
Tidak melanjutkan rencana untuk bertemu dospemnya, Kirana lebih memilih untuk pulang. Rasa malu dan bersalahnya membuat Kirana tidak berani menampakkan wajahnya di depan pak Adam.
Beginilah jadinya kalau ada sesuatu yang tidak ingin Kirana lakukan. Pasti ada hal yang akan membuat hati Kirana memburuk. Seakan bisa merasakan hal buruk dahulu sebelum terjadi. Hati Kirana akan gelisah, menolak jika akan ada sesuatu yang akan terjadi padanya. Seperti hatinya memperingatkan Kirana.
Benar saja, hal yang memang Kirana tidak ingin lakukan dengan terpaksa Kirana lakukan dan akibatnya membuat Kirana gegana.
"Haruskah aku minta maaf?" pertanyaan yang dilontarkan Kirana pada Odeng dengan kedua tangan memegang keningnya.
Odeng berpikir sebelum menjawab. Sepertinya dia harus memberikan saran yang baik kali ini.
"Aku rasa iya. Mau sengaja atau tidak kamu tetap bersalah. Apalagi itu dosen kita sendiri dan yang lebih tua dari kita. Kamu harus minta maaf besok," Bijak Odeng dengan nada memaksa Kirana untuk segera bertindak.
Kirana melepaskan tangannya yang dari tadi berada di keningnya. Perkataan Odeng memang benar, tanpa di kasih tahu pun memang sejatinya orang yang bersalah harus mengakui kesalahannya dan berani minta maaf.
"Tapi kamu tadi benar benar wah. Aku sampai terkejut," Gelak Odeng menggoda Kirana.
"Jangan dijadikan bercandaan deh Deng. Aku gak mau berurusan dengan pak Adam lagi. Cukup skripsi saja nanti jangan sampai merambat ke yang lain,"
Kirana tidak sanggup jika harus bermasalah dengan dospemnya di luar pendidikannya. Kirana tidak pernah mengharapkan hal itu akan terjadi. Membayangkan saja Kirana sudah sakit kepala.
"Tapi seru juga Ran, kalau kamu ada masalah sama bapak kamu bisa tuh dekat sama bapak. Kayak di cerita gity, dari adanya masalah, bertengkar ujung ujungnya malah ke hati. Akhirnya utuh cinta deh," Odeng selalu menggoda Kirana.
Ada masalah atau tidak Odeng akan tetap menyelipkan godaannya. Kirana rasa Odeng akan menjadi orang yang paling bahagia kalau keinginannya itu terjadi. Kirana geleng kepala, itu hanya khayalan Odeng yang random. Tidak mungkin Kirana akan seperti itu dan mungkin tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
"Ngawur banget. Mana ada masalah bisa mendekatkan orang. Yang ada malah menjauhkan orang atau bahkan bisa saling membenci. Lagian kamu juga aneh, kenapa harus jatuh cinta. Aduh, kita bukan abg Odeng. Stop deh bacan baca cerita kayak gitu Itu hanya cerita hayalan yang beda jauh dengan kehidupan nyata. Terprovokasi kan otakmu sama cerita cerita itu,"
Kirana tahu Odeng pecinta cerpen dan semacamnya. Semua pikiran konyolnya tentang percintaan itu dia dapatkan dari novel dan cerpen romantis yang dia baca.
Tidak heran lagi bagi Kirana jika Odeng akan menggodanya dan menyamakan kisahnya dengan kisah dalam novel atau cerita romantis yang dibacanya.
"Tapi itu masuk akal Kirana. Novel yang aku baca ini benar benar seperti kisahmu dan pak Adam," Odeng senyum senyum sendiri membayangkan jika kisah sahabatnya akan sama dengan kisah dalam novel.
"Aku gak percaya. Tidak akan sama alur ceritanya," kekeh Kirana tidak ingin terperosok dengan hayalan Odeng.
Membiarkan Odeng Kirana beralih melihat proposalnya. Dalam pikirannya sekarang bertanya tanya. Apakah dia akan kembali besok atau tidak. Dia harus mencetak lagi lembar pengesahan dan harus menyalin tanda tangan lagi dan itu akan merepotkan Kirana.
Kirana berpikir akan kembali nanti setelah bimbingan skripsinya, namun pikirannya masih bercabang. Dia memikirkan apa yang dikatakan Odeng tadi.
_____
Dia sudah siap untuk meminta maaf atas kejadian lancang kemarin. Beginilah nasib Kirana, dia bahkan tidak tahu apa dospemnya akan mengingat kejadian kemarin atau sudah melupakannya hanya beberapa menit saja.
Tapi tetap di dalam hati Kirana masih bersalah. Dia juga butuh tanda tangan karena pengujinya kemarin meminta mengirim filenya yang sudah ada persetujuan dari dospemnya.
"Berat sih memang, tapi bisa lah," Odeng menyemangati, lebih tepatnya mengejek. Dia berucap sambil senyum senyum menjengkelkan.
Kirana berlalu masuk ke dalam ruangan, tidak terlihat pak Adam hanya ada pak Awwal. Setelah berbincang sebentar Kirana disuruh duduk dan menunggu di dalam.
__ADS_1
Dia sekarang sudah duduk di kursi depan meja pak Adam. Di kursi terlihat tas dan ada laptop di mejanya. Tandanya dospemnya masuk kampus. Dengan menghirup udara dan menghembuskan nafasnya Kirana sebisa mungkin menormalkan detak jantungnya yang berdebar. Takut, pastinya. Malu sudah tentu. Tapi Kirana berusaha menguatkan diri. Kirana pikir setelahnya pasti akan berakhir.
Beberapa menit menunggu belum ada tanda tanda kemunculan pak Adam. Di dalam masih ada pak Awwal yang sibuk dengan laptopnya. Kirana tidak bisa melihat karena ada sekat pemisahnya. Namun, dia bisa mendengar ketikan dari keyboard.
Pak Awwal tiba-tiba bersuara yang Sedikit mengagetkan Kirana. Kirana diminta untuk menunggu di dalam sendiri,. sementara pak Awwal akan keluar sebentar karena ada keperluan.
Kirana hanya mengangguk menyetujui. Kirana merasa dia sekarang seperti satpam penjaga ruangan.
Dinginnya ruangan membuat jantung Kirana semakin berdebar kencang. Senyap dan sunyi keadaan di dalam seperti tak berpenghuni. Sebenarnya Kirana ingin keluar saja. Tapi, Kirana berpikir di dalam enak tidak kegerahan. Melihat kesana kemari dia membayangkan seandainya dia yang duduk di kursi dospemnya dan punya ruangan sendiri seperti ini.
Ada niat buat merasakan kursi yang di duduki dospemnya yang terlihat empuk dan bisa bergeser geser. Tapi Kirana tidak berani, dia takut pak Adam akan muncul tiba-tiba dan bisa berbahaya bagi Kirana.
5 menit ada di dalam sendirian Kirana berniat keluar ruangan untuk menunggu dospemnya.
"Aku keluar saja lah. Lama juga ya bapak. Nanti kalau ada yang hilang atau apalah gitu, gimana? aku yang akan jadi tersangkanya pasti," ucap Kirana sendiri saat memikirkan hal buruk terlintas dalam pikirannya.
Kirana bangun dari duduknya namun tak sengaja tasnya menyenggol sekumpulan kertas di meja pak Adam yang diletakkan di pojok atas mejanya, alhasil semua kertas jatuh berserakan.
Kirana memungut satu persatu kertas itu sebelum dospemnya datang. Untung saja Kirana sendiri, jadi dia tidak akan mendapat masalah.
Tinggal satu kertas, namun Kirana berhenti sejenak. Bukan kertas, tapi sebuah amplop yang sama dengan yang pernah Kirana lihat sebelumnya. Mengerutkan kening, Kirana mengambil amplop tersebut. Masih tetap sama seperti sebelumnya amplop tertutup dengan rapi. Kirana menaruh kertas yang dijatuhkan tadi seperti semula. Kirana membolak balikkan amplop itu, penasaran? tentu saja.
Matanya memicing dan menerawang ingin mengetahui ada apa di dalamnya. Seperti sebuah surat bukan uang. Kirana yang masih fokus dikejutkan dengan pintu terbuka. Refleks Kirana menoleh namun amplopnya masih dipegangnya.
__ADS_1
Langkah kaki semakin dekat, Kirana yang awalnya menoleh ke arah pintu, menolehkan Kembali kepalanya ke arah meja dan tersdae tangannya masih memegang amplop.
Dalam sekejap Kirana langsung mengembalikan amplop ke atas tumpukan kertas tadi. Tanpa disadari Kirana, pak Adam melihat apa yang sedang Kirana lakukan.