
Hari ini Kirana sudah berada di kampusnya. Dia tidak sendiri, ada teman suka dan dukanya yang menemani.
Odeng bukan hanya mau menemani Kirana, tapi dia juga akan bimbingan jurnal.
Dengan cengiran Odeng keluar dari ruangan pak Adam. Dari ekspresinya dia sangat bahagia. Kirana yang tadi duduk pun langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Tidak usah ngomong, aku juga tahu. Minggir," usir Kirana langsung saat Odeng masih tepat berada di depan pintu.
Kirana tahu kalau temannya ini pasti mendapat kabar baik dari dospemnya, pak Adam.
"Sabar dulu dong," masih mempertahankan senyumnya.
Odeng lalu melewati Kirana dan duduk dengan tenangnya, pandangannya mengarah ke Kirana.
Kirana tidak langsung masuk, dia masih berdiri dengan pandangan menghadap ke arah Odeng.
"Kenapa tidak masuk? malah perhatiin aku lagi. Kepo ya," Odeng menaikturunkan alisnya.
"Bukan kepo. Tapi kamu aneh," Kirana langsung masuk ke dalam meninggalkan Odeng yang tersenyum cengengesan.
Di dalam ruangan, masih ada sedikit rasa gugup dalam hati Kirana. Detak jantung yang sedikit berdebar juga masih dirasakan Kirana.
Tidak bisa dipungkiri, Kirana memang orang yang gelisahan. Walau dia menguatkan diri tapi tetap kegugupannya masih ada.
Kirana bahkan sempat berpikir, apa cuman dirinya yang merasa seperti itu saat melihat orang lain sepertinya keliatan tenang. Sangat berbeda dengan Kirana yang akan tegang dan gelisah.
Sudah berhadapan dengan dospemnya dan proposal di depan meja yang sedang dicermati oleh pak Adam.
Kirana yang hanya diam melihat setiap inci wajah pak Adam. Tatapannya mengarah ke bagian bibir. Sedetik kemudian berpindah ke atas bibir.
Kirana berpikir jika ada sedikit kumis, pasti terlihat lebih ganteng lagi.
Bahkan Kirana sempat membayangkan kalau pak Adam berkumis panjang. Apa akan sama seperti pak Raden dengan kumis lebat, panjang dan bentuknya melengkung ke atas. Tanpa sadar Kirana sedikit tersenyum.
Keheningan yang terjadi beberapa saat tersebut pun pecah karena perkataan pak Adam. Kirana mengubah mimik wajahnya menjadi serius.
"Kamu tambahin yang lampirannya. Setelah selesai saya tanda tangani besok," Pak Adam menutup kertas yang terakhir.
"Baik pak," Dengan semangat Kirana mengucapkannya, tak lupa senyum ceria.
__ADS_1
Walaupun bukan sekarang, tapi Kirana tidak mempermasalahkan hal itu karena besok dia pasti mendapat tanda tangan persetujuan dari sang dospem.
Kirana keluar ruangan dengan gembira sama seperti yang ditampilkan Odeng tadi. Tidak menetap begitu lama, mereka langsung pulang.
Diperjalanan menuju kosan, masih ada perbincangan diantara mereka.
"Kamu lihat tadi pak Awwal punya kumis," Odeng senyum senyum.
"Ya kan laki Deng, wajarlah," sahut Kirana seadanya karena Kirana tidak memperhatikan pak sekretaris dospemnya.
"Eits, bukan itu Ran. Kamu gak lihat kumis pak Awwal itu tipis tipis. Makin ganteng dan wow," Masih mempertahankan senyumnya.
Kirana langsung mengingat tadi dirinya membayangkan sang dospem yang berkumis. Sampai tidak sadar hampir dia menabrak orang yang sedang berjalan didepannya.
"Ngelamun ya, sampai tidak lihat ada orang,"
Odeng yang sedari tadi berbicara melirik dan sadar kalau Kirana sedang melamun. Makanya dia menghentikan Kirana.
Kirana hanya bisa menghembuskan nafas dan melirik Odeng sekilas. Setelahnya, dia berjalan tanpa kata.
_____
Dia buka aplikasi hijaunya, mencari nama yang dipikirkannya sekarang.
Kirana memencet profil seseorang, namun kosong tidak ada apa-apa.
"Apa bapak tidak suka ngepost fotonya ya," pikir Kirana.
Kirana baru saja membuka profil sang dospem. Tidak tahu mengapa dia jadi kepikiran dengan bayangannya tadi.
Dia berinisiatif ingin mengambil foto dospemnya diam-diam dan akan di edit. Kirana ingin di foto itu diberikan kumis tipis. Tidak ada kerjaan memang, itulah Kirana.
"Yah, padahal aku kepo, mau tahu gimana bapak kalau ada kumisnya," Kirana tertawa geli.
"Mau minta ke siapa ya," Sambil berfikir Kirana memonyongkan mulutnya. Ada satu nama terlintas dan itu adalah Odeng.
Kirana menggeleng, dia tidak mungkin minta pada temannya itu. Bisa bisa Kirana jadi bullyan Odeng. Mana mungkin juga Odeng punya foto pak Adam, itu yang dipikirkan Kirana.
Sasi? Sangat tidak mungkin. Ogah juga Kirana kalau harus berurusan dengan orang baru.
__ADS_1
Kirana lalu meletakkan ponselnya dan merebahkan diri. Tidak ada niat untuk mandi, dia ingin istirahat dulu sebelum memulai aktivitas yang lain.
"Kenapa sih aku, gak ada gunanya juga kan ngedit," katanya pada diri sendiri .
"Tapi ya gak papa kan, cuman iseng pengen tahu aja, memang tidak boleh," sahutnya lagi pada dirinya.
Dia mengangguk anggukkan kepalanya. Tak lama dia terlelap.
Entah karena apa, Kirana sangat pulas tidurnya sampai tidak sadar sudah malam hari. Saat tidur dia menampilkan banyak ekspresi. Dia kadang kaget, tertawa dan kegelian. Dunia mimpinya kali ini sangat indah seakan Kirana tidak ingin bangun. Dia tidak menyadari beberapa kali mengigau.
Ketukan pintu yang sangat keras membangunkan Kirana dengan mimpi indahnya. Dia bangun dengan terkejut masih dengan mata merem melek. Tidak langsung membuka pintu, dia masih menetralkan dirinya yang masih mengambang, menyatukan nyawanya yang masih melayang.
Dari luar suara yang sangat dikenal Kirana memanggil manggil. Kirana hanya menguap, lalu bergegas ke pintu.
Tadi setelah pulang dari kampus, dia langsung mengunci pintu, walau masih siang hari. Semua itu untuk jaga jaga karena Kirana ingin melakukan sesuatu secara diam-diam, namun hal itu tidak tercapai.
Setelah pintu terbuka, Kirana langsung berbalik dan merebahkan dirinya lagi ke tempat tidur. Mengantuk masih melekat dimatanya. Dia masih belum sadar dirinya tidur berjam jam dan hari sudah malam.
"Masih jam segini sudah tidur," ucap Odeng, tidak ada respon dari Kirana. Dia tetap memejamkan matanya.
"Masih pukul tujuh juga Kiran, bangun dulu lah. Tidur nanti satu jam man lagi," posisi Odeng sudah duduk di kasur di sebelah Kirana tidur.
Niat Kirana yang ingin meneruskan mimpinya tadi diurungkan. Kirana bangun karena terkejut dengan perkataan Odeng. Mata yang tadi terpejam sekarang sudah melek dengan sempurna.
"Sudah malam?" Dengan mata sedikit melotot
Odeng mengerjapkan mata sambil mengangguk. Dia sedikit heran dengan pertanyaan temannya ini.
"Astaga, kenapa bisa kebablasan. Aku belum ngerjain lagi," Kirana langsung bangun dan mondar mandir berjalan kesana kemari. Odeng yang melihat hanya tercengang dengan ekspresi heran. Tak lupa dia mengerjapkan matanya.
Sedangkan Kirana, dia sudah membuka laptopnya dan standby di depan laptop. Dia juga sadar kalau dirinya belum mandi dan makan.
"Ketiduran ya?" menyipitkan matanya Odeng masih diam di tempat.
"Iya ini aku belum mandi juga, belum makan,"
Tangan yang semula sibuk memegang keyboard dengan pandangan lurus ke laptop, berpindah sebentar ke arah Odeng dengan tatapan memelas. Odeng tahu apa yang Kirana inginkan. Pasti temannya ini ingin dirinya membeli makanan untuknya.
"Oke deh," Odeng yang sudah faham akan kode dari Kirana langsung pergi membeli makanan. Tinggallah Kirana sendiri dengan kesibukannya.
__ADS_1