
Kirana menundukkan tatapannya dan menjelaskan yang dia lakukan di ruangan dospemnya.
"Saya mau mengambil proposal pak. Tadi sudah dapat izin dari bapak dan pak Awwal nyuruh saya buat mengambilnya," Kirana menjelaskan secara detail, dia tidak mau di cap sebagai orang yang tidak punya sopan santun dan seenaknya saja..
Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut pak Adam. Pak Adam langsung duduk di kursinya dengan tangan mengambil surat tadi dan meletakkan di laci mejanya.
Sasi masih berdiri melihat gerakan pak Adam dan kemudian melihat ke arah Kirana.
"Ya sudah. Kamu bisa bawa itu," Tidak memandang Kirana, pak Adam lebih fokus ke laptopnya. Kirana langsung pamit undur diri. Dia mendekap proposalnya. Di luar pintu dia berpapasan dengan pak Awwal yang ingin masuk ke ruangan.
"Sudah selesai?" Dengan diiringi senyuman.
"Iya pak. Di dalam juga sudah ada pak Adam," Pak Awwal mengangguk dan segera masuk dengan menutup pintu ruangannya.
Kirana bernafas lega. hampir saja dia akan mendapatkan masalah. Dia melihat disekelilingnya tidak ada sahabatnya yang duduk di kursi dan tidak tau pergi kemana.
Kirana clingak clinguk. Ingin bertanya percuma, karena tidak ada satu pun orang yang duduk di kursi, mahasiswa hanya lewat tanpa singgah sebentar.
"Kemana dia, tidak pamit. Memang kebiasaan, bikin repot orang," Tangannya merogoh ponsel dan hampir menelpon namun diurungkan karena suara dari arah belakangnya.
"Sudah?" tanya Odeng. Kirana melihat Odeng dengan alis berkerut.
"Habis ke kamar mandi tadi," jelas Odeng, tangannya memegang makanan.
"Kamar mandi? emang ada makanannya? sejak kapan kantin pindah?" heran Kirana. Sahabatnya tadi tidak membawa makanan hanya ponsel yang dia pegang. Sekarang tiba tiba di tangannya ada makanan.
"Tadi ada anak-anak yang nawarin, aku ambil lah,"
Kirana mengerutkan alisnya tanda dia bingung. Odeng yang sedang asyik makan menghentikan kunyahannya.
"Temen kelasku tadi bawa makanan banyak. Aku ambillah sedikit,"
"Di kamar mandi?" Kirana masih heran
"Iya. ketemunya di kamar mandi, aku harus apa coba," Masih dengan mengunyah.
"Kalian memang serba aneh. Ada saja kelakuannya. Gak heran sih,"
"Sekalian tadi ngaca dulu. Eh masih cantik kok," ketawa Odeng.
Di kamar mandi memang ada kaca besar dan juga wastafel. Seperti fungsi umum sebelumnya, sebagian mahasiswi menggunakannya untuk memperbaiki penampilannya, make up atau tempat santai mereka, tak lupa diselingi gosip juga.
__ADS_1
"Eh, sudah diambil? pak Awwal sudah lewat juga?" clingak clinguk dengan tetap mengunyah.
"Iya, sudah dari tadi," Kirana berjalan ingin pulang dan istirahat di kamarnya.
"Kok sudah mau pulang," Odeng mengikuti
"Gak ada lagi yang mau dilakukan. Tujuanku sudah selesai. Nih, lihat. Aku mau tiduran. Lelah sekali rasanya. Hati lelah, seperti ketemu hantu di siang bolong," Diakhir katanya Kirana pelankan. Odeng yang hanya mendengar samar samar mengerjapkan matanya. Dia tidak bertanya karena Odeng mengerti Kirana sedang dalam keadaan kurang mood. Diam dulu biar tidak kena semprot, itu jalan teraman untuk sekarang.
______
Di kamar Kirana membaringkan tubuhnya terlentang. Matanya masih terbuka lebar. Dengan menatap ke langit langit kamar dia sedang memikirkan sesuatu.
"Pantas saja tidak ada profilnya, ternyata sudah ganti nomer,"
"Tapi kenapa? tidak mau diganggu kah? atau apa?"
"Lalu, aku harus meminta nomernya lagi yang baru? sama siapa? tapi kenapa? tidak minta juga gak masalah. Lagian sudah selesai juga urusanku ya kan?"
Berbicara sendiri, bertanya sendiri, Kirana tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Sedikit kosong tapi masih ada sesuatu yang harus dia lakukan. Lama berpikir, dia langsung memejamkan mataya. percuma juga bertanya pada diri sendiri, semuanya tidak mungkin terjawab.
____
Pagi hari
"Siapa pagi pagi begini ganggu orang lagi mimpi indah,". Kirana menggeliat dan menguap. Belum beranjak dari tempat tidur, dia masih mengerjapkan matanya.
Pintu tetap diketuk tanpa henti. Kirana bangkit dan membuka pintu.
Cengiran, respon pertama yang diberikan Odeng. Kirana tidak menanggapi. Dia masih menetralkan jiwanya yang melayang.
"Dari tadi aku ketuk-ketuk loh. Baru bangun? Aduh, cepat mandi. Kita ke kampus sekarang," Odeng mendorong tubuh Kirana masuk.
"Eh eh, tunggu dulu. Ngapain ke kampus. Mendadak gini," Kirana berusaha melepaskan diri dan berbalik menghadap Odeng.
"Ya ampun, masih bau banget ternyata... sana mandi dulu. Nanti aku jelasin," Odeng duduk di kursi sambil tangannya memencet ponsel.
Kirana yang melihat Odeng sudah sibuk sendiri, langsung ke kamar mandi. Masih dengan rasa penasarannya Kirana mengomel sendiri di kamar mandi.
"Mau kemana sih. orang nanya gak di jawab. Malah bilang aku bau lagi," tangannya mengambil sikat dan pasta gigi.
"Ya sih bau. Tapi kan semuanya juga bau kalau habis bangun tidur. Dia juga pasti gitu," Omelnya sambil menggosok giginya sebelum akhirnya dia mandi dengan bersih.
__ADS_1
Tidak lama Kirana keluar, dilihatnya posisi Odeng masih sama.
"Ada apa? ada perlu apa ke kampus?"
Odeng mengangkat kepalanya,. menyimpan ponselnya.
"Kamu tidur kayak kebo. Gak periksa whatsapp ya?"
menghela nafas, Odeng melanjutkan lagi perkataannya tanpa memberi Kirana celah untuk bicara.
"Diah dari semalam ngubungin kamu. kamunya gak aktif. Di telfon tetap gak diangkat. Kamu kayak bukan tidur, tapi mati suri," celotehan Odeng mendapat tatapan sengit dari Kirana.
Kirana memeriksa ponselnya. Benar apa yang dikatakan Odeng, Diah mengiriminya pesan juga menelponnya. Sudah ada beberapa panggilan dan pesan.
Kirana menggeleng gelengkan kepalanya. Dalam pikirannya dia menyetujui perkataan Odeng tadi. Dia memang bukan tidur tapi mati.
Odeng masih melanjutkan ucapannya
"Makanya aku bangunin kamu. Diah minta kita ke kampus temani dia,"
"Aku belum makan Deng," singkatnya dengan cengiran.
Odeng tepok jidat, "Makan di kampus saja. Aku tahu kamu tidak ada stok cemilan apalagi makanan,"
Odeng memang paling mengerti Kirana. Dia sudah hafal dengan Kirana. Kirana hanya senyum-senyum sambil dirinya merias wajah dan penampilannya.
"Ya udah langsung berangkat. Ayo," Kirana mengambil ponsel dan tak lupa uang yang diselipkan di sakunya untuk membeli makanan.
____
Sampai di salah satu warung langganan mereka berdua.
"Kamu belum makan? tumben. Biasanya makanan nomer satu. Gak pernah kamu lupakan kalau urusan perut," Kirana bertanya karena Odeng juga memesan satu porsi nasi goreng.
"Sudah. Aku liat kayak enak, jadi aku pesan juga. Ngiler aku," Dengan cengengesan khasnya.
Kirana memutar bola mata malas sambil sedikit melengos.
"Eh, kita langsung bertemu Diah di kampus kan?" tanya Kirana tiba tiba saat dirinya ingat belum menanyakan masalah tempat mereka bertemu.
"Eum, sepertinya iya," jawaban tidak meyakinkan Odeng.
__ADS_1
Kirana menepuk jidatnya dan langsung mengambil ponselnya., mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Tatapannya tidak lepas dari ponsel.