Terikat DosPem

Terikat DosPem
Diluar Dugaan


__ADS_3

Di dalam ruangan pak Adam, Kirana diam mengamati interaksi antara Sasi dan dospemnya.


Dia tidak mengira kalau Sasi ada di dalam. Dengan malas dia menunggu mereka selesai berbincang.


"Ini sudah benar, nanti biar saya saja yang upload. Bagus kalau dijadikan jurnal," Pak Adam memuji. Baru kali ini Kirana mendengar kalimat pujian yang keluar dari mulut pak Adam, tapi bukan untuk Kirana melainkan Sasi, anak buah kesayangan.


Kirana yang awalnya percaya diri sedikit menciut karena kehadiran Sasi. Sasi memang pintar, dan secara jelas dospemnya memujinya.


Posisi Sasi ada disamping pak Adam, dengan laptop di depannya. Dia tidak bertutur kata dengan Kirana hanya melirik saja.


Hal yang juga paling tidak diinginkan Kirana sekarang terjadi, Kirana tidak ingin saat dia bimbingan ada Sasi. Dia ingin private saja dengan dospemnya.


Rasanya tidak enak jika situasinya seperti ini, belum lagi nanti pak Adam yang akan mencorat coret proposalnya. Ada rasa malu yang dirasakan Kirana.


Semenit kemudian hanya keheningan yang terjadi. Pak Adam mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Kirana.


Tanpa sepatah katapun Kirana mengeluarkan proposalnya, Dia berdoa dalam hati agar hari ini menjadi hari bahagianya.


Dengan serius pak Adam mengoreksi, tangannya bolak balik membuka lembar demi lembar kertas.


Deg degan? jelas Kirana rasakan saat ini.


"Semoga hari ini aku selamat," batinnya.


Lembar terakhir, pak Adam diam entah apa yang dipikirkan. Namun selanjutnya kalimat yang dikeluarkannya mengagetkan Kirana.


"Mana bolpennya?" Pinta dospemnya.


Ekspresi terkejut Kirana tampilkan, bingung harus jawab apa. Kirana tidak membawa bolpen atau apapun. Yang dia bawa hanyalah proposal dan tas, tak lupa ponselnya juga.


Kirana sudah lama tidak menyediakan bolpen karena dia pikir dospemnya tidak akan butuh bolpen Kirana. Terbukti saat bimbingan sebelumnya, bolpen yang Kirana sodorkan tidak pernah dipakai.


Pikirannya itu, hari ini sudah berbanding terbalik. Semuanya diluar dugaannya Kirana gelagapan.


Dospemnya mengangkat sedikit kepalanya. Tatapannya tepat di mata Kirana. Kirana hanya diam cengo.


"Mana?" Pertanyaan yang menyulitkan Kirana.


"Saya tidak bawa pak," pelan Kirana mengucapkannya dengan sedikit senyuman di akhir kalimatnya. Dia tidak melihat bagaimana ekspresi Sasi. Namun, dari ekor matanya dia melihat Sasi memperhatikannya. Tidak tahu apa yang Sasi pikirkan sekarang.


"Tidak niat kuliah, Mahasiswi tapi tidak bawa bolpen," Menusuk sekali kalimatnya. Kirana tertegun, dia tidak menyangka akan mendapat kesengsaraan lagi.

__ADS_1


"Ini pak," Sasi menyerahkan bolpennya. Kirana menyipitkan matanya. Pikiran Kirana diliputi aura negatif. Harusnya dia berterimakasih atau sedikit merasa lega Sasi memberikan bolpennya agar dospemnya ini tidak mengeluarkan kata kramat yang menusuk. Tapi, Kirana berpikiran lain.


Tidak butuh lama, dospemnya langsung menyerahkan kembali proposal Kirana dengan coretan tentunya.


"Kalau mau ikut ujian bulan ini, lebih serius lagi mengerjakannya," Hanya kalimat itu yang dikatakan pak Adam setelahnya pak Adam mengembalikan bolpen Sasi.


Beruntung? Tidak sama sekali. Kalimat dospemnya yang terakhir secara tidak langsung mengatakan kalau Kirana main main sebelumnya.


Kirana merengut dalam hati. Malu? tentu saja. Sasi didekatnya pasti mendengar dan mengerti maksud dari perkataan dospemnya.


Kali ini dospemnya benar benar menjengkelkan. Kirana yang suasananya hatinya sudah memburuk pun mengambil proposalnya dan membawanya keluar dengan pandangan lurus.


Pak Awwal yang melihat Kirana hanya diam mengamati.


____


Di luar ruangan, Kirana menutup pintu dengan ekspresi tidak enak dipandang.


"Aduh, kenapa lagi?" Odeng bicara pelan, hanya Diah yang mendengar. Mereka masih di tempat duduk awal.


Dengan bibir yang cemberut Kirana berjalan menuju temannya.


"Pasti ada sesuatu," tutur Odeng.


Kemudian Dia dan Diah berdiri menyusul Kirana.


"Kenapa sih Ran?" tanya Odeng saat mereka sudah berhasil menyusul Kirana. Posisi mereka sekarang sedang berjalan.


Tidak ada sahutan dari Kirana, tatapannya masih seperti sebelumnya. Odeng yang tahu ini bukan waktu yang tepat tidak bertanya lagi. Tunggu sampai Kirana yang bersuara nanti.


_____


Tiba di kosan Kirana mencuci mukanya. Dia ingin menghilangkan suasana hatinya yang sedikit buruk. Di kasur sudah ada dua temannya yang setia menunggunya.


Kirana langsung saja bergabung dengan mereka. mencemberutkan. bibirnya sebelum memulai perkataan.


"Sebel aku sama bapak. Kalian tahu gak? bapak nyindir aku tidak niat kuliah cuman gara gara apa coba? kalian tahu?" Dia dan Odeng menggelengkan kepalanya. Dia membiarkan Kirana meneruskan perkataannya.


"Hanya karena bolpen. Perusak suasana, apalagi tadi juga ada Sasi. Gimana coba pikirannya tentang aku. Dan ya, kalian harus tahu juga, Ihhhh....." Kirana tidak meneruskan kata katanya dia menggeretakkan giginya, dengan tangan dikepal seakan melampiaskan kekesalannya. Kirana geram sekali.


"Oke, tenang Ran," Diah mengusap bahu Kirana.

__ADS_1


"Oww, jadi ada Sasi juga, pantesan agak lama tadi kamu yang mau keluar," Odeng menyahut dengan menganggukkan kepalanya.


"Kalau aku tahu ada dia, tidak mau aku bimbingan, mending aku undur. Bikin kesal dua kali lipat," Entah kenapa Kirana hanya kesal saja, padahal Sasi sama sekali tidak bersalah.


"Dia ngata-ngatain kamu Ran?" Odeng yang bertanya. Kirana menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kesal?" Kali ini Diah yang bertanya.


"Ya gak tahu. Kesal saja. Intinya ya aku tidak mau kalau bimbingan ada siapa siapa. Pengennya aku sama bapak saja. Tidak mau diganggu," Kirana berkata sambil berjalan duduk di kursi.


perkataan Kirana menimbulkan senyum menghoda dari Odeng.


"Wah, cuman mau berdua ya, tidak mau diganggu. Maksudnya Sasi menganggu kamu sama pak Adam?" Mulai lagi, Odeng memulai aksi menggoda Kirana.


"Bukan gitu. Maksudnya tidak kayak gitu Odeng," Dnegan cepat Kirana membantah.


"Lalu?" menaik naikkan alisnya. Diah? jangan tanyakan lagi, ekpresi penasaran yang ditampakkannya.


"Aish, terserah deh. Yang jelas bukan itu maksudnya,"


Kirana membiarkan saja temannya menggodanya kali ini, Dia tidak menghiraukan kedua temannya, Kirana lebih asyik memainkan ponselnya.


Saat sedang membuka aplikasi hijaunya, jarinya tidak sengaja memencet kontak WhatsApp dospemnya.


"Eh, kok malah ini sih," desis Kirana.


Jangan heran kalau Kirana punya nomer whatsApp dospemnya karena memang dia sengaja menyimpan nomer bapaknya. Dia sedang butuh, jadi mau tidak mau dia harus menyimpan nomer ponselnya untuk gampang menghubungi dospemnya.


Kirana lalu membaca pesan sebelumnya yang dikirim ke dospemnya. Setelah dilihat, hanya Kirana yang panjang lebar mengetikkan kata. Sedangkan dospemnya hanya membalas satu kata. Kata itu "Ya" dan "Tidak".


"Mahal banget sih bapak. Kenapa balasnya cuma pendek sekali," gerutu pelan Kirana.


Temannya? Dia biarkan ngomong berdua, entah ngeghibah atau apalah, yang penting Kirana tidak mau jadi bahan olok-olokan mereka.


Sampai malam hari, Odeng ada di kamar Kirana. Diah sudah pulang sore tadi.


"Tidak mau balik ke kamarmu?" Kirana bertanya saat Odeng asyik menscrool ponselnya.


"Ngusir mulu deh, aku disini mau nemenin kamu," Odeng mengerucutkan bibirnya.


"Ujung ujungnya charger nih," Kirana membaringkan badannya ke kasur. Odeng? Dia menampilkan giginya setelah Kirana mengatakan kalimatnya tadi.

__ADS_1


__ADS_2