Terikat DosPem

Terikat DosPem
Tatapan Mengkilat


__ADS_3

"Maaf di," kata pertama yang terlontar dari mulut Kirana sesaat Diah masuk dan duduk bersila di kasur.


Odeng menampilkan giginya, bingung ingin berkata apa, itu juga kesalahannya.


Tidak ada pembicaraan. mereka saling menatap satu sama lain.


"Tadi aku benar-benar lupa. Tapi kita ke kampus kok, Sudah nungguin kamu disana," kata Kirana sekedar menenangkan Diah yang sepertinya sedikit badmood.


"Kita nunggu di atas tadi. Beneran gak bohong. Kirana juga menelfon, iya kan Ran?" Sambung Odeng dengan menaik-naikan alisnya ke Kirana.


Kirana seketika mengangguk dengan mengerjakan matanya. Sedikit memelaskan wajahnya.


"It's okay. Ponselku tadi juga lowbet jadi gak bisa menghubungi balik. Hari ini aku bahagia, jadi ya aku maafkan lah kalian," Dengan tersenyum bahagia Diah mengucapkannya.


Keduanya juga ikut tersenyum. Tidak ada masalah dan selesai. Kirana akui temannya ini memang penyabar. Mereka selalu mengerti satu sama lain dan perhatian. Selalu ada saat dibutuhkan bahkan tidak pernah pandang bulu. Bersyukur Kirana mendapatkan teman yang seperti itu.


_____


Hari ini mereka absen ke kampus. Kirana dan kedua temannya ingin menghabiskan waktu bersama. Masalah jurnal Odeng dikesampingkan dulu. Odeng ingin bersantai sama halnya dengan Kirana. Diah yang sudah selesai proposalnya akan melanjutkan ke tahap berikutnya. Tinggal Kirana.


Di bulan ini dia akan ikut ujian. Kirana berencana akan mendaftar di akhir karena biasanya pendaftaran terakhir akan diuji oleh dosen yang baik. Tidak tahu mitos darimana, tapi Kirana mempercayainya. Bisikan dari teman temannya yang lain yang membuat Kirana mengikuti saran yang belum tentu kebenarannya.


Masih tetap di kamar kos Kirana. Ada yang berbaring, ada yang duduk, ada juga yang melamun.


"Masih pagi sudah melamun? Kenapa atuh?" Odeng bersuara memancing lirikan Diah karena kata katanya yang beda.


"Tidak dijawab. Memangnya kenapa?" tanya Diah ke Odeng. mereka saling mengkode dengan mengangkat alis.


Satu tepukan membuat Kirana sadar dan melihat ke arah tangan yang tadi menepuknya.


"Kenapa?" Satu kata sahutan yang diberikan Kirana.


"Eh malah balik nanya. Kamu yang kenapa,?" Odeng yang awalnya berbaring bangkit duduk bersila.


"Lagi bersemedi. Ya kali, aku lagi mikirin sesuatu," Sedikit sewot Kirana menjawabnya.

__ADS_1


"Ah, bisa ditebak, pasti pak Adam. Ya kan," Tersenyum menggoda yang ditampakkan Odeng.


"Aku merasa pak Adam berbeda dari biasanya. Makin galak dan judes. Aneh juga ya kan. Kenapa waktu itu bapak bisa muncul secara tiba-tiba. Bukannya pak Awwal sudah bilang kalau dia tidak akan ke kampus. Kenapa bisa langsung muncul dan parahnya lagi bikin aku terkejut. Bisa bisa jantungan aku," Kirana mengatakan dengan ekspresi berpikir, salah satu jarinya diletakkan di dagunya.


"Kemarin juga begitu kan?" Odeng mulai masuk ke topik.


"Iya. Muncul tiba tiba dengan ekspresi menyeramkannya," Kirana bergidik.


"Aahhhh,,,, Gimana nanti aku ngadapinnya coba? Terlalu ganas. Aku bingung, Bagaimana ini?" Kirana memegang kepalanya dengan mata yang tertutup.


"Sedikit misterius juga ya pak Adam," Diah tiba tiba menimbrung pembicaraan.


Kirana langsung membuka mata dan melihat ke arah Diah. Setelah di pikir pikir, pak dospemnya memang misterius. Seperti yang dibicarakan Kirana kalau pak Adam muncul tiba-tiba dan hilang tiba-tiba. Bahkan tidak tahu ada urusan atau keperluan apa. Sikapnya juga misterius sekali.


Apa yang pikiran Kirana sekarang semuanya buruk


"Bisa jadi bapak itu pembunuh? hantu? atau apa?" Batin Kirana berbicara yang membuat Kirana menggeleng gelengkan kepalanya.


Kedua temannya hanya melihat dengan tatapan heran.


Kata kata yang pernah Kirana ucapkan untuk tidak ingin bertemu dospemnya kini harus ditelan lagi karena hari ini dia sudah ada di depan pintu ruangan pak Adam.


Sudah seminggu berlalu sejak mereka absen ke kampus. Pendaftaran sudah dibuka dan dia sudah mendaftarkan diri sehari sebelum ditutup.


Kirana tidak sadar kalau dirinya perlu tanda tangan lagi untuk proposal yang harus digandakan. Dia lupa kalau dia perlu 2 salinan lagi untuk diberikan ke pengujinya dan pembimbingnya.


Kali ini, mentalnya harus kuat dan lebih kuat dari sebelumnya. Tidak tahu perubahan seperti apa yang terjadi pada pak Adam setelah lama tidak dia bertemu. Segala hal buruk sudah dipirkannya. Semua kata yang tidak baik dia lontarkan di dalam hatinya.


Bergemuruh dada Kirana saat akan membuka pintu namun pintunya terlebih dulu terbuka dan yang membuka dospemnya sendiri.


Kirana yang kaget segera menggeserkan badannya ke samping memberikan ruang untuk pak Adam lewat.


Kirana menepuk jidatnya. Dia tidak seharusnya seperti itu. Harusnya dia menghentikan dospemnya dulu, berbicara sebentar mengatakan niat baiknya. Bukan malah membiarkan dospemnya pergi.


Kemungkin buruknya yang akan terjadi kalau dospemnya dibiarkan, dospemnya akan menghilang dan pergi tiba tiba dan itu akan membuat Kirana kehilangan kesempatan dan semuanya sia-sia.

__ADS_1


"Astaga, kenapa aku tadi tidak menghentikan pak Adam. Aku nurut dan membiarkan dia lewat. Bagaimana kalau tidak kembali lagi. Mau sampai kapan aku menunggunya," Batinnya berbicara. Kirana menggigit bibirnya dengan wajah gelisah.


Tatapannya beralih ke Odeng yang duduk memperhatikan.


"Jangan salahkan aku. Aku tadi spontan dan nge blank makanya tidak aku hentikan," ucap Kirana mendahului Odeng yang sepertinya akan menegur Kirana.


Odeng yang awalnya ingin bicara akhirnya diam.


"Mau dihentikan juga kayaknya aku tidak berani. Tatapannya tadi, Ihhh.... mengkilat kilat," Kirana meneruskan ucapannya saat duduk disebelah Odeng. Matanya sambil melotot dengan ekspresinya yang seakan meliht hal mengerikan.


"Kau tau, aku saat meminta tanda tangan itu...." Belum selesai Odeng bicara, Kirana sudah memotong.


"Stop stop. Aku tidak mau dengar. Bikin aku tambah ngeri, nanti aku makin gemetaran,"


Kirana menghirup nafasnya dalam-dalam.


"Kamu hanya minta tanda tangan Kiran, bukan mau pertandingan," ejek Odeng melihat sikap Kirana.


"Aku tau. Sama sajalah kayak mau tanding," Kirana tidak menoleh, dia lebih fokus menetralkan nafasnya.


Sungguh, hatinya dan sikapnya tidak bisa diajak kompromi. Selalu seperti ini, gugup, takut, gemetaran, ngeblank. Ingin bersikap santai tapi hatinya menolak.


_____


Sudah hampir setengah jam mereka menunggu.


"Lama juga ya bapak. Gini nih kalau dibiarkan lepas, menghilang kan. Sesibuk itukah dia? sepenting itukah dia? Dia masih punya tanggungan loh ini. Aish... aku pengen pipis," Badannya bergerak gerak tidak bisa diam. Gelisah dan ingin buang air kecil bercampur jadi satu.


"Ke toilet dulu Kiran. Nanti kamu pipis disini gimana? Malu tau,"


"Aku tau, aku bukan anak kecil lagi Odeng," Langsung berdiri dan pergi ke kamar mandi.


"Aku gak usah ikut?" tanya Odeng saat Kirana sudah masuk ke dalam. Odeng yang mengira Kirana tidak mendengar perkataannya ternyata dugaannya salah. Kirana masih sempat memunculkan kepalanya dan meminta Odeng diam di tempat.


"Kamu stay saja disitu. Liatin pak Adam sudah kembali atau belom. Aku kebelet gak usah ngomong lagi," Dia langsung hilang setelah mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


"Ya ampun, aku disuruh jadi satpam," Odeng menggelengkan kepalanya.


__ADS_2