Terikat DosPem

Terikat DosPem
Grup Lambe Turah


__ADS_3

"Siapa yang nyulik?" tanya Diah.


Odeng menggeleng-gelengkan kepala disertai tangannya yang digerakkan tanda bukan itu maksud dari perkataannya tadi.


"Menurut informasi, dia pergi tanpa pamit," Odeng menjelaskan yang membuat keduanya mengernyitkan dahi.


"Maksudnya kabur?" Kali ini Kirana yang bertanya.


"Bukan. Eits, gimana sih. Mereka ngasih informasi campur aduk, panjang lagi. Gimana aku mau cerna dan jelasin coba," Odeng menscrool ponselnya melihat chat grup lambe turah. Informasi tadi juga Odeng ketahui dari chat di grupnya.


"Sejak kapan kamu gabung disitu?" Kirana tidak menyangka Odeng akan gabung di grup chat lambe tersebut.


"Tidak lama sih. Bukan aku juga yang mau, ada yang gabungin aku. Lumayan, dapat info-info yang penting," Dengan cengiran Odeng menjawab


"Lebih tepatnya gosip yang terkini," lanjut Odeng masih mempertahankan cengirannya.


Bisa dipastikan temannya ini akan heboh nanti kalau sudah bergabung dengan si lambe turah, pikir Kirana.


Odeng yang sedari tadi sibuk membaca mengabaikan mereka berdua yang penasaran. Tatapan Kirana dan Diah tidak hentinya ke arah Odeng.


Tak kunjung berbicara, sampai makanan yang mereka pesan ada di hadapan mereka.


Kirana dan Diah langsung mengaduk kuah baksonya, sedangkan Odeng masih sibuk membaca dan menscrool layar ponselnya.


Begitu seriusnya Odeng sampai mengabaikan makanan dihadapannya. Namun, prasangka Kirana dan Diah kali ini salah. Odeng pecinta makanan, tidak mungkin dia akan mengabaikan makanan di depan matanya.


"Aku kira kamu tidak selera makan karena sibuk mengorek informasi," Kirana berbicara sambil tangannya masih mengaduk kuah bakso.


"Tidak mungkin lah. Soal makan tetap nomer satu. Informasi? tunggu nanti setelah perut kenyang," Odeng langsung menyeruput kuahnya.


Kirana dan Diah melirik, sedikit meringis mereka melihat Odeng. Kuah baksonya masih panas, namun Odeng dengan semangatnya menyeruput kuah tersebut.


Kirana mengerjapkan matanya diikuti Diah. Tangannya tadi yang mengaduk, dihentikan dan menatap lagi ke arah Odeng.


"Memang tahan banting ini anak," cetus Kirana kemudian.


Tanpa memperdulikan panasnya kuah bakso, Odeng melahap habis makanannya. sementara Kirana dan Diah, dia makan dengan pelan dan menikmati. Jadilah Odeng yang menjadi juara pertama.


"Enak juga disini," cetus Odeng kemudian. Tak lama tangannya kembali menscrool layar ponselnya.

__ADS_1


Kirana dan Diah melirik dan mengabaikan, mereka lebih memilih makan dengan tenang dan hikmat.


"Tuh kan, bener. Dia pergi dan hilang tanpa pamit bagai ditelan bumi. Menurut info semua keluarganya juga hilang,".


Tercengang, itulah ekspresi yang ditampilkan keduanya setelah mendengar perkataan Odeng.


Mereka menghentikan makannya sejenak.


Kirana lalu meminta ponsel yang dipegang Odeng untuk membaca sendiri info di grup tersebut, dan semua yang dikatakan Odeng tadi memang benar.


"Memangnya grup ini bisa dipercaya? secara kita tahu kalau ini grup gosip terkenal dan terheboh, bisa jadi informasinya dibumbui gitu biar kesannya heboh," tutur Diah mempertanyakan akan kebenaran informasi yang di dapat.


Mengenai kebenaran di grup memang tidak sepenuhnya dipercaya. Kadang ada yang secara sengaja melebih lebihkan, sehingga informasi yang di dapat simpang siur, tidak sesuai dengan faktanya.


"Tapi selama beberapa hari di kampus, kita tidak pernah lihat si nenek lampir itu berkeliaran, benar gak?"


Kirana mengangguk membenarkan ucapan Odeng.


Bukan karena apa, tapi akhir-akhir ini memang tidak ada yang ngejulidin dan meledek Kirana lagi. Bahkan tatapan mahasiswi kian hari berbeda, seperti mereka melupakan kejadian yang terjadi sebelumnya.


Kirana merasa akhir-akhir ini memang hidupnya seperti kembali normal dan seakan tidak pernah terlibat masalah dengan Bella.


"Benar sih, aku hampir lupa kalau Bella pernah ngeledek dan ngatai-ngatain aku," cetus Kirana kemudian.


"Eh tidak juga,. siapa tahu dia selesai duluan skripsinya. Jadi dia sudah tidak ada keperluan lagi," Diah memberikan pendapat yang diberikan anggukan oleh Kirana.


"Tidak juga. Aku rasa dia belum selesai. Kalau sudah selesai skripsi, dia harus mengurus administrasi duku sebelum wisuda dan pastinya sering kesini. Kita tahu lah bagaimana si Bella, ada perlu atau tidak dia bakal jadi penghuni kampus," jeda sebentar kemudian Odeng melanjutkan perkataannya.


"Sang nenek lampir penjaga kampus," Odeng tertawa di akhir kalimatnya, merasa geli sendiri.


Keduanya hanya tersenyum.


Hari ini mereka menjadi pusat perhatian di warung itu. Mengabaikan pelanggan lain, Odeng terus tertawa sampai dia terbatuk tersedak salivanya sendiri.


"Karma tuh, makanya jangan suka ngeledek orang," kata Kirana sambil sedikit tertawa diikuti oleh Diah


Odeng langsung minum air yang ada dihadapannya. Setelahnya dia hanya menyebikkan bibirnya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai makan, drama transaksi membayar pun terjadi.

__ADS_1


"Mas, kalau kesini lagi ada diskonnya buat kita," Odeng, sang putri kocak dan slengean beraksi.


Kebetulan mas yang menjaga warung baksonya agak ganteng dan sedikit lebih tua dari mereka.


Respon masnya, dia hanya tersenyum.


"Uuu.... menggoda ya senyumnya," Odeng tersenyum centil.


Kirana dan Diah menunggu di mejanya sambil berdiri. Tatapannya tidak lepas dari Odeng. Seperti perkiraan, pasti Odeng pendekatan dengan masnya.


Jika terus dibiarkan mereka tidak akan cepat pulang. Kirana langsung menghampiri Odeng dan mengajaknya pulang.


Mereka berdua menyeret Odeng keluar dari warung. "Cepet, kita tinggalin nih ya," ancam Kirana.


"Aku lagi negosiasi itu sama masnya, kalian gagalin," cemberut Odeng mengerucutkan bibirnya.


"Alasan deh. Kita berdua sudah tahu isi pikiranmu kalau soal cowok, apalagi yang bening," Kali ini Diah uang yang menyahut.


"Lumayan, kapan lagi punya pacar mas mas tukang bakso, cakep lagi," senyum-senyum tidak jelas.


"Yang ada bangkrut si masnya. Baksonya kamu makanin semua," ucap Kirana.


"Bener tuh," Diah setuju apa yang diucapkan Kirana.


_____


Kirana sudah ada dikamarnya. Setelah selesai mandi dan makan, dia duduk sebentar. Kirana mengambil ponselnya karena ada nada pesan yang terdengar dari ponselnya. Dia membuka ponselnya dan ada beberapa pesan chat yang terkirim.


"Apaan nih? grup lambe turah? Siapa juga yang masukin nomer WhatsAppku kesini," Heran Kirana, padahal dia tidak ada niat buat bergabung dengan grup chat lambe turah itu.


Banyak sekali pesan di grup itu. Seperti di spam, satu persatu dan bergilir kata yang dikirim di grup lambe masuk dan alhasil ponsel Kirana tidak berhenti bergetar dan berbunyi.


Pengirimannya tentu mahasiswi yang sudah bergabung dan bisa dikatakan sudah senior di grup itu. Ada yang sudah alumni masih tetap setia bergabung di grup lambe turah ini, tidak keluar dari grup sama sekali.


Kirana yang malas lebih mengarsipkan grup lambe turah tersebut.


Mau keluar juga tidak mungkin. Kirana masih punya etika dan tidak ingin jadi bahan gosip setelah keluar grup, karena pastinya mereka akan mengulik tuntas dan disangka sombong.


Mencari aman, itulah keinginan Kirana sekarang.

__ADS_1


Daripada memikirkan grup yang tidak diinginkan Kirana, dia lebih memilih memperbaiki proposalnya. Karena setelah bimbingan lagi dia bakal langsung ikut ujian, itu kata dospemnya.


__ADS_2