Terikat DosPem

Terikat DosPem
Cemburu?


__ADS_3

Siang harinya...


Kirana sudah sampai di kampus, dia sekarang berada di ruangan dospemnya. Namun, dospemnya tidak sendiri, ada wanita juga yang menemaninya.


Terlihat dospem dan wanita di sebelah Kirana sangat menikmati obrolan mereka, sampai-sampai Kirana tidak dihiraukan. Sebel, tentu saja.


Sudah beberapa menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan bagi Kirana. Dia hanya jadi patung dan pendengar yang setia. Tidak bisa melakukan apa-apa itulah keadaan Kirana saat ini.


Ingin sekali Kirana menyela, tapi tidak bisa. Ingin berdehem pun seakan tidak bisa. Tolonglah Kirana hari ini, bebaskan dia.


Tak lama setelahnya terlihat si wanita beranjak dari kursi. Namun beberapa detik dia masih diam.


“Bolpen saya pak,” Sambil menampilkan senyum manisnya, Sasi sangat lembut berbicara ke Pak Adam.


“Iya ini, saya lupa,” Begitupun sebaliknya, Pak Adam membalas perkatannya dengan lembut namun masih terkesan dingin dan tegas. Pak Adam menyerahkan bolpen yang sebelumnya dia pegang.


Begitu akrab sekali mereka sampai bolpennya di pegang Pak Adam. Baru kali ini dospemnya memegang bolpen mahasiswanya, biasanya tidak pernah. Sudah beberapa kali Kirana menyodorkan bolpen namun dospemnya lebih memilih memakai bolpennya sendiri. Tidak pernah sekalipun bolpen yang di pegang Kirana dilirik dan mungkin tidak akan pernah sekalipun dipegang apalagi dipakai.


“Tinggal beberapa hari lagi pendaftaran ditutup,” Pak Adam memulai pembicaraan setelah Sasi keluar dari ruangan.


“Iya pak” pelan Kirana berbicara. “Sudah tau” ketus Kirana berbicara dalam hati.


Tidak ada respon dari pak Adam. Dia hanya sibuk melihat laptopnya. Tepat saat Kirana memandang, dospemnya lalu menatap Kirana.


Mata Kirana bersibobrok dengan mata Pak Adam. Indah, satu kata yang bisa Kirana katakan. Matanya indah, dengan bulu mata sedikit lentik dan tajam. Bola matanya berwarna hitam pekat, sangat indah. Sedetik kemudian Kirana menurunkan pandangannya, dia malu dan gugup.


“Tenanglah Kirana, tenang, oke. Calm,” Kirana berbicara sendiri dalam hati berusaha menenangkan.


“Keluarkan revisiannya, saya mau periksa. Tidak mungkin kamu kesini hanya duduk diam saja” Tegas dan sangat pedas Pak Adam berbicara.


Kirana terlihat salah tingkah. Bisa bisanya dia lupa mengeluarkan revisiannya.

__ADS_1


Tanpa basa basi Pak Adam langsung mengoreksi satu persatu dengan bolpen yang sudah siap dipegang tangannya. Kirana hanya ketar-ketir melihatnya. Kirana sengaja tidak mengeluarkan bolpennya karena dia sudah tau pada akhirnya bolpennya akan dikecewakan. Lebih baik disimpan baik-baik dalam tasnya.


Kali ini, tidak ada komentar dan pertanyaan. Beruntung sekali Kirana hari ini. Entah apa yang terjadi dengan dospemnya, yang jelas Kirana merasa seperti mendapatkan ribuan bunga. Namun, kebahagiaan itu hanya sementara, selebihnya kepahitan yang ada.


______


Di luar ruangan....


“Tiada hari tanpa revisi” seloroh Kirana dengan suara sedikit nyaring.


Kedua temannya hanya melihat saja. Mereka sudah faham apa yang terjadi. Seakan satu frekuensi dan satu hati, tanpa berbicara pun salah satu diantaranya pasti tahu dan faham apa yang terjadi pada temannya.


Namun, kadang ada salah satu dari mereka tidak bisa ditebak.


“Revisi lagi, revisi lagi. Mending tidak usah kali ya, lagian aku tidak mau ikut ujian bulan ini,” Santai Kirana.


“Kalau menurut aku sih lebih baik direvisi. Biar nanti kamu gak kepepet gitu, benar gak Deng?” Odeng mengganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Diah. Dia sambil memakan camilan yang tadi dibelinya di kantin kampus saat Kirana masih bimbingan.


Diah dan Kirana geleng-geleng kepala melihat kelakuan temannya ini. Selalu saja makanan yang jadi prioritasnya. Tiada hari tanpa makan.


“Eh tadi ada Sasi kan? Mau ngapain?” Masih dengan mengunyah camilannya Odeng memulai topik pembicaraan yang sepertinya akan berubah menjadi gosip.


“Bimbingan lah, memang mau ngapain lagi,” sahut Kirana. “Aku rasa dia anak buah bapak deh,” Lalu kirana duduk dan mengambil salah satu camilan Odeng. Untung Odeng membelinya banyak.


“Mana bapak baik banget lagi kalau sama dia. Apa bedanya coba? aku kan juga anak buahnya, anak bimbingan maksudnya. Harusnya bapak perlakukan kita sama ya kan? Siapa suruh juga jadi dosen pembimbing. Bapak harusnya memang sudah siap dengan segala resikonya. Benar gak?” cerocos Kirana menyampaikan unek-uneknya. Kirana terus mengunyah camilannya. Dia ingin melampiaskan segalanya pada makanan. Makannya seperti orang kesetanan.


Odeng dan Diah yang dari tadi menyimak merasa sedikit terkejut dengan ocehan Kirana. Jadilah mereka berdua menatap Kirana. Odeng yang awalnya makan camilan berhenti sebentar. Di dalam mulutnya masih ada yang belum sempat dikunyah.


“Kenapa kalian menatap seperti itu?” tanya Kirana


Diluar dugaan, Odeng malah senyum-senyum menggoda. Diah pun sama tersenyum. Mereka berdua saling melirik namun masih mempertahankan senyumannya.

__ADS_1


“Tuh kan, kalian itu aneh,” Kirana memegang kening kedua temannya untuk diperiksa. “Tidak panas tuh,” menyingkirkan tangannya dan melanjutkan makan. Kirana sudah menghabiskan 2 camilan. Diah geleng-geleng kepala.


"Kamu cemburu ya Ran?” Goda Odeng. Masih menampilkan senyum yang bikin Kirana malas melihatnya.


“Tidak. Kenapa harus cemburu, memang si bapak siapanya aku. Pacar bukan, suami bukan. Gak usah aneh-aneh ya,” sanggah Kirana cepat.


Kirana memang tidak punya perasaan apa-apa pada dospemnya. Gugup sering kirana alami, namun itu hal wajar bagi Kirana. dia hanya belum terbiasa dengan orang baru, apalagi ini orang yang harus dihormati. Lagipula gugupnya karena Kirana tidak tahu harus jawab apa kalau ditanya tanya.


“Tadi kamu protes, ngomong bapak baik sama Sasi, tapi tidak sama kamu. Kayak seorang pacar yang tak dianggap gitu,” Gelak tawa terdengar di telinga Kirana, pelakunya Diah dan Odeng


“Mulai deh. Amit-amit aku kayak gitu. Aku tuh berharap bisa hidup sama orang yang bikin aku nyaman, yang cinta sama aku, sayang sama aku, humoris, perhatian dan bertanggung jawab,” Angan-angan Kirana sambil dia tersenyum manis membayangkan semua keinginanya terjadi.


Tangannya mengambil camilan yang masih ada.


“Eh, Tapi aku rasa, orang yang cuek dan dingin itu menarik, bener gak Deng?” Diah mengangkat sebelah alisnya, melihat ke arah Odeng.


Jangan tanyakan respon Odeng, dia yang selalu menggoda Kirana pastinya tidak akan tinggal diam jika masalah seperti ini. Kirana hampir mati kutu dibuatnya.


Kirana memutar bola matanya malas.


"Aku sudah kenyang, balik yuk," Kirana berdiri meninggalkan keduanya.


Kali ini Odeng terkejut dengan Kirana. Dia menghabiskan camilan Odeng. Selera makannya memang benar-benar tidak terduga kalau suasana hatinya buruk.


"Bisa juga dia makan banyak, ngalahin aku lagi. Dia habiskan 4 camilan, aku cuman 3. Benar-benar ya si Kiran," Menggerutu Odeng.


"Ayo bangun kejar Kirana. Sudah jauh tuh," Diah menarik tangan Odeng.


"Eh tunggu dulu. Jika masih di area kampus harus menjaga kebersihan. Jangan buang sampah sembarangan," Tak lupa berhenti di tempat sampah untuk buang bungkusnya.


Walaupun Odeng kadang slengean, dia tetap menjaga kebersihan. Itu juga karena ada aturan dari kampusnya. Setelahnya mereka berdua mengejar Kirana.

__ADS_1


__ADS_2