Terikat DosPem

Terikat DosPem
Teleportasi?


__ADS_3

Dengan hati was-was Kirana menunggu. Satu persatu kertas proposalnya dibuka.


Sejauh ini masih belum ada yang dicoret. Namun, kelegaan masih belum Kirana rasakan sebelum kertas yang terakhir yang dibuka dospemnya. Di sela-sela dospemya yang mengoreksi, Kirana langsung teringat kejadian kemarin.


Dongkol sekali hati Kirana. Dia melamun sampai tidak sadar sudah ada beberapa coretan yang diberikan pak Adam.


“Masih sedikit kemajuan. Perbaiki lagi.,” Kirana tersentak dari lamunanya. Dia gelagapan, seperti orang linglung dia hanya mengerjapkan matanya sambil menatap sang dospem.


Pak Adam langsung meletakkan bolpennya setelah selesai mencorat-coret kertas proposal Kirana.


Kirana masih belum sepenuhnya sadar dari lamunannya, dia hanya melihat apa yang dikerjakan pak Adam.


Saat Kirana mendongak, dia melihat pak Adam menatapnya sambil memegang laptopnya. Mata pak dospemnya sangat indah.


Kirana terbius dalam sekejap dan tersadar saat mata pak Adam mengarah ke bawah pertanda menyuruh Kirana secepatnya mengambil kertas proposalnya.


“Eh maaf pak. Kalau begitu saya permisi,” Kertasnya tidak dia masukkan ke dalam tas nya. Kirana memegang dengan tangannya dan langsung keluar.


Tak lupa dia juga memberi hormat pada pak sekretaris tentunya dengan menyapa dan tersenyum.


_____


Di luar ruangan dia clingak clinguk mencari keberadaan Odeng. Odeng bilang akan menyusul Kirana. tapi tidak terlihat batang hidungnya.


“Di atas kali ya, aku tunggu disini deh,”


Kirana kemudian duduk di kursi sambil tangannya memainkan handphone. Dia juga memasukkan proposalnya ke dalam tas. Setelahnya dia asik searching dan membuka aplikasi tiktok dengan kuota gratisan.


Salah satu hal yang disukai Kirana di kampusnya yaitu bisa internetan gratis menggunakan wifi kampus.


“Kemana Odeng? lama sekali,” gerutu Kirana lalu menelfon Odeng. Panggilan tersambung dan diangkat.


“Sebentar lagi Kiran, ini masih jalan,” ucapnya langsung diseberang sana.


Kirana hanya dibuat menganga dan langsung mematikan telfonnya tanpa direspon.


Odeng berjalan tergopoh-gopoh agar segera sampai ke Kirana. Kirana yang tidak ingin suasana hatinya semakin kacau, dia mengalihkannya dengan bermain handphonenya, sambil sekali kali tersenyum.


Odeng yang dari kejauhan melihat Kirana sedang santai langsung memelankan langkahnya sambil lalu mengatur nafasnya.


Sedang asyik memainkan handphonennya dia sadar ada seseorang yang melangkah menuju ke arahnya. Namun dia tetap tidak melihat, dia tahu siapa orang itu.

__ADS_1


Kirana tetap asyik dengan handphonennya, sampai orang itu sudah dekat. Kirana lalu mengubah mimik wajahnya namun tetap fokus ke layar handphone-nya.


“Lama banget sih, dari tadi kemana aja. Dasar lelet,” sarkasnya pada orang tersebut.


Tidak ada jawaban dari orang itu, posisinya tetap berdiri disebelah Kirana. Senyap dan hanya keheningan yang ada.


Kirana yang merasa curiga lalu menengadah dan menolehkan kepalanya.


Alangkah terkejutnya dia, disampingnya ini ternyata dospemnya. Dia tidak sendiri tetapi bersama seseorang dibelakangnya, si putri kampus.


Untuk sesaaat kirana hanya mengerjapkan matanya, pikirannya blank, tidak ada reaksi apa-apa yang Kirana tunjukkan. Diam membeku seperti es di dalam freezer.


“Apa yang kau ucapkan Kirana. Ayo cepat minta maaf. Dasar bodoh,” Pikiran dan hati Kirana bersatu untuk mengejek Kirana.


Hatinya berucap dan sadar, namun mulutnya terkunci.


Kata maaf yang seharusnya dari tadi keluar, belum juga dikeluarkan dari mulut Kirana. Suara Kirana tercekat.


Pak Adam menatapnya dengan datar namun matanya memancarkan aura mengerikan. Sedangkan Sasi dia hanya menampilkan mimik wajah kaget dan heran.


“Maafkan teman saya pak. Dia mengira yang menghampirinya itu saya bukan bapak,” Cengir Odeng. Untung saja Odeng langsung memecahkan suasana yang mulai tegang.


“Kamu kenapa sih ran, makanya kalau mau mengejek orang itu diliat dulu,”.


Odeng yang berada dikejauhan tadi memang melihat ada dospemnya yang menuju ke Kirana bersama sang putri kampus. Odeng tahu dia pasti akan lewat di depan Kirana untuk masuk keruangannya.


Jarak antara Odeng dan dospemnya tidak terlalu jauh, oleh sebab itu dia tahu apa yang sedang terjadi, makanya dia mengalihkan suasana tadi.


Kirana menepuk jidatnya berkali-kali sambil berbicara sendiri layaknya orang gila. Odeng sudah tahu pastinya dia yang akan kena kemarahan dari Kirana.


Odeng tidak duduk dia tetap berdiri menghadap Kirana.


Kirana menghentikan acara menepuk jidat dan bicara sendirinya. Odeng merasa was-was dan benar saja, Kirana langsung menatap tajam Odeng dengan aura kemarahan.


“Okee. Semua ini salahku,”.


Belum Kirana bicara Odeng sudah mendahuluinya. Mau tidak mau dia yang mengalah. Dia hanya tidak mau temannya ini berubah menjadi iblis kalau dia marah-marah.


Nafas Kirana masih menggebu, belum juga dia melontarkan kata-kata, Odeng sudah menyela berbicara dan membujuk Kirana.


“Malu tahu diliat mahasiswa lain. Tuh banyak,” Masih tetap santai, itulah Odeng. Sebenarnya, mahasiswa tersebut hanya lewat saja, tidak terlalu fokus pada mereka.

__ADS_1


Kirana hanya melengos dan mengatur nafasnya. Odeng menyodorkan air untuk Kirana minum.


“udah baikan?” Kirana hanya diam. Dia. tidak jadi marah pada Odeng karena Kirana sadar dia yang melakukan kesalahan.


Temannya ini yang sudah membantunya tadi. Harusnya Kirana memang marah pada diri sendiri yang ceroboh dan teledor.


“Bentar dulu, aku belum minta maaf sama bapak,” Odeng yang menarik tangan Kirana untuk pergi dari kampus dihentikan sebentar.


"Tidak usah, tadi kan aku sudah mewakili minta maaf,” Gampangnya dan melanjutkan menarik tangan Kirana.


"Eh tunggu dulu. itu tadi beneran bapak? sejak kapan keluar?" Kirana heran. Dia tidak melihat pak Adam keluar setelah Kirana selesai bimbingan tadi. Tahunya sudah lewat di depan Kirana saja..


Apa mungkin dosennya punya kekuatan.


"Mungkin bapak teleportasi," Gurauan Odeng dengan gelak tawanya. Kirana memukul Odeng yang selalu bercanda. Kirana benar-benar penasaran.


Odeng yang melihat Kirana memasang wajah bingung pun clingak clinguk. Disebelah ruangan dospemnya ada kamar kecil sekaligus toilet yang memang dikhususkan untuk dosen.


Tak disangka ada yang keluar dari dalam kamar mandi itu. Mereka mengenalnya, itu Sasi, putri kampus. Mereka tercengang. Bagaimana tidak? bukankah tadi Sasi ada di dalam. Lalu tiba tiba di ada di toilet. Apa dia juga punya kekuatan, bisa berteleportasi?.


Tentu saja tidak. Mereka hanya tidak tahu, di ruangan dospemnya memang ada pintu khusus untuk bisa langsung ke kamar mandi atau toilet tanpa keluar dulu dari ruangan.


Adam, dospemnya memang memiliki kamar toilet pribadi di sebelah ruangannya dan itu tergabung, hanya disekat tembok dan pintu dengan kamar toilet yang dikhususkan untuk setiap dosen.


Sasi yang sadar sedang ditatap Odeng dan Kirana hanya melirik saja, tidak menghiraukan tatapan mereka yang heran dan bingung melihat keberadaan Sasi.


"Aku tidak salah lihat kan?" Odeng menepuk-nepuk pipinya. "Dia bisa teleportasi?" lanjut Odeng dengan tatapan melongo.


Beberapa menit mereka berkutat dengan keheranannya.


"Gak mungkin, ini pasti ada yang tidak benar. Kita harus periksa dan pastiin." ajak Kirana lalu masuk ke kamar toilet.


Benar saja, di dalam toilet ada sebuah pintu yang berbeda.


"Ini pintunya beda. Dikunci lagi. Apa ini pintu khusus? Ada ada saja, toilet ada pintu khusus. Bagaimana rumahnya coba. pasti banyak pintu daruratnya," Kirana mengoceh.


Tak mempermasalahkan pintu, Odeng menarik Kirana keluar. karena kebingungan dan keheranan mereka sudah terjawab. Kirana hanya mengikuti langkah Odeng.


Jangan salahkan mereka, walaupun mereka kuliah sudah lama, tapi mereka tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki diruangan dospemnya, apalagi toilet. Kehidupan di lantai bawah, mereka tidak tahu, karena memang di lantai bawah tempatnya para dosen dan pejabat tinggi fakultas.


Mereka lalu pergi ke warnet untuk mengeprint sekaligus menyampul proposal Odeng yang akan diujikan nanti.

__ADS_1


__ADS_2