Terikat DosPem

Terikat DosPem
Belum Siap


__ADS_3

Kirana yang sudah tidak sanggup lagi untuk berada di ruangan itu seketika dikejutkan dengan perkataan pengujinya


"Pak Adam, apa ada pertanyaan untuk anak bimbingnya,"


Berkeringat dingin, Kirana membatin


"Kenapa jadi begini. Jangan bertanya pak, jangan. Plis, dengarkan kata hatiku ini," Menelan ludah, Kirana merasa takut dan semakin gugup. Yang Kirana tau, pembimbing tidak akan menanyakan apa-apa. Dia hanya menemani saja. Tapi semua tergantung dari para dospem dan dosen pengujinya.


Pak Adam hanya menatap dan melihat gerak gerik Kirana yang gelisah.


"Harusnya kamu sudah siap kalau ada niat untuk ikut ujian," Kata pak Adam setelah terdiam lama.


Pak Adam lalu pamit keluar tanpa menoleh lagi.


Kirana memejamkan matanya. Dia malu bercampur sakit hati. Perkataan dospemnya seakan mengatakan Kirana tidak mampu untuk ikut ujian. Kirana tidak tahu bagaimana tanggapan pengujinya saat ini setelah mendengar kalimat yang diucapkan dospemnya.


___


Keluar ruangan dengan raut wajah sedih. Odeng menghampiri bersamaan dengan Diah yang sudah sampai saat Kirana ada di dalam ruangan.


"Kenapa? Coba cerita," Diah bertanya


"Aku malu dan gugup sekali. Gelisah dan semuanya bercampur. Aku tidak tau harus ngomong apa," Kirana menutup wajahnya.


"Ya sudah kita bisa ngobrol di kosan. Jangan melow disini," Diah memberikan saran. Mereka bertiga bergegas pulang.


Tiba di kosan Kirana menumpahkan segala yang ada di hatinya. Odeng dan Diah menjadi pendengar tanpa mengomen dulu sebelum Kirana menyelesaikan semua kalimatnya. Dilihat sepertinya hatinya sedang membeleduk. sekarang. Ada rasa kesal saat dirinya bercerita.


"Kalian pikir aku tidak marah. Aku ingin sekali ngomong jangan selalu memojokkan aku. Aku pengen sekali ngomong sudahi saja pertanyaannya aku sudah gak mau jawab," menjeda sebentar


"Bapak juga menatap terus terusan. Kenapa juga bapak hadir. Buat apa coba? cuman natap dan bikin orang gak fokus saja. Setelah itu apa katanya? aku harusnya siap kalau sudah ada niat buat ikut ujian.


kalian tau gak, aku tuh malu. Bapak berpikir aku tidak siap gitu?" menghembuskan nafas kasar.


Kirana yang awalnya bolak balik seperti setrikaan berjalan akhirnya duduk setelah menyampaikan unek uneknya.


Kedua sahabatnya saling pandang, memberikan kode untuk membujuk Kirana yang saat ini sedikit emosi.


"Ya sudah Ran, Lagian semua mahasiswa pasti menghadapi hal itu. Aku juga merasakan itu. Odeng juga iya kan? Diah meminta persetujuan Odeng. Odeng mengangguk.

__ADS_1


"Memangnya kamu tidak lulus?" Odeng bertanya


"Tidak juga. Tapi tetap ada yang perlu direvisi,"


"Kita juga sama Kiran," Diah berusaha mengembalikan mood Kirana yang sedikit memburuk.


Kirana merasa hal itu tidak adil. Odeng pernah menceritakan pada Kirana kalau saat ujian proposalnya bapak tidak hadir. Tapi sekarang, saat Kirana ujian kenapa pak Adam malah hadir. Bahkan di saat seperti ini dimana pak Adam sedang sibuk.


Bahkan Odeng sempat menyediakan hardfilenya.


Kirana heran, kenapa dospemnya bisa tau kalau Kirana ujian pada hari itu. Kirana tidak mengkonfirmasi sebelumnya.


"Tau dari siapa bapak kalau aku ujian ya?" pertanyaan yang tiba" terlintas di pikirannya


Mereka berdua melihat Kirana sambil berpikir


"Ya kamu tau kan dosen itu hebat. Eh tapi kalau tidak bilang dulu kenapa bisa tau ya?" Diah malah bertanya balik dan sedikit keheranan.


"Ya pak Adam liat jadwal kali, ya kan?" Odeng menanggapi pertanyaan keduanya.


Kirana mengerutkan keningnya. Dia berpikir ap perkataan Odeng itu benar. Tapi kenapa Kirana merasa ada yang mengganjal.


"Tapi gak mungkin. Pak Adam orang yang super sibuk. Ngapain dia sibuk melihat jadwal. Itu hanya buang buang waktu saja. Kamu taulan pak Adam itu orangnya seperti apa. Benar gak?"


Dari beberapa mahasiswi yang mendapat pembimbing pak Adam, tidak mungkin kalau pak Adam akan memperhatikan semuanya. Hanya ada satu mahasiswi dan itu anak buah kesayangannya, Sasi. Pak Adam saja tidak tau siapa nama mahasiswi yang dibimbingnya kecuali Sasi.


"Gak heran sih, pak Adam memang aneh, iya kan? suka muncul tiba tiba kapanpun itu," Kirana menyimpulkan sendiri rasa penasarannya.


___


Malam harinya, Kirana sudah berbaring dengan tangan memegang ponsel. Pikirannya masih terbayang bayang dengan kata" dospemnya tadi.


Tidak perlu heran kalau dospemnya akan berkata menusuk. Setiap bimbingan pun sama. Bahkan saat ada Sasi juga dan sekarang saat ada penguji.


Sebenarnya ada takut dari Kirana kalau harus merevisi total proposalnya. Kirana takut kata kata dospemnya malah membuat penguji tidak meluluskannya karena Kirana belum siap.


"Siapa juga yang tidak siap, aku siap banget ikut ujian," jeda sebentar


"Tapi iya juga sih, aku tidak terlalu siap. Yang ada dipiranku itu aku bisa ikut ujian proposal. Bahkan aku tidak tau bagaimana hasilnya nanti. Ya ampun nekat sekali aku ya," Kirana tertawa geli.

__ADS_1


Benar adanya, Kirana hanya ingin cepat selesai. Saat dirinya berpikir mahasiswi lain bisa, dia pasti juga bisa.


Sekarang pikirannya sudah teralihkan dengan revisian. Namun dalam sekejap Kirana sudah mengabaikannya. Dia lebih memilih untuk tidur.


____


pagi hari Kirana belum memunculkan batang hidungnya. Entah karena mimpi indah atau apa, sudah dari tadi Odeng melihat pintu kamar Kirana yang tidak terbuka.


Sampai Odeng selesai membeli makanan pun pintu kamarnya masih tertutup.


"Belum bangun atau gimana itu si Kiran. Samperin aja kali. Kalau belum bangun aku bangunin saja," Odeng langsung menuju pintu Kirana dan mengetok dengan keras.


Tidak ada sahutan dari dalam. Odeng kembali mengetok. Dia juga berusaha menghubungi Kirana.


Deringan handphone yang nyaring dan posisinya tepat di dekat telinga Kirana membuatnya bangun dengan menutup telinganya. Di luar ada yang mengetok, tentu saja itu Odeng.


Kirana membuka pintu dan seperti biasanya Odeng akan nyelonong masuk. Kirana menyusul dan duduk di samping Odeng.


"Mimpi apaan coba, mimpiin pak Adam ya," ejek Odeng ke Kirana


"Ya gak lah, enak aja," Kirana mengucek matanya. Dia lalu ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Tidak mandi dulu Ran," Odeng bertanya dengan mulut yang berisi makanan. Dia lebih dulu makan meninggalkan Kirana.


"Ih, jangan ngomong kalau lagi makan. Aku sudah lapar. Gak tahan liat nasi gorengnya,"


Setelahnya mereka menyantap makanan yang sudah Odeng beli tadi. Kirana akan mandi setelahnya.


____


"Kapan deadlinenya revisian proposalmu?" tanya Odeng tiba-tiba


Kirana langsung menoleh dan bertanya dengan heran


"Eh, ada batasnya juga? Kok aku tidak tau,"


Odeng mengangguk membenarkan ucapannya tadi


"Penguji akan memberi batas untuk pengerjaan revisi," jelas Odeng.

__ADS_1


"Kok aku tidak diberitahu apa-apa ya," Kirana heran dan merasa bingung sendiri.


"Ya, aman dong kamu. Bisa kapan saja," seru Odeng akhirnya.


__ADS_2