Terikat DosPem

Terikat DosPem
Gelisah


__ADS_3

Keesokan harinya, Kirana melanjutkan revisiannya. Tak lupa dia sarapan dulu karena perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi efek semalam tidak diisi.


Hampir setengah hari dan pekerjaannya pun selesai. Sekarang sudah masuk waktu makan siang, Kirana ingin makan diluar, dia pun bersiap-siap.


Baru ingin keluar ternyata di depan pintu sudah berdiri temannya. Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus. Mereka berdiri sambil tersenyum ke arah Kirana. Ya, mereka adalah Odeng dan Diah tentunya.


“Apa nih? Aku kedatangan tamu tak diundang? senyum-senyum segala lagi,” Dengan nada pelan dan alis sedikit terangkat. Odeng hanya dengan cengengesannya.


“Iya nih, kita ingin main. Eh, kita bawa ini,” ucap Diah dengan mengangkat kresek yang dibawanya.


“Apaan? Kresek doang?” Tanpa menyuruh mereka masuk, Kirana masih berbicara di pintu.


“Ih bukan lah, masak kresek doang. Biarin kita masuk dulu dong. Kamu tega kita berdiri terus disini,” pinta Diah dengan sedikit memelas. Kirana lalu membiarkan mereka untuk masuk.


Sekarang mereka bertiga sudah duduk di atas lantai tanpa alas. Ternyata kresek yang dibawa Diah tadi ada isinya. Diah dan Odeng membeli mie ayam bakso sebelum ke kosan Kirana.


Mereka sudah berencana sebelumnya akan ke kosan Kirana, karena Kirana tidak ke kampus hari ini.


Mereka juga tau pasti Kirana belum makan. Jadilah mereka berinisiatif untuk membeli makanan dulu agar bisa dimakan bersama-sama di kamar kos Kirana.


“Kenapa kalian bisa barengan?” Kirana menuangkan mie ayam baksonya ke mangkuk.


Setelah tahu temannya membawa makanan Kirana langsung membawa mangkuk dan sendok, tak lupa juga membawa air.


“Iya, tadi aku kira kamu bimbingan, jadinya aku nanya sama Odeng. Katanya kamu mau kelarin revisian,” sahut Diah yang sedang bersiap-siap makan mie ayam baksonya.


Sedangkan Odeng, jangan ditanya lagi, dia sudah makan duluan. Benar-benar teman yang baik.


“Iya tadi malam gak selesai, jadi dilanjutin tadi,” sahut Kirana masih mengaduk ngaduk mienya ayamnya.


“Sudah jangan bicara terus, kita makan dulu, habisin makanan kita ini baru lanjut bicara lagi,” Ajak Odeng masih fokus ke mie ayam baksonya sedetik kemudian dia menyuap baksonya.


Setelahnya mereka makan dalam diam. Kalian bisa menebak mie ayam baksonya siapa yang habis duluan. Pastinya yang ngestart duluan, si ratu makan.

__ADS_1


Odeng sang ratu makan, sudah melangkahi kedua temannya. Perihal makan Odeng selalu yang pertama. Pertama selalu lapar, pengen makan, ngajak makan dan pertama ngabisin makanan juga.


Odeng lebih dulu merebahkan badannya di kasur sambil menunggu keduanya selesai makan.


Beberapa menit pun berlalu, Kirana dan Diah sudah duduk di kasur dekat dengan Odeng dan mereka mulai berbincang.


“Kalian ternyata gampang akrab ya. Sudah kayak kenal lama gitu,” Kirana memulai pembicaraan. Walaupun Kirana tahu mereka sudah akrab. Namun, keakraban mereka tidak butuh waktu lama, itu yang Kirana herankan.


“Iyalah aku gitu. Tidak ada yang tidak langsung akrab kalau sama aku. Sekali ketemu, bicara, pasti langsung akrab,” Sombong Odeng, tangannya memainkan ponsel.


“Hilih, percaya diri banget sih. Emang semua gitu? Tidak yakin deh,” Kirana menanggapi dengan sedikit malas.


“Iya dong” serunya cepat dan penuh semangat. “Eh tidak tidak. Ada satu orang yang susah diajak akrab,” Tersenyum cengengesan sudah menjadi kebiasaan Odeng.


Kirana tidak merespon, dia lebih memilih melihat ponselnya. Sedangkan Diah, dia juga terlihat fokus ke ponselnya.


Karena tidak ada suara, Odeng memilih melirik Kirana dan Diah. Odeng menghela nafas, ternyata temannya sedang fokus pada gagetnya.


“Pak Adam” serunya cepat dan sedikit teriak. Mengagetkan keduanya.


“Apaan sih Deng, ngagetin aja,” Kirana memegang dadanya yang sedikit berdetak karena terkejut. “Bicara pelan kan bisa Deng,” sahut Diah menasehati.


Namun, Odeng hanya menampilkan senyumannya. Lalu dia melanjutkan kata-katanya.


“Kalian tahu tidak? Pak Adam itu... dia dosen pembimbing yang susah diajak akrab. Tidak bisa sembarangan didekatin,”.


Diah menoleh ke arah Odeng namun hanya menganggukkan kepalanya.


“Terus? Kenyataannya memang begitu kali. Tidak usah diomongin juga kita sudah tahu. Kelihatan dari sikapnya yang cuek,” Kirana menjawab acuh masih fokus ke gagetnya.


Sedangkan Diah menoleh ke arah Odeng. Tapi, hanya menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Kirana.


“Iya sih,” Menyetujui perkataan kirana juga sambil mengangguk anggukkan kepalanya. “Eum, Kamu gak ada niat buat ngedeketin dia gitu ran?”

__ADS_1


Kirana yang namanya disebut langsung menoleh cepat ke arah Odeng dengan raut wajah terkejut.


“Hah? Kamu bilang apa tadi? Jangan bicara yang aneh deh Deng,” Diah hanya menyimak apa yang kedua temannya bicarakan.


“Deketin dong ran. Kayaknya kamu dan bapak....” Odeng tidak melanjutkan kata-katanya dia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.


“Apa? jangan ngaco deh,” Kirana menatapa Odeng sinis..


“Kalian cocok deh. Dikejar dong ran hatinya,” Disertai gelak tawa Odeng.


Saran yang aneh menurut Kirana. Kirana heran dengan temannya karena dibilang dia cocok dengan dospemnya si pak Adam.


“Cocok darimananya coba. Tidak ada kecocokan sama sekali. Kamu tau kan aku hampir saja kehilangan nafas kalau tidak cepat-cepat keluar,”.


Tak terduga Diah malah tertawa. Keduanya melihat kearah Diah. Heran dengan temannya yang satu ini.


“Ups, sorry kelepasan. Habisnya si Kiran lucu, kenapa sampai segitunya? lebay deh kamu Ran,” ucap Diah menjelaskan alasannya tertawa karena melihat tatapan kedua temannya yang bingung dengannya. Sedangkan Odeng dia pun ikutan tertawa. Sifat menjengkelkannya keluar.


“Kenapa kok diketawain, memangnya ada yang lucu? Kayaknya tidak. Kalian itu sama saja, aneh,” Menghela nafas. Kirana membiarkan kedua temannya ini tertawa.


Mereka masih melanjutkan perbincangannya dengan Odeng yang mulai konyol karena menjodoh-jodohkan Kirana dengan pak Adam. Diah yang awalnya biasa saja malah ikutan ketularan Odeng. Kirana pusing menghadapi kedua temannya. Untungnya hari sudah sore, merekapun pulang karena Diah harus balik ke rumahnya agar tidak kemalaman.


Malam harinya Kirana ingin menghubungi dospemnya, pak Adam. Kirana ragu, entah kenapa sekarang dia lebih takut ketimbang kemarin-kemarinnya. Apa karena Kirana sudah mengetahui bagaimana sosok dospemnya, atau entahlah.


Kirana tidak mengerti, hatinya merasa gelisah padahal cuman mau menghubungi lewat virtual, melalui ponsel tidak langsung tatap muka.


“Bagaimana ini, kenapa aku malah gelisah dan sedikit takut seperti ini,” menggigit jarinya.


Handphone yang dia pegang sedari tadi hanya dilihat. Tidak berani untuk menghubungi pak Adam.


Sedetik Kirana membuka aplikasi layar hijaunya. Jari-jarinya sudah bergerak ingin mengetikkan sesuatu. Namun, sedetik kemudian diurungkan. Begitu seterusnya hingga beberapa menit bahkan hampir satu jam.


“Ah, kenapa jadi tidak berani gini,” gerutunya sambil menekan tombol keluar dari aplikasi hijaunya.

__ADS_1


Kemudian Kirana mondar-mandir sambil menggigit jarinya. Handphonenya masih setia dia pegang.


__ADS_2