Terikat DosPem

Terikat DosPem
Terkejut


__ADS_3

Kirana yang enggan dan ingin bersantai tidak langsung merevisi proposalnya. Dia masih tidak ingin berurusan dengan kampus setelah kejadian kemarin. Kirana butuh rehat sebentar untuk melupakan kejadian yang menurutnya mengecewakan.


Namun, setelah mendengarkan saran dari para temannya yang menyuruh dia untuk segera merevisi proposalnya, dia pun langsung merevisi. Tidak butuh waktu lama, sekitar dua hari dia sudah menyelesaikan revisiannya.


Kirana akan bertemu dengan pengujinya yang sebelumnya sudah dihubungi. Tidak mudah Kirana meminta persetujuan dari pengujinya. Kirana harus bolak balik mencari sang penguji yang saat itu ternyata sedang rapat.


Kirana menunggu di ruang tunggu yang tempatnya tidak jauh dari ruang dospemnya. Kebetulan rapatnya diadakan di aula mini dekat ruangan dospemnya.


Bukan hari yang baik bagi Kirana karena tepat saat pintu terbuka yang keluar pertama kali sang dospem yang dibelakangnya diikuti oleh penguji dan para dosen lainnya yang memang memiliki kedudukan penting.


Niat awal ingin langsung menghampiri pengujinya diurungkan. Dia diam terpaku, membiarkan dospemnya untuk berlalu terlebih dulu.


Sayangnya Kirana harus ketinggalan langkah pengujinya. Dia langsung lari untuk menghentikan sang penguji.


Entah keberuntungan apa sang penguji langsung memberi persetujuan tanpa diperiksa terlebih dahulu. Kirana berpikir pasti sang penguji sedang sibuk dan ada suatu kerjaan penting yang harus diselesaikan. Dari ekspresinya seakan tegang.


Bukan hanya penguji saja, semua dosen yang hadir tak terkecuali pak Adam ekspresi wajahnya tegang dan tidak terlihat bahagia atau santai. Jika itu pak Adam Kirana pikir itu hal biasa. Tapi untuk semua dosen ini tidak biasa. Namun Kirana tidak terlalu memikirkan hal itu, yang terpenting tanda tangan sudah dia dapat dan setelah ini dia akan menggarap skripsinya.


Kirana sebenarnya sedikit malu dan belum siap untuk bertatap muka dengan pengujinya. Akan tetapi takdir berkata lain. Kirana benar benar bahagia sekarang sudah menyelesaikan masalahnya.


Dia kembali ke tempat semula. Tadi dia meninggalkan Odeng yang masih duduk santai hanya untuk mengejar pengujinya. Dia lalu duduk dengan santainya. Tak berapa lama, Kirana yang menampilkan senyum bahagianya, seketika pudar saat Odeng mengatakan satu kalimat.


"Kenapa harus sih?" Menghembuskan nafas kasar. Kirana tidak siap bertemu dospemnya sekarang. Kalimat Odeng tadi menyuruh Kirana keruangan dospemnya untuk meminta persetujuan dari sang dospem.


Kirana mengira tanda tangan itu akan dia dapatkan nanti saat skripsi. Bahkan Kirana sudah berencana untuk memintanya nanti setelah bimbingan skripsi saja atau tidak sama sekali.

__ADS_1


"Iya lah, kamu mau nanti di komen, di kritik. terus pak Adam ngomong, kamu tau aturannya kan," Odeng menakut nakuti Kirana mengikuti gaya bicara pak Adam


"Buat apa coba, kan tidak usah terlalu formal ya kan. Masih ada skripsi juga. Kenapa tidak sekalian saja nanti," Kirana memonyongkan bibir. Dia tidak mau bertemu dengannya dosennya. Hatinya menolak. Dia perlu persiapan, tidak bisa jika harus mendadak seperti ini.


"Ayo deh aku antar. Ini harus segera, kalau tidak akan kadaluwarsa dan pak Adam tidak akan mau menandatangani," Odeng menjelaskan


"Kadaluwarsa? apanya?"Kirana bertanya tidak mengerti.


"Tanggal revisiannya, kalau kamu mintanya dua atau tiga Minggu itu sudah tidak berlaku. Mana mau pak Adam menandatangani. Tanggal sekarang ya harus sekarang," Kirana mengangkat alisnya butuh penjelasan dari pernyataan Odeng.


"Jangan tanya dari mana aku tau. Kita pembimbingnya sama dan aku sudah mengalami itu baru baru ini," Mendramatisir Odeng mengatakannya.


"Tidak perlu selebay gitu juga kan Deng," Kirana memutar bola malas.


"Bentar dulu Odeng," Kirana memperbaiki penampilannya


"Sudah sana masuk," Dorong pelan lagi Odeng ke Kirana


"Iya, sebentar. Ini proposalnya berantakan. Aku benerin dulu," Kirana beralasan. Yang sebenarnya hatinya sedang dag dig dug, bergetar dan sedikit gugup.


Odeng melihat ke arah proposal Kirana. Tidak berantakan karena sudah di kliping dan Kirana pegang dengan benar. Odeng tau Kirana hanya alasan saja karena pasti dia sedang menyiapkan mentalnya.


"Jangan sekarang deh," Kiran menoleh ke Odeng yang tepat berada di belakangnya. Posisi Kirana sekarang sangat dekat dengan pintu hanya dua langkah saja Kirana sudah bisa masuk ke dalam.


"Sekarang saja. Sudah tanggung ini, kamu ada di depan pintu. Jangan sia siakan kesempatan ini," Odeng memaksa Kirana. Kirana heran, kenapa sahabatnya ini seperti senang kalau lihat Kirana menghadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


"Nanti di dalam, kamu bujukin bapak. Kamu liat tadi ekspresinya menyeramkan. Siapa tau ekspresinya berubah kalau kamu tenangin," Meledek Kirana sambil tertawa, Odeng sangat senang saat menggoda Kirana dengan pak Adam.


"Apaan sih, yang ada bukan tenang kalau lihat aku. Tambah mengaung. Bisa bisa aku dimakan,"


Kirana masih berbincang tanpa ada reaksi untuk masuk ke dalam. Tidak tau apa yang dipikirkan mahasiswa lain yang lewat saat melihat kelakuan Kirana dan Odeng ini. Kirana bodo amat dan tidak memperhatikan mereka.


"Ya ampun, aku ketok sajalah, gak masuk masuk kalau begini," Odeng lalu mensejajarkan dirinya dengan Kirana dan mulai mengetuk pintu pelan.


Odeng langsung pindah ke belakang Kirana lagi dan sedikit mendorong pelan Kirana. Kirana yang seperti enggan masuk masih berusaha bertahan atas dorongan Odeng. Saat mereka sibuk dengan saling mendorong dan menahan, pintu langsung terbuka dan muncul orang yang ada di dalamnya.


"Astaga, setan," Kirana langsung terkejut dan refleks mengatakan kata kata yang tidak seharusnya dia katakan. Kirana yang sadar akan kesalahannya langsung membungkam mulutnya menggunakan kedua tangannya dengan erat. Dia memejamkan matanya dan sedikit menunduk.


Odeng mengatupkan giginya dengan ekspresi cemas. Odeng tau Kirana akan mengatakan itu saat terkejut dan itu hal biasa saat bersamanya dan sahabatnya yang lain. Tapi kali ini dia tidak terkontrol.


Kirana merasakan keringat dingin, dada yang berdetak kencang karena terkejut dan rasa cemas juga takutnya.


"Aduh, bodoh kau Kirana. Kenapa harus keceplosan ke dosen sih. Bisa tidak di setting ke sahabatku saja," Batin Kirana. Kirana menyalahkan dirinya sendiri dan mengatai dirinya.


Tidak ada pergerakan dari orang di depannya yang tentu saja itu sang dospem. Kirana juga tidak berani bergerak. Tidak berani membuka matanya. Bernafas pun seakan susah.


"Aduh, gimana ini. aku harus bagaimana? aduh, serba salah," Masih batinnya yang berbicara. Kirana juga tidak merasakan gerakan apapun dari Odeng. Apakah Odeng sudah lari atau pergi, Kirana tidak tau.


"Jangan menghalangi orang yang mau lewat," ucapan dari dospemnya yang semakin membuat Kirana semakin berkeringat dingin. Kirana langsung menggeser tubuhnya tanpa membuka matanya.


Kirana yang merasa dospemnya sudah lewat langsung membuka mata perlahan dan menggigit bibirnya. Ekspresi Kirana sangat cemas. Kirana mengalihkan pandangannya ke Odeng. Ternyata Odeng masih di dekatnya tepat di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2