
"Untuk kalian semua tetaplah diam tanpa ikut campur sama sekali dengan urusanku, Karena saat ini aku ingin memberikan anak sialan ini sebuah hukuman atas apa yang sudah dia lakukan. Sebab karena dia ibuku jadi mati, maka dari itu biarkan si anak sialan ini menerima ganjarannya." Bentaknya padaku.
"Ke-kenapa paman malah menyalahkan ku." Sembari menatap takut kearah paman.
"Ya karna kau sudah berani melanggar semua aturanku, apa kau tau kenapa setiap saat aku selalu melarang semua anggota keluarga untuk mengunjungi nenekmu itu. Ya itu karna kami tidak mau jika nenek tua bangka itu hidup manja. Dan kami semua membiarkannya hidup sebatang kara di kota ini, karna apa? Ya karna kami ingin dia itu bisa hidup seratus tahun lebih lama lagi di dunia ini dengan mandiri tanpa bantuan siapa pun. Tapi kau (Sembari menunjukku), malah seenak jidatmu datang kesini untuk merawat dan memanjakan si tua bangka itu. Kenapa kau harus melakukannya brengsek, kenapa. Coba saja kalau kau tidak melanggar perintahku mungkin hari ini si tua bangka itu masih hidup di dunia, dasar pembunuh kau Tiara, pembunuh..." Berbicara dengan nada keras di hadapanku.
Merasa tak terima dengan semua tuduhan yang paman ajukan kepadaku, kini perasaanku mulai tersulut api emosi karena mendengar semua ucapan sampah dari mulutnya itu.
Karna saking emosinya aku kepadanya, kini tanpa aku sadari aku mulai mengangkat tanganku dan menampar keras wajah pamanku itu.
Melihat tindakanku, sontak membuat semua orang yang ada disana merasa tercengang dengan keberanianku untuk melawan paman.
"PLAKKK..." Satu tamparan keras mendarat mulus di pipi pamanku itu.
__ADS_1
Saking kerasnya tamparan yang ku berikan padanya, kini membuat sudut bibirnya terluka karena ulahku.
Karena dia yang memulai semua nya, aku pun hanya bersikap enteng tanpa memperdulikannya sama sekali.
Aku berani melakukannya karena aku sudah benar-benar muak dengan semua sikap dan tingkah laku paman selama ini kepadaku.
Jadi aku pikir satu tamparan yang kuberikan itu tidaklah berarti apa-apa dibandingan dengan rasa sakitku selama ini.
"Tutup mulutmu itu." Bentakku sembari melepaskan tanganku dari cengkramannya secara paksa.
Tak ingin membuat semua anggota keluargaku khawatir, aku pun mencoba untuk menutupinya dengan selendangku.
"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu kepadaku, apa kau tidak merasa malu mengatakannya padaku. Ck perlu kau tau paman, yang seharusnya disebut pembunuh disini tuh adalah kau sendiri bukannya aku." Ucapku dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Merasa marah dengan apa yang barusan aku katakan, paman pun hendak menamparku. Namun dengan begitu sigapnya aku pun langsung dengan cepat menahannya dan kemudian menyingkirkannya dari hadapanku.
"(Menyingkirkan tangan paman), sudah cukup selama ini paman menyakitiku dan sekaang tak akan aku biarkan lagi. Aku tidak akan membiarkan paman bersikap semena-mena lagi kepadaku.
"Ck.. beraninya anak sialan ini melawanku, memangnya sudah punya apa kau sekarang hemm, sampai-sampai kau bisa seberani ini bersikap kurang ajar kepadaku, katakanlah biar kami semua tau." Desaknya kepadaku, yang saat ini sedang berdiri kaku karena pertanyaannya itu.
Ketika paman berkata seperti itu, membuatku jadi mati kutu dihadapannya.
Setelah kuingat kembali, dulu aku memang pernah berjanji kepada paman jika suatu saat kami bertemu lagi aku sudah harus menjadi orang yang sukses.
Tapi kenyataannya sekarang aku belum menjadi apa-apa, bahkan memiliki pekerjaan yang tetap pun tidak ada.
Merasa malu dengan semua yang sudah terjadi kini Aku pun mulai menundukkan kepalaku dihadapan paman, sebagai tanda pengakuan salahku dan juga pengakuan kekalahanku.
__ADS_1
Paman yang melihatku tertunduk dihadapannya, kini dia pun mulai tertawa dengan perasaan yang sangat puas karena kemenangannya itu.