Terima Kasih Luka

Terima Kasih Luka
BAB 31


__ADS_3

Disaat aku sedang sibuk menghentikan deraian air mataku, tiba-tiba saja... dari arah belakang ada seseorang yang menyentuh pundakku.


Ku putar arah tubuhku untuk melihat orang yang sedang memegang pundakku saat itu.


"Mas Ryan."


"(Tersenyum), boleh aku duduk di sampingmu." Tanyanya padaku.


"Boleh kok Mas..."


Setelah ku ijinkan Ryan pun mulai berjalan duduk di sebelahku.


Melihatnya yang duduk di sampingku, membuat suasananya sedikit cangkung. Hingga membuatku sedikit salting karna kehadirannya.


"Kamu nangis lagi yah." Sembari mengarahkan pandangannya ke arah langit.


"Emm... tidak kok mas, tadi ma-mataku hanya kelilipan kok." Bohongku dengan memalingkan wajahku darinya.


"(Tersenyum melihat tingkahku), kamu tidak bisa membohongiku Tiara."


Merasa malu dengan kebohongan yang ku buat, kini ku tundukkan kepalaku sedih.


Ryan yang menyadari kesedihanku, dengan perasaan yang ragu kini Ryan mulai menyentuh bagian daguku untuk menatapnya.


"Percayalah... semua pasti akan baik-baik saja."


"(Mencoba menahan air mataku di hadapannya)"


"Kamu tidak akan menghadapinya sendirian Tiara."

__ADS_1


"(Mulai berkaca-kaca mendengar perkataannya).


"Aku dan juga keluargaku akan selalu ada bersamamu... jadi tolong jangan bersedih lagi."


"Te-terima Kasih." Dengan menitikkan air mata yang sedari tadi kutahan-tahan di hadapannya.


Aku menangis sesegukan akan semua luka yang aku alami saat ini.


Ryan yang melihat isak tangisku mulai merasa iba kepadaku.


Secara Perlahan Ryan mulai merapatkan duduknya dan kemudian menari tubuhku untuk masuk kedalam pelukannya.


Pelukan yang Ryan berikan terasa begitu tulus sekali, sehingga membuatku merasa sangat tenang dan juga nyaman saat berada di pelukannya itu.


"Berhentilah menangis, karna menangis hanya akan membuat wajahmu terlihat jelek." Ucap Ryan yang sedikit terkekeh karena leluconnya itu.


"Mas.. aku tuh lagi sedih loh, kok mulutnya malah jahat banget sih Hiks..." Rengekku.


Lucu melihat ekspresiku. Kini membuat Ryan tertawa kegelian.


Mendengar gelak tawanya kini membuat tangisku berhenti saat menatapnya yang sedang tertawa lepas.


"Ternyata jika dia tertawa selepas itu, membuatnya terlihat tambah manis dan juga tampan." Gumamku dalam hati.


"Ahaha.. lucu sekali." Tawanya dengan begitu keras.


Kesal melihatnya yang masih saja menertawakanku, kini aku pun kembali memukuli lengannya. Supaya dia bisa berhenti dari tawanya itu.


"Ngeselin banget sumpah." Ketusku, sembari memukuli lengannya.

__ADS_1


"Aw..aw..Haha, iya..iya maaf gak akan lagi-lagi deh." Dengan ekspresi wajah yang begitu lucu.


Gemas dengan ekspresinya, sampai-sampai membuatku tak bisa menahan gelak tawaku.


Ryan yang mendengar suara tawaku yang renyah membuatnya juga ikut tertawa bersamaku.


Ketika kami sedang asik tertawa bersama, lagi-lagi Bu Mayang dan Pa Bagas ikut melihat kebersamaan kami berdua.


Mereka yang melihat kedekatan yang terjalin antara kami, membuat mereka tersenyum bahagia menyaksikannya.


"Pih.. mereka berdua kelihatan cocok ya." Bisik Bu Mayang.


"Iya mih bener." Sahut Pa Bagas yang saat ini sedang memerhatikanku dan Ryan dari kejauhan.


"Apa kita jodohkan aja yah mereka berdua."


"Tapi... apa Ryan nya bakalan mau."


"Ryan pasti akan menuruti perkataan mamih."


"Ya sudah, papih ngikut aja deh sama rencana mamih."


"Ya sudah pih kalo gitu ayo kita pergi, takutnya mereka keganggu sama kehadiran kita lagi." Bisik Bu Mayang lagi.


Setelah cukup lama mereka mengintipi kami, kini mereka pun mulai berjalan pergi meninggalkan tempat persembunyiannya itu dengan sangat hati-hati.


Lelah tertawa, kami pun mengakhiri gelak tawa kami.


Karena saking lamanya kami tertawa, sampai-sampai perut kami pun terasa sakit dan lelah.

__ADS_1


__ADS_2