Terikat DosPem

Terikat DosPem
Mimpi Buruk


__ADS_3

Keesokan paginya.....


“Tidak....” teriak Kirana sekeras-kerasnya, membangunkan Odeng yang masih terlelap.


Odeng langsung bangun sambil mengucek matanya. Dia melihat kearah Kirana dengan menyipitkan matanya.


Mata Kirana masih tertutup, tapi mulutnya bicara, itu tandanya Kirana sedang mengigau.


“Saya mohon. Saya sudah berjuang, saya sudah lakukan semampu saya. Kasihani saya,” lanjut Kirana lagi sambil kedua tangannya menyatu masih dengan nada yang nyaring seperti orang teriak.


“Kenapa ini anak, mimpi apa sampai teriak-teriak gak jelas,” heran Odeng sambil menguap. Tangannya menggaruk rambutnya yang berantakan.


Sementara, Kirana sedang menangis. Air mata yang keluar sangat banyak. Sepertinya dia memang menghadapi sesuatu yang berat di mimpinya. Benar-benar nyata tangisannya.


“Wey, bangun. Mimpi apa sih ran, sampek nangis kejer gini,” Mengguncang badan Kirana.


“Bangun oy, bangun,” teriak Odeng di dekat telinga Kirana.


Beberapa menit kemudian Odeng bisa membangunkan Kirana dari mimpinya. Tangisannya sudah berhenti dan Kirana perlahan membuka matanya. Namun setelahnya dia memeluk Odeng dengan erat.


“Astaga Kiran, kenapa sih? jangan peluk erat dong, Aku gak bisa nafas ini,” ucap Odeng terbata-bata sambil sedikit terengah.


“Odeng,” Kirana melanjutkan tangisannya lagi. “Gimana dong Deng? jahat banget bapak. Tega banget. Aku gak suka, pokoknya aku benci. Gak mau lihat mukanya lagi,” Sambil nangis Kirana berbicara, meluapkan semua rasa kecewa yang ada dihatinya.


“Apaan sih ran, lepas dulu ini, aku gak bisa nafas. Kamu mau bunuh aku apa?” Sambil sedikit mendorong tubuh Kirana.


Setelah pelukannya lepas Odeng langsung menghirup udara sebanyaknya. Perhatiannya beralih ke Kirana yang sekarang tidur telungkup masih dengan tangisannya.


“Mimpi apasih ran sampai nangis gitu,” tanya Odeng santai, tidak ada rasa khawatir dari raut wajahnya. Ya, karena Odeng tahu Kirana hanya mimpi.


“Apanya yang mimpi, kamu kan tau kalau aku sudah tidak punya harapan lagi. Bapak jahat, gak punya rasa belas kasihan sama sekali,” Di dalam mimpinya itu ada Odeng yang menemani.


Odeng langsung menepok jidatnya.


“Coba liat jam noh, ini masih pagi. Kamu itu mimpi Kiran. Ini laptopnya juga gak dimatiin. Astaga, kasihan banget pasti kecapean,” Langsung beralih ke laptop Kirana yang belum sempat di off.

__ADS_1


Kirana langsung berbalik setelah mendengar ucapan Odeng tadi. Dia langsung melihat jamnya dan benar masih pagi banget, masih pukul enam lewat lima belas menit. Berarti kirana cuma mimpi.


Kirana langsung bangun dan mengelus dadanya. Tidak henti hentinya dia mengucap syukur dan menghela nafas lega.


Ternyata kejadian buruk itu hanyalah mimpi belaka. Kirana tidak bisa membayangkan kalau itu benar nyata terjadi.


“Sudah melek? Makanya jangan ngebo,” ucap Odeng mengejek


“Siapa yang ngebo?. Aku cuman ketiduran tadi malam. Eh, malah dapat kejutan mimpi yang menyeramkan. Menakutkan sekali,” Sambil bergidik.


Kirana lalu menyeka wajah dan air mata yang tadi menetes di pipinya.


“Mimpi apa?”tanya Odeng sekali lagi sambil mendekat ke arah Kirana.


Menghembuskan nafas lelah, "Sudahlah aku gak mau membahas mimpi yang menjengkelkan, menyebalkan, menyeramkan dan apa itulah namanya,” Menurut Kirana tidak perlu mengungkapkan mimpinya tadi malam. Karena dia takut beneran terjadi.


“Mimpiin bapak ya?” tanya Odeng lagi dengan menyipitkan matanya. Dia masih penasaran tentang mimpi Kirana tadi malam.


“Tidak” Spontan Kirana menjawab. Jeda sedikit Kirana melanjutkan ucapannya “Gak penting juga”.


Segera mungkin Kirana mengecek laptopnya, takut terjadi apa-apa.


“Udah aku matiin. Makanya matiin dulu sebelum tidur,”


Odeng lalu pulang ke kamar kosnya, membiarkan Kirana membereskan kamarnya dan melanjutkan aktivitasnya.


Keesokan harinya Kirana dan Odeng sudah sampai di kampus. Hari ini Odeng akan meminta tanda tangan dari pak Adam. Sedangkan Kirana akan kembali bimbingan yang ketiga kalinya.


Cuaca hari ini sedikit mendung sama halnya dengan perasaan Kirana yang sedikit tidak baik-baik saja. salah satu penyebabnya adalah mimpi buruk yang dialami Kirana. Walaupun sudah kemarin, Kirana masih tidak bisa melupakannya seakan mimpi itu dialaminya secara nyata.


Sambil berjalan ke ruangan pak Adam, Kirana sedikit menampilkan ekspersi masamnya. Odeng disebelahnya hanya diam saja.


Sampai di depan pintu, mereka berhenti. Odeng melirik ke arah Kirana, melihat muka masam Kirana.


“Jelek tau kiran, senyum dong,” Candanya, namun tidak ada respon dari Kirana.

__ADS_1


"Itukan cuma mimpi. Sudah kemarin juga kan," Masih tidak ada respon dari Kirana.


Odeng langsung membuka pintu setelah mengetok. Dia akan masuk duluan, karena tidak mungkin dia meminta Kirana yang masuk duluan. Dilihat dari ekspresi Kirana yang tidak baik-baik saja.


Masih berdiri disamping Odeng, Kirana hanya diam. Pandangannya ke arah lain bukan ke ke arah pintu.


Setelah pintunya dibuka, Odeng langsung selangkah masuk sambil menampilkan senyumannya. Namun, sedetik kemudian senyumannya hilang digantikan kecemberutan.


Di dalam ruangan pak Adam begitu sepi, tidak ada tanda-tanda penghuninya. Ruangannya masih sedikit gelap, suasana dan hawa dalam ruangan itu juga tenang.


Odeng melirik ke meja pak awwal, tidak ada tasnya. Itu berarti masih belum diinjak sama sekali ruangan dosennya ini.


Odeng langsung memundurkan langkahnya dan menutup pintunya. Dia menghadap ke Kirana yang masih saja dengan ekspresi wajah masamnya.


“Kenapa sih ran, dari tadi ditekuk terus mukanya,” Sambil berjalan ke tempat duduk. Kirana yang sadar Odeng langsung duduk mengubah ekspresi masamnya menjadi keheranan.


“Kok malah duduk Deng? Kenapa langsung keluar? Kamu gak mau menghadap bapak?,” segerombol pertanyaan dari Kirana. Posisinya masih berdiri.


“Tidak ada penghuninya di dalam,” ucap Odeng.


Wajah masam Kirana yang tadi hilang langsung kembali lagi setelah mendengar perkataan Odeng. Dia berjalan ke tempat duduk dengan cemberut.


“Yaelah ran, jangan ditekuk lagi dong mukanya. Bapak masih otw, belum nyampek,” ucap Odeng lagi menenangkan Kirana.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Kirana dan odeng bertemu dengan bapak Adam.


Selama dua jam mereka hanya duduk diam dan gelisah akhirnya ada juga kejelasan dari dosennya. Bagi Odeng bertemu dosennya kali ini sungguh mengembirakan. Bagaimana tidak menyenangkan, Odeng berhasil mendapat tanda tangan yang berarti proposalnya sudah di acc dan siap untuk diujikan. Tidak sia-sia perjuangannya yang menunggu dengan sabar.


Berbeda dengan Kirana, dia kali ini mendapatkan masalah lagi. Tidak ubahnya dari kejadian sebelumnya, proposalnya masih saja tetap direvisi. Suasana hati Kirana sekarang sangat mendung.


Di kamar kos.....


“Sabar dong, wajarlah kalau masih direvisi, masih ada kesalahan, namanya juga belajar, ya kan. Aku dulu juga begitu ran. Sabar oke,” bijak sekali Odeng menasehati Kirana.


Kirana hanya menghela nafas selanjutnya dia merebahkan diri untuk beristirahat dari lelahnya dia berjuang hari ini.

__ADS_1


Sementara Odeng langsung balik ke kamarnya setelah melihat Kirana butuh istirahat.


__ADS_2