan amanat pak Awwal.
“Dasar dosen, seenaknya saja. lagian aku ini kenapa sih, kenapa tadi malah bengong. Dasar bodoh, bodoh,” memaki diri sendiri dengan menepuk jidatnya sambil berjalan kembali ke kosan.
“Coba saja tadi aku ngomong, kalau dosennya yang nyuruh kesana pagi-pagi sekali. Ya ampun, kayak apa tadi aku, kayak cicak jatuh. Bodoh banget sih, kenapa dihapus segala pesan pak Adam, jadinya gak ada bukti apa-apa kalau misalkan dia menyangkal. Ah dasar pak Adam,” Makinya sambil memeluk dan memukul-mukul gulingnya. Setelah mendapat pesan chat tadi Kirana langsung menghapusnya. Bukan cuma chat pak Adam tapi juga temannya. Alasannya karena memori handphonenya penuh.
________
Sore hari
Mereka berdua duduk di depan kosan menikmati suasana sore ditemani angin sepoi-sepoi dibawah pohon mangga yang memang sengaja ditanam oleh pemilik kosan agar udara di kosan sedikit sejuk.
“Sebel lah aku hari ini. Ahhh bodoh sekali,” Dengan suara sedikit nyaring serta menggeleng-gelengkan kepala. Odeng sigap melihat sikap Kirana hari ini.
“Jangan kenceng-kenceng, nanti mangganya jatuh dengar suaramu,” Lelucon Odeng sambil melihat ke atas pohon.
Kirana lalu ikut melihat ke atas pohon.
“Dimana mangganya? Gak ada tuh,” Sambil matanya mencari-cari buah mangga.
“Ya nanti lah kalau sudah berbuah,” Cengir Odeng. Kirana memutar bola mata malas.
Malam harinya kirana tidak bisa tidur. Sudah berulang kali dia mencoba memejamkan matanya, tapi tetap saja tidak terlelap.
Fikirannya tidak bisa diajak kompromi, selalu saja kemana-mana. Kirana hanya tidak mau terlalu memikirkan apa yang tadi sudah terjadi. Namun, pikiran dan hatinya menolak. Dia masih uring-uringan dari tadi.
__ADS_1
“Tidurlah Kirana, ayo tidur. Kamu ngantuk dan butuh istirahat. Jadi ayo tidur,” membujuk diri sendiri dengan mata terpejam.
Namun, sedektinya dia membuka mata lagi sambil mengela nafas.
Terus seperti itu, Kirana mencoba memejamkan matanya namun, sedetik kemudian membuka matanya kembali. Sampai tengah malam, barulah Kirana benar-benar bisa terlelap tidur.
_____
Paginya...
Tanpa diduga dia bangun telat. Menikmati mimpinya dia harus paksakan untuk bangun karena rencananya dia bakal ketemu dosennya hari ini. Walaupun dia sedikit sebal dan kecewa, tapi dia kesampingkan untuk bisa segera bebas dari kewajibannya ini.
Kirana berusaha menguatkan hati yang nyatanya tidak bisa, dia tipe orang yang selalu ingat akan kejadian yang menurutnya memalukan, menjengkelkan.
“Ayolah lupakan, susah sekali sih. Bersikap bodo amat Kirana,” Menguatkan diri sendiri tanpa sadar sudah berada di depan ruangan.
Kirana langsung mengetuk dan masuk. Terlihat pak Awwal yang sudah standby di tempat duduknya dengan laptop didepannya dan matanya tertuju ke arah Kirana.
Kirana lalu memberi senyuman yang juga dibalas senyuman oleh pak Awwal. Dia melewati pak Awwal.
“Permisi pak,” sapa Kirana pada dospennya, sambil berdiri di depan meja Pak Adam.
Pak Adam hanya menatap Kirana menunggu perkataan Kirana selanjutnya.
“Saya mau bimbingan pak,” lanjutnya to the point. Masih dengan posisi yang sama berdiri di depan meja dospemnya.
Dia tidak duduk sama seperti sebelumnya yang langsung duduk setelah mengutarakan tujuan kedatangannya. Dia memang sengaja, karena suasana hatinya kemarin yang belum sembuh.
Bukannya dia tidak sopan duduk duluan sebelum dipersilahkan, ini permintaan dospemnya.
Mungkin di awal awal bimbingan Kirana duduk setelah dipersilahkan. Namun, setelahnya dospemnya memberikan isyarat untuk langsung duduk. Hal itu dilakukannya sampai sekarang. Tidak hanya Kirana, Odeng pun sama.
"Kamu mau bimbingan sambil berdiri?”
Kirana menelan ludah. Baik sekali dospemnya tapi tetap pedas sekali dia berbicara.
Kirana duduk dan langsung mengeluarkan kertas revisiannya. Dia tidak mau seperti sebelumnya yang tidak langsung memberikan proposalnya, hasilnya sindiran pedas yang dia dapat.
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi pak Adam langsung mengambil proposal Kirana, kebetulan di mejanya tidak ada laptop. Pak Adam belum mengeluarkan laptopnya. Tidak lupa, bolpen yang siap ditangannya.
Hari ini, Kirana tidak membawa bolpen karena dia tahu bolpennya tidak akan dibutuhkan di ruangan ini.