Terikat DosPem

Terikat DosPem
Putri Kampus


__ADS_3

Tak lama setelah itu, Diah muncul dari dalam ruangan. Ekspresi wajahnya berbinar, pasti ada hal yang menggembirakan.


“Kenapa? Sudah di ACC? Di tanda tangani?” pertanyaan beruntun dari Kirana.


"Belum. Tapi revisiannya sedikit. Jadi bisa saja setelah bimbingan lagi langsung di tanda tangani,” Bahagia Diah mengatakannya.


Odeng dan Kirana hanya mengucap syukur dan senang atas kabar baik ini.


Memang, beda pembimbing beda karakter. Diah sangat beruntung karena mendapat pembimbing yang mengerti mahasiswanya, bisa diajak kompromi. tidak menyulitkan mahasiswanya. Berbeda sekali dengan pak Adam.


Di kampus, pak Adam merupakan dosen yang dihindari oleh semua mahasiswa. Tapi itu hanya dalam konteks pelajaran. Diluar itu, Pak Adam satu satunya dosen yang diidamkan mahasiswi. Kadang ada juga dari mereka yang tidak memperdulikan ke killerannya. Di mata mereka pak Adam sosok yang sempurna.


_____


Saat mereka tenggelam dengan perbincangannya. Tiba-tiba ada seseorang yang lewat agak berjauhan dari mereka.


“Putri kampus tuh” ucap Odeng. Dia yang melihatnya pertama kali karena posisinya memang menghadap ke arah putri kampus itu. Kirana dan Diah langsung mengalihkan pandangannya.


Semua mata tertuju padanya. Segala gerak geriknya mereka pandangi dari atas sampai bawah. Seakan tidak ada cacat sekalipun.


“Cantik ya dia, apapun yang dipakainya selalu kelihatan bagus,” Kagum Diah. Sedangkan Kirana hanya menyimak.


“Pasti dia keruangan Pak Adam” perkiraan Odeng.


Mereka bertiga berjalan di belakang sang putri kampus. Namun, dengan jarak yang sedikit jauh. Bukam mengikutinya, mereka memang ingin turun dan pergi dari kampus.


Sasi Mahalini dijuluki sebagai putri kampus karena kecantikan dan kepintarannya. Dia juga menjadi duta kampus dan putri dari fakultas tarbiyah yang merupakan fakultas dari Odeng, Kirana dan Diah. Bukan hanya cantik, dia juga memiliki bentuk tubuh yang ideal. Maka tak heran, kadang banyak mahasiswi yang iri padanya. Namun lebih banyak yang menyukainya.


Dia menjadi incaran kaum Adam di kampus tak terkecuali sebagian dosen.


“Benar kan, dia masuk ruangan Pak Adam, mau ngapain ya?” ucap odeng setelah melihat sasi masuk ke ruangan dospemnya.


Tidak menghiraukan sasi, Kirana dan Diah hanya melihat tanpa berkata-kata. Mereka lantas menuju parkiran.


________

__ADS_1


Sampai di alun-alun kota, mereka mencari tempat yang teduh untuk duduk.


“Kayaknya aku gak mau ngekos lagi deh,” ucap Kirana tiba-tiba


“Lah kenapa?” Odeng menanggapi dengan raut wajah terkejutannya.


“Bercanda Odeng, ya kali aku gak ngekos. Lagian tinggal beberapa bulan lagi kan,” Arah pandangan Kirana tertuju pada bunga-bunga di sekitarnya yang kebetulan sedang mekar hari ini.


“Kayaknya seru ya kalau ngekos,” Diah langsung to the point


“Seru lah, apalagi bareng aku, ya gak ran?” Mengendik ngendikkan alisnya


“Terserah deh Deng,” Memutar bola mata malas.


Setengah hari mereka gunakan untuk bersantai di alun-alun sambil melihat pemandangan yang indah. Banyak kendaraan yang berlalu lalang menambah kesan ramai. Tak lupa mereka sudah menyiapkan camilan untuk menemani kegiatan santai mereka hari ini.


Saat suasana santai seperti ini, mereka lebih banyak diam dan berbicara mengenai kegiatan mereka sehari-hari. Kebanyakan mahasiswa akan memanfaatkan momen santai dan berkumpul ini untuk mengerjakan tugas atau merevisi, namun mereka berbeda.


Menurut mereka jika waktunya santai maka tidak akan membawa masalah-masalah kampus. Urusan kampus nanti ada waktunya sendiri.


“Sudah tahun alif ini loh, kamu belum beli charger?” Kirana mengambil chargernya, namun dia lupa chargernya ditaruh dimana.


Kirana bolak balik kesana kemari mencari charger. Odeng hanya melihat keheranan.


“Bantuin kek deng, malah diam saja,” seru kirana.


“Bantuin apa sih? Cari apaan emang?” tanyanya, namun tetap membantu mencari.


“Charger lah, katanya mau pinjam. Masih nanya,” Ketus Kirana.


Kirana mencari di semua sudut ruangan, namun tidak terlihat chargernya. Odeng pun demikian, dia juga mencari di lemari Kirana, tapi tidak ditemukan apa-apa.


“Kemana ya, perasaan aku gak pernah naruh charger sembarangan. Aku selalu taruh di tas meja deh kayaknya. Kok ini hilang,” Bingung Kirana sambil sesekali mencari dan memeriksa di sudut-sudut ruangan.


Tak lupa Kirana menanyakan ke Odeng. Dia tersangka utama jika charger hilang. Namun, jawaban Odeng, dia sudah mengembalikannya.

__ADS_1


Kirana hanya percaya saja. Memang benar kemarin-kemarinnya saat Odeng meminjam charger selalu dia kembalikan. Tapi tidak tahu hari ini ada apa, Chargernya tiba-tiba hilang.


"Kemana ya?" tanya Kirana sambil mencari ke segala arah.


“Dibawa tikus kali ran, biasanya gitu kan, tikusnya tukang mencuri, dibawa kemana-mana tuh sama si tikus. Di kamarku sering kayak gitu. Tau-taunya ada dibelakang kamar.” seloroh Odeng.


Mendengar pernyataan Odeng, tanpa berpikir dua kali, Kirana langsung bergegas keluar dan mencari di sekeliling kamarnya. Tak lupa dia juga mencari di luar kamar lainnya termasuk kamar Odeng, namun hasilnya nihil.


“Gak ada apa-apa. Perasaan aku gak bawa kemana-mana deh. Masak iya aku bawa tapi lupa,”


Kirana mengingat-gingat, namun dia tetap merasa tidak membawa chargernya. Dia benar-benar lupa kemana chagernya.


Putus asa Kirana lalu kembali ke kamarnya dan merebahkan diri. Odeng mengikuti dari belakang.


“Samaan kita ya. Kayaknya harus beli deh,” Rencana Odeng yang belum tentu terlaksana. Kirana hanya menghembuskan nafas lelah.


Tidak tahu apa yang harus dilakukan, mereka hanya merebahkan diri. Kirana terus mengingat dimana dia meletakkan chargernya. Namun hasilnya tetap nihil.


"Eh, tadi kamu bilang masalah tikus yang bawa bawa barang kamu itu. Sejak kapan sih Deng ada tikus di kamarmu? Penasaran Kirana.


Kirana tidak menyangkal masalah tikus yang kadang bawa bawa barang atau semacamnya. Kenyataannya memang seperti itu, Kirana kadang mengalami di rumahnya. Namun, hanya makanan saja yang dibawa.


Kirana tidak tahu kalau di kamar kosannya juga ada tikus. Selama di kosan, dia tidak melihat tikus, hanya cicak yang kadang mengganggunya.


"Agak lama sih" cetus Odeng.


"Oh ya? dikamarku gak ada tuh" serunya.


"Bukannya gak ada, masih belum kali. Kamu juga baru ngekos. Beda sama aku yang lebih duluan ngekos"


Kirana hanya mengiyakan. Kirana memang baru ngekos. Dibandingkan Odeng, dia lebih senior dari Kirana.


"Kalau cicak ada gak?" Pertanyaan absurd Kirana sambil tersenyum.


"Cicak kamu tanyakan? segudang tuh cicak. Kalau mau nanti aku bawa deh kesini" Bercanda Odeng meladeni Kirana. Odeng tidak menyangka Kirana akan bertanya seperti itu, pertanyaan receh. Sudah pasti Kirana ketularan Odeng.

__ADS_1


"atau aku transferin saja" lanjut Odeng dengan gelak tawa. Kirana hanya tertawa mendengar lawakan temannya.


__ADS_2