Terikat DosPem

Terikat DosPem
Masalah baru


__ADS_3

Aktivitas di hari hari berikutnya tetap sama, Kirana yang selalu bimbingan ke dospemya setiap seminggu tiga kali bahkan setiap dua hari sekali.


Odeng, dia sudah ujian terlebih dahulu. Semuanya berjalan lancar namun tidak lepas dengan yang namanya revisi.


Berbeda dengan Odeng, Diah masih menunggu kepastian dari sang dospem. Namun, tidak berbelit seperti Kirana, Diah akan ikut ujian nanti di bulan berikutnya, tepatnya pada gelombang kedua, karena proposalnya sudah disetujui.


Tinggallah Kirana sendiri dengan revisian yang belum selesai. Kirana berharap bisa ikut di gelombang ketiga.


“Harus kejar target ran, gak ada waktu lagi. Kamu mau bayar lagi semester depan?” Odeng berbicara ketika mereka sudah duduk di kursi depan ruangan dospemnya.


“Ya gak mau lah, cukup di tahun ini dan semester ini. sayangkan uangnya. Mana aku gak punya uang lagi. Kasihan tau orang tuaku bayar terus,”.


Untung bayaran Kirana tidak terlalu mahal. Tidak seperti yang lain.


Bayaran Uang Kuliah Tunggal seangkatan Kirana masih terbilang rendah daripada angkatan setelahnya. Kirana masih bersyukur dengan kesederhanaan orang tuanya masih bisa membiayai sampai semester delapan ini.


“Pokoknya aku harus bisa lulus semester ini. akan aku kejar bapak kemanapun dan kapanpun. Kalau bisa aku kurung bapak atau aku ke rumahnya sekalian, nginep. Aku intili bapak kalau perlu,” tekad Kirana.


“Bagus ran, berjuang sekuat tenaga, oke,” Odeng menyemangati dengan mengepalkan tangannya.


_______


Keesokan harinya


Di sepanjang jalan menuju ruangan, terlihat tatapan dari beberapa mahasiswi yang sinis dan seperti mencemooh Kirana.


Kirana berjalan dengan terheran-heran. Dia mengerutkan keningnya mengingat apa dia berbuat salah?.


Kirana juga melihat wajahnya dan penampilannya takut ada yang salah dengan riasan atau fashion yang dipakainya sekarang.


Kirana merasa tidak ada yang aneh dengannya, lantas untuk alasan apa mahasiswi menatapnya seperti itu.


Rasa tidak enak mulai menyeruak di hati Kirana. Namum, dia tetap mengabaikan tatapan mereka. Kirana berpositif thinking, dia tidak merasa berbuat salah, jadi dia dengan percaya dirinya tetap berjalan sampai di depan ruang dospem.


“Ada apa sih dengan mereka?” Kirana bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


Dia kemudian duduk tapi arah matanya tetap memperhatikan mahasiswi berlalu lalang di depannya yang terus menatapnya dengan berbagai ekspresi.


Odeng yang baru datang menghampiri Kirana pandangan matanya melihat ke arah Kirana dan sedetik melihat ke arah mahasiswi yang lewat.


“Kiran, ada apa? Mereka melihat kamu segitunya, kayak artis saja,” Odeng heran dengan sikap semua mahasiswi dikampus.


Kirana hanya mengendikkan bahu. Dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Kirana bukan primadona di kampus, bahkan wajahnya sudah familiar sebagai mahasiswi akhir. Kenapa mereka melihat Kirana seakan Kirana adalah primadona atau mahasiswi terkenal.


“Memangnya kamu ngelakuin apa sampai mereka segitunya melihat kamu?” Mata odeng dan Kirana tidak henti-hentinya menatap mahasiswi yang lewat dan menatapnya.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada seseorang yang melihat mereka khususnya Kirana dengan tatapan meremehkan.


"Jadi dia.... Apa katanya? oho, tinggi sekali halunya ya,"


Terdengar kata yang mengejek, pelakunya sang ratu nyinyir. Sabella Aristya, terkenal akan kejahatannya di kampus. Bukan jahat fisik melainkan dengan melontarkan kata kata yang sangat kasar dan menusuk.


Semua mahasiswi tidak ada yang berani melawannya, bahkan mereka tidak ingin bermasalah dengannya. Dia tidak akan membuat masalah atau meladeni seseorang jika tidak ada hubungannya dengannya atau keinginannya.


Saat turun dari tangga Bella memang sudah melihat Kirana, dan dia pun melancarkan aksinya, mengejek Kirana.


Jarak antara Bella dan Kirana saat ini tidak terlalu jauh. Kirana mengernyitkan dahi. Tidak mengerti maksud perkataan orang yang memang dihindari Kirana.


Benar, Kirana tidak ingin berurusan dengan Bella. Selama dia kuliah, dia hanya melihatnya dan berdoa agar tidak memiliki masalah dengannya. Tapi sekarang seakan berbanding berbalik.


Senyum seringai masih ditunjukkan Bella, tatapannya menuju ke arah Kirana dan Odeng. Odeng yang berada di sebelah Kirana tidak bereaksi. Dia diam tapi juga mengernyitkan dahinya.


"Jangan mimpi terlalu tinggi, kamu bukan levelnya," Masih mempertahankan senyumnya yang mengejek dengan suaranya yang nyaring membuat mahasiswi yang berlalu lalang berhenti menyaksikan dan melihat kejadian ini. Tak lupa tatapan mereka yang mengejek seakan punya ikatan dengan Bella.


Setelah melontarkan kata-kata kasar, Bella dan temannya berlalu meninggalkan Kirana dan Odeng yang masih mencerna ucapannya. Sedangkan mahasiswi yang sempat berkumpul tadi juga berlalu disertai ketawa dan senyum remeh.


"Itu tadi Bella ngomong ke kita?" tanya Odeng. Dia tidak menyangka akan berhadapan dengan Bella.


"Tidak tahu. Aku merasa tidak ada yang salah dengan kita. Aku juga tidak berbuat masalah sama dia,"

__ADS_1


Sejenak mereka diam, memikirkan kejadian tadi. Kirana yang sadar akan tujuannya kesini pun segera bergegas masuk ke ruangan dospemnya. Untuk sementara waktu dia tidak memikirkan apa yang terjadi barusan. Di otaknya hanya bimbingan, bimbingan dan bimbingan.


Masih sama seperti bimbingan sebelumnya, Tidak ada kelegaan di hati Kirana. Dospemnya memberikan Kirana pertanyaan, kritikan, jangan lupakan coretan-coretan yang membuat Kirana meradang.


Diluar ruangan, Kirana menghembuskan nafas lelah. Dia merasa revisian proposalnya semakin banyak.


Kembali duduk bersama Odeng, Kirana menatap proposalnya. Odeng disebelahnya hanya mengerjapkan matanya, bingung apa yang mau dikatakan. Pikirannya masih tetap bersama kejadian tadi.


Belum sempat terjawab masalah tadi, mereka memutuskan pulang.


____


Di kamar kos Kirana


"Aaa Kiran, kenapa aku jadi kepikiran yang tadi," teriak Odeng. Kirana menutup telinganya.


"Bukan cuma kamu kali Deng, aku juga sama. Malah dua sekaligus," Pusing Kirana memikirkan nasibnya.


"Dua?" tanya Odeng heran.


"Iya, satunya masalah si Bella, satunya pak Adam. Sakit kepala aku lama lama," memijit keningnya yang terasa berdenyut.


Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba tiba ada masalah baru. Dia tidak menyangka akan terlibat dengan Bella.


Bukannya berfikiran negatif, tapi kenyataannya memang hanya mereka berdua tadi yang duduk di kursi dan tidak ada mahasiswa lainnya. Mereka yakin pasti ada kesalahpahaman, tapi mereka belum tahu pasti permasalahnnya.


"Kamu tidak bicara yang aneh-aneh kan Ran? yang sekiranya bikin viral gitu?" Odeng menginterogasi Kirana.


"Kok aku sih Deng, harusnya aku yang nanya sama kamu. Kamu tidak bicara yang aneh-aneh kan?" menyipitkan matanya Kirana membalikkan pertanyaannya ke Odeng.


Mereka berdua bersama tapi dengan pikiran masing-masing.


"Ini tidak bisa dibiarkan Ran, kita tidak boleh berurusan dengan dia," Dengan sungguh-sungguh Odeng mengatakannya, tapi sedetiknya...


"Eh, tidak apa-apa juga sih, nantinya kita bisa viral dan terkenal ya kan," Cepat sekali Odeng berubah suasana. Kali ini dia benar-benar konyol, diluar dugaan Kirana.

__ADS_1


__ADS_2