
Dua hari kemudian...
"Gimana?" tanya Odeng setelah Kirana keluar ruangan.
"Tinggal sedikit lagi," Dengan wajah kegirangan Kirana mengatakannya.
Kirana sudah selesai bimbingan. Dia janjian dengan dospemnya pagi hari. Hasilnya memuaskan bagi Kirana. Tinggal sedikit langkah lagi, Kirana akan ikut ujian.
Kirana dan Odeng masih duduk menunggu Diah yang ada di atas menemui dospemnya. Hari ini tidak terlalu ramai tidak seperti hari-hari sebelumnya.
Hari Sabtu, biasanya akan sedikit sepi karena kebanyakan jam perkuliahan diganti di hari-hari aktif kerja. Hanya beberapa saja yang jam perkuliahannya tetap di hari Sabtu ini.
"Enak juga ya kayak gini. Tidak sumpek lihat anak-anak lalu lalang kesana kemari," Odeng berbicara dengan tangannya yang tidak lepas dari ponsel.
"Untung saja hari ini bapak bisa ditemui," Kirana mengaktifkan WiFi kampus tentunya untuk searching dan menghibur diri.
Hari Sabtu biasanya sebagian dosen tidak akan menolak jika mahasiswa melakukan bimbingan. Sebagian dari dosen menganggap hari Sabtu merupakan hari libur mereka seperti hari Minggu. Tapi, tidak untuk pak Adam. Dia akan tetap membimbing selama dia tidak sibuk, terkecuali hari Minggu.
"Wah baik juga ya bapak," Odeng tersenyum.
"Tidak juga, Sama sajalah. Bapak itu dosen super sibuk. Mau hari Sabtu, mau hari Senin dan hari-hari lainnya dia sering tidak ada di ruangannya karena sibuknya. Jadi, tidak ada bedanya dengan yang libur hari Sabtu atau tidak," Sedikit mengoceh, itulah Kirana.
"Iya juga. banyak liburnya juga kita," Odeng menyetujui pendapat Kirana.
"Tapi sebelumnya bapak ada terus kok, Cuman saat kamu bimbingan sering pergi," lanjut Odeng.
Kirana yang mendengar perkataan Odeng langsung menatap dengan pandangan yang sedikit sinis.
"Maksudnya?", tanya Kirana dengan tatapan datar sedikit aura kesinisan.
"Maksud kamu bapak menghindar? bapak risih sama aku gitu?," sarkas Kirana lanjut bertanya pada Odeng.
Odeng yang menyadari perkataannya salah langsung gigit bibir. Kirana salah mengartikan kata katanya.
"Bukan Ran. Gini, waktu aku bimbingan proposal, bapak itu sering ada, bisa dikatakan tidak terlalu sibuk. Tapi pas bimbingan skripsi ini, bapak sering sibuk. Gitu maksud aku," Odeng menjelaskan dengan kata-kata yang halus dan diperlembut. Kirana masih dengan tatapan sinisnya. Sungguh menyeramkan.
"Sekarang bukan cuman kamu yang bimbingan, aku juga bimbingan kan Ran," lanjut Odeng lagi dengan tersenyum canggung.
Odeng menjelaskan sejelas jelasnya, bisa gawat jika temannya ini dalam mode suasana hati buruk.
__ADS_1
Kirana langsung mengalihkan pandangannya ke ponsel yang dia pegang.
"Mungkin bapak malas kali diganggu terus sama kamu," ucap Kirana dengan senyum mengejek.
Odeng yang mendengarnya hanya tersenyum terpaksa. Odeng tidak menyangka dia yang akan kena batunya.
"Iya juga ya," cetus Odeng kemudian.
Setelah dipikir pikir perkataan Kirana ada benarnya juga. Mungkin dospemnya juga menghindari Odeng karena selama bimbingan proposal Odeng selalu nyerocos dan mengganggu pak Adam. Tapi, menurut Odeng itu hal yang wajar.
Masih dengan alis berkerut, Odeng masih berpikir. Kirana melihat Odeng dan menepukkan tangannya di depan Odeng.
"Mikirin apa coba," Masih dengan menatap Odeng.
"Perkataanmu tadi ada benarnya juga," Kirana tepok jidat.
Tak lama terdengar suara Diah yang sudah turun dari tangga.
"Sudah selesai?" tanya Kirana tanpa basa basi setelah Diah ada di hadapannya.
"Iyap, lanjut skripsi nih aku. Masih lama juga tinggal tiga bulan lagi. Ya pasti bisa lah," Girang Diah. Dia sudah menyelesaikan ujian dan merevisi proposal yang sudah diujikan sebelumnya.
"Kamu tetap semangat ya Ran, bulan ini harus ikut ujian," Diah yang melihat ekspresi Kirana sedikit berubah sedih tadi, memberikan dukungan untuk mengembalikan keceriaannya.
"Pastinya dong, ya kan Ran? ada aku juga. Nanti aku bantu deh," Dengan tersenyum Odeng mengatakannya.
Kirana dan Diah menatap Odeng seakan bertanya benarkah perkataannya?.
"Bantu doa dulu deh," Cengir Odeng akhirnya.
Tanpa diminta pun mereka akan tetap saling membantu sebisa mereka. Namun, untuk proposal Kirana kali ini sungguh diluar perkiraan mereka. Menurut mereka skripsi Kirana pembahasannya sangat sulit. Tidak seperti punya mereka yang mudah dimengerti. Jadilah mereka membantu sedikit yang mereka bisa saja.
Kirana sebenarnya tidak masalah mereka membantu atau tidak, karena ini sudah kewajiban Kirana. Kirana hanya butuh kehadiran mereka dan dukungan mereka saja.
Belum beranjak dari kursi, mereka berbincang sedikit. Sampai 10 menit berlalu mereka pun memutuskan ke warung bakso.
____
Mereka sudah duduk di warung bakso di luar kampus. Kali ini mereka tidak ke warung langganannya. Mereka ingin merasakan suasana di warung lain dengan kata lain mencoba yang baru.
__ADS_1
Di sekitaran kampus memang sangat banyak orang yang berjualan. Jadi, mereka tidak kebingungan untuk mengisi perutnya yang kosong.
"Setelah ini kita mau coba ke warung lain?" kata Odeng.
"Lihat saja nanti," Kirana menjawab.
"Rasanya aku sudah mentok ke satu warung," Odeng mengatakannya dengan sedikit memelankan suaranya.
"Kangen sama abang itu ya," Kirana menggoda Odeng dengan menyipitkan mata tak lupa juga dengan senyumannya.
"Abang-abang kau kait juga Deng?" tanya Diah dengan sedikit senyuman
"Tidak papa, asal ganteng dan baik hati," nyengir menampilkan giginya.
mereka berdua hanya tertawa. Sambil menunggu pesanannya mereka memainkan ponselnya.
"Astaga" tutur Odeng sambil tangannya menggebrak meja.
Kirana dan Diah terkejut, mereka memegangi dadanya. Sedikit keras Odeng menggebraknya, mengalihkan pandangan orang yang sedang makan di warung itu tertuju pada mereka.
"Kenapa sih Deng?" Kirana sedikit geram.
Bisa bisanya temannya ini mengagetkannya saat masih fokus pada ponselnya. Memang absurd kelakuannya.
"Kalian merasa ada yang aneh gak?" Odeng melirik keduanya.
Gelengan kepala yang mereka berikan menandakan bahwa Kirana dan Diah tidak ada sesuatu yang aneh atau bahkan mereka tidak tahu apa-apa.
"Benar-benar kudet," Meledek, tanpa memberitahu maksud pertanyaannya tadi.
"Ih apaan sih Deng, gak jelas banget. Malah ngeledek lagi. Memang apanya yang aneh." Kirana nyerocos sedikit tidak terima atas perkataan Odeng yang meledeknya kurang update. Kirana tahu itu hanya bercandaan dan Kirana tidak masukkan perkataan itu ke dalam hati.
Mereka berdua melengos dengan Diah yang sedekap dada. Diah juga sama, tidak terima atas ledekan Odeng. Diah juga tahu itu hanya bercandaan. Serba salah itulah Odeng.
"Sorry. Kesini deh deketan, ini info penting..... pakek banget, terutama buat kamu Ran," Kirana mengernyitkan dahinya. Mereka manatap Odeng dengan lekat, penasaran dengan informasi yang diketahui Odeng.
Kirana berprasangka apakah Kirana terlibat masalah lagi. Dia tidak merasa membuat kesalahan lagi. Bahkan masalah sebelumnya dia tidak memikirkan itu bakal terjadi.
"Bella hilang," kata yang keluar dari mulut Odeng setelah mereka sedikit berdekatan tadi.
__ADS_1
Kirana dan Diah saling pandang lalu menatap ke arah Odeng.