
Malam harinya Kirana yang bertamu ke kamar Odeng. Ada hal yang perlu ditanyakan yaitu masalah ujian.
"Jadi, seperti apa pertanyaannya?" Kirana langsung to the point. Dia ingin tau agar nantinya bisa dijadikan arahan buat Kirana belajar.
"Gampang. Itu juga tergantung dosennya sih Ran,"
"Mati dong Deng," Perkataan Kirana yang mengherankan Odeng.
"Kata kamu tadi tergantung dosennya. Ya kalau tergantung, matilah," Penjelasan Kirana menimbulkan tawa dari Odeng.
"Iya juga ya. Sejak kapan kamu kocak gini," Masih dengan ketawanya tidak lupa juga pukulan pelan yang diberikan tangan Odeng.
"Langsung ke topik tadi. Berikan aku kisi kisinya," Paksa Kirana. Dia sangat penasaran dengan pertanyaan yang ditanyakan dosen saat menguji.
Odeng memberitahu apa saja pertanyaan yang keluar pada saat dia diuji. Kirana hanya mangguk mangguk. Saat ini rasa penasaran dan keheranan Kirana terjawab. Sebelumnya Kirana masih bertanya tanya mengapa sahabatnya ini bisa dengan mudah menjawab dan lulus di uji. Dari segi kepintaran Kirana tidak mengakui kalau Odeng cerdas. Dia seperti Kirana yang kemampuannya rata rata. Segala macam pertanyaan Kirana tanyakan malam itu, tentang bagaimana perasaan Odeng pada saat diuji, bahkan Kirana menanyakan perasaannya ketika bimbingan dan ketika dia mengahadapi pak Adam.
Jawabannya sangat mencengangkan. Odeng benar orang yang sangat santai. Walaupun ada sedikit gugup namun dia tidak menampilkannya. Memang Kirana akui pada umumnya semua orang akan sama, Mereka pasti gugup ketika sedang menghadapi hal tersebut. Namun Ekspresi dan sikapnya yang terlihat biasa saja patut Kirana contoh. Nyatanya sampai sekarang Kirana belum bisa mempraktekkan hal itu.
____
Malam hari tepatnya sebelum ujian proposal. Kirana membuka lembaran demi lembaran kertas proposalnya.
Setelah 5 hari urung uringan di kasurnya. Akhirnya hari yang dia tidak inginkan akan datang juga. Dalam hatinya Kirana belum siap diuji. Jika bisa, dia ingin menghilang sehari saja pada saat akan diuji.
"Kenapa harus ada ujiannya juga. Kenapa tidak nanti sekalian pas waktu skripsinya saja. Enak kan," Mengeluh, Kirana dengan malas membuka satu persatu lembaran proposal.
"Ya udah tidak usah ikut. Gampang kan," Odeng disampingnya memberikan saran yang konyol.
Kirana menutup proposalnya lalu merebahkan badannya. Dia tidur terlentang melihat langit-langit kamarnya.
"Andai aku tau apa yang akan ditanyakan besok. Tidak perlu repot-repot aku belajar," Mengkhayal disertai hembusan nafas kasar.
__ADS_1
"Kenapa gak kamu deketin si dosennya. Beres deh," Odeng ikutan berbaring terlentang menyusul Kirana.
Perkataan Odeng mengingatkan Kirana pada dospemnya. Seketika dia bangun dan menghadapkan badannya ke arah Odeng.
"Aku perlu ngirim file nya gak ke bapak?" tanya Kirana
"Iya dong," jawaban Odeng dengan anggukan
Kirana masih berfikir dengan menampilkan segala macam ekspresi, memonyong monyongkan mulutnya.
"Eummm, gak usah lah yah. Lagian aku juga berharap bapak tidak usah datang besok," tukas Kirana akhirnya.
"Kalo aku tidak memberitahu bapak besok aku diuji, bapak tidak akan tau. Secara ya kan bapak orangnya super sibuk, gak ada waktu gitu. Jadi besar kemungkinan bapak tidak hadir," Pemikiran Kirana. Dengan sangat bahagia Kirana mengatakannya. Wajahnya langsung sumringah. Padahal dia tidak tau apa yang akan terjadi besok.
"Bisa jadi," Odeng menimpali.
_____
Kirana sudah memakai pakaian yang rapi, baju putih dipadukan dengan bawahan hitam. Sudah bermenit-menit Kirana mematut dirinya di depan kaca. Tidak lupa dia membawa semua perlengkapan yang diperlukan. Hari ini dia harus tampil fresh dan meyakinkan.
Berjalan menuju ruang ujian, Kirana masih di dampingi Odeng. Diah sang sahabat satunya lagi akan menyusul. Dia sedang berada di perjalanan menuju kampus.
Lokasi ujiannya tepat di lantai bawah. Awalnya Kirana bingung tempatnya. Namun, dia berinisiatif duluan untuk mencari tau agar nantinya bisa langsung ke tempat yang dituju tanpa harus bolak balik mencari. Tidak efisien juga kalau harus mencari saat akan diuji.
Kirana melirik kesana kemari mencari keberadaan pak Adam. Tidak terlihat sama sekali. Kirana yang mengira pak Adam tidak datang seketika ingat kalau dospemnya itu muncul secara tiba-tiba.
"Aman deh Ran. Kayaknya pak Adam gak ke kampus hari ini. Bebas dong kamu,"
Namun ekspresi Kirana terlihat tidak bahagia. Di dalam hati Kirana sekarang dia sedang gelisah. Memikirkan hal hal yang buruk yang nantinya akan terjadi.
Tiba saatnya giliran dirinya di uji. Odeng tetap berada di luar ruangan. Kirana masuk dengan pelan sambil matanya melirik isi ruangan. Di ruangan itu hanya ada satu orang dan itu pengujinya. Kirana menghembuskan nafas lega. Dia sudah berfikir kalau di dalam sudah ada pak Adam juga.
__ADS_1
Dengan senyuman Kirana duduk berhadapan dengan penguji. Kirana beruntung karena pengujinya baik. dilihat bapak pengujinya ini seperti penyabar dan bisa diajak kompromi.
Di dalam pikiran Kirana, semua pasti akan baik baik saja. Ada rasa gembira dihatinya sekarang. Berharap pak Adam benar benar tidak muncul di hadapannya untuk kali ini saja.
Hampir 10 menit, penguji belum memulainya. Kirana sebenarnya heran, apa yang sedang ditunggu. Pikiran Kirana mulai bercabang kemana mana. Dia lalu mengingat dospemnya.
"Apa iya bapak sedang menunggu pak Adam?" batin Kiran berbicara sendiri.
"Wah kalau benar iya, bagaimana nasib aku ini," masih berbicara dalam batinnya.
Kirana berdoa semoga bukan dospemnya yang ditunggu. Namun, keinginan Kirana sirna bersamaan dengan terbukanya pintu ruangan oleh seseorang dan itu adalah pak Adam.
Dengan langkah tegap pak Adam berjalan ke arah Kirana. Pak Adam dan pengujinya bersalaman ketika mereka saling berhadapan. Setelahnya pak Adam langsung duduk. Matanya menatap Kirana. Posisi dospemnya ada di sebelahnya dan menghadap ke arah Kirana. Dari ekor matanya, Kirana tau kalau dia sedang ditatap oleh dospemnya.
Kirana langsung menelan ludah.
"Sudah siap? Kita mulai sekarang," Dosen pengujinya mengagetkan Kirana. Kirana langsung mengangguk.
Berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh penguji kepada Kirana. Kirana dengan rasa gelisah dan gugup menjawab. Kirana tidak tau apakah jawabannya benar atau tidak.
Tertekan, itu yang Kirana rasakan. Semua yang ada di otaknya langsung blank dengan seketika. Pertanyaan terakhir, Kirana tidak menjawabnya karena dia sudah tidak fokus. Dia melihat bapaknya yang dari awal menatapnya lalu bersedekap dada.
Tidak mau menoleh, itulah yang Kirana lakukan. Kirana tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang dia inginkan cepat menyelesaikan ujian ini. Durasi ujian ini hanya sekitar 1 jam, bisa lebih atau kurang itu tergantung dari dosen penguji.
"Ayolah, kenapa jarum jamnya lambat sekali berputar," Kirana membatin. Matanya tidak sengaja melihat jam dinding di belakang dosen pengujinya
Sang penguji melirik ke arah pak Adam. Yang dilirik tidak melihat. Tatapannya yang tajam masih tidak lepas dari Kirana.
"Lanjutkan saja," Kalimat yang dikeluarkan dospemnya membuat mata Kirana melotot kaget.
Dia yang sudah. tidak sanggup ditanya tanya dan ingin mengakhiri ini semua malah dipaksa untuk melanjutkan tes uji ini.
__ADS_1