
Diam membisu itulah keadaan mereka sekarang. Duduk bersebelahan di kasur dengan tangan yang dilipat di paha serta berbagai ekspresi yang mereka tampilkan.
Beberapa menit berlalu, masih belum ada jawaban dari rasa penasaran mereka atas kejadian tadi.
"Ooo....." Kata pertama yang dilontarkan Odeng selama beberapa menit diam.
Kirana langsung menghadap ke arah Odeng "Apa? sudah tahu apa masalahnya?" Kirana berharap kali ini Odeng memberikan jawaban agar dia tahu penyebab dari masalahnya tadi.
"Belum sih Ran," Hanya cengiran yang Odeng berikan. Kirana memutar bola mata malas. Ternyata Odeng hanya ingin merubah suasana yang sempat senyap.
____
Malam harinya
Mereka berada di luar kamar kos, melihat bulan yang bersinar dan bintang yang berkelip kelip. Keadaan langit sangat cerah berbeda dengan keadaan Kirana. Odeng? jangan tanyakan lagi, dia orang yang sangat santai. Odeng tidak akan larut dalam masalah. Masalah apapun itu dia bakal lupakan dalam sekejap berbeda dengan Kirana. Jika bisa Kirana ingin seperti Odeng saja. Bisa cepat merubah suasana hatinya, tidak pernah kepikiran.
"Uhhh, mumet," rintih Kirana. Odeng hanya melirik. Di luar, mereka tidak hanya berdua tapi juga ditemani makanan ringan. Dimana ada Odeng, disitulah makanan tidak dia lupakan.
"Coba deh Deng, kamu ingat-ingat setiap kejadian yang kita lewati. Ingat, apa saja yang kita lakukan jangan sampai ada satupun yang terlewat. Kelakuan kita yang mana yang membawa masalah," Pinta Kirana dari sedari tadi tidak muncul apa-apa di kepalanya.
Odeng dengan mengunyah makanannya berfikir. Mereka menengadah mengingat aktivitas yang mereka lakukan sebelumnya. Kirana dengan tangan di dagunya, sedangkan Odeng dengan tangan yang satu persatu mengambil dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Oooo" Lagi lagi Odeng berseru seakan dia menemukan sebuah jawaban. Kirana dengan rasa ingin tahu kembali menghadap ke Odeng dengan alis yang diangkat.
"Sudah malam rupanya, aku sudah ngantuk," Dengan cengiran Odeng mengatakannya.
Kirana menepuk jidatnya, namun tanpa berkata-kata dia langsung masuk kamarnya.
"Yah, aku ditinggal. Yang ngantuk siapa, yang ditinggal siapa," protes Odeng. Dia lalu kembali ke kamar dan tidur.
______
Hari ini Kirana tidak ke kampus. Dia belum merevisi kesalahan kemarin. Rencananya dia akan bimbingan kembali besok. Sekarang, dia akan memperbaiki semua coretan yang dospemnya berikan.
Besok dia juga akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kirana berharap tidak bertemu dengan Bella lagi. Dia belum siap mendengarkan nyinyirannya. Bukan hanya kata kasar dan pedasnya yang dilontarkan, tapi jika berhadapan dengan Bella pasti akan menjadi tontonan bagi mahasiswi lain.
__ADS_1
Pagi ini, Odeng sudah berada di kamar kos Kirana. Dia dan Kirana duduk di lantai. Kirana sedang berhadapan dengan laptopnya. Odeng ada didekatnya dengan memegang proposal Kirana yang akan direvisi.
"Bagus juga tulisan bapak," seloroh Odeng. Kirana tidak merespon, dia fokus pada laptopnya dengan tangannya yang sedang mengetik.
"Memang sih bapak itu sempurna, orangnya ganteng, mapan, tulisannya bagus. Benar kan Ran?" Odeng sengaja memancing-mancing Kirana, ingin tahu responnya.
Tak terduga, dengan refleks Kirana menganggukkan kepalanya. Odeng cekikin namun dia masih menggoda Kirana.
"Beneran Ran?" Mukanya didekatkan pada Kirana.
Kirana mendongak, tatapannya tertuju pada Odeng dengan wajah yang serius dicampur bingung.
"Dekat banget mukanya Deng. Munduran dikit bisa kan," Kirana tidak menjawab Odeng, dia lebih fokus pada Odeng yang mendekat.
"Tadi kamu nanya apa? Aku tadi tidak terlalu nyimak. Kamu tahu sendiri aku lagi fokus merevisi," jelas Kirana.
"Tulisan bapak ganteng kayak orangnya, ya kan?" belum Kirana menjawab Odeng sudah nyerocos. "Eits, aku sudah tahu jawabannya," Kirana hanya menampilkan wajah yang acuh. Menurut Kirana itu tidak terlalu penting.
Kirana melanjutkan lagi merevisi hampir satu jam setengah, karena masih ada beberapa iklan lewat, jadinya dia berhenti sebentar.
"Iya, Aku tidak melihatnya kemarin, dihubungin juga tidak aktif, Kemana ya?" Kirana membuka ponselnya melihat notifikasi. Siapa tahu ada notifikasi dari Diah. Namun, hasilnya tidak ada. Chatnya saja masih centang, tandanya belum dibaca.
"Sakit kali," Terka Odeng. Kirana tetap menghubungi Diah, dia menelpon dan mengirim pesan lagi. Jika besoka belum ada tanda-tanda munculnya Diah, maka dia harus ke rumah Diah.
_____
Keesokan harinya.....
Kirana sudah berada di depan ruangan dospemnya. Dia melewati mahasiswi yang tatapannya masih sama seperti dua hari yang lalu. Mereka juga berbisik-bisik ria saat Kirana lewat.
"Berani ya dia berurusan sama Bella. Kalau aku mending cari aman," Terdengar kata-kata dari mahasiswi saat Kirana masih menuju ruang dospemnya tadi. Setelahnya dia hanya mendengar dengan samar perkataaan mahasiwi lain tapi tetap tertuju ke Kirana.
Tidak perduli apa yang mereka katakan, Kirana mengacuhkannya. Dia lebih memilih masuk ke ruangan dospemnya. Namun, apa yang dilihatnya sekarang bukan keinginan Kirana.
Di dalam ruangan dia tidak melihat ada orang. Kursi Pak Adam dan Pak Awwal kosong. Ingin hati mengalihkan suasana tapi malah semakin buruk. Dengan menghembuskan nafas Kirana duduk di ruang tunggu.
__ADS_1
Tidak tahu apa yang akan dilakukannya, dia hanya memainkan ponselnya. Tak lama datang Diah. Dia langsung duduk disebelah Kirana.
"Kamu tidak apa apa kan Ran?" tanyanya tanpa basa basi. Kirana mengangkat kepalanya dan betapa bahagianya dia mengetahui temannya ini akhirnya muncul juga.
" Di, Kamu kemana? Tidak ada kabar kemarin. Sakit?" Tanpa menjawab pertanyaan Diah, Kirana menanyakan ketidakhadiran Diah di sisinya kemarin.
" Aku tidak papa Ran. Yang aku khawatirkan kamu," Kata-kata Diah membuat bingung Kirana.
"Aku? Kenapa? Aku baik-baik saja. Masih normal dan waras," jawab cepat Kirana.
"Aku tidak mengerti kenapa jadi begini, tapi aku sudah tahu semuanya," Diah berkata dengan serius namun dari raut wajahnya ada kekhawatiran. Kirana yang tidak mengerti hanya mengernyitkan dahinya.
"Aku tahu kamu tidak mau berurusan dengan Bella," Belum sempat Diah melanjutkan kata-katanya langsung dipotong oleh Kirana.
"Iya aku tahu dan itu memang keinginanku. Bukan hanya aku tapi kamu dan Odeng juga," sanggah Kirana cepat.
Kirana dibuat semakin bingung. Seperti teka teki yang harus dia pecahkan sendiri.
"Iya. Tapi yang terjadi ini....,"
"Bentar, bentar. Ini maksudnya apaan sih Di? Aku bingung. Sebenarnya ada apa? yang kamu tahu semuanya itu apa? Memang benar, aku tidak mau sampai terlibat masalah sama Bella. Aku juga tidak mau berurusan dengan dia," Panjang lebar Kirana menjelaskan. Dia hanya ingin jawaban dai semua rasa penasarannya.
Diah mengernyitkan dahinya, apa maksud temannya ini. Jelas desas desus tentangnya sudah tersebar.
"Oke Kiran, Aku tanya sekarang? Kamu tahu masalah kamu sama Bella?" Pertanyaan serius yang dilontarkan Diah, seakan mengintrogasi, ada yang mengganjal dihatinya sekarang.
Kirana menepuk jidatnya, lelah.
"Aku tidak tahu, sama sekali tidak tahu," Kirana memijit keningnya, pusing.
Diah mengendipkan mata, dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Kirana.
"Kamu tidak bohong kan?" menyipitkan matanya, Diah masih bertanya. Kirana menggelengkan kepalanya.
"Astaga Kiran. Masalah kamu sendiri, tapi kamu tidak tahu," menepuk jidatnya. Diah tidak menyangka Kirana akan mengatakan semua ini. Benar sekali kejanggalan yang dirasakan Diah tadi bahwa temannya ini sudah terlibat masalah dengan Bella.
__ADS_1
Padahal Diah ingin menenangkan Kirana agar tidak banyak pikiran. Diah ingin memberi semangat kepada Kirana, agar dia tetap semangat. Tapi semuanya berbanding terbalik dengan yang dipikirkan Diah.