
Sampai beberapa menit belum ada keberanian dalam dirinya. Lelah mondar-mandir, Kirana memilih merebahkan diri sampai dia mulai mengumpulkan keberaniannya.
Kirana langsung membuka aplikasi hijaunya lagi dan mulai mencari nama sang dosen. Lalu dia melihat status dospemnya online. Itu artinya dosennya sedang membuka aplikasi hijau juga. Makin tak karuan perasaan Kirana. Gelisah kembali menghampirinya. Dia bimbang kali ini.
“Ah, kenapa sih aku, kayak mau menyatakan perasaan saja. Lagian aku mau nanya masalah bimbingan bukan pribadi, ish...,”.
Pada saat bersamaan Odeng yang sedang online pun tidak sengaja membuka profil Kirana. Dia melihat Kirana sedang on juga. Namun, dia abaikan.
Beberapa menit berlalu, Odeng iseng dan melihat lagi profil Kirana. Hasilnya sama, dia masih online. Odeng langsung saja mengetik sesuatu lalu mengirimkannya ke Kirana.
Kirana yang awalnya merenung tersadar karena ada notif chat. Setelah dilihat ternyata Odeng yang mengirim. Baru ingin membalas chatnya, Odeng sudah bersuara dari luar pintu.
“Astaga ini anak sudah ada disini,”
Kirana langsung membuka pintu dan tanpa basa basi Odeng langsung masuk.
Kelakuan temannya ini memang sedikit absurd, sedikit aneh. Tapi, dengan kehadirannya suasana jadi lebih berwarna, tidak terasa hampa dan sepi.
“Baru aku mau ngebalas chat kamu, sudah ada disini aja,” Sambil duduk di dekat Odeng.
“Aku penasaran makanya langsung saja kesini. Eits, tumben kamu on terus, ada apa?" Curiga Odeng.
“Memangnya kenapa kalau selalu on, gak boleh? Kayaknya itu hal yang wajar. Tidak ada yang ngelarang juga,” protes Kirana.
“Ah beda kalau kamu. Ini suatu hal yang sangat tidak wajar. Si Kirana yang selama ini hampir tidak pernah aktif chat, sekarang selama berjam-jam statusnya online. Wah, pastinya ada sesuatu,” Odeng memyipitkan matanya. Hari ini dia mengintrogasi Kirana.
“Tidak ada, tidak perlu heboh deh. Biasa saja odeng. Itu hal yang biasa dan wajar wajar saja,” kilah Kirana.
“Aaa yang bener?” Sambil seyum-senyum menggoda Kirana.
Kirana yang sudah malas terus diintrogasi Odeng pun mengatakan yang sebenarnya.
“Oke, gini ya, aku tuh mau chat bapak, mau tanya besok bisa bimbingan atau tidak,” Jeda sejenak, “Tapi aku belum nanya. Dari tadi sudah nyoba. Eh malah keberanianku hilang,” lanjutnya lagi.
“Em, ada apa ini ya? Tidak biasanya kayak gitu, atau kamu....." Menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum. Odeng menggantungkan kata-katanya.
“Jangan mulai Odeng. Kamu tahu sendirikan bapak itu orangnya gimana. Ya.... pokoknya tidak srek gitu lah ke hati,”
__ADS_1
Odeng tersenyum menggoda dan hal itu menjengkelkan bagi Kirana. Kirana hanya melengos.
“Sini biar aku yang tanyain,” Odeng langsung mengambil handphone milik kirana tanpa pamit dulu. “Tidak usah protes. Mau tidak aku bantu?” lanjutnya lagi sambil tangannya sudah mulai mengetikkan sesuatu.
“Iya. Awas kalau kamu nanya ngawur. Dengar kan Deng?" Kirana hanya takut odeng ngejahilin dirinya.
"Yap, sudah. Gak usah segitunya kali ran, aku nanyanya wajar" protes Odeng lalu mengembalikan handphone Kirana.
Kirana yang masih was was langsung mengecek pesan yang Odeng kirim.
"Gak begitu percayanya deh kamu," cetus Odeng merebahkan dirinya ke kasur. Kiranya hanya melirik saja.
"Kamu gak mau pulang?" tanya Kirana
"Ngusir mulu deh kamu. Iya ini, aku pulang," Odeng langsung bangun dan pulang.
Keesokan harinya, Kirana sudah bersiap ke kampus. Dia pergi berdua dengan Odeng. Sebelum ke kampus mereka pergi ke warnet terdekat untuk mencetak file yang sudah di revisi.
Sesampainya di kampus....
"Kamu yang masuk duluan ya," pinta Kirana
"Ya gak lah, gak dibolehin kali, pasti harus satu satu masuknya. Mending kamu duluan deh" Suruh Kirana.
"Kenapa gak kamu aja yang duluan?" Odeng malah bertanya lagi.
"Aku perlu mempersiapkan diri dulu ini. Kamu aja duluan" Kirana menyuruh Odeng lagi sambil dirinya menarik nafas pelan.
"Grogi ya?" Odeng bertanya tepat sasaran.
"Iya sedikit Deng"
Kemudian Kirana duduk di kursi masih dengan menarik nafas.
"Sudah sana masuk duluan" suruh kirana yang kesekian kalinya.
Namun, Odeng masih diam berdiri di dekat pintu. Tangannya seakan enggan untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Kok malah diem sih Deng. Sana masuk duluan Odeng," Di akhir kata Kirana melambatkan ucapannya. Kirana lelah dengan kelakuan temannya ini.
"Bentar aku atur nafas dulu," Sambil menghirup dan menghembuskan nafasnya.
"Astaga" Kirana hanya tepok jidat melihat tingkah Odeng.
Semenit kemudian Odeng masuk namun, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Eh, dia lupa ketok pintu. Benar benar deh Odeng" Tidak sampai semenit Odeng langsung keluar. Kirana langsung menoleh ke arah Odeng dengan mengernyitkan dahinya.
"Kok sudah keluar Deng? tidak sampai semenit loh kamu tadi masuk?" tanya kirana heran.
"Kosong, gak ada orang," Odeng melangkah ke kursi dan duduk disebelah Kirana.
"Loh kok gak ada orang, bukannya bapak bilang sekarang bisa?" Mengahadap ke arah Odeng dengan wajah herannya.
"Ya gak tau," jawaban singkat dari odeng.
Kirana cemberut. Dia lalu mengalihkan pandangannya. Benar-benar jengkel hati Kirana sekarang.
"Si sekre juga gak ada?" tanya Kirana yang langsung membuat wajah Odeng berbinar. Dari ekspresi yang ditampilkan sepertinya jawabannya tidak akan mengecewakan.
"Sayangnya gak ada juga," Sedikit cengengesan dengan wajah yang masih berbinar. Jawaban Odeng berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya. Hal itu hanya membuat kirana cemberut.
"Pak sekre itu ganteng ya ran, uuuu......menggoda. Siapa namanya ya? kok aku lupa," Jarinya diletakkan di dagu dengan ekspresi seperti orang yang berfikir.
Baru akan dijawab oleh Kirana namun Odeng melanjutkan ucapannya.
"Aha, pak Awwal. Kenapa bisa lupa," Menepuk jidatnya, kemudian melanjutkan perkataannya. "Idaman banget ya ran," Dengan sangat antusias Odeng mengatakannya.
"Iya idamanmu doang. Udah ah kok malah mikir kayak gitu sih,"
"Seandainya saja bapak itu pacarku," Sambil menghayal dan senyum senyum sendiri.
"Gak usah ngalu terlalu tinggi, kalo jatuh sakit." Kirana menyadarkan Odeng yang saat ini berada di tingkat kehaluan tinggi.
"Ya kan bisa saja ran." Masih tersenyum.
__ADS_1
“Iya, liat kondisi kita dulu, Siapa dia siapa kita, ngerti?. Sudahlah lebih baik kita pulang saja. Sudah bete aku,"
"Eh, tunggulah, siapa tahu bapaknya ada. Tunggu beberapa menit lagi Ran," Odeng berusaha membujuk Kirana. Sedangkan Kirana dengan wajah bete nya duduk kembali ke kursi.