
Setelah selesai makan, mereka langsung pergi ke kampus. Mereka memutuskan untuk menunggu di kampus. Tapi tidak ada tanda tanda kedatangan Diah. Mereka mulai mencari ke atas. Sedikit sepi, tidak ada Diah dan hanya beberapa mahasiswa yang lewat.
"Kemana? aku telfon tidak diangkat. Aku Wa tidak aktif.,"
"Sudah di dalam kali Ran," Odeng menenangkan.
Akhirnya mereka memilih untuk duduk di ruang tunggu di depan ruangan dosen.
Kirana masih fokus pada ponselnya berharap ada kabar dari Diah. Odeng hanya diam melirik kesana kemari.
"Lama juga ya. Ke bawah dulu deh. ikut aku," Odeng menarik tangan Kirana.
Mereka turun dari lantai atas dengan Kirana yang mengikuti langkah Odeng. Arahnya ke ruangan dospemnya. Dengan mimik wajah yang bertanya tanya dia tetap mengikuti kemana Odeng melangkah.
"Mau ngapain kesini,?" Tanyanya saat Odeng menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan dospemnya.
"Aku lupa tadi langsung ke atas. Ini aku mau minta tanda tangan buat menyelesaikan administrasian di kartu hijau," Tatapan Kirana mengarah ke tangan Odeng. Hanya selembar kertas yang dipegang bukan kartu hijau.
Odeng yang sudah siap dengan gembiranya langsung mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Tak lupa tangannya juga menyeret tangan Kirana.
Dengan tersenyum manis Odeng melangkah. Berbeda dengan Kirana yang sedikit takut. Melewati meja pak Awwal, Odeng masih melirik yang diikuti Kirana.
Tepat di depan meja pak Adam, Odeng menghentikan langkah dan menoleh ke Kirana, dia berbalik dengan senyum lebar yang dipaksakan.
"Tidak ada bapak," masih mempertahankan senyuman lebarnya dengan keterpaksaan. Kirana melunguhkan kepalanya melihat suasana meja dospemnya.
"Kamu tidak sadar, rungannya masih gelap seperti ini. Tirainya belum dibuka, AC nya belum nyala. Main nyeret aja," jelas Kirana saat melihat suasana masih kosong di dalam ruangan dospemnya.
Kirana bersyukur, di dalam belum ada orang terutama pak Adam. Akhir akhir ini dia seperti sedikit takut dan canggung dengan dospemnya..
Masih dengan berbincang bincang pelan. Mata Kirana tidak sengaja melihat sesuatu di atas meja pak Adam. Dia mulai mendekati meja dan sedikit menyipitkan matanya. Sebuah amplop yang persis seperti sebelumnya. Odeng yang merasakan pergerakan Kirana akhirnya mengikuti ke arah pandangan Kirana.
"Amplop? isi surat kah? suratnya siapa?" tanya Odeng yang memang tidak tahu.
"Aku juga tidak tahu. Waktu itu juga aku melihat amplop ini sama persis," Kirana masih fokus memperhatikan sisi amplop.
__ADS_1
"Kenapa sih Ran, sampai segitunya kamu perhatiin," Tatapan Odeng mengarah ke amplop lalu ke Kirana. Begitu seterusnya.
Sudah 10 menit berlalu, posisi Kirana dan Odeng tetap sama. Mereka fokus dengan pikiran masing masing sampai tidak sadar pintu ruangan ada yang membuka.
Dari arah belakang ada sesosok pria yang melihat dan menatap mereka.. Berjalan perlahan mendekati Kirana dan Odeng.
"Apa yang kalian lakukan disini,?" pertanyaan yang terlontar sangat tegas membuat keduanya kaget.
Dengan refleks mereka menoleh. Dilihatnya pria itu. Dengan keadaan gelap dan hanya sedikit cahaya mereka melihat pria itu sangat menyeramkan. Tatapannya tajam dan menghunus.
Tak lama, tirai terbuka. Dilihatnya pria itu masih melayangkan tatapan tajam. Kirana memegang dadanya karena terkejut tadi.
"Eh, ini pak. Saya ada perlu dengan bapak. Mau,,,," perkataan Odeng berhenti saat pak Adam melangkah ke mejanya. Mereka menggeser kan badan sedikit jauh dari meja. Kali ini jantung mereka dipacu dengan sangat cepat.
"Mau?" masih dengan nada tegas dan dingin
"Ehe.. tanda tangan pak," Odeng memberikan cengirannya. Berharap suasana tegang berubah sedikit mencair.
Kirana di dalam hatinya berdoa untuk bisa keluar dengan selamat. Tidak memperhatikan pak Adam, Kirana lebih memilih melihat benda lain yang ada di ruangan itu.
"Persetujuan jurnal kemarin," Masih dengan tersenyum berharap dospemnya tidak memperpanjang pertanyaan.
"Apa kamu tahu aturannya?" Odeng menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Kirana dia menelan ludah. Dia melirik Odeng dan memberikan kode untuk pamit keluar sekarang juga. Odeng yang dilirik hanya mengangkat kedua alisnya seakan bertanya ada apa.
"Kamu? ada keperluan juga?" pak Adam mengalihkan tatapannya ke Kirana.
Kirana terkejut dengan sapaan yang tiba tiba. Dia menelan ludah yang kedua kalinya.
"Saya,,," belum selesai Kirana bicara Odeng langsung memotong pembicaraan.
"Kirana hanya ikut saya pak," Dengan percaya dirinya Odeng berbicara santai. Kirana melihat Odeng lagi, mengedipkan matanya berusaha untuk memberi kode untuk mengakhiri percakapannya.
Beberapa menit tanpa perbincangan, hanya kesunyian yang ada.
"Jadi? Apa hanya seperti ini? Diam dan tersenyum tidak jelas," Pedas sekali kata yang dilontarkan. Kirana membulatkan matanya dan melirik Odeng lagi. Dilihatnya Odeng tersenyum dipaksakan.
__ADS_1
Ingin sekali hati Kirana memaki maki, tapi tidak bisa. Niatnya hanya bergemuruh di hatinya. Kenyataannya, dia tidak akan bisa melakukan itu. Keberaniannya akan menciut jika itu benar benar terjadi.
Kirana berpikir apa Odeng juga sama sepertinya atau dia tidak akan memikirkan hal ini. Kirana tahu Odeng orangnya santai tapi Kirana merasa dia juga punya emosi.
Kirana yang hanya menemani saja sudah emosi dan sebal apalagi Odeng. Setelah ini Kirana akan menanyakan perasaan Odeng yang sebenarnya.
"Maaf pak, sepertinya kami akan kembali lagi nanti. Eh saya maksudnya. Masih ada kertas yang belum saya bawa," Menampilkan deretan giginya Odeng berusaha pamit dengan cara halus.
Hanya deheman dan sedikit anggukan yang diberikan pak Adam. Dengan mengucapkan kata permisi mereka akhirnya keluar.
Menghembuskan nafas lega, itulah yang dilakukan mereka berdua. Odeng tertawa sedang Kirana mengerutkan keningnya.
"Tidak lucu Odeng, tidak ada yang lucu," Kirana melangkah akan meninggalkan kampus.
"Menyeramkan juga. Baru kali ini bapak berubah menjadi singa. warw," Odeng memperagakan dengan tangannya.
"Gak mau lah kembali kesana. sport jantung aku," Kirana memegang dadanya yang masih berdetak dengan kencang.
Kirana sadar, mau atau tidak dia akan kembali lagi ke pak Adam karena urusannya belum selesai. Kesabaran yang ekstra harus dia miliki mulai sekarang. Apalagi Kirana melihat perubahan dari sikap pak Adam. Sepertinya makin hari sikapnya makin berbahaya.
Benar yang dikatakan Odeng, pak Adam sudah menjadi singa. Tidak boleh mengusiknya atau tidak akan selamat.
Kirana menggelengkan kepalanya, menyesali lagi kehidupannya yang harus menerima pak Adam jadi dosen pembimbingnya. Menyesali ketidakberuntungannya. Terus berjalan sampai di kosan, dia tidak sadar ada yang tertinggal di kampus.
Saat membaringkan tubuhnya dengan Odeng disampingnya, Kirana langsung bangun mengejutkan Odeng.
"Ada apa?" Odeng yang semula berbaring ikut bangun.
Kirana menepok jidatnya.
"Astaga, Diah tertinggal. Kita langsung nyelonong pulang. Aduh, bisa pikun gini ya," Kirana mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Diah.
Sebelum deringan kedua, pintu ada yang mengetuk. Kirana dan Odeng saling pandang.
Kirana bergegas ke pintu dan membukanya. Benar saja, Diah dengan wajah cemberut berdiri di depan pintu dengan mendekap proposalnya. Kiran menggaruk kepala dengan tersenyum menyadari kesalahannya.
__ADS_1