Terikat DosPem

Terikat DosPem
Salah paham


__ADS_3

"Kiran, semua mahasiswi membicarakan kamu karena gosip yang beredar. Aku tidak sengaja dengar, mereka mempermasalahkan kamu yang kepedean ingin mengejar bapak. Bahkan hal itu sampai terdengar oleh Bella," Diah langsung pada intinya.


Saat dia berjalan di koridor kampus tadi dia mendengar ucapan-ucapan yang tidak enak di dengar. Diah juga sempat bertanya pada mahasiswi lain mengenai kebenaran yang didengarnya tadi. Makanya dia tahu semuanya.


"Ha?" Kirana mengerutkan keningnya. Dia bingung maksud perkataan Diah.


"Gini ran...." ucapan Diah terhenti karena Odeng menyela.


"Oo,. hanya karena masalah itu, Aku kira apa," Santai Odeng.


"Astaga" ucap keduanya.


Odeng mengejutkan Kirana dan Diah saat sedang serius berbicara. Entah darimana, tiba tiba Odeng muncul dan ikut nimbrung ucapan Diah.


"Ran, kamu jadi bahan perbincangan hanya karena terlalu pede mau dapetin dospemmu, pak Adam," Diah menjelaskan. Namun, Kirana masih bingung. Dia tidak merasa melakukan itu, tapi kenapa malah tersebar kata-kata yang menurut Kirana tidak terlalu penting.


"Apa apaan sih Di. Apa sih masalah sebenarnya? Gosip itu maksudnya apaan? Kenapa jadi seperti itu? Kenapa....." Kirana tidak meneruskan perkataannya, sekarang dia bingung.


"Mending kita pulang, bicarakan di kosan saja. Kalau disini nanti malah tambah runyem. Kamu tau ka kalau dinding juga punya telinga," Saran Odeng. Diah menyetujui. Saat Diah ingin menarik tangannya Kirana, langsung dihentikan oleh Kirana sendiri.


"Eeh, aku belum bimbingan ini. Masih nungguin bapak," ucap Kirana. Posisi mereka sudah berdiri.


"Tidak usah, lain kali saja. Ayo cepetan, Keburu si Bella nongol nanti.," Odeng langsung menarik tangan Kirana.


_____


Di kamar kos Kirana.


Merek bertiga saling berhadap-hadapan.


"Intinya, harimau yang sedang tidur merasa terusik," ujar Odeng.


Kirana tidak merespon, dia hanya menampilkan wajah heran dan penasaran.


"Kenapa harus ada gosip itu? terus Bella? Masalahku hanya ingin dapetin bapak? lalu Bella denganku? Gimana sih, sekarang ceritain sedetail-detailnya. Aku ingin tahu," pinta Kirana pada Diah.


"Bella itu mengincar Pak Adam," ucap Diah

__ADS_1


"Terus? masalahnya denganku apa?"


Benar, Jika Bella mengincar pak Adam, lalu masalahnya dengan Kirana apa?.


"Perkataanmu yang ingin mengejar pak Adam itu yang menjadi masalah. Kamu tahu? aku denger kalau Bella tidak suka jika ada orang yang mengusik miliknya, apapun yang dia incar, yang dia mau tidak boleh ada yang menghalanginya," jelas Diah


"Astaga," Kirana tidak habis pikir kenapa hal seperti dijadikan masalah dan ini dengan Bella.


"Memangnya siapa juga yang mau mengejar bapak? Aku tidak ngomong begitu," tanya Kirana. Dia tidak ingat dengan ucapannya beberapa hari yang lalu.


"Kamu," ucap keduanya berbarengan.


Kirana terkejut, apa maksud temannya ini. Dia tidak punya pemikiran seperti itu.


"Aku gak ngomong gitu," bantah Kirana.


Tapi, tak lama kemudian, Kirana membulatkan matanya, ekpresi kaget dia tampakkan. Sekarang dia ingat.


"Ya ampun, aku pernah ngomong itu sebelumnya," menepuk jidatnya.


Odeng menganggukkan kepalanya tanda membenarkan. Dia juga jadi saksi saat Kirana mencetuskan kata-kata itu. Bahkan keduanya menjadikan itu bahan bercandaan.


"Salahpaham tuh mereka. Pantesan kemarin-kemarinnya dia ditatap oleh semua mahasiswi. Jadi artis mendadak," Ketawa Odeng. Dia menganggap hal ini tidak perlu dipermasalahkan.


Alasan Kirana tidak ingin terkait masalah dengan Bella karena Bella akan membesarkan masalah-masalah yang kecil. Dia juga sudah terkenal, Apa yang dilakukan Bella ujung ujungnya akan jadi sorotan orang lain. Itulah yang Kirana hindari dan terbukti sekarang, dia mengalaminya sendiri. Hanya masalah kecil tetapi ujung-ujungnnya menjadi masalah besar.


"Tapi itu bercandaan doang. Kalau memang benar, mungkin aku hanya mengejar bapak buat bimbingan. Tidak ada maksud lain. Lagian kenapa dijadikan masalah sih. Siapa juga yang nyebar? Aku rasa waktu itu tidak ada mahasiswi yang duduk disebelahku hanya Odeng," tatapan Kirana beralih ke Odeng.


"Ya, tidak ada siapa siapa kayaknya cuma kita berdua. Tapi, Aku rasa pasti gosip itu dilebih lebihkan, ada yang ngompori," Odeng curiga.


"Pastinya" Diah menyetujui.


"Aneh tu si nenek nenek lampir, masa cuman kayak gitu doang dijadiin masalah, Belum juga pak Adam jadi milikinya," Nenek lampir, sebutan baru dari Odeng untuk si Bella.


"Agak lebay juga sih mereka, suka suka kamu ya kan Ran, mau apa kek, mau ngapain. Bingung deh sama mereka yang suka mengejek dan mengurusi urusan orang lain," cerocos Odeng lagi.


"Ya kita tahu bagaimana Bella ya kan?" Diah memaklumi kelakuan Bella yang sedikit aneh.

__ADS_1


Memang benar, harusnya mereka tidak perlu mempermasalahkan itu tapi balik lagi pada keadaan tadi, hal mudah akan dipersulit jika sudah ada Bella didalamnya. Bella seperti seorang induk yang akan diikuti oleh anak-anaknya. Sifatnya juga agak kekanakan.


"Eh tapi, yang kita lihat Sasi lebih dekat dengan bapak, gimana tuh? dimusuhin juga gak sih sama si Bella?" tanya Diah. Dia ingat kalau Sasi selalu bersama pak Adam dan bisa dibilang dekat.


"Entahlah, aku tidak mau memikirkan itu. Aku rasa semuanya sudah berakhir. Aku tidak punya masalah dengan Bella ataupun siapapun. Karena kenyataannya memang begitu. Terserah jika Bella mau menganggap ini masalah atau apa yang pentung aku tidak melakukan kesalahan langsung dengannya," Kirana berpikir, hal ini tidak perlu perpanjang. Keputusan Kirana sangat tepat, dia tidak boleh mengurusi hal yang menurutnya kurang penting.


"Iya Ran betul. Mending kamu fokuskan ke bimbingan saja. Biarinlah si nenek lampir itu," Odeng menyemangati Kirana.


"Tapi kamu tidak apa-apa kalau nanti dihujat lagi sama Bella?" Diah tetap khawatir.


"Biarin lah, anggap hanya angin berlalu." Kirana akan berusaha bersikap normal selayaknya tidak ada apapun yang terjadi. Melawan percuma, mending yang waras ngalah. Itu menurut Kirana.


"The best memang nih sahabatku. Mulai kagum deh aku," Odeng bertepuk tangan ria.


____


Keesokan harinya di kampus, mereka bertiga sudah ada diparkiran. Lalu berjalan menuju ruangan dospem Kirana.


Di sepanjang jalan mereka terus berbincang, tidak pedulikan apa yang dilakukan mahasiswi lain. Entah dia sedang mengejek atau apa, mereka bertiga mengacuhkannya.


Mereka bertiga bersikap layaknya tidak pernah mengalami kejadian buruk kemarinnya.


"Sudah siap?" tanya Diah. Kirana menganggukkan kepalanya.


"Langsung masuk saja Ran, mau aku bukain pintunya? atau aku yang ngetok,"


Belum Kirana menjawab Odeng sudah melakukannya. Dengan cengirannya dan meunjukkan dua jarinya.


Odeng, temannya ini tidak pernah berubah sikapnya, selalu saja menghibur orang. Ada saja kelakuannya yang random.


Kirana melewati Odeng dan masuk. Setelanya pintu ditutup. Bukan Kirana yang menutup pintunya, tapi Odeng. Posisi Odeng masih di depan pintunya. Dia menjinjitkan kakinya, arah pandangannya ke dalam ruangan.


"Mau ngapain Deng?" tanya Diah melihat kelakuan Odeng yang aneh.


"Ih, tidak nyampek. Kurang tinggi aku, tidak bisa ngintip pak Awwal," Sambil duduk dengan ekspresi cemberut.


"Ya ampun Deng, kamu bisa masuk kan, tidak usah kayak itu. Kayak maling tau gak,"

__ADS_1


"Rencananya sih gitu, mau maling. Maling hatinya pak Awwal," Di akhir kata Odeng ketawa, Diah? dia melongo. Tidak menyangka Odeng akan jatuh hati pada seseorang.


__ADS_2