
Beberapa menit kemudian, seseorang yang ditunggu-tunggu belum juga muncul.
"Ayuk ah, ini sudah 15 menit berlalu. Mungkin sudah pulang si bapak," Kirana lalu berdiri dari kursinya, kali ini Odeng mengikuti ajakan Kirana.
Ketika mereka bersiap-siap melangkahkan kakinya, tiba tiba dari arah belakang terdengar bunyi ketukan sepatu. Semakin dekat seakan menuju kearah Kirana dan Odeng. Namun, sepersekian detik bunyinya berhenti dan terdengar pintu terbuka.
Odeng dan Kirana dengan cepat menoleh. Dilihatnya bapak Adam yang ditunggu-tunggu dari tadi masuk ke ruangannya.
"Itu bapak, ayo..." Semangat Odeng menarik tangan Kirana. Sedangkan yang ditarik hanya diam mengikuti kemana temannya akan membawanya.
Seakan syok melihat kedatangan pak Adam Kirana tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada ekspresi yang ditampilkannya. Hanya sedikit hembusan nafas yang terdengar.
Mereka langsung masuk dan sekarang berhadapan dengan pak Adam. Sementara pak Adam hanya melihat mereka dengan ekspresi datar.
"Permisi bapak, kami mau bimbingan," ucap Odeng tanpa basa-basi.
Tanpa disuruh Odeng langsung duduk, sedangkan Kirana hanya diam berdiri.
"Gantian, jangan bimbingan semua," tegas pak Adam dengan ekspresi dan nada datar.
Kirana langsung keluar tanpa kata karena dia merasa ucapan dosennya tertuju ke Kirana.. Diluar, Kirana masih diam tanpa kata, sesekali menunduk dan membuang nafas.
Tak berselang lama, Odeng keluar dan menghampiri Kirana.
"Ayo sana masuk," suruh Odeng sambil duduk.
Kirana pun berdiri dan bersiap membuka pintu, tak lupa dia membaca doa sebanyak-banyaknya. Odeng hanya melirik heran.
Sampai di dalam dia langsung duduk tanpa kata. Dalam hatinya dia mulai meerapalkan beberapa doa. Kirana langsung memberikan proposalnya ke pak Adam tanpa kata. Dia meletakkannya di atas meja pak Adam tanpa diminta dulu.
"Apa ini?" tanya pak Adam.
"Revisian proposal pak," Dengan tersenyum. menetralkan rasa gugup yang melanda.
"Sudah baca pedoman?" tanyanya lagi tanpa melihat kearah Kirana.
__ADS_1
"Sudah pak," jawab singkat Kirana.
Setelahnya hanya ada suara kertas yang dibuka satu persatu. Jangan tanyakan keadaan Kirana, dia sangat gugup sekarang. jantungnya berdebar debar. Tidak tau apa penyebabnya, hanya saja saat berhadapan dengan dospemnya dia selalu merasa gugup. Terlebih suasananya yang tegang. Kirana merasa ruangan dosennya ini sangat mencekam.
Beberapa menit kemudian tidak terdengar lagi suara kertas yang dibuka itu tandanya dospemnya sudah selesai memeriksa. Tanpa kata pak Adam langsung mengambil bolpen dan bersiap mencorat-coret revisian proposal Kirana.
“Revisi lagi, ini masih banyak kesalahan,” ucap dosennya sambil mencoret isi proposal Kirana. setelah selesai dospemnya langsung meletakkan bolpennya dan melihat ke arah kirana. proposalnya masih tetap ditempat semula.
“Kamu dengar yang saya katakan?” seloroh dospemnya melontarkan dengan nada datar dan terkesan dingin.
“Eh iya pak” jawab kirana sedikit terbata. Jantungnya masih berdebar debar.
Setelahnya tidak ada percakapan lagi, pak Adam sudah fokus pada laptopnya sedangkan Kirana dia hanya diam mengamati pak Adam.
Beberapa detik berlalu, pak Adam yang awalnya mengetik sesuatu berhenti sebentar dan melihat ke arah Kirana. Pak Adam mengangkat alisnya seakan bertanya kenapa masih diam disitu. Namun Kirana yang tidak peka pada saat itu hanya mengendip ngendipkan matanya.
“Apa ada yang perlu ditanyakan?” pak Adam memecah keheningan yang terjadi beberapa saat.
“Tidak pak” jawab kirana dengan sedikit gugup, masih tetap sama seperti awal masuk tadi.
Dospemnya hanya diam dengan ekspresi datar. Kirana yang awalnya loading akhirnya menyadari tatapan dospemnya yang seakan menyuruh dia keluar kalau sudah tidak ada perlu.
Setelah Kirana keluar Pak Adam melanjutkan kegiatannya tadi yang tertunda.
Diluar ruangan Kirana sudah duduk dengan Odeng. Ekspresi di wajahnya menampakkan sedikit kesal, kecewa dan tak lupa juga gugup. Semuanya bercampur menjadi satu.
“Kenapa sih ran, kayak dikejar hantu saja,” Odeng lalu mengambil revisian proposal Kirana. Dia membuka satu persatu melihat isi proposal Kirana yang dicorat-coret tadi.
“Ini sudah kedua kalinya loh Deng, emang salah banget ya isinya?” Heran karena masih banyak coretan dari dospemya, padahal Kirana sudah berharap kali ini hanya sedikit yang dicoret.
“Kalau dilihat-lihat sih, tidak begitu salah,” Sambil membuka satu persatu kertas proposal Kirana.
“Oh ya? terus kenapa si bapak malah corat-coret ini itu, tuh banyak kan Deng” Kirana menunjuk ke isi yang di coret.
“Mungkin bapak cuman ngerjain kamu kali ran,” ucap odeng sekenanya.
__ADS_1
“Ngerjain? Buat apa cobak, tidak ada gunanya kan?” Kirana mengerutkan keningnya.
“ya siapa tahu bapak” odeng menghentikan ucapannya dan menatap Kirana.
“apa? Jangan membual deh,” setengah emosi Kirana mengucapkannya.
“Sabar ran, jangan kebawa emosi. Tahan, atur nafas, hirup, buang,” Tangannya dinaik turunkan mengikuti irama hembusan nafas. Kirana hanya mengikuti saja.
“Oke, kita pulang sekarang, masih banyak unek-unek yang belum aku keluarkan ini,” Langsung berdiri dan berjalan pulang ke kosan.
Odeng mengikuti Kirana sambil sesekali menyuruh Kirana mengatur nafasnya.
Di kosan, tepatnya kamar Kirana.
“Buat aku kesel tuh bapak, tau gak tadi aku kayak gak penting aja, langsung diusir. Apa katanya? Masih ada yang perlu ditanyakan? Huft, benar-benar menyebalkan,” geram Kirana melompat ke kasurnya dengan ekspresi bete.
“Emang bapak nyuruh kamu pergi, ngomong keluar gitu?”
Kirana langsung berpikir dan mengingat ingat. Setelahnya dia hanya nyengir kuda.
“Gak sih Deng. Tapi ya, ekspresinya itu loh nyuruh aku pergi dari hadapannya. Kan kalau gini aku males yang mau bimbingan, yang mau ketemu lagi sama si bapak,” Mengerucutkan bibirnya dan bersedekap dada.
“Ya sudah tidak usah bimbingan, biar makin lama kamu bersama bapak,” Odeng menjawab santai.
“Kok gitu?” tanya Kirana tidak mengerti.
“Kalau ditunda berarti kamu makin lama selesainya, itu tandanya kamu masih terikat sama bapak. Wah enak dong ran, siapa tau bapak menjadikan kamu istrinya gitu,” jawaban ngawur Odeng yang bikin Kirana jengkel.
“Gak usah ditambah-tambahin kata-kata itu deh Deng. Ya kali, aku gak kepikiran dan semoga tidak terjadi,” Sambil mengangkat tangannya.
Malam itu Odeng tidur di rumah Kirana menemani Kirana yang merevisi kedua kalinya proposalnya.
Sampai tengah malam Kirana mengerjakan sedangkan Odeng yang niatnya mau menemani malah tidur duluan.
“Mau nemenin tapi ngebo duluan,” sindir Kirana pelan.
__ADS_1
Rencananya Kirana ingin kembali lagi bertemu pak Adam. Tapi, sepertinya terlalu cepat. Kirana harus mempersiapkan matang-matang dulu sebelum bimbingan lagi ke Pak Adam.
Karena sudah mengantuk Kirana akhirnya tertidur dengan laptopnya yang masih menyala.